![]() |
| Deretan rumah mewah yang diberikan kepada warga kampung secara gratis di Tiongkok |
Minoritas Muslim Rohingya
Meluruskan dan Merapatkan Shaf
Radio Streaming IslamiJeram Sungai Pekalen
Keadaan Minoritas Muslim Rohingya di Myanmar
Sampai bulan ini, reformasi Myanmar dari negara tertutup menjadi negara demokrasi awalnya tampak...More
Pentingnya Meluruskan dan Merapatkan Shaf
“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat (dengan rapih) di hadapan Rabb mereka?”...More
Link Radio Streaming Islami Indonesia
Bagi anda yang ada di perantauan seperti saya dan tidak ada radio islami di sana dan ingin mendengarkan nasyid,...More
Goyang Inul di Jeram Sungai Pekalen
Karakteristik sungai Pekalen berbelok dan bertebing, memiliki panorama alam yang indah,...More
Showing posts with label Teladan. Show all posts
Showing posts with label Teladan. Show all posts
Thursday, 27 November 2014
Jutawan di Tiongkok Beri Rumah Mewah ke Warga di Kampung Halamannya, Gratis
Seorang jutawan di Tiongkok membuldoser kampung tempatnya dilahirkan. Ia kemudian membangun rumah-rumah mewah untuk warga kampung itu tempati dengan gratis.
Jutawan itu bernama Xiong Shuihia, ia lahir di Desa Xiongkeng di wilayah Kota Xinyu, Tiongkok Selatan. Ia dan keluarganya merasa memiliki hutang budi kepada para orang-orang di tempatnya dilahirkan hingga tumbuh dewasa yang telah berbuat baik.
Ketika ia meraih kesuksesan di usia 54 tahun sebagai pengusaha industri baja, ia kemudian berniat membalas kebaikan masyarakat itu. Ia kemudian kembali ke kampung halamannya dan memberikan seluruh orang di sana tempat tinggal.
Lima tahun lalu ia merobohkan rumah-rumah di kampungnya untuk merubahnya menjadi rumah yang mewah untuk ditempati. Ia membangun rumah-rumah mewah itu bagi 72 keluarga di kampungnya agar dapat menikmati kehidupan yang mewah layaknya di perumahan mewah lainnya.
Adapun 18 keluarga yang dianggapnya selama ini berkelakuan baik kepada Xiong diberikan villa yang menjadi proyeknya senilai mendekati 4 juta poundsterling.
Tak hanya itu, bagi masyarakat yang sudah pindah ke rumah mewah itu juga disediakan makanan tiga kali sehari untuk para lansia dan warga yang berpendapatan rendah.
Jutawan itu menjadi kaya raya setelah ikut dalam bisnis pembangunan baja yang kemudian menjadi pedagang baja. "Saya dapat uang lebih, saya tidak ingin melupakan dari mana saya berasal," kata Xiong.
"Saya selalu melunasi hutang saya, karena itu saya ingin orang-orang yang sudah membantu saya saat saya masih kecil dan keluarga saya juga mendapatkan balasan dari kebaikan mereka," kata Xiong.
"Saya masih ingat bagaiaman orang tua dia (Xiong). Mereka orang-orang yang baik hati, mereka sangat peduli kepada sesamanya, senang rasanya mereka mewariskan sifat itu ke anaknya," kata tokoh tetua di desa itu, Qiong Chu, 75 tahun.
Saturday, 31 August 2013
Kisah Seorang Pemulung yang Bisa Naik Haji
Categories :
Haji . inspirasi . Leces . Probolinggo . Teladan
Probolinggo - Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Inilah yang diyakini dan dilakukan Mbok Karyati, seorang pemulung asal Probolinggo.
Meski secara logika pekerjaannya adalah pekerjaan rendahan, namun nenek 68 tahun ini ternyata bisa mencapai cita-citanya yakni menunaikan rukun Islam yang kelima, haji.
Untuk bisa mencapai keinginannya itu, Mbok Karyati telah bekerja sangat keras. Selama 20 tahun, wanita paruh baya yang tinggal di Desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Probolinggo ini menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.
Janda renta yang mempunyai 4 orang anak ini berkeyakinan bahwa ia bakal bisa naik haji layaknya orang-orang berduit. "Memang penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka'bah secara langsung," ujar Mbok Karyati saat berbincang dengan detikcom di rumahnya, Rabu (18/9/2013).
Mbok Karyati bercerita, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2001 lalu. Saat itu ia masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di 2005. Untuk menyambung hidup, Mbok Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-cita menunaikan ibadah haji.
"Ketika uang sudah terkumpul Rp 40 juta, ada seseorang yang meminjam dan tidak dikembalikan. Padahal saat itu sudah mau didaftarkan. Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa," terang Mbok Karyati.
Bermodal sepeda buntut, Mbok Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji.
"Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp 10 ribu. Yang Rp 5 ribu ditabung dan yang Rp 5 ribu untuk makan," ujar Mbok Karyati.
Dan selama mengejar impiannya, Mbok Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucu, namun nenek bercucu 12 orang ini tak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya.
Mbok Karyati lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di mesjid desanya. "Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung," katanya.
Usaha Mbok Karyati tak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keihklasan hatinya membawa Mbok Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Mbok Karyati direncanakan akan berangkat tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 embarkasi Juanda.
Monday, 4 March 2013
Sulaiman Al-Rajhi, Milyuner Arab Saudi yang Memilih Hidup Sederhana
Walaupun Al-Rajhi adalah seorang jutawan, tetapi beliau memilih untuk menjadi ‘miskin’ sehingga beliau tidak mempunyai sesen pun uang dan juga saham yang dimiliki beliau sebelumnya.
June 1, 2012Jutawan Arab Saudi yang berhasil mengubah hidupnya dari seorang rakyat miskin hingga menjadi kaya, Sulaiman Al-Rajhi, merupakan seorang dermawan yang terkenal di dunia.
Beliau adalah pendiri Bank Al-Rajhi, bank Islam terbesar di dunia, dan salah satu dari perusahaan terbesar di Arab Saudi.
Hingga 2011, kekayaan beliau telah diprediksikan oleh majalah Forbes, bernilai AS$ 7.7 bilion sekaligus dinobatkan sebagai orang ke-120 yang terkaya di dunia.
Yayasan Saar milik beliau adalah sebuah organisasi amal yang terkenal di negara tersebut.
Keluarga Al-Rajhi dianggap sebagai salah satu keluarga kaya yang BUKAN berasal dari keluarga kerajaan, dan mereka adalah termasuk dermawan terkemuka di dunia.
Walaupun Al-Rajhi adalah seorang jutawan, tetapi beliau memilih untuk menjadi ‘miskin’ sehingga beliau tidak mempunyai sesen pun uang dan juga saham yang dimiliki beliau sebelumnya.
Keadaan tersebut terjadi saat beliau memindahkan semua aset yang dimilikinya kepada anak-anak beliau dan menyumbangkan aset-aset yang selebihnya.
Untuk menghargai jasa beliau terhadap dunia Islam, termasuk mendirikan bank Islam terbesar dunia dan juga segala usaha yang dijalankan untuk membasmi kemiskinan, Al-Rajhi dipilih untuk menerima Anugerah Antara bangsa Raja Faisal atas jasa beliau kepada Islam.
Dalam satu wawancara yang dibuat oleh Muhammad Al-Harbi dari Al-Eqtisadiah Business Daily, Al-Rajhi menceritakan tentang bagaimana beliau mampu meyakinkan ketua-ketua bank di dunia, termasuk Bank of England, hampir 30 tahun lalu, bahwa bunga adalah sesuatu yang haram bagi kedua agama yaitu Islam dan Kristen, dan bank Islami adalah penyelesaian yang terbaik untuk menaikkan taraf ekonomi dunia.
Kisah Al-Rajhi, seputar bagaimana seseorang meraih kekayaan dari bawah.
Beliau terpaksa melewati kesusahan ketika beliau kecil sebelum menjadi kaya, dan kemudian meninggalkan segala harta yang ada setelah mencapai keberhasilan.
Al-Rajhi masih aktif bekerja walaupun usia beliau telah mencapai lebih dari 80 tahun.
Beliau memulai tugas hariannya sesudah sholat Subuh dan terus bekerja hingga selesai solat Isya.
Beliau kini memberikan pengabdian terhadap Yayasan SAAR, dengan berkeliling di negara-negara Arab untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan yayasan tersebut.
Beliau sering membawa buku catatan kecil untuk mencatat aktivitas harian beliau dan selalu memastikan tidak akan terlepas dari satu program pun.
Al-Rajhi juga merupakan sosok seorang yang amat berhasil dalam berbagai bidangusaha yang beliau geluti.
Selain mendirikan bank Islam terbesar dunia, beliau juga telah mendirikan lahan peternakan terbesar di Timur Tengah.
Di bidang ini, beliau telah menjalankan banyak eksperimen ternak secara organik di negara-negara Arab, termasuk tambak udang Al-Laith. Beliau juga turut mendirikan perdagangan hartanah dan juga beberapa usaha perikanan.

Wawancara:
Sheikh Suleiman, apakah anda kini telah menjadi miskin?
Ya. Kini apa yang saya miliki hanyalah pakaian-pakaian saya. Saya telah membagikan harta saya kepada anak-anak dan juga mendermakan selebihnya untuk menjalankan proyek-proyek amal. Ini bukanlah sesuatu yang aneh bagi saya. Kondisi keuangan saya kini telah menjadi kosong sebanyak dua kali dalam hidup saya. Jadi, saya amat faham akan keadaan ini. Namun, kini perasaan itu dipenuhi dengan kegembiraan dan juga ketenangan. Sudah sepatutnya saya memilih untuk menjadi miskin.
Mengapa berbuat demikian?
Segala kekayaan dimiliki oleh Allah s.w.t, kita hanyalah ditugaskan untuk menjaga kekayaan tersebut. Ada beberapa sebab mengapa saya memilih jalan ini. Di-antara sebab-sebab utamanya adalah saya perlu menjaga sahabat-sahabat Islam dan juga anak-anak saya. Ia adalah masalah yang paling penting dalam hidup. Saya juga tidak suka untuk membuang waktu di pengadilan hanya karena ada yang tidak setuju dengan jumlah harta yang diwariskan kepada mereka. Terdapat banyak contoh di mana anak-anak mulaI berselisih hanya karena harta yang kemudian menghancurkan perusahaan. Negara ini telah banyak kehilangan perusahaan-perusahaan besar karena perebutan harta yang sebenarnya bisa diselesaikan jika kita mencari jalan penyelesaian yang lebih baik. Selain daripada itu, setiap umat Islam perlu bersedekah sebagai bekal pahala di akhirat kelak, Jadi, saya lebih suka jika anak-anak saya mencari kekayaan sendiri daripada bergantung dengan saya.
Adakah Sheikh mempunyai banyak masa terluang setelah membagikan kesemua harta?
Seperti yang telah saya kemukakan tadi, saya masih bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak sedekah. Saya telah bekerjasama dengan pelbagai relasi untuk mensukseskan program ini. Menurut biasanya, umat Islam sering membagikan satu per tiga atau sebagian kekayaan mereka untuk bersedekah yang hanya akan diberikan setelah mereka meninggal dunia. Namun, bagi saya, saya ingin memulai sedekah ketika saya masih hidup. Jadi, saya membawa anak-anak saya ke Mekah pada akhir bulan Ramadhan dan memberitahu mereka ide saya. Mereka setuju dengan ide tersebut. Saya meminta bantuan kepada lembaga-lembaga yang berkaitan dalam membagikan semua harta saya termasuk saham dan juga kekayaan kepada anak-anak dan juga untuk didermakan. Kesemua anak-anak saya puas hatinya dengan inisiatif saya dan mereka kini sedang mengurus segala harta yang saya berikan kepada mereka.
Seperti yang telah saya kemukakan tadi, saya masih bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak sedekah. Saya telah bekerjasama dengan pelbagai relasi untuk mensukseskan program ini. Menurut biasanya, umat Islam sering membagikan satu per tiga atau sebagian kekayaan mereka untuk bersedekah yang hanya akan diberikan setelah mereka meninggal dunia. Namun, bagi saya, saya ingin memulai sedekah ketika saya masih hidup. Jadi, saya membawa anak-anak saya ke Mekah pada akhir bulan Ramadhan dan memberitahu mereka ide saya. Mereka setuju dengan ide tersebut. Saya meminta bantuan kepada lembaga-lembaga yang berkaitan dalam membagikan semua harta saya termasuk saham dan juga kekayaan kepada anak-anak dan juga untuk didermakan. Kesemua anak-anak saya puas hatinya dengan inisiatif saya dan mereka kini sedang mengurus segala harta yang saya berikan kepada mereka.
Berapa banyak harta yang dibagikan kepada anak-anak dan juga untuk didermakan?
Beliau tergelak tanpa memberi jawaban apapun.
Beliau tergelak tanpa memberi jawaban apapun.
Apakah perasaan Sheikh terhadap semua program yang sedang dijalankan?
Saya ingin menegaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang saya ambil sebelum melakukan sembarang kerjasama. Eksperimen yang saya lakukan terhadap pertukaran uang adalah salah satu daripada sebab mengapa saya mendirikan bank. Ketiadaan bank Islam juga menjadi di antara sebab mengapa saya mulai mendirikan Bank Al-Rajhi, yang kini merupakan bank Islam terbesar di dunia. Saya mulai eksperimen saya dengan membuka kantor di Britain di mana kami mulai memperkenalkan sistem perbankan Islam ke tingkat yang lebih besar. Eksperimen tersebut kemudian berkembang dan mulai mendapat sokongan dari ulama-ulama Saudi ketika itu. Saya masih ingat bagaimana permohonan saya untuk mendapatkan izin untuk membuka bank tidak diterima pada awalnya. Ini adalah karena pihak British tidak memahami apa-apa tentang sistem perbankan Islam. Saya kemudian pergi ke London dan berjumpa dengan Pengurus Bank of England dan dua daripada pegawai utama beliau. Saya memberitahu mereka bahwa penggunaan bunga adalah haram bagi Islam dan juga Kristen dan kebanyakan dari mereka sanggup menyimpan uang mereka di dalam kotak di rumah daripada menyimpan di dalam bank. Saya coba untuk meyakinkan mereka bahwa (jika mereka mulai membuka bank Islam) akan mampu menaikkan taraf ekonomi dunia. Mereka akhirnya setuju untuk mulai membuka bank-bank Islam. Saya kemudian mulai berkeliling ke seluruh dunia di bagian Timur dan Barat, dan berjumpa dengan ketua-ketua bank negara di beberapa buah negara dan memberitahu mereka bagaimana ciri-ciri yang terdapat dalam dunia ekonomi Islam. Kami mulai bekerja dan mencapai keberhasilan di negara-negara Arab dan melaksanakan perbankan Islam di London, saya kemudian berjumpa dengan Mufti Besar Sheikh Abdul Aziz bin Baz dan Sheikh Abdullah bin Humaid, dan memberitahu mereka tentang rencana saya bahwa: ‘Kita mampu, dengan izin Allah, memajukan perbankan Islam. Mereka memuji saya atas inisiatif yang saya jalankan. Dari situlah kami mula mengusahakan Bank Al-Rajhi seperti apa yang anda dapat lihat hari ini. Untuk projek Lahan Perikanan Al-Watania pula, saya mulai mendapat inspirasi untuk menjalankan projek tersebut ketika mengunjungi lahan peternakan di luar negeri. Saya jumpai bahwa cara mereka menyembelih adalah salah. Saya kemudian mengambil keputusan untuk bekerja sama dalam bidang ternak atas nama Islam dan negara. Saya tetap menjalankan projek tersebut walaupun membuat kerjasama dalam industri peternakan adalah sesuatu yang agak beresiko pada waktu itu. Kini, Al-Watania telah menjadi salah satu projek raksasa di Saudi. Perusahaan tersebut mendapat 40 persen dari saham di negara-negara Arab, dan ayam-ayam Al-Watania diberikan makanan yang cukup dan disembelih dengan cara yang halal menurut undang-undang syariah.
Saya ingin menegaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang saya ambil sebelum melakukan sembarang kerjasama. Eksperimen yang saya lakukan terhadap pertukaran uang adalah salah satu daripada sebab mengapa saya mendirikan bank. Ketiadaan bank Islam juga menjadi di antara sebab mengapa saya mulai mendirikan Bank Al-Rajhi, yang kini merupakan bank Islam terbesar di dunia. Saya mulai eksperimen saya dengan membuka kantor di Britain di mana kami mulai memperkenalkan sistem perbankan Islam ke tingkat yang lebih besar. Eksperimen tersebut kemudian berkembang dan mulai mendapat sokongan dari ulama-ulama Saudi ketika itu. Saya masih ingat bagaimana permohonan saya untuk mendapatkan izin untuk membuka bank tidak diterima pada awalnya. Ini adalah karena pihak British tidak memahami apa-apa tentang sistem perbankan Islam. Saya kemudian pergi ke London dan berjumpa dengan Pengurus Bank of England dan dua daripada pegawai utama beliau. Saya memberitahu mereka bahwa penggunaan bunga adalah haram bagi Islam dan juga Kristen dan kebanyakan dari mereka sanggup menyimpan uang mereka di dalam kotak di rumah daripada menyimpan di dalam bank. Saya coba untuk meyakinkan mereka bahwa (jika mereka mulai membuka bank Islam) akan mampu menaikkan taraf ekonomi dunia. Mereka akhirnya setuju untuk mulai membuka bank-bank Islam. Saya kemudian mulai berkeliling ke seluruh dunia di bagian Timur dan Barat, dan berjumpa dengan ketua-ketua bank negara di beberapa buah negara dan memberitahu mereka bagaimana ciri-ciri yang terdapat dalam dunia ekonomi Islam. Kami mulai bekerja dan mencapai keberhasilan di negara-negara Arab dan melaksanakan perbankan Islam di London, saya kemudian berjumpa dengan Mufti Besar Sheikh Abdul Aziz bin Baz dan Sheikh Abdullah bin Humaid, dan memberitahu mereka tentang rencana saya bahwa: ‘Kita mampu, dengan izin Allah, memajukan perbankan Islam. Mereka memuji saya atas inisiatif yang saya jalankan. Dari situlah kami mula mengusahakan Bank Al-Rajhi seperti apa yang anda dapat lihat hari ini. Untuk projek Lahan Perikanan Al-Watania pula, saya mulai mendapat inspirasi untuk menjalankan projek tersebut ketika mengunjungi lahan peternakan di luar negeri. Saya jumpai bahwa cara mereka menyembelih adalah salah. Saya kemudian mengambil keputusan untuk bekerja sama dalam bidang ternak atas nama Islam dan negara. Saya tetap menjalankan projek tersebut walaupun membuat kerjasama dalam industri peternakan adalah sesuatu yang agak beresiko pada waktu itu. Kini, Al-Watania telah menjadi salah satu projek raksasa di Saudi. Perusahaan tersebut mendapat 40 persen dari saham di negara-negara Arab, dan ayam-ayam Al-Watania diberikan makanan yang cukup dan disembelih dengan cara yang halal menurut undang-undang syariah.
Walaupun dengan semua kekayaan yang dimiliki, mengapa syeikh tidak mempunyai satu pun kapal terbang sendiri?
Saya ada banyak kapal terbang, tetapi semuanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan penerbangan tertentu. Saya memilikinya setiap kali saya membayar tiket penerbangan untuk ke setiap tujuan (becanda). Saya sering terbang dengan kadar kelas ekonomi karena Allah tidak memberikan kita harta untuk dibuang-buang.
Saya ada banyak kapal terbang, tetapi semuanya dimiliki oleh perusahaan-perusahaan penerbangan tertentu. Saya memilikinya setiap kali saya membayar tiket penerbangan untuk ke setiap tujuan (becanda). Saya sering terbang dengan kadar kelas ekonomi karena Allah tidak memberikan kita harta untuk dibuang-buang.
Bagaimana pula dengan hobi syeikh?
Saya tidak mempunyai hobi yang khusus. Tapi, saya suka berkeliling di padang pasir. Saya tidak pernah mengambil cuti liburan di negara-negara lain selain dari Saudi.
Saya tidak mempunyai hobi yang khusus. Tapi, saya suka berkeliling di padang pasir. Saya tidak pernah mengambil cuti liburan di negara-negara lain selain dari Saudi.
Ketepatan waktu Al-Rajhi
Wawancara ini telah menunjukkan bagaimana disiplin Al-Rajhi dalam menepati waktu. “Pada awal karir saya dalam industri, saya mempunyai beberapa pertemuan dengan beberapa perusahaan besar di Eropa. Saya masih ingat kisah di mana saya terlambat selama beberapa menit dalam satu pertemuan dengan salah seorang pegawai besar sebuah perusahaan. Walaupun hanya beberapa menit, beliau tidak mau meneruskan pertemuan tersebut. Selepas kejadian tersebut, setelah proyek kami mulai berkembang, pegawai yang sama pula lambat untuk berjumpa dengan saya, jadi, saya pula yang tidak mau meneruskan pertemuan tersebut. Saya sering membawa kertas untuk menulis segala pertemuan dan urusan dan selalu memastikan agar saya sering menepati janji walau apapun.”
Al-Rajhi berkata lagi: Saya amat menepati segala perkara yang diterapkan dalam Islam sepanjang hidup saya. Saya pernah mendapat undangan dari kerajaan Arab untuk menghadiri satu persidangan yang berkaitan dengan kerjasama Kemudian, dalam persidangan yang sama, saya diundang jamuan makan malam mereka, saya jumpai bahwa antara kegiatan yang dijalankan saat undangan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Saya kemudian keluar dari tempat. Kemudian, Abdul Aziz Al-Ghorair dari UAE turut serta bersama saya. Tidak lama sesudah itu, menteri yang bertanggungjawab terhadap acara tersebut datang kepada kami dan kami mulai menerangkan kepada beliau bahwa acara yang dijalankan di tempat tersebut bertentangan dengan budaya Islam. Beliau kemudian berkata bahwa acara-acara di tempat tersebut akan dibatalkan. Ketika mereka membatalkan acara tersebut, kami kembali mengikuti acara tersebut.
Wawancara ini telah menunjukkan bagaimana disiplin Al-Rajhi dalam menepati waktu. “Pada awal karir saya dalam industri, saya mempunyai beberapa pertemuan dengan beberapa perusahaan besar di Eropa. Saya masih ingat kisah di mana saya terlambat selama beberapa menit dalam satu pertemuan dengan salah seorang pegawai besar sebuah perusahaan. Walaupun hanya beberapa menit, beliau tidak mau meneruskan pertemuan tersebut. Selepas kejadian tersebut, setelah proyek kami mulai berkembang, pegawai yang sama pula lambat untuk berjumpa dengan saya, jadi, saya pula yang tidak mau meneruskan pertemuan tersebut. Saya sering membawa kertas untuk menulis segala pertemuan dan urusan dan selalu memastikan agar saya sering menepati janji walau apapun.”
Al-Rajhi berkata lagi: Saya amat menepati segala perkara yang diterapkan dalam Islam sepanjang hidup saya. Saya pernah mendapat undangan dari kerajaan Arab untuk menghadiri satu persidangan yang berkaitan dengan kerjasama Kemudian, dalam persidangan yang sama, saya diundang jamuan makan malam mereka, saya jumpai bahwa antara kegiatan yang dijalankan saat undangan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Saya kemudian keluar dari tempat. Kemudian, Abdul Aziz Al-Ghorair dari UAE turut serta bersama saya. Tidak lama sesudah itu, menteri yang bertanggungjawab terhadap acara tersebut datang kepada kami dan kami mulai menerangkan kepada beliau bahwa acara yang dijalankan di tempat tersebut bertentangan dengan budaya Islam. Beliau kemudian berkata bahwa acara-acara di tempat tersebut akan dibatalkan. Ketika mereka membatalkan acara tersebut, kami kembali mengikuti acara tersebut.
Penyelesaian Masalah
Al-Rajhi berkata: Pada satu waktu, salah satu daripada kilang yang diurus oleh anak saya habis dijilat api. Ketika dia datang untuk memberitahukan masalah tersebut kepada saya, saya katakan: Sebut Alhamdulillah. Saya meminta anak saya agar tidak membuat sembarang laporan tentang kerugian yang dialami untuk meminta anggaran daripada pihak berkuasa. Sebaliknya, anggaran yang diberikan oleh Allah adalah lebih penting bagi kita. Assam Al-Hodaithy, Pengurus Keuangan perusahaan Peternakan Al-Watania berkata: “Ketika kilang tersebut terbakar, kami telah membuat keputusan untuk tidak menyakiti hati Al-Rajhi dengan memberitahu beliau tentang apa yang terjadi. Kami kemudian berjumpa dengan beliau keesokan harinya dan memberitahu akan perkara yang terjadi, beliau mengarahkan kami untuk berpindah ke tempat lain dan membersihkan segala kerusakan sehingga semuanya diperbaiki.” Perkara yang sama terjadi di satu lagi projek Al-Watania di Mesir. Perusahaan tersebut kerugian kira-kira SR10 juta Pound Mesir. Ketika pegawai projek tersebut menghubungi Al-Rajhi untuk memberitahu masalah tersebut, beliau terkejut ketika Al-Rajhi menjawab dengan menyebut: “Alhamdulillah.” –
Al-Rajhi berkata: Pada satu waktu, salah satu daripada kilang yang diurus oleh anak saya habis dijilat api. Ketika dia datang untuk memberitahukan masalah tersebut kepada saya, saya katakan: Sebut Alhamdulillah. Saya meminta anak saya agar tidak membuat sembarang laporan tentang kerugian yang dialami untuk meminta anggaran daripada pihak berkuasa. Sebaliknya, anggaran yang diberikan oleh Allah adalah lebih penting bagi kita. Assam Al-Hodaithy, Pengurus Keuangan perusahaan Peternakan Al-Watania berkata: “Ketika kilang tersebut terbakar, kami telah membuat keputusan untuk tidak menyakiti hati Al-Rajhi dengan memberitahu beliau tentang apa yang terjadi. Kami kemudian berjumpa dengan beliau keesokan harinya dan memberitahu akan perkara yang terjadi, beliau mengarahkan kami untuk berpindah ke tempat lain dan membersihkan segala kerusakan sehingga semuanya diperbaiki.” Perkara yang sama terjadi di satu lagi projek Al-Watania di Mesir. Perusahaan tersebut kerugian kira-kira SR10 juta Pound Mesir. Ketika pegawai projek tersebut menghubungi Al-Rajhi untuk memberitahu masalah tersebut, beliau terkejut ketika Al-Rajhi menjawab dengan menyebut: “Alhamdulillah.” –
Friday, 14 October 2011
Jawa Pos Raih Gelar Koran Terbaik Dunia
Penghargaan itu dipastikan oleh asosiasi penerbit sedunia, WAN-IFRA, Jumat akhir pekan lalu (29/7). Dalam ajang tahunan yang diikuti koran dari seluruh dunia tersebut, Jawa Pos meraih kemenangan pada kategori Enduring Excellence. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang ditunjuk WAN-IFRA, berdasar komitmen dan konsistensi untuk meraih dan mempertahankan pembaca muda.
Tidak cukup sampai di situ. Dewan juri kemudian menyatakan Jawa Pos layak meraih gelar tertinggi: World Young Reader Newspaper of the Year 2011.
Lewat surat resmi yang disampaikan WAN-IFRA, tim juri menyatakan Jawa Pos unggul mutlak. Bahkan, departemen dan halaman anak muda DetEksi yang terbit setiap hari di Jawa Pos dianggap tak punya tandingan.
”Terus terang, tim juri membuat keputusan dengan sangat mudah,” kata Dr Aralynn McMane, executive director, Young Readership Development, World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA), yang berpusat di Paris, Prancis, dan Darmstadt, Jerman.
Tim juri pun memberikan penjelasan detail mengapa Jawa Pos layak meraih penghargaan tertinggi ini, seputar sukses halaman DetEksi yang terbit sejak 2000.
”Jawa Pos telah menunjukkan kerja luar biasa. Memiliki program yang substansial, yang dijalani bertahun-tahun, dan punya komitmen sukses dalam menggandeng anak muda, baik lewat halaman koran maupun kegiatan off-print,” begitu tulis pesan dari tim juri.
Lebih lanjut, juri menilai lembaran DetEksi –yang terbit setiap hari di Jawa Pos– sebagai sesuatu yang ”lebih” dari sekadar halaman anak muda biasa. ”DetEksi merupakan sebuah strategi komplet untuk menemukan, menggandeng, dan mempertahankan pembaca muda. Dan, yang paling penting, DetEksi membuahkan hasil,” tegas tim juri.
Dr Aralynn McMane menyampaikan, pengumuman resmi penghargaan itu secara global baru disampaikan sekitar dua pekan lagi. Namun, Jawa Pos sudah mendapat hak untuk mengumumkannya sendiri.
Penyerahan penghargaan sendiri baru dilaksanakan pada 12 Oktober mendatang di Wina, Austria. Yaitu, saat dilangsungkannya 63rd World Newspaper Congress (kongres koran sedunia) dan 18th World Editors Forum (forum editor sedunia). Dalam ajang itu Jawa Pos diminta mempresentasikan perkembangan DetEksi dalam 11 tahun terakhir.
Menurut Azrul Ananda, direktur harian Jawa Pos, pihaknya diberi tahu layak masuk unggulan World Young Reader Prize 2011 setelah Konferensi WAN-IFRA Asia Pasifik di Bangkok, April lalu. Dalam beberapa pekan belakangan ini Jawa Pos telah diminta mengirimkan materi informasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan juri tentang program DetEksi.
Setiap tahun World Young Reader Prize diberikan kepada koran-koran yang dianggap inovatif dalam menggandeng dan mengembangkan pembaca muda.
”Kami sangat bangga dengan penghargaan tingkat dunia ini. Apalagi, ini atas sebuah pencapaian yang prosesnya harus dijalani dengan sangat panjang, dengan konsep yang harus disiapkan secara matang. Bukan pencapaian instan atau sebuah momen keberuntungan,” kata Azrul.
”Beberapa tahun lalu kami pernah disarankan ikut, namun waktu itu kami belum mau ikut. Sekarang kami sudah punya hasil konkret dari pentingnya konsistensi menggandeng pembaca muda. Kali pertama ikut langsung menang tingkat dunia,” tambah Azrul.
Berkat DetEksi, jelas Azrul, belakangan Jawa Pos memang meraih hasil-hasil yang dia anggap mengagumkan. Ketika koran-koran dianggap menghadapi masa sulit, Jawa Pos mampu menjaga konsistensi dan eksistensi.
”Survei Nielsen dalam beberapa tahun terakhir selalu menunjukkan bahwa Jawa Pos memiliki readership terbanyak di Indonesia, mengalahkan semua koran yang ada, termasuk yang terbit dari Jakarta. Bukan hanya itu. Survei juga menunjukkan bahwa 51 persen pembaca Jawa Pos berusia lebih muda dari 30 tahun. Kalau ditarik mundur, semua itu bisa dibilang adalah hasil ’pengaderan pembaca DetEksi’ yang dimulai sejak 2000,” tutur Azrul.
”Kami berhasil membuktikan bahwa koran tidak akan punya masalah di masa mendatang. Tinggal bagaimana koran itu beradaptasi dan terus menarik minat pembaca di era yang terus berubah,” tandasnya.
Memang hasil itulah yang disebut memukau tim juri. Jumlah pembaca muda Jawa Pos jauh lebih besar daripada koran-koran lain di Indonesia. Tim juri juga mengatakan, apa yang dilakukan Jawa Pos lewat DetEksi bisa dijadikan contoh bagi koran-koran lain di seluruh dunia. Baik itu cara mengelola halaman yang melibatkan personel muda, cara menyampaikan rubrik, maupun program-program off-print seperti kompetisi basket pelajar DBL (dulu DetEksi Basketball League, sekarang Development Basketball League).
Apa yang dilakukan Jawa Pos dengan DetEksi ini disebut bisa menjadi inspirasi bagi koran-koran lain di seluruh dunia. ”Content dan program-program DetEksi sangatlah mengagumkan dan dengan mudah bisa direplikasi oleh koran-koran lain,” tulis tim juri.
Dengan hasil ini, Azrul mengaku segenap personel Jawa Pos menjadi semakin terpacu untuk terus berinovasi di bidang jurnalistik agar menghasilkan produk yang lebih baik lagi. ”Saya yakin seluruh media di bawah bendera Jawa Pos Group, yang jumlahnya hampir 200 koran dan televisi-televisi lokal dari Aceh sampai Papua, juga termotivasi untuk terus berinovasi,” ujar Azrul.
timorexpress.com
Wednesday, 29 June 2011
Abdullah Hehamahua: Korupsi Diawali Pembiaran Terhadap Hal Kecil
Jakarta - Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru diangkat Abdullah Hehamahua dikenal lurus. Jangankan menerima amplop. Makan, minum dan antar jemput yang ditawarkan panitia acara pun kerap ditolaknya.
Menurut dia, banyak kasus korupsi yang terjadi karena pembiaran terhadap pemberian hal-hal kecil seperti itu. Berikut wawancara pria yang sudah dua kali menjadi penasihat KPK, di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/3/2009).
Selama ini Bapak dikenal sangat bersahaja, bahkan enggan menerima pemberian makan atau minum dan antar jemput oleh panitia acara yang mengundang, kenapa?
Pertama saya ditakdirkan sudah membaca berulang-ulang dimana ada hadis yang sangat keras bahwa, daging yang dihasilkan dari makanan dan minuman yang haram, layak ditempatkan di neraka. Menerima hal-hal seperti itu saya anggap haram.
Selain itu, dalam kode etik KPK, tidak boleh menerima apapun dari pihak diluar KPK, apakah itu makanan itu minuman. Karena KPK dalam menjalankan tugasnya menggunakan APBN, jadi kalau terima dari pihak lain, khususnya pemda, itu tidak diperbolehkan.
Bagaimana cara Bapak menolak setiap pemberian yang ditawarkan?
Pertama dengan cara halus, bahkan kalau perlu dengan cara kasar.
Kasar seperti apa Pak?
Dulu saya masih di KPKPN (Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara), saya pernah memeriksa kekayaan salah seorang anggota DPRD di Lampung. Setelah saya periksa, dia ngajak salaman dan kasih amplop. Terus saya bilang tidak, tapi dia terus memaksa, akhirnya saya sempat tinju pundaknya dan saya bilang 'kalau Anda tidak ambil sekarang saya akan adukan ke polisi'.
Kalau cara halus?
Misalnya maaf saya sudah dapat anggaran dari KPK, KPK anggarannya APBN, itu uang rakyat. Kalau saya terima lagi uang Anda berati itu uang rakyat.
Bagaimana reaksinya?
Pertamanya mereka kaget, tapi lama-lama bisa menerima. Hal-hal kecil seperti itu, dianggap hal biasa. Namun dalam beberapa kasus korupsi, diawali dari beberapa pembiaran terhadap hal-hal kecil.
Bagaimana cara memperbaiki korupsi di pemerintahan kita?
Itu harus disertai dengan perbaikan sistem. Kadang, kalau dia tidak berniat menerima suap tapi kesempatan itu selalu datang, ia akan terus menerima.
Sebagai penasihat KPK kan gaji Bapak cukup besar, bagaimana cara Bapak menahan diri untuk terus sederhana?
Saya sarjana eksakta. Kalau saya to the point saja, fungsi rumah kan untuk berteduh jadi saya buat rumah yang penting buat berteduh, kamarnya pun disesuaikan dengan kebutuhan. Gaji saya pun saya bagi untuk kebutuhan anak istri, anak yatim piatu, jadi sudah ada pos-posnya.
Ada tips agar para pejabat tidak terus korup?
Saya berfikir bahwa dalam persoalan materi kita harus lihat ke bawah, kalau dalam soal ibadah kita harus lihat ke atas. Kalau cuman naik motor beruntung masih ada di bawah saya yang naik sepeda. Tapi kalau ibadah, lihat ke atas.
Apa yang akan Bapak lakukan setelah dilantik?
Saya kira memastikan stamina KPK dari pimpinan sampai bawah tetap solid sehingga tidak hanya melaksanakan rutinitas saja tapi kepada hal-hal yang strategis. Salah satunya dengan menegakkan sistem. Jadi begitu ditangkap dari satu instansi tidak akan ada lagi yang akan ditangkap.
Selama ini kan pasti KPK mendapat banyak tekanan-tekanan dari berbagai pihak, bagaimana cara Bapak memberi nasihat pada pimpinan dan bawahannya untuk mengatasi tekanan tersebut?
Karena saya sebagai penasihat tugasnya memberi masukan dan pendapat. Diminta atau tidak, saya dalam seminggu 2 kali pada Senin dan Jumat, selalu mengirimkan email pada seluruh karyawan KPK untuk memberikan nasihat jika ada yang mengalami masalah.
Masalah seperti apa?
Misalkan ada problem pada penyelidik atau penyidik kita. Mereka yang beragama Islam mengalami problem tidak boleh membuka aib seseorang di muka umum. Saya katakan, yang namanya tidak boleh membuka aib itu yang kalau menyangkut pribadi dia, misalnya yang menyangkut hubungan dia dengan keluarganya. Tapi kalau yang menyangkut kehidupan orang banyak itu wajib diberikan informasi. Seperti pendidikan, energi, informasi, dan pendidikan itu penting.
Hingga kini kan RUU Pengadilan Tipikor belum disahkan, padahal keberadaannya sangat penting bagi KPK, bagaimana cara Bapak untuk mendorong RUU Pengadilan Tipikor?
Saya selalu menjelaskan kenapa pentingnya pengadilan tipikor itu. Nah pengadilan tipikor itu disalahpahami seakan-akan melanggar UUD 1945, karena di peradilan itu hanya ada pengadilan agama, peradilan TUN dan peradilan militer, dan peradilan umum. Padahal sebenarnya, Pengadilan Tipikor ada di bawah peradilan umum.
Selain itu, hakim adhoc dan hakim karier di peradilan Tipikor kita harapkan punya suasana berbeda dengan peradilan umum. Sama halnya dengan kualitas antara polisi dan jaksa di kepolisian dan kejaksaan itu tidak berbeda dengan yang di KPK. Tapi karena di KPK suasanannya itu berbeda, maka ketika mereka di sini lebih energik.
detiknews.com
Monday, 1 March 2010
Umar bin Abdul Aziz Menolak Kendaraan Khusus Kekhalifahan
Categories :
Umar bin Abdul Aziz bin Marwan lahir di Hulwan, sebuah desa di Mesir, tahun 61 H saat ayahnya menjadi gubernur di daerah itu. Ibunya, Ummu ‘Ashim, putri ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Jadi, Umar bin Abdul Aziz adalah cicit Umar bin Khaththab dari garis ibu.
Umar bin Abdul Aziz dibesarkan di lingkungan istana. Keluarganya, seperti keluarga raja-raja Dinasti Umayyah lainnya, memiliki kekayaan berimpah yang berasal dari tunjangan yang diberikan raja kepada keluarga dekatnya. Perkebunan miliknya menghasilkan 50.000 dinar per tahun.
Meski demikian, orangtuanya tak tidak lupa memberi pendidikan agama. Sejak kecil Umar sudah hafal Al-Qur’an. Ayahandanya mengirim Umar ke Madinah untuk berguru kepada Ubaidillah bin Abdullah. Inilah salah satu titik balik dalam hidup Umar bin Abdul Aziz. Ia kini dikenal sebagai orang saleh dan meninggalkan gaya hidup suka berfoya-foya. Bahkan, Zaid bin Aslam berkata, “Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang seorang imam pun yang hampir sama shalatnya dengan shalat Rasulullah saw. daripada anak muda ini, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Dia sempurna dalam melakukan ruku’ dan sujud, serta meringankan saat berdiri dan duduk.” (Zaid bin Aslam dari Anas).
Madinah bukan hanya membuat Umar bin Abdul Aziz saleh, tapi juga memberi perspektif tentang prinsip-prinsip dasar peradaban Islam di masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Umar memiliki pandangan yang berbeda dengan Bani Umayyah tentang sistem kekhalifahan yang diwariskan secara turun temurun.
Ketika ayahandanya meninggal, Khalifah Abdul Malik bin Marwan meminta Umar bin Abdul Aziz datang ke Damaskus untuk dinikahkan dengan anaknya, Fathimah.
Abdul Malik wafat dan kekhalifahan diwariskan kepada Al-Walid bin Abdul Malik. Di tahun 86 H, Khalifah baru mengangkat Umar bin Abdul Aziz menjadi Gubernur Madinah. Namun, pada tahun 93 H Khalifah Al-Walid memberhentikannya karena kebijakan Umar tidak sejalan dengan kebijakannya.
Al-Walid juga berusaha mencopot kedudukan saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, dari posisi Putra Mahkota. Ia ingin anaknya yang menjadi Putra Mahkota. Para pembesar dan pejabat negara menyetujui langkah Al-Walid. Tapi, Umar bin Abdul Aziz menolak.”Di leher kami ada bai’at,” kata Umar diulang-ulang di berbagai forum dan kesempatan. Akhirnya, Al-Walid memenjarakannya di ruang sempit dengan jendela tertutup.
Setelah dikurung tiga hari, ia dibebaskan dalam kondisi memprihatikan. Mengetahui kondisi itu, Sulaiman bin Abdul Malik berkata, ”Dia adalah pengganti setelah saya.”
Di tahun 99 H, ketika berusia 37 tahun, Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah berdasarkan surat wasiat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat diumumkan sebagai pengganti Sulaiman bin Abdul Malik, Umar berkata, ”Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.”
Karena itu, di hadapan rakyat sesaat setelah dibaiat ia berkata, ”Saudara-saudara sekalian, saat ini saya batalkan pembaiatan yang saudara-saudara berikan kepada saya, dan pilihlah sendiri Khalifah yang kalian inginkan selain saya.” Umar ingin mengembalikan cara pemilihan kekhilafahan seperti yang diajarkan Nabi, bukan diwariskan secara turun-temurun. Tapi, rakyat tetap pada keputusannya: membaiat Umar bin Abdul Aziz.
Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz melakukan gebrakan yang tidak biasa dilakukan arja-raja Dinasti Umayyah sebelumnya.
Para petugas protokoler kekhalifahan terkejut luar biasa. Umar menolak kendaraan dinas. Ia memilih menggunakan binatang tunggangan miliknya sendiri. Al-Hakam bin Umar mengisahkan, ”Saya menyaksikan para pengawal datang dengan kendaraan khusus kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz sesaat dia diangkat menjadi Khalifah. Waktu itu Umar berkata, ’Bawa kendaraan itu ke pasar dan juallah, lalu hasil penjualan itu simpan di Baitul Maal. Saya cukup naik kendaran ini saja (hewan tunggangan).’”
’Atha al-Khurasani berkata, ”Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pelayannya untuk memanaskan air untuknya. Lalu pelayannya memanaskan air di dapur umum. Kemudian Umar bin Abdul Aziz menyuruh pelayannya untuk membayar setiap satu batang kayu bakar dengan satu dirham.”
’Amir bin Muhajir menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz akan menyalakan lampu milik umum jika pekerjaannya berhubungan dengan kepentingan kaum Muslimin. Ketika urusan kaum Muslimin selesai, maka dia akan memadamkannya dan segera menyalakan lampu miliknya sendiri.
Yunus bin Abi Syaib berkata, ”Sebelum menjadi Khalifah tali celananya masuk ke dalam perutnya yang besar. Namun, ketika dia menjadi Khalifah, dia sangat kurus. Bahkan jika saya menghitung jumlah tulang rusuknya tanpa menyentuhnya, pasti saya bisa menghitungnya.”
Abu Ja’far al-Manshur pernah bertanya kepada Abdul Aziz tentang kekayaan Umar bin Abdul Aziz, ”Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Khalifah?” Abdul Aziz menjawab, ”Empat puluh ribu dinar.” Ja’far bertanya lagi, ”Lalu berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?” Jawab Abdul Aziz, ”Empat ratus dinar. Itu pun kalau belum berkurang.”
Bahkan suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik menjenguk Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit. Maslamah melihat pakaian Umar sangat kotor. Ia berkata kepada istri Umar, ”Tidakkah engkau cuci bajunya?” Fathimah menjawab, ”Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain selain yang ia pakai.”
Ketika shalat Jum’at di masjid salah seorang jamaah bertanya, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa tak mau kau pergunakan walau sekedar berpakaian bagus?” Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah pada saat kita kaya dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada pada posisi kuat.”
Seorang pelayan Umar, Abu Umayyah al-Khashy berkata, ”Saya datang menemui istri Umar dan dia memberiku makan siang dengan kacang adas. Saya katakan kepadanya, ’Apakah setiap hari tuan makan dengan kacang adas?’” Fathimah menjawab, ”Wahai anakku, inilah makanan tuanmu, Amirul Mukminin.” ’Amr bin Muhajir berkata, ”Uang belanja Umar bin Abdul Aziz setiap harinya hanya dua dirham.”
Suatu saat Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan Bani Marwan. Ia berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah saw. memiliki tanah fadak, dan dari tanah itu dia memberikan nafkah kepada keluarga Bani Hasyim. Dan dari tanah itu pula Rasulullah saw. mengawinkan gadis-gadis di kalangan mereka. Suatu saat Fathimah memintanya untuk mengambil sebagian dari hasil tanah itu, tapi Rasulullah saw. menolaknya. Demikian pula yang dilakukan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. Kemudian harta itu diambil oleh Marwan dan kini menjadi milik Umar bin Abdul Aziz. Maka, saya memandang bahwa suatu perkara yang dilarang Rasulullah saw. melarangnya untuk Fathimah adalah bukan menjadi hakku. Saya menyatakan kesaksian di hadapan kalian semua, bahwa saya telah mengembalikan tanah tersebut sebagaimana pada zaman Rasulullah saw.” (riwayat Mughirah).
Wahib al-Wadud mengisahkan, suatu hari beberapa kerabat Umar bin Abdul Aziz dari Bani Marwan datang, tapi Umar tak bisa menemui mereka. Lalu mereka menampaikan pesan lewat Abdul Malik, ”Tolong katakan kepada ayahmu bahwa para Khalifah terdahulu selalu memberikan keistimewaan dan uang kepada kami, karena mereka tahu kedudukan kami. Sementara ayahmu kini telah menghapuskannya.”
Abdul Malik menemui ayahnya. Setelah kembali, Abdul Malik menyampaikan jawaban Umar bin Abdul Aziz kepada mereka, ”Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar, jika aku mendurhakai Tuhanku.” Umar mengutip ayat 15 surat Al-An’am.
Umar bin Abdul Aziz pun pernah memanggil istrinya, Fathimah binti Abdul Malik, yang memiliki banyak perhiasan pemberian ayahnya, Khalifah Abdul Malik. ”Wahai istriku, pilihlah olehmu, kamu kembalikan perhiasan-perhiasan ini ke Baitul Maal atau kamu izinkan saya meninggalkan kamu untuk selamanya. Aku tidak suka bila aku, kamu, dan perhiasan ini berada dalam satu rumah.” Fathimah menjawab, ”Saya memilih kamu daripada perhiasan-perhiasan ini.”
’Amr bin Muhajir meriwayatkan, suatu hari Umar bin Abdul Aziz ingin makan apel, kemudian salah seorang anggota keluarganya memberi apel yang diinginkan. Lalu Umar berkata, ”Alangkah harum aromanya. Wahai pelayan, kembalikan apel ini kepada si pemberi dan sampaikan salam saya kepadanya bahwa hadiah yang dikirim telah sampai.”
’Amr bin Muhajir mempertanyakan sikap Umar itu, ”Wahai Amirul Mukminin, orang yang memberi hadiah apel itu tak lain adalah sepupumu sendiri dan salah seorang yang masih memiliki hubungan kerabat yang sangat dekat denganmu. Bukankah Rasulullah saw. juga menerima hadiah yang diberikan orang lain kepadanya?”
Umar bin Abdul Aziz menjawab, ”Celaka kamu, sesungguhnya hadiah yang diberikan kepada Rasulullah saw. adalah benar-benar hadiah, sedangkan yang diberikan kepadaku ini adalah suap.”
Suatu ketika Abdul Malik, putra Umar, menemui ayahnya, dan berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, jawaban apa yang engkau persiapkan di hadapan Allah swt. di hari Kiamat nanti, seandainya Allah menanyakan kepadamu, ’Mengapa engkau melihat bid’ah, tapi engkau tidak membasminya, dan engkau melihat Sunnah, tapi engkau tidak menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat?’”
Umar menjawab, ”Semoga Allah swt. mencurahkan rahmat-Nya kepadamu dan semoga Allah memberimu ganjaran atas kebaikanmu. Wahai anakku, sesungguhnya kaummu melakukan perbuatan dalam agama ini sedikit demi sedikit. Jika aku melakukan pembasmian terhadap apa yang mereka lakukan, maka aku tidak merasa aman bahwa tindakanku itu akan menimbulkan bencana dan pertumpahan darah, serta mereka akan menghujatku. Demi Allah, hilangnya dunia bagiku jauh lebih ringan daripada munculnya pertumpahan darah yang disebabkan oleh tindakanku. Ataukah kamu tidak rela jika datang suatu masa, dimana ayahmu mampu membasmi bid’ah dan menghidupkan Sunnah?”
Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sangat memprioitaskan kesejahtera rakyat dan tegaknya keadilan. Fathimah binti Abdul Malik pernah menemukan suaminya sedang menangis di tempat biaya Umar melaksanakan shalat sunnah. Fathimah berusaha membesarkan hatinya. Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang-orang sakit dan tersia-siakan, orang-orang yang tak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan tertawan dalam perbudakan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, tapi hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya tahu dan sadar bahwa Tuhanku kelak akan menanyakan hal ini di hari Kiamat. Saya khawatir saat itu saya tidak memiliki alasan yang kuat di hadapan Tuhanku. Itulah yang membuatku menangis.”
Malik bin Dinar berkata, ”Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah, para penggembala domba dan kambing berkata, ”Siapa orang saleh yang kini menjadi Khalifah umat ini? Keadilannya telah mencegah serigala memakan domba-domba kami.”
Begitulah Umar bin Abdul Aziz, meski memerintah tidak sampai dua tahun, rakyatnya hidup sejahtera. Umar bin Usaid berkata, ”Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak meninggal dunia hingga seorang laki-laki datang kepada kami dengan sejumlah harta dalam jumlah besar dan berkata, ’Salurkan harta ini sesuai kehendakmu.’ Ternyata tak ada seorang pun yang berhak menerimanya. Sungguh Umar bin Abdul Aziz telah membuat manusia hidup berkecukupan.”
Thursday, 28 January 2010
Berapa Gaji Khalifah Islam?
Categories :
Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat sehari sesudahnya Abu Bakar r.a. terlihat berangkat ke pasar dengan barang dagangannya. Umar kebetulan bertemu dengannya di jalan dan mengingatkan bahwa di tangan Abu Bakar sekarang terpikul beban kenegaraan yang berat. “Mengapa kau masih saja pergi ke pasar untuk mengelola bisnis? Sedangkan negara mempunyai begitu banyak permasalahan yang harus dipecahkan…” sentil Umar.
Mendengar itu, Abu Bakar tersenyum. “Untuk mempertahankan hidup keluarga,” ujarnya singkat. “maka aku harus bekerja.”
Kejadian itu membuat Umar berpikir keras. Maka ia pun, bersama sahabat yang lain berkonsultasi dan menghitung pengeluaran rumah tangga khalifah sehari-hari. Tak lama, mereka menetapkan gaji tahunan 2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan kemudian secara bertahap, belakangan ditingkatkan menjadi 500 dirham sebulan. Jika dikonversikan pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta dalam sebulan. Sekadar informasi, nilai dirham tidak pernah berubah.
Meskipun gaji khalifah sebesar itu, Abu Bakar tidak pernah mengambil seluruhnya gajinya. Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu bakar, “Aku ingin membeli sedikit manisan.”
Abu Bakar menyahut, “Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya.”
Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan, aku akan mencoba untuk menghemat uang belanja kita sehari-hari, sehingga aku dapat membeli manisan itu.”
Abu Bakar menyetujuinya.
Maka mulai saat itu istri Abu Bakar menabung sedikit demi sedikit, menyisihkan uang belanja mereka setiap hari. Beberapa hari kemudian uang itu pun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut.
Namun Abu Bakar berkata, “Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata uang tunjangan yang kita peroleh dari Baitul Mal itu melebihi keperluan kita.” Lalu Abu bakar mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan beliau telah dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.
Pada saat wafatnya, Abu Bakar hanya mempunyai sebuah sprei tua dan seekor unta, yang merupakan harta negara. Ini pun dikembalikannya kepada penggantinya, Umar bin Khattab. Umar pernah mengatakan, “Aku selalu saja tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam beramal shaleh.”(sa/berbagaisumber)
Subscribe to:
Posts (Atom)



+mobil.jpg)





