Monday, 31 March 2014

Krimea, Negeri Islam yang Hilang

0 comments
Persaingan merebutkan Semenanjung Krimea bukanlah hal baru. Walaupun persaingan kadang muncul, kadang surut untuk beberapa dekade. Krimea adalah salah satu wilayah Turki Utsami, tepatnya wilayah-wilayah bagian utara.

Islam masuk ke Krimea pada paruh pertama abad ke-10 M. Kebanyakan penduduknya saat itu berdarah Turki. Kemudian mereka lebih dikenal dengan nama Tatar. Sedangkan nama Krimea (Al-Qirm) adalah bahasa Tatar yang bermakna benteng. Wilayah yang disebut Krimea tersebut saat ini dinamakan Semenanjung Krimea, ditambah beberapa wilayah Rusia saat ini mengelilingi Laut Azov, dan beberapa wilayah di sebelah utara semenanjung (berada di Ukraina saat ini).

Kerajaan Tatar Krimea berada di wilayah yang cukup luas tersebut sejak 1441 M hingga 1783 M. Kerajaan ini melemah bersamaan dengan melemahnya Turki Utsmani. Terakhir, Turki Utsmani melepasnya berdasar perjanjian “Kojak Qanarjh” tahun 1774 yang berisi terpisahnya Krimea dari Turki Utsmani.

Saat itu dimulailah kekuasaan Rusia pada wilayah Semanjung Krimea. Karena Kaisar Yekaterina II mengkhianati perjanjian “Kojak Qanarjh” yang menyatakan Krimea sebagai wilayah yang merdeka. Rusia menjajah Krimea tahun 1783. Saat itu kota-kota besar Krimea dihancurkan dan dibakari. Banyak sekali situs peninggalan sejarah Islam yang dilenyapkan.

Keberadaan Tatar Krimea, yang dulunya merupakan penduduk mayoritas dan muslim, terus berkurang terutama saat berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Rezim Joseph Stalin mengusir secara paksa seluruh Tatar Krimea pada tahun 1944. Saat itu Stalin menuduh Tatar berkhianat saat terjadi peperangan. Rumah-rumah dan tanah yang mereka tinggalkan dibagi-bagi kepada para petani komunis pemberontak baik dari Rusia maupun yang lainnya.

Dengan politik seperti itu, keberadaan Rusia di Krimea semakin besar. Pada sensus 2001, orang-orang yang berdarah Rusia mencapai 58% dari keseluruhan penduduk yang berjumlah 2 juta jiwa. Sedangkan penduduk yang berdarah Ukraina mencapai 24%. Sisanya, Tatar Krimea hanya 12%.

Pada tahun 1944, saat Tatar Krimea diusir secara paksa, jumlah masjid di Krimea mencapai 1800 masjid. Ketika Ukraina merdeka, dan Tatar Krimea mulai pulang, jumlah masjidnya hanya antara 20-30 masjid. Kini sudah mulai dibangun kembali hingga terdapat sekitar 300 masjid.

Status Semenanjung Krimea sebagai bagian dari Uni Soviet hingga tahun 1954. Saat itu Nikita Khrushchev, pemimpin Uni Soviet pada tahun 1954-1964, memutuskan untuk menggabungkan Krimea ke Ukraina. Sehingga ketika Ukraina merdeka tahun 1991, Krimea pun menjadi salah satu wilayahnya. (msa/dakwatuna)

Sumber bacaan: Ukraine Press, Rusia Today.

Read more...

Pulang Kampung, Hendrawan Berbisnis Minuman Jadul

2 comments
Kecintaan akan minuman sarsaparila semasa sekolah mendorong Hendrawan Judianto dan istrinya, Jessy Budi Harsono, terjun dalam bisnis minuman ini. Merintis produksi sarsaparila sejak 2008, kini pasangan suami istri ini mampu memproduksi ratusan kerat botol Indo Saparella setiap hari.

Pulang ke kampung halaman merupakan dambaan banyak perantau. Tergugah oleh keinginan untuk kembali ke kota kelahirannya di Yogyakarta, Hendrawan Judianto dan istrinya, Jessy Budi Harsono, akhirnya memilih merintis bisnis sebagai produsen minuman sarsaparila.

Hendra pun meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan migas yang berkantor di Kalimantan. Demikian pula dengan Jessy yang berkarier di perusahaan food and beverage multinasional di Indonesia. “Kami sepakat pulang ke Yogyakarta supaya dekat dengan keluarga,” kata Hendrawan.

Bermodal pengalaman saat bekerja dan ilmu yang dimiliki, mereka berkolaborasi merintis bisnis sendiri. Hendra yang menggondol dua ijazah, yakni Sarjana Teknik Mesin dari Universitas Gadjah Mada dan Sarjana Teknik Industri dari Unika Atmajaya Yogyakarta, segera menyusun konsep bisnis minuman nostalgia ini. Sarsaparila ia pilih karena minuman ini punya banyak peminat di Yogyakarta. “Kebetulan, kami berdua juga suka sarsaparilla sejak kuliah. Jadi, ini seperti minuman kelangenan,” tutur pria yang bertubuh subur ini.

Berbekal latar belakang pendidikannya di Teknik Pangan, Jessy segera melakukan riset untuk menentukan konsentrat sarsaparila yang tepat. Adapun Hendrawan lebih fokus mengurusi rencana produksi minuman, termasuk pembuatan pabrik minuman ini.

Dibantu tiga orang karyawan, Hendra mulai memproduksi Indo Saparella tahun 2008. “Persisnya, tidak lama setelah gempa tektonik yang kuat mengguncang Jogja,” kenang dia.

Pada tahap awal, usaha Hendra dan Jessy yang diberi nama Dea & Jes Tirta Segar Beverages ini hanya memproduksi puluhan botol setiap hari. Untuk menjajaki pasar, mereka banyak mengikuti pameran-pameran yang ada di Yogyakarta. “Saat itu kami banyak menawarkan minum gratis, baik saat pameran maupun pemilik kedai atau resto,” terang Hendra. pria yang Februari nanti genap berusia 32 tahun ini.

Botol Unik

Bukan hanya rasa minuman yang menjadi keunggulan Indo Saparella untuk menarik minat pecinta minuman herbal ini, Hendra juga menyodorkan botol yang unik. Maklum, saat populer di zamannya, minuman sejenis limun ini memiliki rancangan kemasan unik, berupa tutup keramik yang dirangkai dengan kawat.

Dalam penilaian Hendra, kemasan yang unik akan memberi nilai tambah bagi produk. “Kami ingin produk kami eyecatching. Minimal, konsumen langsung tahu, begitu melihat botolnya,” seru dia.

Untuk mendapatkan kemasan yang unik, Hendra pun menjelajahi pabrik botol di Jakarta dan Surabaya. Alhasil, tercipta kemasan botol Indo Saparella yang menggelembung di bagian bawah. Hanya, Hendra tak lagi memakai penutup keramik seperti botol limun jaman dulu, dengan alasan menjaga higienitas.

Lantaran membidik pasar softdrink premium, Hendra hanya menawarkan produknya ke pemilik kedai, kafe, dan hotel di Yogyakarta. Sayang, dia tak langsung mengecap manisnya bisnis sarsaparila. Di awal usahanya, ia sering mengalami penolakan, dari para pemilik usaha kuliner dan penginapan itu. 

Namun keberuntungan akhirnya menghampiri Hendra. Dia dirangkul Dinas Perindustrian Yogyakarta yang sedang giat mencari produk-produk khas daerah, untuk diangkat menjadi produk nasional. Indo Saparella pun kerap diajak ikut serta dalam pameran yang dihelat oleh Dinas Perindustrian. “Kami mengikuti hampir seluruh pameran yang terselenggara di Jogja,” kenang Hendra.

Dari pameran itu, produk Indo Saparella mulai dikenal. Banyak pemilik hotel dan restoran ingin menjual minuman ini di gerai mereka. “Mereka tertarik pada bentuk botol yang unik ini, sekaligus menjadi pajangan di restorannya,” kata ayah satu putri ini.

Bukan hanya di Yogyakarta, dari pameran-pameran yang diselenggarakan di tingkat nasional, Indo Saparella juga menuai pelanggan. Tak heran, kini pemasarannya terus meluas hingga keluar dari Yogyakarta.

Bahkan, Hendra tak hanya menjangkau pusat-pusat kuliner. Dia juga mulai merambah pasar melalui jaringan gerai ritel premium, seperti Ranch Market dan Gelael.

Selain di Yogyakarta, Hendra juga membuka kantor cabang khusus distribusi di Jakarta. Dalam waktu dekat, dia akan membuka cabang distribusi serupa di Solo. Seiring kenaikan penjualan yang mereka petik, Hendra juga berencana membangun pabrik baru di sekitar Ring Road, Yogyakarta. “Karena kapasitas saat ini sudah tak mencukupi lagi,” ujar dia.

Kini, dalam sehari, pabrik Dea & Jes Tirta Segar Beverage ini bisa memproduksi ratusan kerat Indo Saparella. Ribuan kedai, restoran, dan hotel yang menjadi pelanggan setianya.

Asal mau kerja keras, pulang kampung membawa berkah.

Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil