Thursday, 30 April 2015

Menjahit Laba dari Jualan Baju Muslim Khas India

1 comments
Bicara soal fesyen memang tak ada habisnya. Setiap saat selalu saja ada tren baru yang muncul di dunia fesyen. Biasanya tren itu tak jauh-jauh dari model dan motif yang lagi digemari. Nah, di Indonesia kini sedang tren pakaian India. Munculnya tren ini tak lepas dari menjamurnya tayangan film-film India di Indonesia.

Munculnya tren ini mendorong banyak orang untuk menjual baju khas India. Salah satu pemainnya adalah Diana. Perempuan 24 tahun ini sudah satu tahun ini berjualan pakaian khas India di kawasan Dubai Street, Thamrin City. "Tren pakaian india ini tidak terlepas dari film-film India. Biasanya pengunjung banyak mencari pakaian yang sering dipakai sama para pemeran film India di televisi," katanya kepada KONTAN.

Ia fokus menjual pakaian muslim corak India. Menurut Diana, pakaian India dimianti karena memiliki warna-warna cerah tapi kesannya tetap elegan. Ditambah lagi banyak border, payet, dan sulaman, sehingga menjadikan pakaian ini terlihat menarik.

Pakaian ini juga identik dengan berbagai macam motif-motif dan hiasan-hiasan bernuansa India. Kesannya yang mewah, membuat pakaian ini biasa dipakai untuk momen-momen tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri atau ke pesta. Bahan baku pakaian ini pun banyak memakai kain sutera, beludru, hingga katun.

Sejak muncul tren pakaian India, ia mengaku omzet yang didapatnya meningkat. Apalagi saat bulan Ramadan dan Lebaran. Dalam sebulan, ia bisa menjual minimal 20 potong lebih pakaian muslim India, dengan omzet sebesar Rp 30 juta per bulan.

Toko ini menjual berbagai jenis pakaian muslim India, mulai dari kaftan, anarkali, slim feet, tunik, dan dress. Semua pakaian ini berjenis long dress. Pakaian muslim India ini dibanderol mulai Rp 500.000 hingga Rp 1,8 juta per pakaian.

Diana mengaku, pakaian tersebut langsung didatangkan dari Bombay, India. Konsumen pakaian India ini beragam, mulai dari anak muda hingga ibu-ibu. Biasanya untuk kalangan ibu-ibu banyak yang mencari pakaian berjenis kaftan.

Sedangkan anak muda biasanya memilih pakaian jenis dress, anarkali, dan slim fit. "Yang paling laris saat ini adalah anarkali," ujarnya.

Pemain lainnya adalah Irfan. Pria keturunan india ini sudah lama berbisnis pakaian India. Awalnya ia berjualan di India, dan sejak satu tahun lalu ia memutuskan untuk pindah ke Indonesia.

Lewat brand Rawaj, ia menjual berbagai macam pakaian, sepatu, hingga aksesoris khas India. Ia mengaku, penjualannya meningkat seiring dengan pakaian India yang saat ini banyak dipamerkan di stasiun televisi. "Pakaian India sekarang sudah sering masuk televisi, jadi sudah terkenal," tuturnya.

Pakaian di tokonya dihargai mulai Rp 250.000 hingga Rp 1,5 juta. Dalam sebulan ia bisa menjual 100 potong dengan omzet Rp 50 juta per bulan.

Read more...

Cuci Mobil Tanpa Air yang Tanpa Modal Besar

1 comments
Aktivitas yang semakin padat menyebabkan banyak orang kesulitan mencari waktu untuk merawat kendaraan pribadinya. Padahal, kendaraan butuh perawatan, paling tidak dicuci agar penampilannya tetap oke.

Membawa kendaraan ke tempat pencucian mobil merupakan pilihan yang paling praktis bagi pemilik kendaraan yang sibuk. Tak heran bila bisnis jasa cuci mobil dan salon mobil tetap mekar. Sayangnya, bisnis ini tak begitu ramah lingkungan lantaran penggunaan air yang sangat besar. Untuk membersihkan sebuah mobil, air yang diperlukan bisa seratusan liter.

Kondisi ini memunculkan inovasi baru, yakni mencuci mobil tanpa air. Peran air digantikan oleh cairan yang disemprot pada permukaan bagian mobil, baik pada eksterior maupun interior. Mobil pun bisa tampil kinclong.

Salah satu pemain di usaha ini, Elihu Nugroho, mengatakan bahwa jasa cuci mobil tanpa air sudah lazim di negara-negara maju. Pasalnya, masyarakat mereka di sana sudah menyadari pentingnya menghemat air. Sementara masyarakat Indonesia belum terlalu paham mengenai krisis air yang mulai terjadi.

Dulu, Elihu berkecimpung di usaha salon mobil konvensional hingga menemukan inovasi cuci mobil tanpa air. Dus, sejak 2013, Elihu membuat produk yang bisa digunakan untuk mencuci mobil tanpa air. Elihu butuh waktu setahun sampai mendapat formula yang pas. Beberapa kali ia menemui kegagalan dalam membuat produk tersebut. “Ketika saya buat, cairannya sempat menimbulkan flek putih pada permukaan mobil. Saya coba terus hingga formulanya tepat,” ujar Elihu.

Baru pada Maret 2014, Elihu menemukan formula yang pas untuk cairan pembersih mobil tanpa air. Cairan itu diberi merek Valo. Saat itu, ia belum percaya diri menjual produknya. Dus, produk cairan tersebut dia gunakan untuk membersihkan mobilnya sendiri terlebih dahulu. Selain itu, beberapa temannya pun ikut mencoba menggunakan produk tersebut.

Ketika puas dengan hasil yang didapat, Elihu membuka outlet pencucian mobil tanpa air di Jakarta, September 2014, dengan nama Valo Car Care. Meski demikian, Valo juga menerima jasa cuci motor bahkan jetski. “Kami pernah diminta untuk membersihkan jetski karena pemiliknya kebingungan mencari produk yang tepat untuk membersihkan kendaraan yang terus-menerus ada di dalam air,” cetus dia.

Outlet tersebut sengaja didirikan dekat kawasan perkantoran dan apartemen. Dua bangunan ini jadi target Elihu. Banyak pengelola kantor dan apartemen yang tidak mengijinkan mobil yang parkir untuk dicuci. Pasalnya, penggunaan air membuat pengelola keluar biaya. Inilah celah yang dimanfaatkan oleh Elihu.

Untuk menggunakan jasa Valo man (sebutan untuk karyawan Valo Car Care), konsumen harus membayar biaya berkisar Rp 50.000–Rp 200.000 per mobil. Besaran biaya itu ditentukan oleh paket pencucian yang dipilih, antara lain cuci eksterior, interior, jamur dan kaca, serta cuci mesin mobil. Semakin banyak paket yang diambil, biaya pencucian tentu semakin besar.

Peluang yang sama juga ditangkap oleh Harijanto Ongko. Alih-alih menciptakan produk pembersih mobil, pria asal Surabaya ini mendatangkan waralaba cuci mobil asal Australia, Nowet Waterless Carclean.

Harijanto membawa lisensi Nowet pertama kali pada 2011. Saat itu bisa dikatakan, jasa cuci mobil tanpa air ini tergolong hal baru di dalam negeri. “Karena tanpa air, jasa ini bisa dilakukan di mana saja dan kami dapat menghampiri pelanggan,” ujarnya.

Dia bilang, mobil yang dipamerkan di pusat perbelanjaan kerap jadi kliennya. Lantaran tak mungkin mencuci mobil dalam mal, jasa cuci mobil tanpa air pun sangat dibutuhkan.

Banyak kelebihan

Inovasi cairan pembersih mobil tanpa air ini memang belum terlalu dikenal banyak orang. Padahal, banyak kelebihan yang ditonjolkan ketimbang mencuci air secara konvensional alias menggunakan air. Penghematan air dari cairan ini sangat signifikan.

Elihu bilang, untuk mencuci satu unit mobil, air bersih yang diperlukan bisa mencapai 300 liter. Di sisi lain, air bersih sebanyak itu bisa memenuhi kebutuhan konsumsi air minum seseorang sampai lima bulan. “Tidak banyak orang yang sadar akan kondisi ini,” ujar Elihu.

Dengan kata lain, usaha ini juga mendukung program ramah lingkungan. Ini jadi salah satu kelebihan jasa cuci mobil tanpa air. Elihu juga bilang, banyak jasa cuci mobil konvensional yang tutup karena kekurangan air bersih. “Banyak salon mobil yang tutup karena memang kebutuhan air sangat besar dan mereka tidak sanggup memenuhinya,” tandas dia.

Di samping itu, lantaran tak menggunakan air, merintis usaha jasa cuci mobil tanpa air ini pun lebih sederhana. Untuk memulai usaha, yang diperlukan adalah menyewa tempat usaha dan menyediakan produk cairan pembersih.

Bahkan, Elihu bilang, usaha ini bisa dilakukan di rumah alias tak perlu menyewa tempat. “Pemilik mobil tidak perlu mendatangi Valo, tapi Valo man yang akan mendatangi mobil konsumen untuk dicuci. Kami hanya perlu lokasi dan plat mobil,” ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk membersihkan satu unit mobil, waktu yang diperlukan sekitar 15 menit hingga sejam, tergantung bagian yang dibersihkan. Adapun jumlah karyawan untuk membersihkan mobil tidak banyak. Jasa pencucian mobil tanpa air bisa dilakukan oleh satu orang saja.

Modal untuk merintis usaha ini jelas tidak sebesar jasa mobil konvensional. Ditambah, potensi balik modalnya pun lebih cepat. Elihu bilang, untuk membuka satu outlet Valo Car, modal yang diperlukan minimal Rp 30 juta. Modal itu digunakan untuk menyediakan produk, sewa tempat serta merekrut tenaga kerja.

Peluang kemitraan

Anda tertarik menjajal usaha ini? Bila tak mau repot-repot menciptakan produk baru, Anda bisa bergabung dengan kemitraan yang ditawarkan oleh Elihu dan Harijanto.

Sejak membawa Nowet Waterless Carclean masuk ke Indonesia, Harijanto langsung menawarkan waralaba. Saat ini, Nowet sudah punya enam outlet di Jakarta, Semarang, Batam, Surabaya dan Yogyakarta. "Satu gerai milik pusat, sisanya milik mitra," ujar dia.

Dalam kerjasama waralaba ini, Harijanto menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket Nowet Express senilai Rp 100 juta. Paket ini hanya menawarkan jasa cuci mobil. Dari investasi sebesar itu, Rp 75 juta untuk biaya waralaba lima tahun, dan sisanya buat peralatan cuci seperti obat-obatan. Mitra tak perlu punya tempat usaha karena ini jasa panggilan.

Selanjutnya, paket Nowet Car Care senilai Rp 200 juta. Rinciannya, Rp 150 juta buat biaya waralaba lima tahun, dan sisanya buat membeli peralatan dan obat-obatan. Berbeda dengan paket pertama, mitra paket ini diwajibkan memiliki lokasi usaha untuk digunakan sebagai workshop. Soalnya, paket ini menawarkan empat macam perawatan mobil, seperti cuci mobil, salon mobil, auto detailing dan paint protection. Pelanggan usaha ini biasanya para anggota komunitas pecinta mobil dan korporasi.

Tarif jasa cuci mobil di tepat ini dibanderol mulai Rp 90.000 sampai Rp 145.000, tergantung jenis mobilnya. Sementara tarif lain, seperti paint protection seharga Rp 6 juta per mobil. Ia menargetkan, mitra paket Nowet Express bisa mengantongi omzet sebesar Rp 22,5 juta dengan margin sekitar 30%. Sementara mitra paket Nowet Car Care bisa meraup omzet sekitar Rp 38 juta per bulan dengan margin sama. "Rata-rata balik modal tiap-tiap paket diperkirakan 18 bulan," kata Harijanto.

Sementara itu, di bawah bendera PT Valo Indonesia Prima, Elihu menawarkan tiga paket kemitraan. Masing-masing mensyaratkan investasi senilai
Rp 30 juta, Rp 50 juta, dan
Rp 100 juta. Pembelian bahan baku rata-rata memakan biaya 30% dari total omzet. Di antaranya membeli produk kimia, semir ban, pembersih jamur, body waterless, dan engine cleaner.

Elihu menargetkan tiap outlet bisa mencuci minimal 110 mobil-300 mobil dalam satu bulan. Setelah dikurangi dengan biaya operasional, mitra diprediksi akan balik modal sekitar satu hingga dua tahun.

Elihu menambahkan, saat ini produk cairan untuk pembersih tanpa air bisa dihitung dengan jari. Untuk memudahkan, pemain baru bisa mengambil paket kemitraan yang ada. Akan tetapi, jika memang tak puas, Anda bisa coba membuat produk sendiri. "Kalau ada produk sendiri, potensi usahanya tentu lebih besar karena akan dicari-cari," katanya.

Persaingan pada jenis usaha ini memang belum terlihat. Dus, Elihu bilang, peluang usahanya masih sangat menggiurkan. Sebagai salah satu pelopor usaha mencuci mobil tanpa air, Elihu bilang kesulitan yang ditemui adalah meyakinkan pengguna jasa yang dibidik.

Menurut pengamatan Elihu, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ketersediaan air bersih masih sangat kurang. Di mata masyarakat, produk ini belum dianggap sebagai solusi. Masyarakat juga masih curiga produk ini bisa menimbulkan baret pada permukaan kendaraan karena hanya disemprot lalu dilap.

Sebagai bentuk edukasi, Elihu sering mengadakan demo cuci mobil tanpa air. Dengan demikian, masyarakat bisa melihat langsung kelebihan produk ini dibandingkan pembersih yang biasa digunakan pada jasa cuci mobil konvensional.

Rahasia dapur tidak dijual bebas

Jasa cuci mobil tanpa air menjadi solusi ketika kendaraan harus tampil mengkilap, namun air sulit diperoleh. Sayangnya, cairan pengganti air ini tidak dijual secara ritel di pasar bebas. Untuk bisa mengaplikasikan cairan pembersih ini pada mobil, Anda harus memanggil jasa cuci mobil tanpa air ini.

Elihu Nugraha, pendiri Valo Car Care, mengatakan produk ini memang sengaja tidak dijual secara umum. Sejak awal, ia mengembangkan usahanya dengan cara menjalin kemitraan. Total gerai milik mitra ada 14. Lokasinya di Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Palembang, Lampung, Manado, dan Palu.

Ada beberapa pertimbangan Elihu. Pertama, penggunaan produknya tidak semudah yang dibayangkan. Cairan pembersih tak bisa sembarang diaplikasikan. “Untuk membersihkannya harus menggunakan kain microfiber dan ada teknik tertentu agar tidak merusak lapisan cat mobil,” ujar dia.

Walau jika diperhatikan, proses mencuci tanpa air ini tak terlalu sulit. Tahap pertama ialah menyemprotkan cairan pembersih pada permukaan mobil yang kotor. Setelah disemprot, jangan terlalu tergesa-gesa untuk menyekanya dengan lap. Tunggu beberapa detik agar cairan benar-benar menempel pada bodi mobil. Bila sudah tampak bersih, gosoklah permukaan mobil dengan menggunakan kain microfiber. Hindari kain lap biasa karena akan merusak permukaan mobil. Membersihkan bodi mobil mungkin tampak mudah, tapi untuk membersihkan bagian lain terutama mesin cukup sulit sehingga sebaiknya diserahkan pada karyawan yang ahli.

Formula pada cairan pembersih bisa mengikat debu kotoran dan mengangkatnya dari permukaan mobil. Adapun kandungan carbona wax bisa melapisi permukaan mobil. "Kalaupun hujan, mobil bisa tetap mengkilap," kata Elihu. Selain itu, dengan membuka outlet, ia bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Karyawan Valo Car Care harus mengikuti pelatihan selama dua hari untuk bisa mengaplikasikan cairan pembersih.

Pertimbangan lain ialah, saat ini jarang sekali orang yang punya waktu untuk mencuci mobilnya sendiri. Waktu untuk mencuci mobil kerap digunakan untuk aktivitas lain. “Kalau dijual di toko, mungkin banyak yang beli, tapi belum tentu mereka mengaplikasikannya dengan benar. Lebih parah lagi, belum tentu produk saya ini benar-benar digunakan,” ucap dia.

Read more...

Zulqarnain Mencetak Untung dari Pengalaman

0 comments
Pengalaman sehari-hari sering mendatangkan inspirasi untuk berbisnis. Seperti Mukhammad Zulqarnain Agus Rosano yang memperoleh ide untuk merintis clothing custom dari kesulitannya mencari celana yang sesuai dengan ukuran tubuhnya yang di atas rata-rata.

Berkaca dari pengalamannya, Zul, panggilan akrabnya, yakin banyak orang yang mengalami masalah serupa. Lantas, dia memberanikan diri terjun ke bisnis ini, setelah mengalami kegagalan berbisnis camilan.

Sejak kuliah, Zul memang telah menetapkan diri menjadi pengusaha.Pertama, dia beralasan ingin punya banyak waktu untuk keluarganya kelak. “Tidak seperti saya yang kurang kasih sayang karena selalu ditinggal orangtua bekerja,” kenang dia. Kedua, dia ingin menikmati masa pensiun di usia 30 tahun. Tak heran, ketika menjejakkan kakinya di Kota Kembang, Zul langsung mengendus peluang bisnis yang ada.

Saat itu, sekitar tahun 2010, camilan seperti Ma Icih tengah jadi tren. Zul pun ikut mencicipi gurih bisnis camilan dengan menjual stik keju. Sayang, meski mampu menorehkan omzet hingga Rp 60 juta per bulan, pria yang masih kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung ini terpaksa mengakhiri bisnis camilannya setelah berjalan setahun. “Saya bangkrut dan merugi, karena ada kesalahan pengelolaan,” ujar Zul. Dia salah memberikan kepercayaan ke orang yang belum kompeten.

Dia ingat, saat itu, uangnya benar-benar habis, hingga terusir dari kamar kos karena tak sanggup membayar. Zul pun akhirnya menyerah dan kembali ke kampungnya di Banyuwangi, Jawa Timur.

Tak butuh waktu lama, semangatnya berbisnis tersulut lagi setelah mendengar nasihat dari orangtuanya. Pertengahan 2012, ide berbisnis clothing custom segera muncul, karena menurut dia, usaha ini tidak butuh modal samasekali. Pria 24 tahun ini menawarkan pembuatan celana sesuai dengan pesanan kepada teman-temannya. “Saya mengumpulkan foto-foto dari Google dan menawarkan celana secara door to door saat itu,” kenang Zul. Kemudian, ia menjahitkan pesanan celana custom ini kepada penjahit di kawasan Pasar Baru, Bandung.

Berbagai lini bisnis

Kegagalan di bisnis camilan menjadi pelajaran berharga bagi Zul. Salah satu pelajaran adalah dia tidak menggunakan keuntungan dari berbisnis untuk kepentingan pribadi. Uang itu ia alokasikan untuk memperbesar bisnisnya. “Uang itu juga saya pakai untuk berpromosi,” kata Zul.

Lantaran fokus membangun usaha, bisnis clothing custom milik Zul kian berkembang. Apalagi, saat itu, belum ada kompetitor. “Ini sesuatu yang baru, orang bisa memilih apa yang menjadi keinginannya, baru diproduksi,” terang Zul. Produk Iwearzul mengincar pasar pada rentang usia 21 tahun hingga 27 tahun.

Permasalahan mulai muncul pada 2014, karena manajemen produksi yang belum rapi. Zul pun sempat berpikir untuk menyerah. Pasalnya, tidak seperti perusahaan garmen yang bisa sekali produksi lalu dijual, produksi clothing custom ini terus berjalan seiring dengan datangnya pesanan. “Ibarat dapur, kita harus ngebul terus,” tegas Zul. Alhasil, dia harus berhitung produksi dengan tepat, baik soal pasokan kain hingga tenaga kerja, supaya tak merugi.

Dari situlah, Zul lantas mencoba berbagai sistem produksi dan mengujinya satu per satu. “Memang ada perusahaan yang menawarkan standar dan prosedur, tapi kami perlu menciptakan sistem sendiri, karena kami yang menjalani bisnis ini,” ungkap Zul.

Butuh waktu delapan bulan, hingga akhirnya Iwearzul menemukan sistem monitoring secara menyeluruh pada produksi. “Dengan sistem ini, kami bisa memantau semua yang terjadi, karena di setiap bagian terhubung jaringan komputer,” kata Zul.

Sistem baru ini pula yang membuat bisnis Zul dapat berputar kencang. “Produksi sudah aman, giliran fokus ke marketing. Kami terima order berapa pun,” cetus Zul. Dua bulan terakhir tahun 2014, omzet Iwearzul berlipat hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, selama tiga bulan pertama 2015, Zul mencetak omzet berkisar
Rp 400 juta saban bulan.

Iwearzul melayani pesanan celana, jaket, dan kemeja. Meski custom, konsumen tak bisa memesan model seperti keinginannya, karena Zul sudah menyiapkan sejumlah desain untuk ketiga produk itu. “Desain ini menjadi guideline bagi kami, karena kami juga harus berpikir soal imaji brand Iwearzul,” jelas Zul. Tiap tiga bulan, Iwearzul meluncurkan desain baru untuk setiap produk.

Kecepatan proses produksi menjadi salah satu kelebihan Iwearzul. Zul bilang, pembuatan celana dan lainnya bisa diselesaikan dalam tiga hari hingga enam hari. Selain itu, dia juga memberi garansi uang kembali jika produk mengecewakan. Layanan Iwearzul lewat website pun diberikan selama 24 jam.

Dalam berbisnis, Zul selalu membuat rencana yang matang dan eksekusi sebaik mungkin. Oleh karena itu, dia tak berhenti pada bisnis clothing custom ini. Dia mendirikan Zul Group yang akan menjadi holding dari sejumlah usahanya kelak.

Berbeda dengan pengusaha lainnya yang mungkin hanya fokus pada satu bidang, Zul justru menjalankan berbagai lini bisnis. Dua bulan ini, dia menggeluti bisnis parfum, Zule Parfum. “Bisnis itu tidak ada yang gampang, semua harus dipelajari,” kata Zul. Di bisnis parfum ini dia juga belajar dari awal, mulai dari mengenal berbagai bahan kimia hingga menciptakan aroma wewangian yang sesuai selera pasar.

Selanjutnya, Zul juga terjun di bisnis jasa logistik dengan meluncurkan ZHDS alias Zul Home Delivery Servis. ZHDS merupakan layanan antar untuk berbagai kuliner di Bandung. Zul juga mendirikan usaha garmen yang melayani pesanan korporasi. Ke depan, Zul berencana untuk membuat restoran, hotel dan bisnis tour and travel di Bandung. 

Belajar dari pemilik Virgin

Menjadi pengusaha sebenarnya bukan mimpi Mukhammad Zulqarnain Agus Rosano saat belia. Cita-citanya dulu adalah menjadi arsitek atau insinyur teknik lain.

Namun, haluan hidupnya berubah ketika dia merasa kesibukan bekerja menghalangi orangtuanya memberikan perhatian. “Saya merasa kurang kasih sayang karena jarang bertemu,” kenang suami dari Inna Susanti.

Selanjutnya, dalam perjalanan bisnis, Zul banyak mendapat inspirasi dari pebisnis dunia, Richard Branson, pengusaha asal Inggris yang mendirikan Virgin Group. Belajar dari pebisnis yang memiliki lebih dari 400 usaha ini, Zul mengembangkan berbagai lini bisnis dalam Zul Group. “Saya belajar seperti Branson yang tak fokus hanya ke satu bidang bisnis saja,” cetus Zul.

Setiap mengembangkan bisnis baru, Zul terlebih dahulu melihat kemantapan bisnis lamanya. Karena, dia akan menyerahkan bisnis tersebut pada orang kepercayaannya. Seperti Iwearzul, yang sudah ia serahkan ke salah seorang direkturnya. “Nah, untuk terjun di usaha baru, saya harus fokus di sana selama enam bulan untuk memastikan bisnis berjalan lancar,” ungkap dia.

Demikian juga untuk menciptakan suasana yang nyaman di kantornya. Zul juga mengadopsi suasana kantor Google. “Saya ingin semua karyawan betah bekerja di kantor. Jadi saya membuat kantor ini senyaman mungkin,” ujar pria kelahiran 7 Agustus 1991 ini.

Di kantornya, Zul menyediakan ruang-ruang untuk hiburan dan relaksasi yang bisa dinikmati 40 karyawannya. Dia juga membangun meja bar, taman, dan ruang hiburan karena sebagian besar karyawannya adalah anak-anak muda. “Mereka biasa bekerja hingga malam di sini,” ujar Zul yang berencana membangun kantor Zul Group pada 2016 nanti.

Read more...

Jalan Panjang Nafi Memasarkan Boiler

0 comments
Bisnis bukan tak mungkin berawal dari niat membantu. Nafi Rasyid yang memiliki usaha pembuatan ketel uap (boiler) sudah membuktikannya. Ia tertarik mengembangkan boiler karena ingin membantu roda bisnis pengusaha kecil dan menengah (UKM).

Perjumpaan Nafi dengan para wirausaha kelas tanggung ke bawah itu terjadi saat ia berstatus mahasiswa Teknik Mesin. Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat Nafi menuntut ilmu, pernah menggelar program menciptakan alat semacam itu yang menggunakan briket batubara sebagai bahan bakar.

Untuk bisa merancang alat semacam itu, Nafi pun blusukan ke sentra pembuatan tahu di Jawa Barat. Ia mengamati kebanyakan pengusaha kecil menengah belum mengenal boiler atau mesin penghasil uap. Padahal, mesin yang sudah dikenal sejak abad ke-17 ini, cocok untuk digunakan dalam berbagai proses produksi.

Namun di negara ini, cuma pengusaha skala besar yang bisa menikmati fungsi boiler. “Bagaimana industri kecil bisa bersaing kalau mereka tidak menyadari telah menggunakan bahan bakar lebih banyak 50%, dengan tidak menggunakan boiler,” ujar Nafi menjelaskan asal mula ketertarikannya mengembangkan boiler.

Para produsen tahu yang diamati Nafi menggunakan alat tradisional untuk memainkan peran seperti boiler. “Mereka membakar kayu yang uapnya ditahan dalam drum. Itu tidak efisien dan tak terjamin keamanannya,” kata Nafi.

Pada tahun 2007, Nafi mulai mengembangkan boiler. Awalnya, ia membuatboiler reguler, yang belum terlalu ideal untuk pengusaha kecil. “Agar bisa digunakan produsen kecil, saya merancang alat yang tahan banting, murah, dan butuh perawatan sederhana,” ujar dia.

Nafi menghabiskan waktu hingga dua bulan untuk membuat boiler pertamanya. Boiler itu dibeli pemilik pabrik tahu di Cicalengka, Jawa Barat.

Kendati punya awal yang baik, usaha Nafi ibarat berjalan di tempat. Banyak pebisnis UKM yang meragukan kegunaan boiler buatan Nafi. Apalagi, banderol harga yang dipasang Nafi lumayan tinggi untuk ukuran pengusaha kelas mini, sekitar Rp 45 juta. “Memang, harganya mahal. Tapi jika dihitung dengan penghematan yang diperoleh, UKM bisa balik modal dalam lima bulan,” tutur Nafi.

Namun Nafi juga tak menutup mata terhadap berbagai usulan. Selama hampir lima tahun, ia mengadakan riset merancang boiler yang lebih pas untuk pengusaha kelas bawah. Nafi juga tak bosan-bosan melakukan penyuluhan.

Tak tanggung-tanggung, ia mendatangi masyarakat dari rumah ke rumah. “Waktu di Garut, saya langsung masuk ke kampung-kampung. Di Bandung juga begitu,” tutur dia. Memang, fokus utama Nafi saat itu bukan penjualan, melainkan edukasi agar semakin banyak yang paham kegunaan boiler.

Mulai komersial

Di masa paceklik itu, Nafi sempat tergoda untuk pindah jalur, menjadi karyawan. Namun panggilan untuk membantu UKM ternyata lebih kuat dibandingkan dengan godaan untuk berkarier di perusahaan orang. “Saya menjadi optimistis ketika boiler yang saya buat berhasil mengembangkan sebuah UKM yang hampir bangkrut,” ujar dia. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menebalkan keyakinan Nafi bahwa boiler merupakan solusi berhemat pengusaha kecil.

Pada 2012 ia mulai menggunakan stainless steel sebagai bahan boiler. Ia juga mendesain boiler buatannya dalam ukuran lebih kecil daripada boiler biasa. Ia juga membuat boiler dengan roda sehingga gampang dipindahkan (portabel).

Sistem pembakaran yang digunakan boiler mini memungkinkan penggunanya menghemat bahan bakar hingga 50%. Keunggulan lain boiler mini adalah bisa menggunakan berbagai bahan bakar yang mudah ditemukan, seperti kayu, batubara atau cangkang sawit.

Setahun kemudian, bisnis Nafi bergulir lancar. Boiler mini tak kesulitan mencari pembeli. Momen ini tak disia-siakan Nafi. Bersama sang istri, Ratna Yanti Kosasih, ia mendirikan PT Bumibraja Nusantara di Bandung, Jawa Barat. “Saya hanya bisa membuat, tapi tidak bisa menjual,” ucap Nafi. Ia mendelegasikan urusan bisnis ke sang istri dan rekannya, Adriansyah.

Kendati telah menggunakan bendera PT, Nafi tak mengubah misinya mendorong kemajuan UKM. Ia membuat program deposit bagi pengusaha kecil. “Kami meminjamkan boiler, tetapi mereka harus pesan bahan bakar dari kami,” kata dia.

Nafi masuk ke bisnis bahan bakar boiler, dua tahun lalu, juga untuk memenuhi permintaan pembeliboiler mini . Batubara yang disebut sebagai bahan bakar terbaik boiler, sulit diperoleh kebanyakan pembeli boiler Nafi. “Mereka tidak mau membeli boiler kalau tidak ada bahan bakar,” kata dia.

Permintaan bahan bakar dari pemilik boiler memperlihatkan tren peningkatan. Saat ini, Nafi bisa menjual 100 ton batubara saban bulan. Ia juga menjual 20 ton cangkang sawit. Cangkang ini juga bisa digunakan sebagai bahan bakar pada boiler.

Selama dua tahun ini, Nafi sudah menjual 60 unit boiler mini . Tahun lalu, Bumibraja Nusantara mencetak omzet Rp 1,9 miliar. Adapun pemasukan dari penjualan bahan bakar sekitar Rp 800 juta selama setahun.

Kini, Bumibraja Nusantara memproduksi boiler dalam tiga ukuran, yakni kecil, sedang, dan besar. Harga per unit berkisar Rp 45 juta-Rp 150 juta.

Usaha Nafi memang masih punya kendala. “Kalau jarak pembeli jauh dari Bandung, kami kesulitan melakukan perawatan atau perbaikan,” ujar dia. Pengguna boiler kini berasal usaha pembuatan tahu, kerupuk, jamur, kembang tahu, agar-agar, batik. Ada juga pebisnis restoran dan binatu.

Nafi tak serta merta puas dengan hasil yang telah ia capai. “Karena tujuannya untuk membantu, kami akan terus kembangkan usaha ini,” ujar dia.

Rajin ikut kompetisi

Kehadiran technopreneur atau wirausaha di bidang teknologi mulai terasa beberapa tahun terakhir. Naïf Rasyid mengakui, saat ini peluang sarjana untuk menggeluti dunia usaha terbuka lebar. Banyak pihak yang mendukung pengusaha berbasis teknologi ini melalui beragam kompetisi.

Dua lomba yang pernah diikuti Nafi adalah Yayasan Inovasi Teknologi (Inotek) dan Mandiri Young Technopreneur (MYT). Dari kedua kompetisi tersebut, boiler mini r buatan Nafi mendapat apresiasi positif. Di Inotek, ia berhasil mendapat dana hibah US$ 10.000 dan program inkubasi selama dua tahun. Baru-baru ini, ia juga diganjar gelar pemenang pertama kategori Non-digital dalam kompetisi MYT.

Nafi mengakui sempat menemui kendala ketika mengembangkan boiler mini sebagai produk komersial. “Saya ingin menciptakan produk dengan teknologi yang begitu canggih dan modern, tetapi ternyata tidak tepat sasaran. Customer inginnya model yang murah dan sederhana, tetapi berguna bagi mereka,” tutur dia.

Dus, ia sangat menghargai saat sang istri, Ratna Yanti Kosasih, mau bergabung dengannya mengembangkan boiler mini . Padahal Ratna sempat bekerja di perusahaan minyak ternama, Schlumberger, selama lima tahun. “Dia mau keluar dari pekerjaannya dan kami pun mulai fokus menjadikan ini sebagai usaha, bersama dengan teman saya yang lain, Adriansyah,” ucapnya.

Kendati pemiliknya punya relasi personal, Nafi menyatakan, PT Bumibraja Nusantara tetap dikelola secara profesional. Ketiga pemilik saham Bumibraja sudah menetapkan posisinya masing-masing sejak awal.

Ratna menjabat sebagai Direktur Utama, sedang Nafi menjadi Direktur Teknik. Adapun Adriansyah, yang tengah bekerja di luar negeri, kebagian peran sebagai Komisaris. “Konflik kecil pasti ada. Tetapi sejauh ini visi kami masih tetap sama. Dan setiap orang sudah mengetahui perannya masing-masing,” cetus Nafi.

Read more...

Mencetak Fulus dari Kemasan Makanan

0 comments
Seiring pesatnya pertumbuhan usaha kuliner, permintaan kemasan makanan terus mengalir. Prospeknya pun masih cerah pada tahun-tahun mendatang. Kalau tertarik, Anda kudu bermodal gede untuk membangun pabrik.

Kemasan menjadi unsur penting dalam sebuah produk. Pembungkus yang cantik dan unik, bisa mempengaruhi konsumen untuh menjatuhkan pilihan pada sebuah produk. Nilai jual pun bisa terdongkrak berkat kemasan.

Tak terkecuali pada produk kuliner. Bukan cuma sebagai pembungkus, kemasan bisa mengangkat citra sebuah produk kuliner. Sebab, pada kemasan, produsen bisa mencantumkan berbagai informasi, bahkan menjadi salah satu media promosi yang efektif.

Perkembangan usaha kuliner ikut membawa berkah bagi produsen kemasan, khususnya kemasan makanan. Apalagi, saat ini, makin banyak orang peduli akan gaya hidup sehat. Mereka pun menginginkan kemasan yang tak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Kemasan kertas pun banyak dipakai oleh pengusaha kuliner, terutama mereka yang menyajikan jenis masakan siap saji.

Melihat potensi yang cukup besar pada usaha ini, Stanliy Hardjo menerima ajakan menjadi produsen kemasan. Sebelumnya, pria 42 tahun ini memang bekerja di perusahaan percetakan yang memproduksi kemasan. "Setelah sang owner melihat kemampuan saya, dia menawari saya untuk membuka usaha sendiri dan mengizinkan saya untuk membawa klien di perusahaan lama," kenang Stanliy.

Pada tahun 2002, dia mulai merintis Sinar Rejeki Printing Jaya. Dengan modal order yang berasal dari klien di perusahaan lama, Stanly membangun pabrik di kawasan Dadap, Tangerang. "Tapi, saya merintis usaha ini dari kecil," terang dia.

Sinar Rejeki Printing memproduksi sejumlah kemasan. Selain kemasan untuk makanan, perusahan juga membuat kemasan untuk berbagai produk, seperti fashion. Namun, yang paling besar adalah kemasan untuk makanan. "Hampir 80% kemasan yang kami produksi merupakan kemasan untuk makanan," ujar Stanliy.

Kemasan untuk makanan sendiri tersedia dalam jenis food grade dan non food grade. Kemasan food grade biasanya disebut bila kertas bahan baku kemasan tersebut tidak tembus air maupun minyak. "Karton putih dan ivory sudah bisa disebut food grade," jelas dia. Namun, biasanya, konsumen masih menginginkan pelapis lain sehingga makanan yang disimpan dalam kemasan tak rusak atau kemasan tak bocor.

Contoh kemasan makanan yang non food grade karton karton putih dengan warna abu-abu di baliknya. Oleh karena itu, biasanya, pengusaha kuliner yang menggunakan kemasan non food grade ini akan menambahkan kertas, daun atau plastik, sebelum mewadahi makanannya. "Kemasan seperti ini banyak dipakai untuk martabak," kata Stanliy.

Tentu saja, harga kemasan food grade lebih mahal. Stanliy menyebut harga kemasan jenis ini lebih mahal sekitar 30%. Meski begitu, para pelaku usaha kuliner cenderung menyukai jenis food grade.

Dalam sebulan, Sinar Rejeki Printing bisa memproduksi puluhan ribu hingga ratusan ribu lembar kemasan. Harga jual rata-rata kemasan tersebut berkisar Rp 1.000. "Tergantung ukuran, jumlah order, dan ketebalan kertas," kata Stanliy. Dia pernah menerima pesanan dengan harga Rp 25.000 per piece lantaran ukurannya besar.

Dia yakin prospek bisnis kemasan masih cerah, karena dunia kuliner terus berkembang. Saban tahun, order yang datang ke Sinar Rejeki Printing pun terus bertambah. Kini Stanliy mempekerjakan sekitar 30 orang di pabriknya.

Bukan cuma dari Jakarta, order yang datang ke Sinar Rejeki Printing juga datang dari luar Jawa, seperti Pontianak, Manado, dan berbagai kota besar lainnya. "Padahal, saya tak pernah promosi," ujar Stanliy.

Permintaan kemasan yang terus meningkat juga dirasakan Rico Arizona, pemilik Riscopack. Malah, menurut dia, order kemasan makanan sudah menanjak sejak 1989. Bahkan, dia pernah mengecap angka pertumbuhan mencapai 40% per tahun. "Usaha ini tak pernah mati selama masih ada produk yang harus dikemas," ujar Rico.

Sama seperti Sinar Rejeki Printing, Riscopack yang berbasis di Surabaya tidak cuma melayani pemesanan kemasan makanan, tetapi juga kemasan lain. Namun order terbesar Riscopack saat ini datang dari pebisnis kuliner. "Komposisi produksi kami, 80% untuk kemasan makanan, 20% untuk kemasan lain," ujar Rico. Dia menjual kemasan mulai dari harga Rp 400 hingga Rp 6.000 per lembar. Kapasitas produksi percetakan ini mencapai puluhan ribu per bulan.

Kunci sukses bukan cuma modal

Untuk terjun di usaha ini, bukan cuma modal duit yang diperlukan. Stanliy menuturkan, calon pengusaha harus benar-benar memiliki pemahaman soal bisnis percetakan, kemasan, serta target pasar yang akan dibidik.

Segendang sepenarian, Risco pun memberi syarat bagi pengusaha yang ingin terjun dalam usaha ini harus paham bisnis kemasan. Sebab, layaknya bisnis percetakan, volume memegang peran penting dalam bisnis ini. Dia menyarankan, agar pengusaha menjaring calon pelanggan terlebih dahulu, sebelum fokus ke usaha pembuatan kemasan makanan.

Modal order pula yang menjadi kekuatan Stanliy ketika membangun bisnis kemasan makanan 12 tahun silam. Dalam bisnisnya, Stanliy memilah order menjadi dua jenis. Yakni, order berdasarkan kontrak dan order biasa.

Untuk order yang bersifat kontrak, dia menetapkan masa kontrak minimal selama enam bulan. Stanliy pun akan menyediakan stok kemasan minimal untuk kebutuhan satu bulan di gudangnya.

Adapun order di luar kontrak, dia tetapkan dengan ketentuan minimal order sebanyak 5.000 pieces. Pada order jenis ini, dia tetap menyediakan stok tapi dengan jumlah yang terbatas.

Selain order, modal lain adalah kepercayaan. "Terutama kepercayaan dari pabrik kertas," kata Stanliy. Maklum, kertas yang menjadi bahan baku utama usaha ini menyedot biaya yang besar.

Sejatinya, untuk memulai tidak harus bermodal dana besar atau bahkan tanpa modal. Sebab, untuk menjaring konsumen, Anda bisa mencari rekanan percetakan. Stanliy sendiri menawarkan kesempatan bagi calon pengusaha yang ingin terjun ke bisnis kemasan dengan bergabung di perusahaannya. "Mereka bisa ikut menanam modal ke Sinar Printing sambil belajar soal bisnis dan produksi," kata dia.

Maklum, usaha pembuatan kemasan makanan ini juga memasang syarat pemahaman tentang produksi. Pada proses ini, kunci yang harus dikuasai adalah pengetahuan tentang mesin cetak. Asal tahu saja, bagian terbesar modal akan tersedot untuk pengadaan mesin.

Nah, ada tiga jenis mesin yang mutlak ada untuk membuat kemasan makanan. Masing-masing adalah mesin cetak, mesin pemotong, dan mesin lem. Untuk ketiga jenis mesin itu, Anda mempunyai dua pilihan: menggunakan mesin baru atau mesin bekas.

Stanliy menyebut harga mesin ini lumayan mahal. "Harga sebuah mesin cetak baru buatan Jerman bisa mencapai Rp 3 miliar," ujar dia. Sinar Rejeki menggunakan mesin-mesin ini karena kualitasnya benar-benar teruji.

Mesin sejenis yang dibuat di China harganya berkisar Rp 800 juta. Harga mesin lem buatan China berkisar Rp 600 juta–Rp 700 juta. Sedang harga mesin potong buatan China berkisar Rp 50 juta–Rp 60 juta.

Namun jika modal Anda terbatas, mesin bekas bisa jadi pilihan. Rico menuturkan, harga mesin cetak bekas buatan Jepang sekitar Rp 180 juta, harga mesin potong bekas buatan China berkisar Rp 30 juta, mesin pond bekas ukuran double folio buatan China adalah
Rp 25 juta dan alat pembuatan pisau pond Rp 33 juta.

Baik Rico maupun Stanliy menyarankan agar Anda memilih mesin buatan Jerman, atau setidaknya Jepang untuk mesin cetak. Sedang untuk mesin potong dan mesin lem dapat menggunakan mesin buatan China yang harganya lebih miring. Pilihnya mesin yang memiliki garansi perawatan, paling tidak selama 4 tahun.

Rico menuturkan pengalaman saat memulai Riscopack 1989 silam. "Kami hanya membeli mesin cetak ukuran folio buatan Klaten, Jawa Tengah di pasar loak, sedikit diperbaiki sehingga bisa dipakai dengan baik," kata Rico.

Bisa didatangi truk kontainer

Setelah urusan mesin kelar, agenda produksi berikut yang perlu dituntaskan pemain baru di bisnis ini adalah menyiapkan stok kertas. Penyediaan urusan ini, idealnya, dilakukan bersamaan dengan pencarian order. Menurut Risco, usaha kemasan tidak memliki kendala berarti dalam proses produksi. Tetapi, pemasaran memegang peran yang sangat penting demi kelangsungan usaha ini.

Stanliy menuturkan, kertas bahan baku kemasan mudah diperoleh dari pabrik-pabrik kertas di Indonesia. Biasanya, kertas ini dijual dalam bentuk lembaran yang sudah dipotong dalam ukuran tertentu. "Jadi, Anda bisa menyesuaikan dengan ukuran yang diinginkan," kata Stanliy. Harga kertas berkisar Rp 11.000-Rp 15.000 per kilogram. satuan kilogram.

Berkaitan dengan stok kertas ini, Anda juga harus mempertimbangkan lokasi pabrik. Stanliy bilang, pabrik sebaiknya berada di tepi jalan besar. Sebab, stok kertas ini biasanya datang langsung dalam jumlah besar. "Bisa truk-truk kontainer yang mengantar kertas ini. Jadi, jalan menuju pabrik sebaiknya bisa dilalui oleh truk besar," imbuh dia.

Setelah mengetahui perkiraan order, dan tentunya, estimasi bahan yang dibutuhkan, rancanglah secara cermat stok kertas yang perlu dibeli. Perhitungan cermat ini perlu karena bahan kemasan food grade tidak bisa dibeli dalam jumlah sedikit.

Ingat pula, Stanliy bilang,
bahan baku kertas setidaknya menyedot 70% dari harga kemasan. Sisanya, merupakan biaya untuk pembelian tinta, tenaga kerja dan operasional lainnya.

Oh, iya, sebaiknya Anda juga menguasai soal desain kemasan. Sebab, adakalanya konsumen akan meminta bantuan jasa desain kemasan karena kesibukan mereka.

Tertarik mencoba?

Read more...
Tuesday, 31 March 2015

Dulu Kuli, Tri Sumono Kini Bos Banyak Usaha

0 comments
Banyak orang yang harus menjalani merasakan pahitnya kehidupan sebelum meraih kesuksesan. Salah satunya adalah Tri Sumono, pemilik CV 3 Jaya. Melalui perusahaan ini, Tri mengelola banyak lini usaha, mulai dari pengemasan minuman siap saji, toko sembako, pengadaan alat tulis kantor, sampai produksi minuman kesehatan.

Kalau mengenal Tri dua puluh tahun yang lalu, mungkin Anda takkan menyangka pria kelahiran Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, ini akan jadi pengusaha sukses. Saat itu, Tri yang baru menamatkan pendidikan SMA ikut pamannya hijrah ke Jakarta pada 1993.

Lantaran belum punya keterampilan khusus, Tri pun bekerja sebagai kuli bangunan. Namun pekerjaan berat itu hanya ia lakoni selama enam bulan. Lantas, dia melamar pekerjaan sebagai tukang sapu.

Di perusahaan itu, tiap tahun Tri berubah pekerjaan. Ia pernah jadi petugas kebersihan gedung, office boy, dan sales. Saat jadi karyawan, Tri mendapat gaji Rp 250.000 per bulan. Sementara itu, sewa kontrakannya Rp 200.000 per bulan. “Sisanya itu tak cukup untuk makan saya dan istri,” tuturnya.

Tri pun mulai berjualan apa pun. Produknya beragam dan biasanya merupakan barang teman. “Mereka yang punya barang, saya yang jual dan ambil untung sedikit,” ceritanya.

Tri mencoba lebih serius dalam berjualan. Pada akhir pekan, ia menggelar lapak di kawasan Senayan. Di situ, ia bersama sang istri, Sukamti, menjual aksesori perempuan. Tri bilang, ketika itu mereka berkomitmen untuk tak makan nasi sebelum omzet mencapai Rp 300.000 dalam sebulan.

Nah, pada suatu hari ketika berjualan, istrinya mau makan bubur. Karena belum mencapai target omzet, Tri tak mau menyanggupi permintaan istrinya hingga istrinya menangis. Kejadian itu memicunya bekerja keras mencari nafkah.

Peristiwa lain ialah ketika putri pertamanya berusia dua bulan. Anak yang diberi nama Dewi Puspita Sari itu divonis gizi buruk oleh dokter. “Dua peristiwa ini membuat saya sebagai kepala keluarga merasa tertampar dan sadar bahwa saya harus berjuang untuk kehidupan yang layak,” kisahnya.

Selanjutnya, Tri membeli sebuah kios di Mal Cijantung. Setelah jam kantor usai, ia membantu istrinya berjualan aksesori perempuan di situ sampai pukul 24.00. Usahanya berkembang cukup maju. hingga pada 1999, Tri menjual kios untuk membeli rumah di Bekasi.

Dengan modal Rp 1 juta, ia membuat warung sembako di rumahnya. Agar bisa lebih fokus berjualan, Tri mengundurkan diri dari pekerjaannya. Lalu, membangun kontrakan di samping rumahnya. Akan tetapi Tri tak sekadar mengontrakkan rumahnya. Ia memilih para pedagang kakilima sebagai pengisi kontrakannya supaya bisa menjadi konsumen warung.

Setelah itu, Tri mengakui bahwa mindset bisnisnya semakin kuat. Ia melihat peluang untuk memproduksi sari kelapa (nata de coco). “Dari usaha sari kelapa, tiap minggu saya bisa untung Rp 7 juta,” kata dia.

Seiring dengan banyaknya pengalaman, keberanian berbisnis menebal. Dia pun terpikir memulai bisnis baru. Dengan modal Rp 100.000, ia mencetak kartu nama dengan jabatan direktur untuk lima jenis usaha. “Saya sengaja bagikan ketika pameran untuk melihat respons pasar,” ucap dia.

Nah, setelah menyebar kartu nama, Tri paling banyak mendapat panggilan untuk usaha pengadaan alat tulis kantor (ATK). Dari strategi itu, ia memutuskan untuk menjalani usaha pengadaan ATK. “Justru gara-gara kartu nama itu, saya dihubungi perusahaan besar untuk menyediakan ATK di kantornya,” ujarnya. Hingga kini, CV 3 Jaya masih menerima order untuk pengadaan ATK.

Di sisi lainnya, usaha sari kelapa tak berjalan mulus. Ada klien yang mengadukan kualitas buruk produk pada Tri. Bukannya patah semangat, Tri malah berterimakasih pada sang klien. “Saya bersyukur karena itu jadi jalan untuk memperbaiki usaha,” cetus dia.

Nah, ungkapan terimakasih itu justru jadi penyelamat bisnis Tri. Oleh klien yang sama, Tri diajak untuk membuat perusahaan jasa pengemasan minuman. “Mereka yang memasok bahan bakunya, jadi saya diminta menyiapkan tempat saja,” katanya. Dari kontrak selama dua tahun dua bulan, Tri mendapat pemasukan Rp 2,2 miliar.

Kemudian, Tri malah kembali melihat peluang usaha baru, yakni membuat minuman kemasan. Begitu kontrak dengan mitranya selesai, Tri mulai memproduksi kopi jahe dan kopi susu dalam kemasan dengan merek Hootrii. Minuman ini dipasarkan ke Singapura, Malaysia, Kalimantan, Sumatra, dan Maluku. Tri bilang, dari produk ini, ia bisa meraup omzet Rp 400 juta per bulan.


Minuman kesehatan

Sukses memproduksi kopi dalam kemasan, Tri tergiur untuk mengembangkan lini bisnis satu ini. Dia memutar otak untuk menemukan produk baru. Idenya datang dari fenomena bahwa masyarakat kurang menyukai beras merah. Padahal, nilai gizi beras merah sangat tinggi. Lalu Tri mencari ide agar beras merah bisa disukai dan dinikmati gizinya.

Setelah berkonsultasi dengan beberapa pakar kesehatan, ia pun mencoba membuat sari beras merah. Ternyata produknya ini lolos uji. Dus, mulai 2012, ayah dua anak ini memproduksi sari beras merah dengan merek Hootrii.

Tri bilang, tiap menyesap sari beras merah dari kemasan 24 gram, konsumen mendapat manfaat satu kilogram beras merah. Produk ini cukup diterima masyarakat. Buktinya, penjualannya melambung. Bahkan, sari beras merah jadi andalan bisnis Tri.

Produk ini menyumbang pemasukan paling besar dibandingkan berbagai usaha pembuatan produk dan penyediaan jasa di bawah bendera CV 3 Jaya. Saban bulan, Tri bisa memproduksi 2.000 kotak–2.500 kotak sari beras merah. Dari bisnis ini, Tri mengantongi omzet Rp 900 juta per bulan.

Di masa mendatang, Tri mau meluncurkan produk minuman kesehatan baru yang terbuat dari brokoli. Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun ini, ia tengah mencari mitra bisnis dari negara lain. “Bisnis lain CV 3 tetap berjalan, tetapi saya juga mau fokus mencari bahan baku untuk membuat minuman dengan nilai gizi tinggi,” ungkap dia. 


Gemar berbagi kisah bisnis

Selama 2,5 tahun belakangan, Tri Sumono punya kesibukan baru. Sebagai pemilik CV 3 Jaya, ia mengurus berbagai jasa dan produk yang disediakan perusahaan. Di samping itu, ia tengah menikmati profesi baru sebagai motivator.

Tri mau berbagi pengalaman karena merasakan jatuh bangun dalam bisnis. “Itu yang menjadi kekuatan saya,” tandas pria kelahiran 7 Mei 1973 ini.

Setiap bulan, setidaknya, ia mengisi 10 acara seminar atau workshop soal bisnis. Biasanya, ia membagi inspirasi pada karyawan perusahaan swasta atau pemerintahan. Di samping berbagi pengalaman, Tri bilang, lantas sering bertemu orang baru, ia jadi punya banyak relasi untuk mengembangkan bisnisnya.

Kesibukan sebagai motivator membuat Tri harus sering bepergian ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Nah, kalau tidak sedang berada di tempat usahanya di Bekasi, Jawa Barat, Tri punya orang kepercayaan untuk mengawasi bisnis. Orang kepercayaan itu tak lain adalah istrinya, Sukamti.

Tri mengatakan, dulunya sang istri tak punya jiwa bisnis. Sukamti lebih senang mengurus kedua putri mereka di rumah daripada membantu suaminya berbisnis. Namun, Tri mengubah pemikiran istrinya itu.

Suatu hari, Sukamti minta dibelikan daster pada Tri. Lantas, bukannya memberikan satu, Tri malah memberikan selusin daster pada istrinya. “Saya bilang pada istri, simpan dua daster di lemari dan sisanya dijual. Kalau belum laku, daster yang ada di lemari belum boleh dipakai,” ujarnya.

Cara ini ternyata ampuh untuk membuat Sukamti juga tertarik berbisnis. Tri menambahkan, bisnisnya bisa berkembang pesat seperti sekarang juga lantaran didukung oleh istri. “Kalau istri tak mendukung bisnis, lebih baik berhenti karena kemungkinan besar bisnis akan gagal,” tegas Tri.

Read more...

Peluang Menjanjikan dari Budidaya Cacing Lumbricus

0 comments
Meski membuat bergidik, cacing tanah jenis Lumbricus rubellus dapat menghasilkan banyak pundi-pundi uang. Selain harganya mahal, permintaan cacing jenis ini juga tinggi di pasaran.

Maklumlah, cacing ini memiliki banyak manfaat kesehatan. Hewan berbentuk pipih ini dapat dikonsumsi dan dijadikan obat penurun kadar kolesterol, meningkatkan nafsu makan, serta menurunkan kadar gula darah dan lainnya.

Selain manfaatnya yang banyak, harga jual cacing tanah ini terbilang cukup mahal. Deden Sabarudin asal Cimahi, Jawa Barat mengatakan, harga jual cacing lumbricus sekitar Rp 50.000 per kilogram (kg).

Selain menjual cacing lumbricus, Deden juga menjual tepung cacing. Yakni, cacing yang sudah dikeringkan seharga Rp 400.000 per kg. "Tepung cacing ini murni cacing tanpa campuran apapun," tuturnya.

Melalui usaha ini, ia bisa meraup omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan. Adapun keuntungan bersihnya sekitar 30% dari omzet.

Hasil budidayanya ini dipasarkan dari Sabang sampai Marauke. Bahkan, ia juga sudah merambah pasar luar negeri, seperti Malaysia dan sebentar lagi Korea.

Mayoritas konsumennya membeli cacing untuk keperluan pakan ternak, penyubur dan penggembur tanah, dan produksi obat herbal. 

Pria yang kerap disapa Deden ini sudah membudidayakan cacing lumbricus sejak sembilan tahun lalu. "Saya berternak cacing karena ketidak sengajaan," ujarnya.

Saat itu, ia membutuhkan cacing lumbricus untuk pakan belut peliharaannya. Ia lalu mencoba beternak cacing. Awalnya ada 200 kg. Dalam waktu delapan bulan sudah bertambah menjadi 2,2 ton cacing.

Lantaran lebih menjanjikan, akhirnya ia fokus beternak cacing. Di bawah bendera Bengkelden Agrobisnis, Deden membudidayakan cacing lumbricus di beberapa wilayah di daerah Jawa Barat, seperti Cimahi, Sumedang, dan Lembang. Di Cimahi, ia memiliki 20 rak dengan ukuran 300 sentimeter (cm) x 50 cm yang mampu menampung lebih dari 10 kg cacing.

Pemain lainnya adalah Fajar Ramadhani asal Klaten, Jawa Tengah. Laki-laki yang lebih akrab disapa Dani ini baru membudidayakan cacing lumbricus sekitar tiga bulan lalu. “Saya tertarik menekuni usaha ini karena melihat tingginya permintaan di pasaran,” ujarnya.

Kendati masih baru, dia sudah mendapatkan konsumen, meski masih terbatas di sekitar wilayah Klaten. Dengan harga jual sebesar Rp 60.000 per kg, ia mampu mengantongi omzet jutaan rupiah per bulan.

Ada pun keuntungan bersihnya yang didapatkannya hampir 100%. “Modal buat budidaya cacing ini sangat murah,” tegasnya.

Read more...

Mantan Arsitek Sukses Geluti Seni Potong Kertas

0 comments
Berawal dari keisengan membuat karya paper cutting art sebagai kado ulang tahun keponakannnya, Dewi Kucu menjadikan karya ini sebagai ladang usaha. Usaha ini dia tekuni sejak tahun 2010.

Latar belakang pekerjaannya sebagai seorang arsitek membuatnya tidak kesulitan mempelajari aneka teknik paper cutting ini. Dewi juga dekat dengan dunia kreatif ketika dia bekerja sebagai fotografer, dan digital marketer selama empat tahun.

Dari berbagai pengalaman dan keahlian yang dia miliki sebelumnya, Dewi memutuskan untuk bekerja penuh waktu menjadi seniman kertas sejak lima tahun silam. Usaha yang diberi nama dengan Cutteristic ini awalnya hanya membutuhkan modal berupa lembaran kertas, frame atau pigura, kemasan, jasa pengiriman, dan printer.

Untuk pemasaran dan promosi, Dewi menggunakan berbagai media online seperti situs, Facebook, Twitter, dan Instagram. Dalam sebulan, rata-rata ia mampu menghasilkan 20 karya paper cutting art. Terkadang dia juga menerima pesanan untuk suvenir yang jumlahnya ratusan.

Hasil karyanya dia banderol mulai dari Rp 887.000-Rp 15 juta per unit. Harga jual tergantung dari ukuran dan kerumitan pembuatan. Yang paling laris adalah paper cutting art berukuran 38 cm x 38 cm seharga Rp 1,7 juta per unit. Bila dihitung, Dewi bisa meraup omzet sekitar Rp 30 juta–Rp 40 juta per bulan. "Namun tak jarang bisa lebih dari itu," ujar dia.

Rata-rata desain yang ia buat merupakan permintaan dari pelanggan, di antaranya seperti sketsa muka untuk hadiah ulang tahun, perpisahan, pernikahan, suvenir, dan lain-lain. Namun tak jarang ia juga menghasilkan karya dari idenya sendiri. Dewi mengaku sering mendapatkan inspirasi setelah melihat aneka jenis seni lain seperti lukisan, ukiran, atau motif-motif tradisional pada kain batik.

Untuk proses pemesanan, biasanya ia akan memberikan tiga contoh desain kepada klien yang nantinya akan dikembangkan sebelum akhirnya dipotong. Pengembangan desain ini biasanya berlangsung selama tiga jam. Untuk proses pemotongan membutuhkan waktu bervariasi, tergantung dari ukuran kertas. "Paling cepat sekitar dua jam dan paling lama 41 jam," kata dia.

Dari semua karya yang pernah dia buat, ada satu karya yang menurutnya paling spektakuler. Desainnya terinspirasi dari sebuah lukisan Leonardo Da Vinci berjudul The Last Supper.

Tak mau hasilnya buruk, ia melakukan riset selama tiga bulan untuk mempelajari dengan detail mengenai lukisan itu berikut pemotongannya. "Semuanya sangat rumit, saya jual dengan harga Rp 15 juta," kenang Dewi.

Selain itu, dia juga pernah mendapatkan klien khusus yang ingin memberikan hadiah untuk mantan presiden SBY. Karyanya berbentuk setengah badan SBY dan Ani Yudhoyono.

Belum puas membuat banyak karya dari kertas, baru-baru ini dia berinovasi berupa papercut sewing. Artinya, kertas yang sudah dipotong ia sulam kembali dengan benang emas. Dewi rajin mengadakan workshop cara membuat seni potong kertas di berbagai kota besar di Indonesia. Targetnya tahun ini dia bisa mengajari 1.000 murid sekaligus melestarikan budaya Indonesia lewat seni potong kertas ini.

Read more...

Bisnis Kudapan Cantik dalam Botol Bening

0 comments
Bisnis makanan tidak melulu soal kualitas rasa. Kemasan juga penting. Maklum saja, masyarakat zaman sekarang sedang gandrung mengunggah foto makanan mereka karena tampilannya yang unik di sejumlah akun jejaring sosial seperti Instagram.

Oleh sebab itu, banyak pengusaha kuliner mencoba menarik perhatian pasar dengan menggunakan kemasan yang cantik untuk menjual produknya. Salah satunya dengan memasukkan aneka kudapan dan kue ke dalam kemasan botol beling tempat selai atau yang sering disebut jar.

Contohnya produk dari Chocorife. Si pemilik usaha, yakni Fajrin Ramdhani, menjual cokelat marshmallow dan cokelat crunchy dengan memasukkan produknya ke dalam jar. Usaha ini baru saja dia jalankan di pertengahan tahun 2014. "Anak muda saat ini suka foto-foto makanan. Itu yang membuat saya membuat makanan dengan tampilan unik," katanya.

Dani mengaku cara pembuatan cokelat marshmallow ini terbilang mudah. Dia hanya mencampurkan marshmallow berbagai rasa dengan lelehan coklat. Sedangkan untuk produk cokelat crunchy hanya mencampurkan sereal dengan cokelat leleh. Setelah itu produk dimasukkan ke dalam jar dan diberi merek.

Dengan konsep berjualan dengan kemasan seperti ini, bisnis kudapan cokelat miliknya mendapat respon bagus dari konsumen. Dalam sehari dia bisa memproduksi sekitar 20 jar sampai 50 jar cokelat. Harga jualnya dibanderol Rp 25.000 per jar. Dia mengaku bisa mengantongi omzet hingga Rp 20 juta per bulan. Laba bersih yang bisa dia raih sekitar 20%−30%.

Produk lainnya adalah kudapan dalam buatan Bunchbead. Usaha yang dimotori oleh Ferdha Agisyanto di Malang ini menawarkan lima varian cake in the jar yakni red ocean, wood pines, tropical sparkling, chocolate devil dan strawberry shortcake. Dengan penataan sedemikian rupa, kudapan menarik ini banyak diminati para mahasiswa.

Laki-laki yang lebih akrab disapa Pepeng ini mengaku menjadi pengusaha cake in the jar pertama di Malang. Pepeng bilang, cake in jar miliknya berbeda dengan lainnya karena mereka mempunyai resep kue dan fla khusus serta menggunakan bahan baku pilihan. Dia mengombinasikan kue tart dan fla dengan berbagai isian lainnya seperti marsmallow, cokelat atau buah-buahan yang dimasukkan dalam botol selai.

Pepeng menjual produknya di kafe miliknya di Malang. Rata-rata jumlah produksinya sekitar 200 jar per hari. Harganya dibanderol mulai dari Rp 17.000−Rp 25.000 per jar. Total omzet penjualan bisa mencapai Rp 50 juta−
Rp 70 juta per bulan.

Mereka memprediksi dalam tiga tahun ke depan kudapan dalam kemasan jar ini masih akan digandrungi para produsen untuk menarik konsumen. Fajrin bilang, agar tetap bisa bersaing, dia terus melakukan inovasi dan berpromosi di media sosial.

Read more...

Dari Reseller, Aprie Kini Sukses Bisnis Sendiri

0 comments
Boleh jadi, Aprie Angeline tak akan membayangkan, bisnis yang dijalaninya secara tak sengaja akan mengharumkan namanya seperti saat ini. Perjalanan wanita 23 tahun ini bisa menjadi sumber inspirasi untuk kaum muda yang ingin menjalankan bisnis sendiri. Bermula dari seorang resellerproduk online shop (olshop), kini Aprie menjadi produsen sampo dengan omzet ratusan juta rupiah saban bulan.

Perjalanan Aprie berbisnis bermula ketika dia menjejakkan kakinya di Yogyakarta untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada. Baru menjalani semester pertama, Aprie merasa tak menemukan kecocokan pada dirinya. Sementara itu, dia takut mengecewakan orangtua kalau akhirnya keluar dari kampus. “Waktu itu, saya malah ingin jadi artis dan terkenal,” lanjut Aprie.

Karena merasa salah masuk jurusan, Aprie kehilangan semangat untuk kuliah. “Saya itu orangnya pelupa dan senang ngomong. Jadi, ketika masuk kedokteran saya merasa harus mengerem untuk ngomong,” ujar dia.

Aprie pun mencoba-coba bisnis online shop yang menjual baju dan sepatu. “Bisnis menjadi pelampiasan karena saya merasa tidak kuat di jurusan itu tapi tidak berani bilang ke orangtua,” kenang gadis kelahiran Sorong, 5 April 1991 ini.

Di sela-sela berbisnis online, Aprie juga sempat mengikuti sejumlah syuting sinetron dan kegiatan modeling. Namun, dia justru menemukan keasyikan berbisnis online, karena kegiatan syuting film ternyata sangat melelahkan.

Tahun 2012, Aprie cuti kuliah dan menekuni bisnis online. Dia mulai belajar dari para pemasok barang yang dijualnya, karena dia belum banyak memahami soal bisnis online. Dia juga belajar bisnis dari berbagai media sosial. “Saya belajar autodidak, modal saya waktu itu hanya jaringan di Blackberry Messenger,” ungkap dia.

Saat itu, Aprie tak lagi menjual pakaian dan sepatu. Pasalnya, ketika berbisnis pakaian, dia menemukan banyak kekecewaan. “Kami hanya bisa melihat model, sementara kualitas mengecewakan. Banyak ruginya pula, karena saya ambil untung tipis,” ujar dia. Begitu pula dengan sepatu, yang menurutnya, harus dicoba karena tidak tahu ukuran pasti kaki konsumen.


Produk herbal

Lantas, Aprie mendapat tawaran jadi reseller salah satu pemasok produk kosmetik di Jakarta. Dia mencoba produk tersebut lebih dulu, supaya lebih mengenal apa yang dijual. Setelah terbukti bagus, Aprie mulai menjajakan produk skin care buatan luar negeri itu.

Tak disangka, respons konsumen cukup baik. Waktu itu, Aprie memang sudah punya pelanggan di bisnis online-nya. “Karena saya selalu memberikan pelayanan yang baik, pelanggan percaya terhadap produk yang saya jual,” ujar dia.

Bisnis online yang diberi nama Billion Shop ini meningkat pesat. Omzet tiap bulan meningkat cepat, dari Rp 3 juta, Aprie bisa mengumpulkan omzet hingga puluhan juta rupiah dalam waktu beberapa bulan.

Dari situ, Aprie semakin yakin, online shop ini benar-benar potensial. Aprie bilang kunci bisnisnya adalah mengutamakan pelayanan yang ramah dan baik. “Saya tak pernah marah, membalas pesan konsumen pun bukan sekadar menjawab pertanyaan dia. Itu membuat konsumen makin dekat dan percaya pada kami,” terang Aprie.

Setelah punya customer based yang besar, putri pasangan Jistor Situmorang dan Lukeria Rajaguguk ini lantas berpikir untuk menghasilkan produk sendiri. Aprie yang ketika itu menghadapi masalah dengan rambutnya lantas mencoba membuat sampo sendiri.

Kembali, perempuan yang pernah mengikuti olimpiade IPA saat SMA ini mencari-cari informasi soal bahan-bahan dan cara pembuatan sampo. Dia juga aktif berkonsultasi dengan orang yang paham soal seluk-beluk pembuatan sampo. “Kebetulan, sejak SMA saya juga hobi meracik-racik, jadi sedikit banyak tahu,” terang dia.

Awal 2013, Aprie meluncurkan produk sampo buatannya, Angeline Hair Treatment (AHT). Dia menggunakan bahan-bahan herbal berkualitas untuk produk samponya. Dengan begitu, harganya relatif mahal.

Meski demikian, lagi-lagi, AHT bisa diterima pasar dengan baik dan booming. Aprie yang punya masalah rambut, yakni tak bisa panjang, menginspirasinya membuat sampo yang bisa memanjangkan rambut dengan cepat. “Sampai saat ini, produk tersebut menjadi andalan AHT,” ujar Aprie.

Dengan modal awal senilai Rp 10 juta, Aprie memproduksi 200 botol sampo. Penjualannya pun terus meningkat. Kini, dia bisa menjual lebih dari seribu paket produk AHT saban bulan. Omzet usahanya pun mencapai Rp 230 juta.

Aprie memang tak menjual sampo saja. Dalam paket perawataan rambut ini, dia menyertakanconditioner dan hair tonic. Banderol harganya berkisar Rp 200.000 per paket.

Tak berhenti pada produk perawatan rambut, dia juga mengembangkan produk herbal lainnya. Awal tahun lalu, Aprie meluncurkan gula dari nira kelapa dengan kadar glukosa yang rendah. “Saya memang tertarik dengan produk-produk sehat,” ujar dia.

Ide pembuatan gula ini berasal dari pengalaman di keluarga, setelah sang kakek meninggal akibat diabetes. “Saat itu, saya berpikir bikin produk untuk menolong penderita diabetes,” cetus Aprie yang kini membawahi 20 karyawan untuk usaha samponya. 

Pemasaran Java Sweet Sugar juga mengandalkan online. Kini, usaha yang melibatkan 25 petani kelapa ini, sudah menjual ratusan stoples setiap bulan. “Gula ini lagi naik daun,” kata dia. Bukan hanya di Yogyakarta, penjualan gula nira sudah mencapai kota-kota besar di Indonesia.

Aprie pun tak berhenti berkreasi. Yang terbaru, dia juga menciptakan frescare, semacam masker wajah herbal. Selain itu, dalam waktu dekat, dia pun berencana membuat lotion pelembap herbal. 


Hikmah gagal jadi dokter

Meski masih muda, bukannya Aprie Angeline tak punya pengalaman yang berarti dalam hidupnya. Dia pernah mengalami depresi ketika harus menjalani kuliah yang tak sesuai pilihannya.

Bahkan, saat itu, sempat terlintas dalam pikiran Aprie untuk bunuh diri. “Saya de-presi banget. Mau ngomong sama ortu enggak berani karena sudah mengeluarkan biaya dan banyak orang yang tahu,“ tutur dia. Permintaan menjadi dokter memang datang dari kedua orangtuanya, karena belum ada dokter di keluarga mereka.

Namun, dari situlah, lantas dia memperoleh hikmah, untuk menggapai kesuksesan lainnya. Aprie pun selalu gigih dan bertekad mencapai apa yang ia impikan. “Setelah melihat bisnis online lumayan, orang tua ikhlas untuk melepas saya tidak menjadi dokter,” kata Aprie yang bertekad sukses sejak muda.

Dalam berusaha, gadis berusia 23 tahun ini juga punya prinsip untuk selalu berjuang dan tak mudah menyerah, terutama saat menghadapi masalah.

Aprie bercerita, saat mengembangkan produk perawatan rambut, ia pernah menuai komentar negatif dari pebisnis lain. “Ada orang yang tidak suka, lalu menjatuhkan saya,” kenang dia.

Meski sempat syok, namun, Aprie tak terlalu ambil pusing. Dia percaya, kualitas akan menguji produknya. Dan, nyatanya, omzet penjualannya tidak menurun, justru semakin naik. “Konsumen mengirim foto rambut mereka, kualitas yang berbicara,” ujar dia senang.

Berkaca dari pengalaman tersebut, dia berkeyakinan, Tuhan akan selalu bersama dengan orang-orang yang baik. “Kalau kita bisnis untuk membantu orang lain, Tuhan pasti akan memuluskan jalan,” ujar dia. Itu sebabnya, ia berpesan untuk berbisnis berlandaskan niat baik. Selain itu, pebisnis harus punya mimpi agar ada tujuan yang ingin dicapai dan punya jaringan luas.

Read more...

Mencicipi Manisnya Usaha Selai Rumahan

0 comments
Anda pasti pernah makan selai, bukan? Lazimnya selai dinikmati sebagai pelengkap roti. Tak jarang selai juga dijadikan isian kue seperti nastar. Saat ini, selai tak hanya diproduksi oleh pabrik. Banyak pengusaha yang memproduksi selai homemade alias buatan rumahan. Bahan baku yang digunakan alami, tapi dengan harga yang bersaing.

Para produsen selai rumahan bilang, mereka membuat selai sebagai alternatif produk pabrik. Dus, bahan baku yang digunakan kebanyakan bahan lokal tanpa bahan pengawet. Meski tidak tahan begitu lama, keunggulan selai ini adalah rasa enaknya yang alami. Peluang usahanya pun cukup menggiurkan.

Ambil contoh Kalalina yang memproduksi selai dengan merek Lynelle di Jakarta Utara. Ketika merintis bisnis pada 2011, ia hanya memproduksi sekitar 10 botol selai per bulan. Kini, kapasitas produksinya naik drastis hingga 300 botol selai saban bulan. “Pasar di Jabodetabek masih sangat luas, apalagi untuk daerah-daerah lain,” kata perempuan yang akrab disapa Lina ini. Menurut dia, peluang usaha pembuatan selai rumahan masih terbuka lebar. Tren gaya sehat yang kini digandrungi banyak orang sangat membantu bisnisnya.

Ketika merintis usahanya 2011 lalu, Lina mengaku harus mengedukasi masyarakat mengenai produknya. Apalagi, kala itu, belum banyak produk selai rumahan. Masyarakat masih terbiasa dengan selai buatan pabrik, baik yang lokal maupun impor. Padahal, selai tersebut rentan dengan penggunaan bahan pengawet, pewarna, dan perasa tambahan.

Namun, saat ini, masyarakat sudah lebih sadar tentang pentingnya produk konsumsi yang sehat. “Sebagai produsen, saya dimudahkan untuk memasarkan selai rumahan dengan munculnya tren gaya hidup sehat,” ucap dia.

Hal serupa dialami oleh Sheilli Amina Nagib, owner selai Alanna di Bogor, Jawa Barat. Perempuan berusia 28 tahun ini fokus memproduksi selai rumahan dari bahan baku organik. Sejauh ini, Amina baru memproduksi selai stroberi dengan harga jual Rp 30.000 per botol ukuran 130 gram.

Kapasitas produksi selai Alanna sekarang mencapai 500 botol per bulan. Dus, dari usaha ini, Amina bisa mengantongi omzet di kisaran Rp 20 juta–
Rp 25 juta saban bulan. Baik Amina maupun Lina bilang, laba bersih berkisar 30%.

Keduanya tak mau mematok harga terlampau tinggi untuk produknya lantaran masih dalam penetrasi pasar. Selain itu, “Sebagai bentuk idealisme sendiri karena ingin mengenalkan produk sehat dan alami pada masyarakat,” tutur Amina.

Amina bilang, ia memang sudah lama ingin membuat produk yang berbahan baku alami. Lantas, pada pertengahan 2013, ia memutuskan memproduksi selai. Pasalnya, selama ini, selai identik dengan produk yang menggunakan zat aditif. “Saya mau mengubah pandangan itu, jadi saya bikin produk yang dikonsumsi sehari-hari, tapi tanpa bahan kimia alias serba natural,” cetus dia.

Amina juga mengatakan masyarakat sudah lebih terbuka terhadap produk yang mendukung gaya hidup sehat. “Malahan sekarang konsumen yang mencari selai organik, jadi saya tak perlu gencar lagi melakukan edukasi,” kata dia.

Pemain lain di usaha selai ialah Mei Suling, pemilik Oma Anna Homemade Jam di Bandung. Usaha selainya dimulai pada awal 2009. Setelah 11 tahun bekerja kantoran di Jakarta dan Bali, Mei berkeinginan untuk memiliki usaha sendiri “Akhirnya pada awal 2009 saya mulai jalani sedikit demi sedikit,” tuturnya.

Kini, dalam sebulan, Mei bisa memproduksi 200 botol–300 botol selai. Oma Anna menawarkan empat varian rasa selai, yakni orange jasmine, apple mint, stroberi cinnamon, dan passionfruit & mango.Tiap botol selai dibanderol pada harga Rp 55.000–Rp 60.000.

Di sisi lain, Lina berujar, persaingan usaha selai rumahan ini masih longgar. Pemain lokal bisa dihitung jari. Yang penting rajin dan konsisten mengenalkan merek pada konsumen.

Pasalnya, selain sesama produsen selai, mereka juga harus bersaing dengan selai impor. Dengan pasar yang masih bertumbuh, usaha ini punya potensi yang bagus untuk digeluti. “Dari segi kualitas, selai rumahan tidak kalah bagus, tapi yang menjadi persoalan bagaimana supaya merek kami dikenal masyarakat luas,” ujar Lina. Menurut perempuan berusia 39 tahun ini, butuh waktu sekitar setahun agar merek selai Lynelle diterima pasar.

Sejauh ini, selai Lynelle memiliki lima varian rasa yang merupakan campuran rasa stroberi dengan rasa buah lain seperti blackberry, raspberry, dan pisang. Ia membanderol selai tersebut Rp 45.000 per botol ukuran 275 gram.


Modal tipis

Anda tergiur menjajaki bisnis ini? Bisnis rumahan satu ini tidak membutuhkan modal terlalu besar. Kalau mau, dengan uang jutaan rupiah, Anda bisa merintis usaha pembuatan selai. Dengan catatan, Anda menggunakan dapur dan peralatan yang sudah ada untuk proses produksi.

Amina misalnya, hanya merogoh kocek Rp 2 juta sebagai modal awal. “Saya gunakan modal itu untuk bahan baku karena semua peralatan sudah ada, dan saya tak perlu menyewa tempat,” ujarnya.

Namun, kalau Anda belum punya peralatan memasak, perkiraan modal awal sekitar Rp 15 juta. Itulah besaran modal yang dikeluarkan Lina. Selain untuk menyetok bahan baku, modal itu dipakai untuk membeli panci dan peralatan dapur lain. Adapun Mei menyebut, modalnya untuk usaha selai rumahan hanya sekitar Rp 5 juta, untuk membeli buah, gula, panci, dan kemasan botol.

Proses membuat selai ini tak terlalu rumit. Bahan baku berupa buah dibersihkan dulu, lantas diolah alias dimasak di panci dan dimasukkan ke dalam kemasan botol. Mei menjelaskan, Selai Oma Anna dibuat dengan metode lama. Buah direbus berjam-jam sampai kadar airnya sedikit, kemudian dicampur dengan gula dan pengental,baru dibotolkan.

Untuk tempat produksi, dapur rumah saja sudah cukup. Dengan kata lain, tak perlu menyewa tempat. “Semua produk selesai dibuat langsung saya kirim, jadi tidak butuh disimpan,” ucap Amina.

Daya tahan selai ini beragam. Selai organik yang dibuat Amina bisa bertahan hingga tiga bulan. Sementara selai buatan Lina bisa dikonsumsi sampai enam bulan seusai diproduksi. Tentu saja, selai harus dijauhkan dari siraman sinar matahari dan sebaiknya disimpan di dalam kulkas. Penggunaan gula membuat produk ini cukup awet secara natural.

Kemasan botol kaca yang tertutup rapat juga membantu selai untuk bertahan cukup lama. Rata-rata produsen selai menggunakan botol kaca sebagai kemasan. Selai sudah identik dikemas seperti itu. Lagipula, botol kaca ramah lingkungan dibandingkan dengan kemasan seperti plastik. Botol kaca bisa dipesan dari pemasok atau distributor botol kaca lokal.

Nah, yang jadi tantangan usaha ini ialah pemilihan pemasok bahan baku, terutama buah. Kebanyakan buah dipesan dari supplier lokal, kecuali blackberry yang digunakan Lina. Sementara Amina mengambil stroberi organik dari petani di Garut dan Bandung.

Mei bilang, untuk menghasilkan selai yang berkualitas, pastikan bahan baku yang digunakan juga segar. Saban bulan, ia butuh sekitar 100 kg–200 kg buah untuk membuat selai. “Bahan yang saya gunakan 90% masih fresh, baik bahan utama maupun campuran, sehingga kualitas, rasa dan tekstur jauh lebih kaya daripada selai pabrikan,” tandasnya.

Pastikan pemasok hanya mengirim buah berkualitas bagus dan konsisten dengan kualitas tersebut. Sebagai produsen, Lina dan Amina mengaku standarisasi rasa dan kualitas produk menjadi hal utama dalam pemilihan pemasok. Jangan sampai karena ingin bahan baku dengan harga miring, standardisasi itu dilanggar.


Lewat jalur reseller

Munculnya beragam produk konsumsi yang sehat sejalan dengan tren untuk hidup sehat. Inilah yang menginspirasi produk selai rumahan yang dibuat hanya dengan bahan-bahan alami, tanpa menggunakan zat aditif.

Kalalina, owner Lynelle Premium Homemade Jam, mengatakan, pasar untuk produk ini sangat luas. Selain menyasar pembeli eceran, Lina juga menawarkan produknya untuk keperluan event, baik ke personal maupun korporasi. Pada perayaan hari libur pun Lina menawarkan paket parsel alias hampers untuk produknya. “Biasanya menjelang Natal, Lebaran, dan tahun baru saya buka order untuk hampers bagi konsumen. Ini lumayan menambah omzet,” ungkap dia.

Sebagian pemesanan dilakukan secara langsung, baik melalui media sosial atau telepon. Di samping itu, Lina mengandalkan reseller atau agen untuk memasarkan produknya. Sejauh ini, Lina mengandalkan 12 reseller di Jabodetabek.

Produsen selai organik Alanna, Sheilli Amina Nagib, juga memasarkan produknya melalui jalurreseller. Bahkan, 60% pemasaran dilakukan melalui jalur tersebut. “Untuk reseller, saya tetapkan untuk memesan 20 botol selai tiap order, jadi saya bisa berikan potongan harga,” ucap Amina.

Bahkan pada 2015 ini, Amina mau menggenjot jumlah reseller-nya yang belum mencapai 10 orang itu. “Saya menargetkan omzet bertumbuh empat kali lipat, jadi sedang mencari reseller yang banyak untuk mewujudkan target itu,” ujarnya. Peluang untuk reseller, kata Amina, terbuka untuk pedagangonline maupun offline. Ibu rumahtangga pun bisa jadi reseller Alanna jika memang tertarik dengan produk selai organik ini.

Di samping itu, Amina berencana menambah varian baru selai Alanna. Kebanyakan konsumen meminta selai kacang dan selai cokelat. Dus, per Februari, Amina akan memiliki dua varian selai baru. “Untuk pasokan kacang organik, saya memberdayakan petani kacang di Bogor,” pungkas dia.

Sementara itu, Mei Suling, owner Oma Anna Homemade Jam, baru memiliki satu reseller. Ia menjual produknya via online melalui situs www.aogindonesia.com. Selain itu, mulai Februari ini, ia memasarkan selai Oma Anna setiap Minggu pagi di Sukajadi, Bandung. “Kami juga akan membuka toko fisik pada pertengahan Februari,” ungkap dia.

Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil