Tuesday, 2 December 2014

Anak Orang Kaya Jalankan Bisnis Keluarga Sejak Usia Belasan

0 comments
Price Waterhouse Cooper (PwC), perusahaan audit asal Amerika Serikat baru saja melakukan survei bisnis di Indonesia dengan responden 30 perusahaan yang seluruh atau mayoritas sahamnya dikuasai oleh keluarga inti pendiri perusahaan tersebut. Salah satu temuannya adalah 30 persen dari responden tersebut mengaku telah melibatkan anak-anaknya dalam menjalankan bisnis keluarga sejak mereka berusia belasan tahun.

“Hasil survei menunjukkan 30 persen pelaku bisnis keluarga masih tergolong muda, di bawah 20 tahun,” ujar Dwi Daryoto, Partner PwC untuk Klien Wirausaha dan Swasta dalam siaran pers, Selasa (2/12).

Temuan lain yang diperoleh PwC dari survei yang dilakukan selama periode Mei-Agustus 2014 tersebut adalah hanya 27 persen dari perusahaan keluarga tersebut yang memiliki omzet antara US$ 5 juta-US$ 10 juta atau Rp 60 miliar-Rp 129 miliar per tahun. Sisanya mengaku bisa memperoleh uang jauh lebih besar dari itu.

Sementara sektor usaha yang paling banyak digeluti perusahaan keluarga adalah manufaktur sekitar 50 persen, transportasi sebesar 13 persen, dan jasa konstruksi 7 persen.

"Dengan kondisi ekonomi Indonesia yang terus tumbuh, diprediksi bisnis keluarga ini akan meningkat tiga hingga empat kali lipat dalam 5-10 tahun ke depan," ujar Dwi Daryoto.

Generasi Penerus

Lebih dari 60 persen bisnis keluarga di Indonesia menurut survei PwC, memiliki dua hingga tiga generasi penerus. Mayoritas perusahaan keluarga menempatkan anggota keluarganya sebagai Presiden Direktur (47 persen) atau Direktur Keuangan (23 persen) dan jabatan strategis lainnya.

Komposisi direksi perusahaan keluarga adalah 52 persen berasal dari anggota keluarga dan 48 persen non-keluarga. Hampir sebagian besar (87 persen) keluarga merupakan pemilik sekaligus manajemen dari perusahaan dan hanya 13 persen yang berstatus sebagai pemilik tanpa masuk dalam manajemen.

Berdasarkan hasil survei, lebih dari 50 persen pelaku bisnis keluarga berencana mewariskan kepemilikan usahanya kepada keturunannya namun tetap melibatkan profesional dalam menjalankan operasional perusahaan. Sementara 25 persen memilih untuk mewariskan seluruh kepemilikan usahanya kepada generasi penerus.

Read more...

PwC: 95 Persen Perusahaan Indonesia Adalah Bisnis Keluarga

0 comments
Untuk pertama kalinya perusahaan audit asal Amerika Serikat, Price Waterhouse Cooper (PwC) melakukan survei mengenai bisnis keluarga di Indonesia. Dari hasil survei tersebut, lebih dari 95 persen perusahaan di Indonesia merupakan bisnis keluarga. 

Berdasarkan catatan PwC terdapat lebih dari 40 ribu orang kaya di Indonesia atau sekitar 0,2 persen dari total populasi yang menjalankan bisnis keluarga. Total kekayaan mereka mencapai Rp 134 triliun atau menguasai sekitar 25 persen produk domestik bruto (PDB) Indonesia. 

PwC mendefinisikan bisnis keluarga sebagai perusahaan yang mayoritas hak suaranya berada di tangan pendiri atau orang yang mengakuisisi perusahaan, misalnya pasangan, orang tua, anak atau ahli waris. Setidaknya ada satu perwakilan keluarga yang terlibat di dalam manajemen atau administrasi perusahaan. 

Sedangkan untuk perusahaan publik, keluarga biasanya menguasai 25 persen saham perusahaan dan setidaknya terdapat satu orang anggota keluarga menduduki jabatan di perusahaan. 

"Bisnis keluarga di Indonesia kita lihat mengalami pertumbuhan yang lebih kuat dibandingkan rata-rata global pada tahun lalu. Dengan semakin ketatnya persaingan, perusahaan keluarga di Indonesia harus beradaptasi lebih cepat, dengan mengembangkan inovasi dan mengedepankan profesionalisme dalam menjalankan operasional bisnisnya," ujar Dwi Daryoto, Partner PwC untuk Klien Wirausaha dan Swasta, melalui siaran pers dikutip Senin (1/12). 

Survei PwC melibatkan 2.378 koresponden di lebih dari 40 negara di dunia. Sementara di Indonesia, sedikitnya 30 pelaku bisnis keluarga diwawancara selama kurang lebih 41 menit dalam rentang waktu penelitian Mei-Agustus 2014.

Read more...

Menkeu Minta Ditjen Pajak Obral Insentif untuk Investor

0 comments
Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro meminta Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan tidak terlalu pelit terhadap perusahaan-perusahaan yang meminta insentif fiskal. Bambang menjelaskan, pajak bukan hanya instrumen penerimaan negara saja tetapi juga instrumen pertumbuhan ekonomi yang dapat dirangsang dengan memberikan insentif.

"Saya juga minta ke Pak John Liberty Hutagaol (Direktur Peraturan Perpajakan II) dan Pak Irawan (Direktur Peraturan Perpajakan I) jangan terlalu pelit kalau ada orang atau pihak-pihak yang minta insentif fiskal," kata Bambang di Jakarta, Senin (1/12).

Salah satu industri yang menurut Bambang harus diberi kemudahan dalam mendapatkan insentif adalah industri galangan kapal. Sebab industri tersebut dapat mendukung rencana prioritas pembangunan yang direncanakan Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Bambang berpesan dibawah kepemimpinan pejabat sementara Dirjen Pajak Mardiasmo, Ditjen Pajak harus sportif dan hati-hati dalam menjalankan tugasnya. "Jangan terlalu semangat mengejar penerimaan pajak tetapi mengabaikan pertumbuhan ekonomi," katanya.


Namun, Bambang mengakui perlunya dilakukan evaluasi terhadap penyaluran insentif fiskal di sejumlah sektor yang tidak efisien. "Artinya pajak harus investor friendly, tidak boleh mengorbankan penerimaan itu. Jangan sampai investor diberikan kemudahan tapi menyalahgunakan insentif yang diberikan untuk melakukan tax planning agar tidak bayar pajak," katanya.

Sebelumnya Bambang menyindir perilaku pengusaha-pengusaha Indonesia yang kerap memanipulasi laporan keuangan perusahaan untuk terhindar dari kewajiban membayar pajak. Bambang mengungkapkan ada sekitar ratusan atau bahkan ribuan perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia lebih dari 10 tahun tidak pernah bayar pajak dengan alasan selalu merugi. Kondisi neraca perusahaan-perusahaan itu bertolak belakang dengan kesinambungan usahanya yang tergolong baik dan tidak pernah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). 

"Ratusan atau ribuan perusahaan itu sudah eksis lebih dari 10 tahun, dari luar baik- baik saja kelihatanya karena tidak pernah melakukan layoff, tapi mirisnya tidak pernah bayar pajak karena selalu mengaku rugi," tegasnya.

Read more...

Ditjen Pajak Gandeng KPK Berantas Mafia Pajak

0 comments
Wakil Menteri Keuangan cum Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pajak Mardiasmo menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberantas mafia pajak.

"Masih ada permasalahan di sektor pajak. Untuk jangka pendek kami ingin semacam ada tim gabungan Ditjen Keuangan, Ditjen Pajak, dan KPK untuk melihat kira-kira ke depan seperti apa," ujar Mardiasmo usai bertemu dengan komisioner KPK di Gedung KPK, Jakarta, Senin (1/12). 

Mardiasmo mengatakan, selain dengan KPK, kerjasama juga akan dibentuk dengan sejumlah aparat penegak hukum lain seperti kepolisian dan kejaksaan. Tim gabungan tersebut akan menelusuri indikasi permainan mafia pajak. "Kalau ada (mafia pajak) harus kami atasi," kata dia.

Lebih lanjut, Direktorat Jenderal Pajak berencana menindak tegas koorporasi yang lalai tidak membayar pajak dan tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

"Kalau ada mafia pajak kami libas. Kami akan lihat satu per satu transaksinya. Misalnya, kasus Izin Usaha Pertambangan (IUP). Demikian pula yang tidak punya NPWP akan kami kejar," katanya.

Saat ini Direktorat Pajak juga tengah melakukan kontrol penerimaan negara dari sektor pajak pada tahun 2014. "Tadi kami rapat dengan Menteri Keuangan untuk melihat kantor wilayahnya satu per satu termasuk pajak khusus," ujar dia.

Untuk mengoptimalkan pengawasan tersebut, Mardiasmo akan melakukan sejumlah upaya. "Kami akan tingkatkan jumlah auditor," kata dia menjelaskan.

Dengan meminimalisasi kebocoran sektor pajak, penerimaan negara bukan pajak ditargetkan akan mencapai Rp 600 triliun.

Read more...

Menkeu: Demi Pajak, Setop Pembiayaan Afiliasi

0 comments
Menteri Keuangan Bambang P. S. Brodjonegoro meminta pelaku usaha yang punya unsur asing atau yang sahamnya mayoritas dari investor asing, untuk menghindari pembiayaan yang berafiliasi. 

Menurutnya, perusahaan memang perlu melakukan ekspansi mengingat cost of fund berusaha juga tinggi, namun tak perlu dengan mengandalkan pembiayaan dari afiliasi.

Menkeu Bambang mengatakan dari segi pajak, peminjaman secara afiliasi karena akan menggerus profit. Selain itu, tak ada pajak yang dibayarkan ke pemerintah dan malah menguntungkan negara lain. 

“Kami ingin usaha berjalan baik, semoga peminjaman berafiliasi tidak ada lagi," kata Bambang pada acara pelaporan Lalu Lintas Hasil Devisa (LLD), Devisa Hasil Ekspor (DHE), Laporan Bank Umum (LBU), dan Sistem Informasi Debitur di gedung Bank Indonesia, Selasa (2/12).

Bambang berharap pengusaha tidak melakukan rekayasa pajak karena hal tersebut malah merugikan mayoritas rakyat-rakyat Indonesia yang hidupnya ditopang oleh APBN. "Karena sumber penerimaan paling besar ke APBN berasal dari pajak," ujar Bambang.

Sebelumnya Menkeu meminta pelaku usaha di Indonesia untuk taat membayar pajak. Menurutnya, hal tersebut penting karena juga mampu membantu pemasukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan dialokasikan untuk program-program pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan kaum miskin di Indonesia.

"Karena kalau tidak, maka hal tersebut akan merugikan negara dan menyengsarakan masyarakat yang kurang beruntung," ujar Bambang.

Bambang mengatakan terdapat dua hal yang harus dihindari pengusaha terkait pajak, yaitu transfer pricing serta melakukan peminjaman yang terafiliasi.

"Saya ingin agar para pengusaha yang melaksanakan ekspor tidak melakukan transfer pricing.Saya imbau para pelaku usaha untuk melaksanakan kegiatan ekspor dengan cara yang benar. Karena transfer pricing adalah upaya merugikan negara, dan saya ingin penerimaan pajak kita tak terhambat oleh kegiatan transfer pricing tersebut" katanya.

Read more...

Menkeu Kritik Ketidakpatuhan Orang Kaya Membayar Pajak

0 comments
Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro kembali menyindir perilaku sebagian besar orang kaya di Indonesia yang tidak patuh membayar pajak. Menurutnya, peningkatan harta orang kaya di Indonesia tidak sebanding dengan rendahnya setoran pajak mereka. 

"Padahal Forbes bilang kita punya banyak orang kaya. Tapi sekarang banyak yang tidak bayar pajak sesungguhnya, banyak yang pura-pura tidak tahu," ujar Bambang di Gedung Bank Indonesia, Selasa (2/12).

Berdasarkan logika, Bambang menyebut setoran pajak perusahaan selaku wajib pajak badan seharusnya lumayan besar. Namun, kenyataannya tidak lebih besar dibandingkan dengan setoran pajak individu atau karyawan yang secara otomatis dipotong langsung setiap bulan oleh instansi atau perusahaan pemberi kerja. 

Total penerimaan pajak, kepabeanan dan cukai tahun 2014 ini diprediksi mencapai Rp 1.000 triliun. Tapi pajak orang pribadi hanya Rp 97 triliun, di mana Rp 93 triliun merupakan pajak yang otomatis dipungut dari karyawan. "Berarti pajak yang benar-benar dibayar orang atau pengusaha hanya Rp 4 triliun," jelas Bambang. 

Bidik Pajak Sektoral 

Hal ini, kata Bambang, menjadi perhatian Presiden Joko Widodo yang meminta agar penerimaan pajak dioptimalkan semaksimal mungkin. Menurutnya, Negara ini memiliki potensi pajak yang sangat besar mengingat Indonesia masuk jajaran 15 negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia. 

"Langkah yang akan kami lakukan adalah mengoptimalkan penarikan pajak properti dan jasa keuangan," jelas Bambang.


Sektor usaha strategis lainnya yang akan dioptimalkan, kata Bambang, adalah sektor pertambangan. Pasalnya, dari sekian banyak perusahaan tambang yang sudah mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). 

"Kalau begitu mereka sudah pasti tidak bayar pajak. Tapi ke depan tidak hanya sektor mineral dan batubara," kata Bambang. 

Sumber penerimana perpajakan yang menjadi fokus Menteri Keuangan adalah kepabeanan dan cukai. Untuk kebocoran penerimaan kepabeanan diduga karena berkaitan dengan banyaknya pelabuhan "tikus" atau ilegal yang melakukan aktivitas impor dan ekspor tanpa tercatat oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. 

"Kami juga ingin mendorong cukai. sebenarnya ini bukan penerinaan melainkan untuk mengurangi konsumsi seperti rokok dan minuman keras, tapi kita akan mengoptimalkannya," jelas Bambang Brodjonegoro.

Read more...
Sunday, 30 November 2014

Mualaf 'Gemes' di Car Free Day Berlanjut

0 comments

Mualaf Center Indonesia (MCI) sukses menggelar Gerakan Memungut Sampah (Gemes) di Kawasan Car Free Day (CFD), Jakarta, beberapa waktu lalu. Untuk itu, gerakan itu akan dilanjutkan sehingga menjadi agenda tetap dakwah MCI.

"Insya Allah, 30 November bakal dilanjutkan. Acaranya tetap memungut sampah saja," kata Steven Indra Wibowo, Pendiri dan Konsultan Mualaf Center Indonesia, kepada ROL, Rabu (26/11).

Steven mengungkap, pada gelaran perdana kemarin, pesan dakwah begitu mengena. Warga yang awalnya tidak tahu akhirnya ambil bagian untuk ikutan memungut sampah. Yang lebih penting lagi, petugas kebersihan yang berjaga sangat terbantu dengan kegiatan ini.

"Kami senang bisa membantu mereka. Meski memang sumbangsih kami kecil," ucap dia.

Pada gelaran itu juga sempat ada seorang warga Australia mengucapkan syahadat. "Jadi, ada warga Australia, yang kebetulan tahu tentang kami, lalu ngobrol. Akhirnya, dia bersyahadat, alhamdulillah," ucap dia.

"Ini jadi satu kebahagiaan buat kami, dakwah yang dilakukan meski sederhana, tapi bisa dipahami dengan mudah oleh siapapun. Itulah tujuan kami," ucap dia.

Read more...
Thursday, 27 November 2014

Jutawan di Tiongkok Beri Rumah Mewah ke Warga di Kampung Halamannya, Gratis

0 comments
Deretan rumah mewah yang diberikan kepada
warga kampung secara gratis di Tiongkok
Seorang jutawan di Tiongkok membuldoser kampung tempatnya dilahirkan. Ia kemudian membangun rumah-rumah mewah untuk warga kampung itu tempati dengan gratis.

Jutawan itu bernama Xiong Shuihia, ia lahir di Desa Xiongkeng di wilayah Kota Xinyu, Tiongkok Selatan. Ia dan keluarganya merasa memiliki hutang budi kepada para orang-orang di tempatnya dilahirkan hingga tumbuh dewasa yang telah berbuat baik.

Ketika ia meraih kesuksesan di usia 54 tahun sebagai pengusaha industri baja, ia kemudian berniat membalas kebaikan masyarakat itu. Ia kemudian kembali ke kampung halamannya dan memberikan seluruh orang di sana tempat tinggal.

Lima tahun lalu ia merobohkan rumah-rumah di kampungnya untuk merubahnya menjadi rumah yang mewah untuk ditempati. Ia membangun rumah-rumah mewah itu bagi 72 keluarga di kampungnya agar dapat menikmati kehidupan yang mewah layaknya di perumahan mewah lainnya.

Adapun 18 keluarga yang dianggapnya selama ini berkelakuan baik kepada Xiong diberikan villa yang menjadi proyeknya senilai mendekati 4 juta poundsterling.

Tak hanya itu, bagi masyarakat yang sudah pindah ke rumah mewah itu juga disediakan makanan tiga kali sehari untuk para lansia dan warga yang berpendapatan rendah.

Jutawan itu menjadi kaya raya setelah ikut dalam bisnis pembangunan baja yang kemudian menjadi pedagang baja. "Saya dapat uang lebih, saya tidak ingin melupakan dari mana saya berasal," kata Xiong.

"Saya selalu melunasi hutang saya, karena itu saya ingin orang-orang yang sudah membantu saya saat saya masih kecil dan keluarga saya juga mendapatkan balasan dari kebaikan mereka," kata Xiong.

"Saya masih ingat bagaiaman orang tua dia (Xiong). Mereka orang-orang yang baik hati, mereka sangat peduli kepada sesamanya, senang rasanya mereka mewariskan sifat itu ke anaknya," kata tokoh tetua di desa itu, Qiong Chu, 75 tahun.

Read more...
Monday, 27 October 2014

Ini Nama-nama Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK

0 comments
Sumber:kompas.com
Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan nama-nama menteri dalam susunan kabinet pemerintahannya.

Ada 34 Kementerian dalam kabinet pemerintahan Jokowi-JK dan dua orang wakil menteri yakni Wamen Luar Negeri dan Wamen Keuangan, dalam kabinet bernama Kabinet Kerja.

Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla membacakan susunan kabinetnya di taman belakang Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Jokowi menghadirkan para menterinya yang seragam mengenakan kemeja putih.

Setelah resmi diumumkan Ahad (26/8) sore ini, menteri-menteri kabinet Jokowi-JK akan langsung dilantik pada Senin (27/10) besok serta langsung akan menggelar rapat kabinet perdana.

Berikut nama-nama menteri dalam kabinet Jokowi-JK:

1. Menteri Sekretaris Negara: Prof. Dr. Pratikno (Rektor UGM)
2. Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago (Ahli kebijakan publik dan anggaran)
3. Menteri Kemaritiman: Indroyono Soesilo (Praktisi)
4. Menko Politik Hukum dan Keamanan: Tedjo Edy Purdjianto (Mantan KSAL)
5. Menko Perekonomian: Sofyan Djalil (ahli ekonomi)
6. Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani (PDIP) 
7. Menteri Perhubungan: Ignatius Jonan (Dirut PT KAI)
8. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti (Wirausahawati)
9. Menteri Pariwisata: Arief Yahya (Profesional)
10. Menteri ESDM: Sudirman Said 
11. Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo (PDI Perjuangan)
12. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi (Dubes RI di Belanda)
13. Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu (mantan KSAD)
14. Menteri Hukum dan Ham: Yasonna H.Laoly (PDI Perjuangan)
15. Menkominfo: Rudi Antara (profesional)
16. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi (Nasdem)
17. Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro (ekonom)
18. Menteri BUMN Rini M.Soemarno (mantan Ketua Tim Transisi/mantan menteri perindustrian)
19. Menteri Koperasi dan UMKM: Puspayoga 
20. Menteri Perindustrian: Saleh Husin (Hanura)
21. Menteri Perdagangan: Rahmat Gobel (profesional)
22. Menteri Pertanian: Amran Sulaiman (praktisi)
23. Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri (politisi)
24. Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono (birokrat)
25. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya (Nasdem)
26. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Musyidan Baldan (Nasdem)
27. Menteri Agama: Lukman Hakim Saifudin (PPP)
28. Menterni Kesehatan: Nila F Moeloek (profesional)
29. Menteri Sosial: Khofifah Indra Parawansa (tokoh Muslimah NU)
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan anak: Yohanan Yambise
31. Menteri Budaya Dikdasmen: Anies Baswedan (mantan Tim Transisi)
32. Menristek dan Dikti: M.Nasir (Rektor Undip)
33. Menpora: Imam Nahrawi (politisi)
34. Menteri PDT dan Transmigrasi: Marwan Jafar (PKB)

Read more...
Wednesday, 17 September 2014

BUMN Tak Perlu Takut Lagi Lakukan Hedging

0 comments
m.bisnis.com
Seluruh pimpinan lembaga penegak hukum yaitu Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga negara audit yaitu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan (Kemkeu), dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akhirnya satu suara soal lindung nilai alias hedging. Kesepakatan ini tertuang dalam standar operasional prosedur (SOP) tentang transaksi hedging.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan salah satu penyebab yang menimbulkan keraguan bagi BUMN untuk melakukan hedging adalah kekhawatiran tentang interpretasi yang berbeda. Apakah hedging adalah aktivitas yang dianggap sebagai biaya atau kerugian negara.

Dalam rapat koodinasi lanjutan tentang hedging, Rabu kemarin (17/9) telah disepakati dalam SOP bahwa efek yang muncul dari selisih yang berbeda antara rupiah yang disepakati adalah bagian dari biaya dan bukan kerugian negara. Sedangkan, apabila terjadi kelebihan maka masuk sebagai pendapatan dan bukan keuntungan.

Perusahaan BUMN yang ingin melakukan hedging tidak perlu merasa takut. "Tidak multiinterpretasi lagi. Ini bagian dari praktik bisnis. Tentu, hal ini harus dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum," ujar Chatib, Rabu (17/9). Dirinya menjelaskan karena ketakutan hedging dianggap sebagai kerugian negara, banyak BUMN yang membeli valuta asing (valas) di pasar spot.

Alhasil tekanan terhadap rupiah semakin besar. Selama merujuk pada SOP maka aktivitas hedging tidak melawan hukum dan merupakan hal yang dibutuhkan.

SOP ini akan menjadi rujukan bagi penyusunan SOP di masing-masing kementerian/lembaga atau perusahaan BUMN sendiri seperti Peraturan Menteri BUMN, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) atau Peraturan Bank Indonesia (PBI). Kemkeu sendiri, terang Chatib, sudah mempunyai PMK yang dikeluarkan tahun 2013 tentang hedging dan sudah sesuai dengan SOP. 

Namun apabila dalam praktiknya ada hal teknis ataupun detil yang perlu dirubah, maka Kemkeu akan mengeluarkan revisi PMK terbaru. Selain menyepakati soal hedging, dalam SOP juga mengatur hal-hal yang disepakati bersama seperti pengajuan hedging perlu dilakukan evaluasi secara berkala, periode waktu penggunaan, serta underlying.

Bukan hanya bagi perusahaan pelat merah saja SOP ini berlaku, namun juga bagi perusahaan swasta. Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan dalam SOP tidak dibahas secara detil mengenai berapa persentase hedging yang harus dilakukan serta berapa panjang dan kondisinya seperti apa.

Pasalnya, hal itu adalah kebijakan dan regulasi dari internal perusahaan sendiri. Namun untuk menjadi acuan, SOP dapat menjadi pegangan karena akan berisikan tentang struktur organisasi yang harus ada dari perusahaan dalam berhedging, siapa yang mengelola operasional perusahaan, bagaimana rencana transaksi hedging, tahapan pelaksanaan hingga penyusunan dokumentasi serta pelaporan.

Perusahaan dituntut untuk melakukan analisa. Misalnya, dengan penerimaan rupiah dan mempunyai utang besar dalam bentuk valas maka perlu melakukan jangka waktu hedging berapa lama agar bila terjadi pelemahan rupiah tidak terjadi kerugian. "Sudah tidak ada alasan lagi, BUMN harus dikelola dengan profesional," tandas Agus.

Catatan BI sendiri, perusahaan pelat merah kelas kakap yaitu Pertamina setiap harinya membutuhkan valas sebesar US$ 150 juta di perbankan untuk kebutuhan operasionalnya. Ketua BPK Rizal Djalil menambahkan, kesepakatan antar kementerian serta lembaga negara ini akan dibawa kepada presiden dalam waktu dekat. Dengan sudah adanya acuan dalam hedgingdiharapkan dapat memberikan dampak positif, khususnya bagi BUMN yang memang banyak membutuhkan valas dalam waktu-waktu tertentu. 

Dalam waktu dekat, manfaat dari hedging berupa penghematan anggaran dan pengurangan tekanan pada rupiah dapat terjadi. Sekedar gambaran saja, Kemkeu menghitung setiap Rp 100 pelemahan rupiah maka defisit anggaran bisa naik Rp 2,6 triliun.

Read more...
Sunday, 31 August 2014

Tips Membeli Rumah Bekas

6 comments
Membeli rumah bekas itu gampang-gampang susah. Gampang karena lebih mudah untuk mengetahui bagaimana perkembangan kawasan di sekitarnya yang sudah ‘jadi.’ Namun akan terasa sulit lantaran Anda tidak punya banyak pilihan baik pada jumlah unit maupun model rumah yang tersedia. Ada juga sejumlah pekerjaan ekstra yang harus dilakukan pasca pembelian.

Membeli rumah bekas itu, ibarat seseorang mencari pasangan hidupnya. Membutuhkan waktu yang cukup lama dan ketelitian ekstra plus kesabaran, namun terkadang nampak mudah. Apakah rumah yang kita incar telah memenuhi kriteria yang kita inginkan? Apakah tampilan luar rumah sungguh mewakili kondisi rumah tersebut secara keseluruhan? Berikut tips membeli rumah bekas.

Cermati Anggaran yang Harus Disiapkan


Anda harus menghitung dulu, bagaimana kondisi keuangan Anda dan kalkulasi secara finansial, berbagai sumber keuangan Anda dan bagaimana kewajiban-kewajiban yang harus Anda lunaskan. Tambahkan pula dalam anggaran Anda, minimal 10% untuk renovasi rumah, biaya transaksi, pindahan dan sebagainya. Pertimbangkan juga rencana Anda kedepan, seperti menambah anak lagi, ingin melakukan renovasi dan sebagainya.



Dokumen Rumah



Bila Anda berencana memakai KPR dari perbankan, rumah yang Anda inginkan haruslah rumah yang memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM), memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan mempunyai nilai jual di pasaran.


Buatlah List Keinginan Anda atas Rumah 


Buatlah list rumah seperti apa yang Anda inginkan, lokasinya, modelnya dan lain-lain lalu mulailah mencari beberapa alternatif rumah yang mendekati list keinginan Anda tersebut. Buat sebuah daftar rumah dijual yang menarik minat Anda lantas, tindak-lanjuti, tanyakan harga, spesifikasi dan fasilitasnya. Coret yang harga rumah yang lebih tinggi 10% diatas daya beli Anda. Kunjungi rumah-rumah yang anda inginkan, secukupnya saja. Setelah anda menemukan rumah yang sepertinya cocok di harga dan di hati, bikin rencana untuk kunjungan lanjutan yang lebih lama dan jangan lupa rundingkan dengan anggota keluarga lainnya. Pertimbangkan juga jumlah anggota keluarga, pertumbuhan keluarga, hobi Anda, gaya hidup Anda apakah suka berkumpul atau lebih sering menyendiri. Biasanya, orang lebih menyukai rumah yang dekat ke kantor, dekat dengan sekolah anak & banyak kerabat yang menjadi tetangga.


Luangkan Seminggu untuk Matangkan Pilihan


Anda mungkin akan berhubungan dengan pemilik rumah langsung, atau bisa jadi dengan agen properti yang menangani penjualan rumah itu. Katakan kepada mereka bahwa Anda berminat dan mintalah pengurangan harga. Selanjutnya, Anda perlu membuat tabel empat kolom berisi: Kolom 1 adalah berisi daftar periksa, termasuk surat-surat rumah, fasilitas yang Anda, kesesuaian dengan gaya hidup keluarga Anda dan lainnya. Kolom 2,3,4 adalah buruk, sedang, bagus.Bawa selalu daftar yang anda buat ini sewaktu Anda melakukan lakukan kunjungan. Ini untuk mengingatkan Anda. Luangkan waktu minimal 7 hari, (kecuali anda sudah sangat mengenal wilayah rumah itu). Ini untuk lebih meyakinkan diri, sebelum Anda mengajukan penawaran, karena bisa saja begitu Anda menawar harga, pemilik rumah langsung setuju. Ingat, pertimbangan dengan matang karena Anda akan tinggal lama disitu selama mungkin 20-30 tahun kedepan.


Pastikan Harga Rumah


Ketika hendak melakukan negosiasi mengenai harga rumah, Anda harus memastikan beberapa hal yang turut menjadi penentu pada saat Anda hendak bernegosiasi mengenai harga rumah. Sejumlah hal yang penting harus dipastikan dapat dibaca di sini: Pastikan Dulu Kondisi Rumah Sebelum Menawar. Bila harga yang diberikan sesuai dengan daya beli Anda dan Anda telah jatuh cinta pada rumah tersebut maka seharusnya Anda tidak perlu merasa bahwa harga tersebut terlalu mahal. Yang perlu dipertimbangkan adalah sisi investasinya. Jika suatu saat Anda harus menjual cepat rumah tersebut, returnnya bisa sangat kecil atau malah rugi.


Pilih Notaris/PPAT yang Terpercaya


Biasanya dalam transaksi pembelian rumah secara tunai, notaris/PPAT dipilih dan dibayar sepenuhnya oleh pembeli. Untuk itu Anda bisa minta referensi dari saudara dan relasi Anda. Sebaiknya notaris dan PPAT orangnya sama, itu berarti Anda sebaiknya memilih notaris/PPAT yang beroperasi di wilayah tempat rumah tersebut berada. Pilih notaris yang berumur sekitar 40 tahun dan kelihatan bugar. Umur 40, biasanya berpengalaman, berhati-hati dan akan lebih panjang umur. Umur panjang notaris bisa jadi penting untuk para ahli waris Anda sebagai bahan rujukan mereka bila Anda sudah wafat.
Secepatnya bertransaksi, minimal PJBJangan sampai penjual berubah pikiran. Anda akan sangat kecewa. Akan membuang waktu, energi, biaya dan emosi. Jadi, cepatkan bertrasaksi jika semua sudah dipastikan tidak ada masalah. 


Pilihlah Agen yang Dapat Dipercaya untuk Membantu Kelancaran Transaksi Anda 


Jika Anda mendapatkan rumah itu melalui agen properti, baguslah itu. Namun jika Anda berhubungan langsung dengan pemilik rumah, maka tidak ada salahnya bagi Anda memakai jasa agen properti untuk membantu Anda dalam proses transaksi & dokumentasi. Pilihlah agen properti yang telah berbadan hukum dan dapat dipercaya sehingga dapat membantu Anda dalam kelancaran proses transaksi.

Read more...

Tips Membeli Rumah Pertama Anda

0 comments
Membeli rumah itu gampang-gampang sulit. Apalagi Anda yang baru pertama kali akan membeli rumah. Belum lagi cara pembayaran yang akan Anda pilih pun sangat mempengaruhi proses yang akan Anda lewati.

Anda keluarga baru atau Anda yang sedang berencana untuk membeli rumah pertama? Jangan remehkan sejumlah hal di bawah ini agar tidak menyesal di kemudian hari. Juga, proses transaksi Anda bisa berjalan dengan lancar. Berikut tips praktis bagi Anda yang ingin membeli rumah pertama:

Memilih Lokasi: Lokasi merupakan faktor paling penting ketika kita membeli rumah. Maka wajar jika di dunia properti orang mengenal istilah, lokasi, lokasi dan lokasi. Tidak hanya pembeli rumah pertama, semua orang akan melihat lokasi sebagai hal yang utama dalam membeli rumah. Lokasi berkaitan dengan akses transportasi, ketersediaan fasilitas umum, aman tidaknya dari bahaya banjir dan sebagainya.

Harga: Anda perlu merencanakan terlebih dahulu, berapa harga rumah yang mau Anda beli? Sehingga Anda lebih fokus di perumahan yang menawarkan harga sesuai yang Anda inginkan. Dengan demikian Anda bisa menghemat waktu untuk kegiatan Anda lainnya.

Track Record Developer: Sebelum memutuskan untuk membeli rumah yang baru, ada baiknya lihat dulu siapa pengembangnya. Bagaimana track record developer selama ini. Apakah sering terlambat untuk serah terima rumahnya? Bagaimana kualitas bangunan di project-project perumahan sebelumnya. Untuk mengetahuinya Anda bisa mencari testimoni tentang perumahan atau developer itu di internet.

Kelengkapan Fasilitas: Anda bisa memilih rumah sesuai keinginan Anda dengan beragam fasilitas yang ditawarkan oleh developer. Fasilitas setidaknya bisa kita lihat baik fasilitas intern dan ekstern. Intern biasanya meliputi fasilitas ibadah, tempat olahraga, taman bermain. Dan yang tidak kalah pentingnya juga yaitu fasilitas ekstern seperti kedekatan perumahan itu dengan rumah sakit, sekolah, pasar dan tempat rekreasi keluarga, turut menjadi faktor penentu pilihan bagi pembeli.

Kemudahan Cara Pembayaran: Ada beberapa cara pembayaran rumah yang biasanya ditawarkan oleh pengembang yaitu tunai keras, tunai bertahap dan KPR. Bagi Anda yang memiliki kemampuan keuangan yang cukup, cara bayar tunai keras tentu menjadi pilihan. Developer akan memberikan diskon yang besar pagi pembeli dengan cara ini. Tapi bagi yang kemampuan keuangannya pas-pas an, cara bayar KPR dan tunai bertahap yang panjang tentu menjadi primadona.

Pastikan Kapan Serah Terima Unit: Bertanyalah ke developer, kapan Anda bisa menempati unit rumah yang Anda beli. Jika terjadi keterlambatan, konsekwensi apa yang akan diterima oleh developer.

Biaya Tambahan: Setelah memutuskan membeli rumah, alokasikan biaya tambahan diluar harga beli rumah. Biaya tambahan ini biasanya meliputi Ppn, biaya KPR, biaya peningkatan BPHTB dan sebagainya. Kisarannya beragam, dan untuk berjaga-jaga biasanya besaran biaya tambahan ini berkisar 15persen sampai dengan 20 persen. 

Demikian beberapa hal penting yang harus Anda perhatikan dan selamat memilih rumah pertama Anda!

Read more...
Thursday, 31 July 2014

Penganut Buddha Myanmar mengancam kematian Muslim di kerusuhan Mandalay

0 comments

Mandalay - Polisi Myanmar mengepung lingkungan Muslim Mandalay disebabkan ratusan umat Buddha memegang pisau, pedang dan bambu berkeliaran kota pada hari Jumat, menyusul kerusuhan komunal yang menewaskan dua orang awal pekan ini.

Kekerasan antar agama telah berkobar di seluruh negeri selama dua tahun terakhir, mengancam untuk melemahkan reformasi politik yang diprakarsai oleh pemerintah kuasi sipil Presiden Thein Sein, yang mulai menjabat pada tahun 2011 setelah 49 tahun kekuasaan militer yang represif.

Setidaknya 240 orang tewas dan lebih dari 140.000 jiwa mengungsi sejak Juni 2012. Sebagian besar korban telah menjadi anggota minoritas Muslim Myanmar, diperkirakan sekitar 5 persen dari populasi.

Sekitar 300 umat Buddha naik sepeda motor di sekitar kota terbesar kedua Myanmar, Mandalay, Jumat, berteriak ancaman kematian.

"Kami akan membunuh semua umat Islam," teriak beberapa orang saat mereka melalui jalan-jalan setelah menghadiri pemakaman seorang pria Buddha yang ditikam sampai mati pada Rabu malam.

Seorang pria Muslim juga tewas, dipukuli sampai mati Kamis pagi dalam perjalanan ke doa pagi.

Polisi mendirikan pagar penghalang dilapisi dengan kawat berduri untuk memblokir jalan ke lingkungan mayoritas Muslim dan mencegah umat Buddha pemakai sepeda motor masuk. Petugas mencegah kerusuhan dengan berpatroli di jalan-jalan, dan satu berbicara melalui megafon, memberitahu orang-orang untuk masuk ke dalam.

Sementara polisi menjaga lingkungan, mereka tidak melucuti umat Buddha yang telah berkeliling sekitar kota sejak tengah hari, berteriak ancaman dan menyanyikan lagu kebangsaan. Seorang pria terlihat mendistribusikan tiang bambu dari sebuah mobil yang diparkir di dekat istana kerajaan, sebuah atraksi wisata yang populer di kota sekitar satu juta orang.

Banyak Muslim melarikan diri dari lingkungan setelah kekerasan pecah hari Selasa, menuju hotel atau kota terdekat.

Polisi mengatakan 19 orang terluka dalam kerusuhan pada Selasa dan Rabu malam. Pada 21:00-05:00 jam malam didukung oleh kehadiran polisi mencegah masalah lebih lanjut pada Kamis malam dan jam malam yang sama akan berlaku pada hari Jumat.

Kekerasan dimulai pada Selasa ketika sekelompok sekitar 300 umat Buddha berkumpul di sebuah toko teh yang dimiliki oleh seorang pria Muslim yang dituduh memperkosa seorang wanita Buddhis.

Seorang petugas polisi di ibukota, Naypyitaw, mengatakan kepada Reuters pada hari Kamis bahwa tuduhan pemerkosaan telah diajukan terhadap pemilik toko teh dan saudaranya.

Seorang imam di masjid terbesar Mandalay mengatakan kepada Reuters bahwa lima Muslim telah ditangkap pada hari Jumat setelah polisi menggeledah rumah di dekatnya dan menemukan pisau seremonial. "Polisi pasti tahu ini digunakan untuk keperluan upacara," kata Ossaman, imam. "Mereka tidak melanggar hukum apapun."

Seorang polisi mengkonfirmasi penangkapan namun menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut dan meminta agar namanya dirahasiakan karena ia tidak berwenang berbicara kepada media.

Kekerasan anti-Muslim bukanlah hal baru di Myanmar. Mantan junta memberlakukan jam malam di Mandalay setelah kerusuhan di kota pada tahun 1997 menyusul laporan bahwa seorang pria Muslim memperkosa seorang gadis Buddhis.

Namun wabah kekerasan telah menjadi lebih umum di bawah pemerintahan reformis, yang mencabut pembatasan kebebasan berbicara, termasuk akses ke Internet, yang sebelumnya telah dikontrol ketat oleh militer.


Read more...
Tuesday, 22 July 2014

Pemerintah Ganti Perhitungan Skema Subsidi Listrik

0 comments
Pemerintah mengambil langkah strategis untuk bisa melihat dengan jelas alokasi pemberian subsidi listrik. Selama ini skema subsidi listrik diberikan berdasarkan biaya pokok penyediaan listrik (BPP), yaitu apabila terjadi kenaikan BPP maka terjadi pula kenaikan subsidi.

Skema yang saat ini berlaku disebut dengan formula cost plus margin. Skema ini mengakomodasi semua perubahan BPP yang terdiri dari biaya operasional. 

Kepala Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal Kementerian Keuangan (Kemkeu) Freddy R. Saragih mengatakan setiap ada kenaikan Rp 100 rupiah setiap kilo watt hour (kWh), akan ada tambahan ebitda sebesar Rp 2,5 triliun. Tentu tambahan tersebut memberikan tambahan bagi beban subsidi.

Menurut Freddy, skema cost plus margin tidak memberikan motivasi atau insentif bagi Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk turunkan BPP. PLN tidak dituntut untuk mengendalikan fluktuasi biaya. 

Alhasil timbul persepsi bahwa usaha PLN rendah karena semua biaya ditanggung melalui subsidi. "Subsidi itu harus didasarkan performa pada PLN yang lebih objektif," ujar Freddy, Selasa (22/7).

Nah, pemerintah pun mengganti skema subsidi PLN menjadi sistem berbasis kinerja atawa Performance Based Regulatory (PBR). Skema ini akan mulai ditetapkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015. Dalam konsep PBR, ada pemisahan antara parameter yang ditanggung pemerintah dan yang dalam kendali PLN.

Parameter yang dikendalikan pemerintah adalah parameter tidak terkendali yaitu asumsi inflasi, nilai tukar rupiah, dan pertumbuhan. Sedangkan parameter yang dikendalikan PLN adalah parameter terkendali yaitu operasional PLN sendiri. 

Dalam parameter terkendali ada unsur kebutuhan pendapatan (KP) yang meliputi kegiatan operasional dan investasi yang akan disepakati bersama antara Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kegiatan operasional meliputi biaya pembangkitan, transmisi, distribusi, dan fungsional perusahaan secara kas. Kegiatan investasi meliputi biaya pemenuhan kewajiban pembiayaan dan biaya penambahan kapasitas usaha.

Sejak awal otoritas kementerian terkait bersama PLN sudah menyepakati berapa kebutuhan pendapatan dalam APBN untuk kemudian ditentukan besaran jumlah subsidi. Subsidi tidak bisa ditingkatkan apabila berasal dari lonjakan parameter terkendali. Hanya bisa berubah apabila berasal dari parameter tidak terkendali.

Pemerintah akan melakukan evaluasi dalam periode empat tahun. Target kinerja yang diharapkan dalam empat tahun adalah PLN bisa meningkatkan efisiensi, memperbaiki kualitas pelayanan, dan menurunkan biaya produksi.

Freddy mengaku, apabila ternyata dalam evaluasi belum ada penurunan biaya produksi maka PLN akan diberikan hukuman. Hukumannya dapat mengacu pada kinerja pimpinan PLN terkait sehingga perlu dilakukan perbaikan.

Pemerintah tidak bisa menjanjikan dalam waktu dekat dengan adanya skema PBR ini maka subsidi BBM akan turun. Tony Prianto, Kasubit BUMN Tiga menjelaskan, pertumbuhan listrik di Indonesia selalu naik. Lima tahun ke depan kebutuhan investasi listrik mencapai Rp 560 triliun. 

Yang bisa diwujudkan dengan skema PBR adalah layanan kepada pelanggan bisa ditingkatkan dengan biaya operasional yang lebih efisien. "Karena ada investasi yang dibutuhkan supaya itu bisa terjadi," tandas Tony.

Parameter terkendali yang akan didorong untuk terus lebih efisien. Sehingga dalam jangka panjang dengan adanya efisiensi PLN, tidak tertutup kemungkinan beban subsidi listrik pun bisa berkurang.

Direktur Niaga PLN Harry Jaya berpendapat, penggantian skema subsidi ini sudah dilakukan pembicaraan yang mendalam untuk bisa mencari bentuk yang sesuai dengan kondisi di Indonesia. Pemisahan parameter antara pemerintah dan PLN adalah hal yang baik. "Pembagian dirasa cukup fair untuk berbagi wilayah tanggung jawab," tutur Harry.

Adapun aturan PBR ini rencananya akan dikeluarkan dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Dalam waktu dekat aturannya ditargetkan akan segera keluar karena dalam pembahasan APBN 2015 kelak, skema ini sudah harus berlaku. 

Sudah banyak negara yang menerapkan skema PBR seperti Inggris, Spanyol, Italia, dan Prancis. Untuk ASEAN sendiri, Filipina adalah negara yang sudah menerapkan PBR.

Read more...
Monday, 9 June 2014

Lirik Lagu Jamilah - Tiger

2 comments

Ciptaan : Tiger
Vokal   : Tiger


Jamilah weta opa sare, ngara kau jamilah
ate mae sazha, jao ganggo goda
Jamilah weta opa sare, ngara kau jamilah
Wazho tana jawa, nggare melayu mesa

Sare opa kau nia sare..sare..sare
Kau tau ate ja'o mete
sare opa kau nia sare..sare..sare
Kau tau ate ja'o metee...heeeei

Reff
Jamilah weta uru mozho tembo
Kau mbana jozho, mai penga mozho, ine baba jadi uru weto
jamilah weta taku raki rombo
Kere kau mbe'o pake pezha gaya gaya kombe zhu ne zhera...
Jamilah wetaaa...aaaa...aaa..aaaa..jamilah weta

Melody

Back to jamilah...



Terjemahan (ada yang bisa bantu artinya dari bahasa Ende ke Indonesia?)
Read more...
Wednesday, 4 June 2014

Leces Genjot Produksi Kertas Serat Abaka

0 comments
Probolinggo - PT Kertas Leces berhasrat menjadi pemain kelas dunia dengan menggenjot produksi kertas serat abaka atau pulp abaca. Juru bicara PT Kertas Leces, Cilik Sukaryadi, mengatakan perusahaan menargetkan produksi pulp abaca hingga 100 ribu ton per tahun. "Ini program jangka panjang," kata Cilik kepada Tempo di Probolinggo, Selasa, 3 Juni 2014. 

Program jangka panjang tersebut yakni rencana pembuatansecurity paper dan specialty paper. Cilik mengakui kegiatan operasional Leces saat ini tidak stabil karena permasalahan modal. "Tapi kami optimistis untuk program jangka panjangnya," katanya.

Cilik mengatakan, dengan memproduksi security paper dan specialty paper serta abaca pulp, margin yang diperoleh Leces cukup tinggi. "Akan membawa dampak yang luar biasa bagi perkembangan Leces ke depan," katanya. Leces, kata dia, bukan hanya eksis, tapi akan lebih berkembang menjadi pemain kertas dan serat abaka kelas dunia. 

Di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, kata Cilik, Leces telah bekerja sama untuk mengelola 250 hektare lahan bagi pohon pisang abaka. Setiap hektare bisa memuat 900 pohon. "Setiap pohonnya anakannya bisa sepuluh."

Saat ini kebutuhan serat abaka di dunia mencapai 600 ribu ton per tahun sehingga menjadi peluang bagi Leces untuk ikut bermain di dalamnya. Selama ini serat abaka di dunia paling banyak disuplai oleh Filipina.

Read more...
Wednesday, 7 May 2014

Berbisnis Bukan Cuma Mendongkrak Omzet

0 comments
Menjadi pengusaha boleh jadi merupakan mimpi sebagian besar orang saat ini. Pengusaha bisa mengelola usaha secara mandiri dengan jam kerja yang fleksibel. Kesempatan untuk mengeksplorasi bisnis hingga bernilai maksimal juga terbuka luas. Bandingkan dengan nasib karyawan perusahaan yang dibatasi oleh hierarki jabatan dan jenjang karier.

Namun, di balik segala keistimewaan, tersimpan banyak tantangan yang menghadang para pengusaha. Salah satu yang sering menjadi permasalahan, terutama di kalangan para pemula, adalah pengaturan keuangan.

Sering sekali pengusaha dengan omzet yang mulai menanjak tiba-tiba kelabakan karena tidak mencatat keuangan secara tertib. Itulah pengalaman Reza Andriadi, pemilik sebuah usaha penerbitan di Jakarta Selatan. Pada awal merintis usaha dulu, Reza mencampur aduk keuangan bisnis dan pribadi. Masalah muncul saat Reza harus mengurus perpajakan. “Pusing karena pencatatan aset dan utang selama ini telanjur nyampur,” cerita dia.

Membereskan soal itu ternyata cukup menguras tenaga. Prospek usahanya juga terancam. Sebab, tanpa menyelesaikan urusan pajak dia bisa mengikuti tender proyek penerbitan sebuah instansi pemerintah. Runyam, bukan?

Pentingnya memiliki pembukuan keuangan usaha yang tertib juga muncul dari pengalaman Rochadi Ariawan, pemilik Klinik Gigi Dentaris di Jakarta. Sebenarnya dia telah memisahkan rekening pribadi dan bisnis. Meski begitu, tetap saja dia tersandung masalah ketika usaha yang dia rintis sempat kekurangan modal. “Saya tidak memiliki dana cadangan untuk usaha, sehingga terpaksa membobol tabungan pribadi dan berutang ke saudara,” cerita dia.

Antisipasi Masalah

Cerita serupa juga dikisahkan oleh Alpha Satriakusuma, pemilik usaha konstruksi Prajja Indonesia. Kendati cukup rajin mencatat arus kas usaha, rupanya Alpha tidak menyisihkan sebagian pendapatan usahanya untuk cadangan biaya operasional. Ujung-ujungnya, ketika terdesak kebutuhan dana tambahan untuk operasional, Alpha terpaksa menambalnya dengan berutang ke kerabat.

Mencari tambahan sumber dana untuk mendukung masalah permodalan, merupakan hal wajar dalam bisnis. Justru para usahawan yang berhasil kebanyakan menemui puncak kesuksesan lewat dukungan permodalan besar dari bank.

Namun, akan menjadi hal yang kurang sedap ketika kendala bisnis yang Anda hadapi mengemuka hanya karena hal yang cenderung “sepele”. Misalnya, akibat kemalasan Anda menertibkan keuangan bisnis.

Mencampur rekening usaha dengan rekening pribadi, tidak tertib mencatat arus keluar masuk dana, nilai aset bisnis tidak terdokumentasi dengan lengkap, bisa menjadi penyebab ketersendatan usaha Anda.

Lantas, bagaimana cara mengatur keuangan yang tepat bagi para pebisnis agar kantong pribadi aman dan usaha lancar? Simak strategi yang dibagi oleh perencana keuangan berikut:

Pisahkan Rekening

Memisahkan rekening pribadi dengan rekening bisnis wajib dilakukan oleh pengusaha level apa pun. Selain terlihat lebih profesional, dengan rekening yang berbeda, Anda bisa mudah melacak arus keluar masuk dana di bisnis Anda. “Manfaatkan produk tabungan khusus pebisnis yang banyak tersedia di perbankan,” kata Farah Dini, perencana keuangan Janus Consulting.

Beberapa produk rekening bisnis di perbankan sudah dilengkapi fitur pendukung pengorganisasian keuangan pebisnis. Semua transaksi perbankan secara otomatis tercatat dengan rapi. Kita bisa melacak arus keluar masuk dana berikut sumber dan tujuan masing-masing, hingga beberapa periode ke belakang.

Oh, iya, pemisahan rekening juga berarti memisahkan pula penggunaan kartu kredit pribadi dengan kartu kredit untuk keperluan bisnis.

Tertib administrasi akan memudahkan Anda memantau kondisi kesehatan keuangan bisnis. Kita bisa tahu arus kas yang sebenarnya, daya tahun likuiditas, nilai aset, tingkat penjualan, hingga laba atau kerugian usaha secara tepat.

Dengan begitu, Anda bisa lebih sigap menentukan langkah pengembangan bisnis karena memiliki bahan untuk menimbang kondisi keuangan perusahaan. Anda juga bisa lebih cepat mengantisipasi manakala di tengah jalan usaha menemui kesulitan keuangan.

Ini telah dipraktikkan oleh Rochadi. Pencatatan tetek bengek keuangan yang terkait bisnis terbukti membantu Rochadi mengetahui pos-pos mana yang bisa dia hemat dan pos mana yang berpotensi menggelembungkan biaya. Dengan mengetahui kondisi keuangan, dia bisa mengambil langkah konkret supaya kondisi usaha kian baik.

Sebagai contoh, dia bisa melakukan efisiensi pengeluaran melalui penekanan pungutan liar hingga pemilihan peralatan pendukung usaha yang lebih berkualitas supaya lebih awet. “Cara ini terbukti ampuh mengatasi masalah keuangan usaha tanpa perlu berimbas pada keuangan pribadi,” ujar dia.

Susun Direktori

Pada dasarnya, pengaturan keuangan bisnis tidak berbeda dengan keuangan pribadi. Anda tetap harus menyiapkan dana darurat, biaya operasional, proteksi, juga pos investasi, dalam perencanaan keuangan bisnis.

Yang sedikit berbeda adalah jenis pos-pos kebutuhan. Dalam keuangan bisnis, mungkin ada pos biaya pembayaran pemasok, biaya penjualan, pendapatan usaha, pos gaji karyawan. Juga, kewajiban usaha berupa cicilan bank, dan sebagainya.

Adapun penyediaan dana darurat kegiatan bisnis bisa Anda sisihkan dari pendapatan usaha per bulan. Untuk dana darurat, Freddy Pileoor, perencana keuangan MoneynLove Financial Planning and Consulting. bilang, idealnya sebesar dua kali sampai tiga kali lipat biaya operasional bisnis. Besar dana cadangan bisa berbeda-beda tergantung pada sektor usaha.

Sejalan dengan saran itu, Rochadi biasa menyisihkan dana cadangan sebesar enam kali pengeluaran bulanan. “Saya selalu mencadangkan sekitar 10% sampai 20% dari pendapatan,” imbuh Alpha.

Lain lagi soal investasi usaha. Dalam penataan keuangan pribadi, tujuan investasi adalah mencapai tujuan tertentu, seperti mengumpulkan dana pendidikan atau dana pensiun. Pada keuangan bisnis pos investasi diarahkan untuk mendukung pengembangan bisnis. “Misalnya, untuk pos ekspansi usaha isinya pembelian mesin baru,” kata Dini.

Bikin proyeksi

Keuangan bisnis tak cuma membutuhkan tertib administrasi. Supaya pengelolaan keuangan juga tepat, para perencana keuangan menyarankan agar Anda juga membuat proyeksi anggaran bulanan dan tahunan. “Hitung pengeluaran dalam enam bulan, setahun hingga 3 tahun ke depan,” saran Freddy lagi,

Dia menjelaskan, langkah ini akan membantu Anda mengukur kemampuan kas usaha dalam mendanai biaya operasional dalam jangka pendek dan menengah. Asumsikan pula pendapatan usaha per bulan atau kinerja penjualan.

Dengan memiliki proyeksi anggaran bulanan, Anda bisa terbantu berdisiplin memakai dana di kas usaha. Tanpa batasan anggaran, hal itu sulit diwujudkan. Selain itu, sebagai pengusaha Anda lebih siap mengantisipasi kondisi keuangan bisnis tanpa khawatir imbasnya bagi keuangan pribadi.

Manajemen Laba

Hal paling mengasyikkan menjadi seorang pengusaha atau wirausahawan adalah potensi pendapatan yang tak terbatas. Kendati untuk mencapai itu semua, upaya serta risiko yang harus Anda tanggung juga sepadan.

Nah, setelah bisa disiplin menerapkan tertib administrasi keuangan, penting juga bagi Anda menjalankan manajemen laba yang tepat. Pengalaman Alpha menunjukkan, manajemen laba yang kurang tepat berisiko menggoyang bisnis. Akibat memperlakukan keuntungan usaha sekadar sebagai dana kas, dia sempat kelabakan mencari tambahan modal saat kondisi kas mendadak tiris.

Oleh sebab itu, dari setiap keuntungan yang Anda peroleh, silakan bagi ke dalam pos-pos lagi. “Setelah dipotong seluruh biaya, sebagian keuntungan bisa menjadi gaji Anda dan sisanya bisa diinvestasikan lagi untuk bisnis,” ujar Dini.

Selamat, kalau selama ini sudah rapi menata keuangan usaha dan pribadi. Sebuah kendala perjalanan bisnis sudah mampu Anda taklukkan.

Sebaliknya, jika tata keuangan Anda masih gaya warung rokok pinggir jalan seadanya, sebaiknya segera berbenah. Tak kurang contoh, pengusaha sukses jatuh bangkrut gara-gara tak rapi menata keuangan mereka.

Tentu Anda tidak ingin seperti mereka, bukan?

Read more...

Modal Usaha Reny Feby, Kepercayaan Konsumen

0 comments
Bulan ini adalah bulan yang spesial bagi Reny Feby. Pada Februari itu, tepatnya 25 Februari 2014, pemilik usaha Reny Feby Jewelry ini merayakan ulang tahunnya yang ke-41 tahun. Pada tanggal itu pula, dia akan menggelar "Event Budaya Betawi" sebagai peringatan satu tahun dibukanya Pendhapa Pusthika. Ini adalah sebuah galeri perhiasan yang memamerkan dan menjual beragam perhiasan karya Reny Feby di kawasan Jakarta Selatan.

Pendhapa Pusthika seperti monumen kesuksesan Reny dalam berbisnis perhiasan sejak tahun 1998. Dengan modal nol dan pengetahuan minim mengenai seluk-beluk perhiasan, ibu tiga anak ini tak pernah menyerah mengayuh biduk usahanya. Kini, setelah 15 tahun, usahanya berkibar tinggi. Pendhapa dan sebuah gerai Reny Feby Jewelry di Alun-Alun Grand Indonesia, Jakarta, tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin membeli atau memesan produk perhiasan bermerek Reny Feby.

Pelanggannya dari beragam kalangan. Mulai dari kelompok arisan, wanita karier, pengusaha, artis, kaum sosialita hingga ibu-ibu pejabat di negara ini. Bahkan, pembelinya meluas sampai ke negeri jiran. Sayangnya, Reny enggan menyebut pendapatan atau omzetnya. Sebagai gambaran, pada awal tahun 2000-an, dia pernah mengantongi duit Rp 160 juta sehari dari berjualan perhiasan. Bagaimana sekarang? "Ya, cukuplah," kata Reny sembari tertawa kecil kepada wartawan KONTAN, Yura Syahrul, awal Januari lalu. Berikut nukilan wawancaranya.

KONTANMengapa memutuskan menjadi seorang wirausahawati ketimbang karyawan atau ibu rumah tangga?
RENY: Bapak saya adalah seorang pengusaha. Jadi, sejak kecil saya sudah dilatih mempunyai mental yang kuat dalam berusaha. Saat SD saya sudah membantu orangtua untuk berjualan celana jins. Kegiatan itu terus berlanjut hingga SMA. Saat kuliah di Fakultas Hukum, saya tak cuma berjualan jins tapi juga bisnis parsel. Jadi, kala itu, mobil saya itu berisi barang dagangan semua.

Meski saya selalu berbisnis sejak sekolah, bukan berarti usahanya selalu lancar dan selalu untung. Saya juga beberapa kali ditipu oleh pelanggan. Tapi, dari kejadian itu saya selalu mendapat pengalaman untuk bangkit. Hal itu juga berkat bimbingan ayah saya. Makanya, sejak kecil saya memang sudah memutuskan untuk memiliki bisnis sendiri.

KONTANBagaimana Anda mengawali bisnis perhiasan?
RENY: Tahun 1998, setelah lulus kuliah, kakak meminta saya untuk membantunya berjualan perhiasan. Padahal, saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang perhiasan. Modal saya cuma kemauan keras untuk menjual perhiasan itu. Pertama kali saya berjualan door-to-door. Banyak yang menolak. Bahkan, saya sering dicaci-maki calon pembeli.

Tapi, target saya, yang penting setiap hari bisa ketemu satu orang. Tidak masalah kalau orang itu menolak membelinya. Pokoknya saya berusaha mempromosikannya. 

KONTAN: Lantas, bagaimana Anda mengembangkan usaha tersebut?
RENY: Saya berusaha menciptakan market sendiri. Berdasarkan daftar calon pelanggan yang saya peroleh ketika ikut bisnis multi level marketing (MLM), saya mendatangi komunitas ibu-ibu di Pondok Indah atau perkumpulan arisan. Pembeli pertama perhiasan saya adalah istri seorang komedian terkenal. Setelah itu, pembelinya semakin banyak. Saya pernah berhasil menjual 40 cincin senilai Rp 160 juta sehari.

Tahun 2000, saya memutuskan membuat sendiri perhiasan. Saya mulai belajar sendiri untuk mendesain perhiasan, seperti membaca majalah-majalah dari luar negeri untuk mengetahui tren yang sedang berkembang. Tahun 2002, saya mendatangi "Hong Kong International Jewelry" untuk menyerap ilmu dari para peserta yang hadir. Saya juga dapat bimbingan dari pemerintah Belanda mengenai cara membuat perhiasan yang berstandar mutu internasional.

KONTANMenurut Anda, apa kunci kesuksesan sehingga bisa membesarkan usaha?
RENY: Saya mengawali usaha ini tanpa modal sama sekali. Saya cuma menyadari bahwa bisnis perhiasan itu adalah bisnis kepercayaan di antara menjual keindahan dan kepuasan. Karena itu, saya berusaha meraih kepercayaan pelanggan. Tak cuma itu, saya berusaha menjaga amanah pelanggan, stakeholder dan para supplier.

Setelah itu, harus fokus mengembangkan usaha. Kalau berkecimpung di bisnis perhiasan, orang akan ragu kalau kita tidak konsisten. Jadi yang terpenting dalam membangun usaha bukan modal, ide brilian, minat atau menguasai pasar.

KONTAN: Bagaimana Anda menentukan tahapan dalam pengembangan usaha?
RENY: Let it flow, mengalir saja sesuai perkembangan bisnisnya. Ketika tidak punya modal, saya pinjam barang dari orang lain. Saat butuh barang lebih banyak, saya cari pemasok. Saya melakukan itu semua, seperti hamster. Jadi saya tahu semua aspek dari bisnis ini.

Belakangan, saya mengekspor produk perhiasan ini ke luar negeri, seperti Malaysia dan Jepang, karena besarnya permintaan. Ternyata potensi batu-batuan perhiasan di negara itu sangat besar.

KONTANApa pertimbangan membuat label sendiri?
RENY: Menurut saya, branding sangat penting karena sekaligus mengiklankan nama dan hasil desain saya. Branding juga perlu untuk pasar high end, seperti target pasar produk saya. Apalagi, belakangan, orang-orang kaya justru bangga menggunakan produk dan label dalam negeri sendiri.

Awal 2013 saya juga mendirikan Pendhapa Pusthika. Impian saya sejak 10 tahun lalu, tempat ini bukan sekadar galeri perhiasan tapi tempat untuk sosialisasi perhiasan dan mengedukasi tentang desain perhiasan.

KONTANApa Anda tak khawatir banyak kompetitor?
RENY: Saya tidak takut. Justru dengan berbagi ilmu maka bisnis ini akan semakin tumbuh. Apalagi, dalam industri kreatif, kreator itu selalu di atas sedangkan pengekor di bawah. Makanya, harus selalu kreatif!


Read more...

Kue Lapis Rizka Modalnya Pinjaman Mertua

1 comments
Bermodal pinjaman dari mertua dan Rp 500.000, Rizka Wahyu Romadhona merintis bisnis kue Lapis Bogor Sangkuriang untuk pertama kalinya. Sebelum itu, perempuan yang sudah berposisi manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi itu memilih resign dan merintis usaha bakso.

Sayang, bisnis baksonya merugi sampai-sampai sempat menunggak cicilan rumah empat bulan. Tagihan-tagihan menumpuk. Tapi, Rizka tak menyerah. Bermula dari pengalaman sehari-hari, muncul ide menjual oleh-oleh lantaran Bogor, tempatnya tinggal, selalu macet oleh pengunjung dari luar kota.

Merintis bisnis kue lapis sejak 2011, kini usahanya membesar. Rizka sempat kewalahan lantaran pekerja makin bertambah. Bahkan, terbersit ingin mengakhiri bisnis gara-gara pusing memikirkan karyawan. Lulusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Surabaya, ini lagi-lagi punya solusi.

Rizka Wahyu Romadhona berbagi kisah kepada wartawan KONTAN, Kornelis Pandu Wicaksono, Senin (6/1):

KONTAN: Bagaimana awal Anda berbisnis kue lapis ini?
RIZKA: Karena kepepet. Dahulu, sebenarnya punya bisnis lain. Namun kurang jalan sehingga akhirnya minus. Kemudian waktu itu banyak sekali tagihan-tagihan yang belum kami bayar. Akhirnya, puter otak, coba–coba usaha menjual beberapa produk lain sampai akhirnya menemukan ide membikin ini (kue lapis). Mulai 2011. Waktu itu bisnis usaha rumahan. Setelah itu gerilya, dari tetangga terus masuk komunitas dan dinas-dinas (lembaga/instansi pemerintah). Hingga akhirnya punya outlet di Jalan Sholeh Iskandar, Bogor.

KONTAN: Asal mula idenya dari mana?
RIZKA: Kami lihat potensi bogor seperti apa. Bogor kan kota wisata, setiap Sabtu-Minggu macet pengunjung dari kota lain. Nah, budaya kita kan selalu membawa oleh-oleh setelah bepergian. Jadi, kami lihat kenapa tidak membuat bisnis khas Bogor yang memanfaatkan itu? Apalagi Bogor juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Ini konsep baru. Memang awalnya kami lihat produk-produk dari kota lain seperti Bandung dan Batam. Dari sana, kami adopsi menyesuaikan ciri khas Bogor.

KONTAN: Bagaimana kondisi bisnis Anda saat ini?
RIZKA: Menurut saya Insya Allah lebih baik. Sekarang kami sedang menata manajemen mulai dari bahan baku hingga penjualan. Saat ini banyak perbaikan yang dilakukan. Untuk penggunaan bahan baku, sudah ada pendataan. Jadi, kami mengetahui seberapa besar kerugian yang terjadi dari kelebihan bahan baku. Karena dari kelebihan itu, banyak opportunity loss atau kesempatan yang hilang untuk mencari pendapatan tambahan. Untuk mengukur kinerja kami ada Key Performance Index (KPI). Jadi, setiap bulan kami melakukan evaluasi, mulai dari kegiatan produksi sampai proses penjualan. Untuk penilaian KPI tergantung masing-masing bagian. Misal, KPI untuk bagian produksi, indikator yang dinilai adalah jumlah produksinya.

KONTAN: Apa hambatan terbesar bisnis Anda?
RIZKA: Keterbatasan ada di sumber daya manusia (SDM). Bisnis kami membutuhkan SDM dalam jumlah banyak. Namun, untuk meng-hire orang membutuhkan waktu yang lama. Belum lagi, pelatihan-pelatihan yang perlu kami berikan untuk mereka.

KONTAN: Menurut Anda, merintis bisnis di tengah kondisi saat ini bagaimana?
RIZKA: Sekarang lebih mudah. Karena pasar Indonesia itu, kan, sangat besar. Selain itu, kita juga sudah bisa menggunakan fasilitas-fasilitas seperti internet, Facebook, Twitter, dan blog untuk promosi. Fasilitas-fasilitas ini memungkinkan tidak perlu outlet fisik yang butuh modal besar.

KONTAN: Apa strategi utama ibu mengembangkan bisnis?
RIZKA: Jasa konsultan. Konsultan itu memastikan kami berada di track yang benar.

KONTAN: Mengapa menggunakan jasa konsultan?
RIZKA: Waktu itu, kami sudah mulai jalan. Karena berada di dalam, kami tak bisa melihat sendiri beberapa hal yang mungkin bisa terlihat oleh orang luar. Konsultan bisa memberi pandangan dari luar. Mereka bisa memberikan rekomendasi apa saja yang bisa dilakukan untuk menaikkan 
produktivitas.

KONTAN: Apa biaya konsultan itu mahal?
RIZKA: Tergantung, sesuai dengan target yang ingin diraih. Semakin tinggi target yang ingin dicapai, biasanya, jasa konsultan akan semakin mahal.

KONTAN: Apakah dana yang Anda keluarkan untuk jasa konsultan itu sepadan dengan hasil yang diperoleh?
RIZKA: Malah lebih. Karena kinerja menjadi lebih baik setelah memakai jasa konsultan.

KONTAN: Untung rugi pakai jasa konsultan?
RIZKA: Lebih banyak untungnya, ya. Rugi tidak ada. Karena ketika menjalani konsultansi, banyak sekali perbaikan yang dijalankan sehingga tercipta efisiensi. Sekarang penjualan semakin naik setelah kehadiran konsultan tersebut. Jadi, modelnya lebih ke konseling. Kami punya masalah, lalu sharing ke mereka. Nanti mereka bantu dengan memberi saran. Tapi, tetap pengambilan keputusan ada di kami. Contoh terakhir, ya, masalah SDM. Jadi, ada karyawan masih baru, sudah keluar. Nah, kami harus buat sistem mengenai itu. Misalnya, job desk, kontrak, dan lain-lain.

KONTAN: Berapa nilai omzet dan jumlah outlet sekarang?
RIZKA: Sekarang ada tiga outlet, di Jalan Sholeh Iskandar dan Jalan Pajajaran, Bogor, serta satu di Cibinong. Omzet alhamdullilah banyak. Cuma kami ini lagi benerin laporan pajak, jadi, maaf, belum bisa menyebutkan nominal.

KONTAN: Bagaimana rencana bisnis ke depan?
RIZKA: Meningkatkan jumlah produksi dahulu supaya stabil. Saat ini, demand jauh lebih banyak daripada volume produksi kami. Untuk mengakalinya, kami membatasi jumlah pembelian tiap pembeli.

Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil