Showing posts with label Saham. Show all posts
Showing posts with label Saham. Show all posts
Friday, 2 May 2014

Jumlah Investor Kelas Menengah Hanya 500.000 Orang

0 comments
Jakarta - Konsumtifnya masyarakat Indonesia terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang selama ini banyak ditopang oleh konsumsi. Untuk itu, sudah sepatutnya masyarakat sadar akan pentingnya investasi, khususnya untuk jangka panjang.

Karena apabila uang yang dimiliki tak diinvestasikan, maka masyarakat akan konsumtif. Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Legowo Kusumonegoro menuturkan, jika tidak melakukan investasi, masyarakat bakal kian konsumtif.

"Orang Indonesia harus disadarkan untuk mulai investasi. Kenapa tidak memanfaatkan pasar modal? Kita harus sisihkan uang untuk investasi jangka panjang," kata Legowo di Jakarta, Rabu (30/4).

Dia menyebutkan, jumlah penduduk Indonesia hampir mencapai 250 juta. Namun sayangnya, jumlah investor pasar modal domestik masih sangat minim. 

"Dari 143 juta orang kelas menengah yang investasi di pasar modal cuma sekitar 500.000 orang," kata Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen di Jakarta, Rabu (30/4). 

Legowo mengatakan mata dunia saat ini sedang tertuju kepada Indonesia, lantaran potensi pasar yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang melaju kencang. Sektor konsumsi domestik masih menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi. 

"Sektor konsumsi kita, tidak melakukan apa-apa ekonomi bisa tumbuh 5,5 persen dari konsumsi. Negara-negara di Eropa maupun AS mau tumbuh 2,5 persen saja susahnya setengah mati. Investor asing senang melihat kita dan mau investasi, tapi kok investor di dalam negeri cuma 500.000?" jelasnya.

Tak hanya itu, Indonesia menurut Legowo memiliki bonus demografi yang menjadi dambaan banyak negara, dengan usia rata-rata penduduk Indonesia saat ini adalah 28 tahun. 

"Kombinasi jumlah penduduk besar, ekonomi kencang, dan penduduk produktif menjadi alasan kenapa Indonesia menarik. Income rata-rata orang Indonesia antara Rp 3 juta sampai Rp 4 juta," ucap dia. (Sakina Rakhma Diah Setiawan)


Read more...
Thursday, 1 May 2014

Kinerja Reksadana Saham Versus IHSG

0 comments
Oleh Budi Frensidy
Menyaksikan tingginya kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama tahun 2009 dan 2010 yang mencapai 86% dan 46%, sangat wajar jika di awal tahun 2011 banyak pemilik uang di Indonesia tergoda untuk mengalihkan dananya dalam saham. Siapa yang tidak tergiur dengan return saham sebesar itu? Itu saja baru capital gain dan belum termasuk dividen.
Sebagian dari mereka lalu mencari tahu apakah sebaiknya berinvestasi saham langsung atau melalui reksadana. Menurut Anda, mana yang lebih tinggi return-nya? Banyak yang percaya kinerja reksadana saham lebih baik karena dana dikelola manajer investasi profesional yang berpengalaman dengan segudang informasi pasar, pengetahuan, dan keahliannya. Anda setuju?
Nyatanya, rerata return reksadana saham selalu di bawah IHSG dalam tiga tahun terakhir. Saat IHSG naik 3,2% di tahun 2011, indeks reksadana ekuitas Infovesta justru turun 0,25%. Pada tahun 2012, reksadana saham juga hanya naik 10,06% ketika IHSG tumbuh 12,94%. Reksadana saham juga berkinerja lebih buruk tahun lalu yaitu -3,7% berbanding IHSG yang turun 1%.
Ditotal, investor saham langsung dengan kemampuan rata-rata dan melakukan diversifikasi akan memperoleh return 15,4% selama 3 tahun atau 4,9% per tahunnya. Sementara, investor reksadana saham rata-rata hanya mengalami pertumbuhan portofolio 2,5% dari awal 2011 hingga akhir 2013 atau rata-rata 0,8% p.a.    
Sayangnya, hampir tidak ada artikel yang mengupas jeleknya kinerja reksadana saham dibandingkan dengan IHSG. Bahwa sedikitnya ada lima kelemahan berinvestasi melalui reksadana saham yang perlu Anda pahami. Pertama, Anda tidak akan memperoleh dividen sebab dividen yang diperoleh reksadana saham akan direinvestasikan dalam saham dan tidak dibagikan karena satu-dua alasan. Untuk Anda ketahui, besar dividend yield ini sekitar 2% per tahun untuk saham-saham LQ-45.
Kedua, reksadana saham sering mengenakan subscription fee, management fee, dan redemption fee. Biaya ini tidak dialami investor saham langsung. Jika biaya masuk keluar ini sampai 2%-3%, siap-siap keuntungan bersih investasi Anda akan tergerus sebesar ini. Biaya sebesar ini ketinggian karena yang dilakukan manajer investasi sesungguhnya dapat ditebak yaitu membeli saham-saham berkapitalisasi besar yang juga masuk dalam LQ-45. Yang berbeda adalah bobot di masing-masing saham dan industri.
Ketiga, para manajer investasi pengelola reksadana saham umumnya menerapkan strategi aktif dengan mengandalkan analisis momentum dan teknikal. Akibat strategi dan pendekatan ini, mereka bertransaksi dengan sering sehingga biaya transaksi pun menjadi besar. Ini persis dengan yang dituliskan Barber dan Odean dalam Journal of Finance (2000) bahwa, trading is hazardous to your wealth. Tidak mengherankan, jika sebagian besar reksadana saham memberikan return (kenaikan NAB) di bawah return pasar (IHSG).
Untuk tahun lalu, hanya ada 26 reksadana saham yang memberikan return positif dan total ada 30 yang berada di atas IHSG. Sementara sekitar 100 lainnya berkinerja negatif dan juga di bawah IHSG. Jadi, sudah tidak dapat dividen, capital gain investor dalam reksadana saham sebagian besar juga lebih rendah daripada yang diperoleh investor saham langsung dengan strategi pasif menggunakan analisis fundamental.
Keempat, manajer investasi reksadana saham umumnya menerapkan strategi diversifikasi agar risikonya minimum. Padahal diversifikasi juga mengandung kelemahan. Dari beberapa artikel saya di kolom ini beberapa waktu lalu, mungkin Anda masih ingat.
Pertama, diversifikasi itu berangkat dari paradigma minimalisasi risiko dan premis bahwa investor itu adalah risk-averse. Diversifikasi menjadi kurang tepat untuk investor ritel yang risk-taker dengan paradigma maksimalisasi return.
Kedua, melakukan diversifikasi membuat Anda tidak fokus. "The more you diversify, the less you know about any one area," tulis William J. Oneil (2002). Ketiga, strategi diversifikasi akan membuat beta portofolio sekitar satu sehingga kinerja investasi akan bergerak mengikuti IHSG. Terakhir, diversifikasi akan membuat Anda tidak gesit dalam menyikapi dan mengantisipasi pasar terutama ketika pasar mulai bearish seperti bulan Agustus-September tahun lalu.
Menyadari kelemahan di atas, sebagai investor ritel, sejak beberapa tahun terakhir, saya lebih menyukai dan menerapkan portofolio yang mengandung sekitar lima saham. Sejatinya, investor saham langsung juga dapat melakukan diversifikasi sendiri jika dia setuju dengan strategi diversifikasi dan mempunyai dana cukup. Tetapi dia mempunyai pilihan lain yaitu fokus jika dia ingin memaksimalkan return.
Sebagai investor saham langsung, Anda dapat menerapkan prinsip dasar investasi buy what you know and know what you buy seperti yang dianjurkan Peter Lynch. Manajer investasi, karena harus diversifikasi dan masih mempercayai analisis momentum, kadang mengabaikan prinsip utama ini. Ketahuilah, jika manajer investasi itu sangat khawatir kinerja reksadana kelolaannya di bawah return IHSG karena akan mempengaruhi penilaian publik dan prospeknya.
Intinya, untuk saham, Anda dapat menjadi manajer investasi untuk dana sendiri. Anda dapat memperoleh dividen, bebas memilih strategi fokus atau diversifikasi, aktif atau pasif, tidak kena fee masuk dan fee keluar, dan dapat menerapkan prinsip dasar investasi ala Peter Lynch.
Read more...
Thursday, 31 October 2013

Analisis Fundamental Dalam Memilih Saham di Pasar Modal

1 comments
Investasi di pasar modal mencakup bagaimana cara menganalisis melalui informasi yang ada.Sebelum memutuskan menjual atau membeli saham, Investor tidak mungkin membeli saham ataupun menjual saham tanpa dasar pengetahuan apapun.Investor wajib mencari informasi berita yang berkaitan dengan saham yang akan di beli termasuk perusahaan yang menertibkan saham tersebut.



Investasi saham dalam jangka panjang perlu kita ketahui dan memahami unsur unsur fundamental. Terdapat dua jenis analisis saham, analisis teknikal, dan analisis fundamental.

Tujuan analisis fundamental adalah menganalisis perusahaan dengan saham yang akan kita beli, untuk informasi analisis fundamental bisa kita dapatkan melalui media elektronik, media cetak dan sebagainya.

Semakain bagus kinerja perusahaan semakin tinngi pula harga sahamnya. Layaknya sebuah barang semakin bagus maka harganya semakin mahal. Umumnya perusahaan yang kinerjanya bagus harga sahamnya akan naik. Oleh karena itu sangat penting untuk memilih perusahaan yang bagus dan mempunyai nilai saham yang masih murah.



Jika ada yang bertanya di antara saham ADHI dan WIKA  mana yang lebih murah,saat ini harga ADHI Rp 1.040 dan WIKA Rp 1.210, sebagai patokan untuk menentukan valuasi suatu saham murah atau mahal kita gunakan Price Earning Ratio (PER) 

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, sebagai perbandingan, 28 September 2012 PER (Price Earning Ratio) ADHI (Adhi Karya) sebesar 15,92 kali. 28 September 2012 PER WIKA (Wijaya Karya) sebesar 19,49 kali. Jadi harga saham ADHI masih menarik karena PER nya masih relatif rendah.  

Selain Price Earning Ratio (PER),yang perlu kita diperhatikan adalah rasio hutang dengan modal Debt to Equity Ratio (DER). Perusahaan yang kuat umumnya rasio hutang antara modal dibawah satu.Rasio hutang terhadap modal sangat penting karena perusahaan rasio hutang 40 % artinya bahwa 40% dari aset dibiayai oleh hutang.

Dimana perusahaan yang memiliki debt rasio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan apalagi sudah parah bisa bangkrut, perusahaan yang mempunyai hutang banyak dan akhirnya bermasalah umumnya adalah perusahaan gagal bayar bunga.





Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil