Thursday, 7 April 2016

Ketika Ahok Pro Rokok

0 comments
Gubernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) marah-marah kepada aktivis antitembakau yang berkunjung ke Balai Kota. Aktivis itu menyampaikan petisi penolakan pameran mesin rokok internasional (World Tobacco Process and Machinery) pada 27-28 April 2016.

Empat orang aktivis, salah satunya adalah Yosef Rabindanata maju ke hadapan Ahok membawa kotak bertuliskan 'Peringatan: 12 Ribu Orang Menolak Pameran Rokok WTA di Jakarta' di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (7/4/2016).

Yosef menjelaskan bahwa dia adalah penggagas petisi daring di change.org untuk menolak rencana pameran mesin rokok tersebut. Melihat aksi Yosef dan tuntutan untuk menghentikan rencana pameran itu, Ahok bereaksi.

"Rokok boleh, cuma dibatasi. Kalau ada pameran mesin, kenapa enggak boleh? Saya tanya, tanpa pameran mesinpun, pabrik rokok beli mesin enggak? Tetap beli. Berarti target Anda tidak tercapai," kata Ahok dengan nada makin meninggi. 

Kemudian, salah seorang wartawati media internasional bertanya juga kepada Ahok menggunakan bahasa Indonesia soal bahaya rokok secara umum. Ahok lantas memberi pernyataan bahwa Indonesia tak boleh didikte asing untuk menjadi bangsa antitembakau.

"Anda orang asing semua, jangan menjajah kami dengan pikiran yang konyol. Anda masukin farmasi-farmasi dengan rokok sintetis, Anda teliti enggak sekian tahun kanker atau tidak? Asing tidak usah ngatur Indonesia," kata Ahok yang mengenakan batik biru ini.

Lantas, aktivis penolak rencana pameran mesin rokok menyerahkan bentuk petisi ke Ahok secara simbolis, berupa kotak petisi dan kain gulungan berisi tanda tangan publik. Staf Ahok lantas menerima barang-barang itu setelah Ahok memegangnya.

Read more...
Sunday, 31 January 2016

Larang Iklan Rokok di Jakarta, Ahok Dipuji

0 comments
Penasihat Komnas Pengendalian Tembakau Nafsiah Mboi memuji langkah yang diambil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Pria yang akrab disapa Ahok itu dianggap berani lantaran membuat larangan iklan rokok di Ibu Kota.

"Kami sangat menghargai Gubernur DKI, Pak Ahok, yang bagaimana merokok dilarang di Jakarta (melalui) semua bentuk reklame. Itu bagus untuk dicontoh para bupati dan wali kota atau pun gubernur di mana pun mereka berada," kata Nafsiah di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan pelarangan pemasangan iklan rokok di media luar ruang. Peraturan ini tertuang dalam Pergub Nomor 1 Tahun 2015 tentang larangan penyelenggaraan reklame rokok dan produk tembakau pada media luar ruang.

Ahok mengatakan pembuatan pergub ini didasarkan aspek kesehatan yang diakibatkan rokok. Terlebih, banyak anak-anak yang kini sudah mulai merokok.

"Dasarnya terlalu banyak, salah satunya meningkat anak-anak merokok dan bahaya rokok, kanker segala macam terlalu tinggi," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta, Senin, 25 Januari.

Sejak peraturan itu dibuat, sudah tidak boleh lagi ada iklan rokok yang menggunakan media luar ruang, kecuali mereka yang sudah memiliki izin sebelumnya. 

Ahok memang tidak bisa menjamin kebijakan ini akan mengurangi orang yang merokok. Namun paling tidak ada upaya yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

"Efektif enggak efektif pokoknya kami larang saja. Kalau larang iklan kan lebih gampang. Reklame billboard juga mau kami potong, kami mau pake LED. LED nanti semua dinding-dinding. Kami bisa kontrol dari lock-nya iklannya apa saja, kayak TV kabel," kata Ahok.

Pemerintah Dikritik

Sementara itu, Nafsiah Mboi menyatakan rokok adalah sumber kemiskinan rakyat Indonesia. Di sisi lain, pemerintah kurang menunjukkan niat untuk mengatasi masalah ini.

"Itu benar sekali, janji (pemerintah mengurangi dampak rokok) sih tidak ada," kata Nafsiah.

Penyebaran rokok di Indonesia termasuk signifikan karena murahnya harga jual barang tersebut. Mereka yang tidak punya penghasilan atau anak-anak punya kemampuan membelinya.

"Fakta adalah harga rokok di Indonesia paling murah di seluruh kawasan ini. Sehingga anak-anak remaja pun bisa beli rokok, orang yang tidak berpenghasilan atau berpenghasilan rendah bisa beli rokok," ujar dia.

Menteri Kesehatan era Presiden SBY ini menjelaskan menghisap rokok dapat memicu kanker dan serangan jantung. Namun, pengetahuan atas bahaya rokok di dunia pendidikan kurang terasa.

"Masalahnya seperti yang sekarang banyak kanker, stroke, dan jantung. Itu karena sejak mahasiswa sudah merokok. Sekarang semakin muda sudah merokok, makanya tidak heran penderita jantung dan kanker itu semakin muda," ucap Nafsiah.

RUU Tembakau Merugikan

Dalam pertemuan ini, Nafsiah juga menyampaikan keberatasan atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Tembakau. Menurut dia, rakyat dirugikan bila RUU itu disahkan.

"RUU ini akan sangat merugikan rakyat. Kita sangat khawatir dengan adanya RUU ini yang memang tujuan utamanya adalah meningkatkan produksi maupun pengelolaan tembakau. Itu betul akan berdampak negatif pada kesehatan," kata Nafsiah.

Dengan semakin mudahnya tembakau sebagai bahan baku rokok, generasi muda yang paling menderita. Rokok akan lebih mudah ditemukan dan ujungnya mempengaruhi kesehatan generasi itu.

"Kepada seluruh masyarakat, saya menyampaikan tolak RUU Pertembakauan itu karena merugikan kesehatan rakyat Indonesia," ujar dia.

Pengurus Komnas Pengendalian Tembakau Widyastuti Suroyo menambahkan, tanpa adanya aturan yang mengatur tembakau, jumlah perokok meningkat terus setiap tahun.

Ia menjelaskan jumlah perokok umur 14 tahun meningkat 2 kali lipat pada periode 2001-2010. Pada 2013, perokok umur 10-14 tahun berjumlah 3,9 juta, sementara perokok umur 15-19 tahun berjumlah 12,5 juta.

"Jadi pada 2013 jumlah perokok baru yang saya khawatirkan adalah tren. Jumlah perokok barunya adalah 16,4 juta. Kalau kita hitung per hari adalah 45 ribu perokok baru, rata-rata 45 ribu per hari," tandas Widyastuti.

Read more...
Thursday, 30 April 2015

Menjahit Laba dari Jualan Baju Muslim Khas India

1 comments
Bicara soal fesyen memang tak ada habisnya. Setiap saat selalu saja ada tren baru yang muncul di dunia fesyen. Biasanya tren itu tak jauh-jauh dari model dan motif yang lagi digemari. Nah, di Indonesia kini sedang tren pakaian India. Munculnya tren ini tak lepas dari menjamurnya tayangan film-film India di Indonesia.

Munculnya tren ini mendorong banyak orang untuk menjual baju khas India. Salah satu pemainnya adalah Diana. Perempuan 24 tahun ini sudah satu tahun ini berjualan pakaian khas India di kawasan Dubai Street, Thamrin City. "Tren pakaian india ini tidak terlepas dari film-film India. Biasanya pengunjung banyak mencari pakaian yang sering dipakai sama para pemeran film India di televisi," katanya kepada KONTAN.

Ia fokus menjual pakaian muslim corak India. Menurut Diana, pakaian India dimianti karena memiliki warna-warna cerah tapi kesannya tetap elegan. Ditambah lagi banyak border, payet, dan sulaman, sehingga menjadikan pakaian ini terlihat menarik.

Pakaian ini juga identik dengan berbagai macam motif-motif dan hiasan-hiasan bernuansa India. Kesannya yang mewah, membuat pakaian ini biasa dipakai untuk momen-momen tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri atau ke pesta. Bahan baku pakaian ini pun banyak memakai kain sutera, beludru, hingga katun.

Sejak muncul tren pakaian India, ia mengaku omzet yang didapatnya meningkat. Apalagi saat bulan Ramadan dan Lebaran. Dalam sebulan, ia bisa menjual minimal 20 potong lebih pakaian muslim India, dengan omzet sebesar Rp 30 juta per bulan.

Toko ini menjual berbagai jenis pakaian muslim India, mulai dari kaftan, anarkali, slim feet, tunik, dan dress. Semua pakaian ini berjenis long dress. Pakaian muslim India ini dibanderol mulai Rp 500.000 hingga Rp 1,8 juta per pakaian.

Diana mengaku, pakaian tersebut langsung didatangkan dari Bombay, India. Konsumen pakaian India ini beragam, mulai dari anak muda hingga ibu-ibu. Biasanya untuk kalangan ibu-ibu banyak yang mencari pakaian berjenis kaftan.

Sedangkan anak muda biasanya memilih pakaian jenis dress, anarkali, dan slim fit. "Yang paling laris saat ini adalah anarkali," ujarnya.

Pemain lainnya adalah Irfan. Pria keturunan india ini sudah lama berbisnis pakaian India. Awalnya ia berjualan di India, dan sejak satu tahun lalu ia memutuskan untuk pindah ke Indonesia.

Lewat brand Rawaj, ia menjual berbagai macam pakaian, sepatu, hingga aksesoris khas India. Ia mengaku, penjualannya meningkat seiring dengan pakaian India yang saat ini banyak dipamerkan di stasiun televisi. "Pakaian India sekarang sudah sering masuk televisi, jadi sudah terkenal," tuturnya.

Pakaian di tokonya dihargai mulai Rp 250.000 hingga Rp 1,5 juta. Dalam sebulan ia bisa menjual 100 potong dengan omzet Rp 50 juta per bulan.

Read more...

Cuci Mobil Tanpa Air yang Tanpa Modal Besar

0 comments
Aktivitas yang semakin padat menyebabkan banyak orang kesulitan mencari waktu untuk merawat kendaraan pribadinya. Padahal, kendaraan butuh perawatan, paling tidak dicuci agar penampilannya tetap oke.

Membawa kendaraan ke tempat pencucian mobil merupakan pilihan yang paling praktis bagi pemilik kendaraan yang sibuk. Tak heran bila bisnis jasa cuci mobil dan salon mobil tetap mekar. Sayangnya, bisnis ini tak begitu ramah lingkungan lantaran penggunaan air yang sangat besar. Untuk membersihkan sebuah mobil, air yang diperlukan bisa seratusan liter.

Kondisi ini memunculkan inovasi baru, yakni mencuci mobil tanpa air. Peran air digantikan oleh cairan yang disemprot pada permukaan bagian mobil, baik pada eksterior maupun interior. Mobil pun bisa tampil kinclong.

Salah satu pemain di usaha ini, Elihu Nugroho, mengatakan bahwa jasa cuci mobil tanpa air sudah lazim di negara-negara maju. Pasalnya, masyarakat mereka di sana sudah menyadari pentingnya menghemat air. Sementara masyarakat Indonesia belum terlalu paham mengenai krisis air yang mulai terjadi.

Dulu, Elihu berkecimpung di usaha salon mobil konvensional hingga menemukan inovasi cuci mobil tanpa air. Dus, sejak 2013, Elihu membuat produk yang bisa digunakan untuk mencuci mobil tanpa air. Elihu butuh waktu setahun sampai mendapat formula yang pas. Beberapa kali ia menemui kegagalan dalam membuat produk tersebut. “Ketika saya buat, cairannya sempat menimbulkan flek putih pada permukaan mobil. Saya coba terus hingga formulanya tepat,” ujar Elihu.

Baru pada Maret 2014, Elihu menemukan formula yang pas untuk cairan pembersih mobil tanpa air. Cairan itu diberi merek Valo. Saat itu, ia belum percaya diri menjual produknya. Dus, produk cairan tersebut dia gunakan untuk membersihkan mobilnya sendiri terlebih dahulu. Selain itu, beberapa temannya pun ikut mencoba menggunakan produk tersebut.

Ketika puas dengan hasil yang didapat, Elihu membuka outlet pencucian mobil tanpa air di Jakarta, September 2014, dengan nama Valo Car Care. Meski demikian, Valo juga menerima jasa cuci motor bahkan jetski. “Kami pernah diminta untuk membersihkan jetski karena pemiliknya kebingungan mencari produk yang tepat untuk membersihkan kendaraan yang terus-menerus ada di dalam air,” cetus dia.

Outlet tersebut sengaja didirikan dekat kawasan perkantoran dan apartemen. Dua bangunan ini jadi target Elihu. Banyak pengelola kantor dan apartemen yang tidak mengijinkan mobil yang parkir untuk dicuci. Pasalnya, penggunaan air membuat pengelola keluar biaya. Inilah celah yang dimanfaatkan oleh Elihu.

Untuk menggunakan jasa Valo man (sebutan untuk karyawan Valo Car Care), konsumen harus membayar biaya berkisar Rp 50.000–Rp 200.000 per mobil. Besaran biaya itu ditentukan oleh paket pencucian yang dipilih, antara lain cuci eksterior, interior, jamur dan kaca, serta cuci mesin mobil. Semakin banyak paket yang diambil, biaya pencucian tentu semakin besar.

Peluang yang sama juga ditangkap oleh Harijanto Ongko. Alih-alih menciptakan produk pembersih mobil, pria asal Surabaya ini mendatangkan waralaba cuci mobil asal Australia, Nowet Waterless Carclean.

Harijanto membawa lisensi Nowet pertama kali pada 2011. Saat itu bisa dikatakan, jasa cuci mobil tanpa air ini tergolong hal baru di dalam negeri. “Karena tanpa air, jasa ini bisa dilakukan di mana saja dan kami dapat menghampiri pelanggan,” ujarnya.

Dia bilang, mobil yang dipamerkan di pusat perbelanjaan kerap jadi kliennya. Lantaran tak mungkin mencuci mobil dalam mal, jasa cuci mobil tanpa air pun sangat dibutuhkan.

Banyak kelebihan

Inovasi cairan pembersih mobil tanpa air ini memang belum terlalu dikenal banyak orang. Padahal, banyak kelebihan yang ditonjolkan ketimbang mencuci air secara konvensional alias menggunakan air. Penghematan air dari cairan ini sangat signifikan.

Elihu bilang, untuk mencuci satu unit mobil, air bersih yang diperlukan bisa mencapai 300 liter. Di sisi lain, air bersih sebanyak itu bisa memenuhi kebutuhan konsumsi air minum seseorang sampai lima bulan. “Tidak banyak orang yang sadar akan kondisi ini,” ujar Elihu.

Dengan kata lain, usaha ini juga mendukung program ramah lingkungan. Ini jadi salah satu kelebihan jasa cuci mobil tanpa air. Elihu juga bilang, banyak jasa cuci mobil konvensional yang tutup karena kekurangan air bersih. “Banyak salon mobil yang tutup karena memang kebutuhan air sangat besar dan mereka tidak sanggup memenuhinya,” tandas dia.

Di samping itu, lantaran tak menggunakan air, merintis usaha jasa cuci mobil tanpa air ini pun lebih sederhana. Untuk memulai usaha, yang diperlukan adalah menyewa tempat usaha dan menyediakan produk cairan pembersih.

Bahkan, Elihu bilang, usaha ini bisa dilakukan di rumah alias tak perlu menyewa tempat. “Pemilik mobil tidak perlu mendatangi Valo, tapi Valo man yang akan mendatangi mobil konsumen untuk dicuci. Kami hanya perlu lokasi dan plat mobil,” ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk membersihkan satu unit mobil, waktu yang diperlukan sekitar 15 menit hingga sejam, tergantung bagian yang dibersihkan. Adapun jumlah karyawan untuk membersihkan mobil tidak banyak. Jasa pencucian mobil tanpa air bisa dilakukan oleh satu orang saja.

Modal untuk merintis usaha ini jelas tidak sebesar jasa mobil konvensional. Ditambah, potensi balik modalnya pun lebih cepat. Elihu bilang, untuk membuka satu outlet Valo Car, modal yang diperlukan minimal Rp 30 juta. Modal itu digunakan untuk menyediakan produk, sewa tempat serta merekrut tenaga kerja.

Peluang kemitraan

Anda tertarik menjajal usaha ini? Bila tak mau repot-repot menciptakan produk baru, Anda bisa bergabung dengan kemitraan yang ditawarkan oleh Elihu dan Harijanto.

Sejak membawa Nowet Waterless Carclean masuk ke Indonesia, Harijanto langsung menawarkan waralaba. Saat ini, Nowet sudah punya enam outlet di Jakarta, Semarang, Batam, Surabaya dan Yogyakarta. "Satu gerai milik pusat, sisanya milik mitra," ujar dia.

Dalam kerjasama waralaba ini, Harijanto menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket Nowet Express senilai Rp 100 juta. Paket ini hanya menawarkan jasa cuci mobil. Dari investasi sebesar itu, Rp 75 juta untuk biaya waralaba lima tahun, dan sisanya buat peralatan cuci seperti obat-obatan. Mitra tak perlu punya tempat usaha karena ini jasa panggilan.

Selanjutnya, paket Nowet Car Care senilai Rp 200 juta. Rinciannya, Rp 150 juta buat biaya waralaba lima tahun, dan sisanya buat membeli peralatan dan obat-obatan. Berbeda dengan paket pertama, mitra paket ini diwajibkan memiliki lokasi usaha untuk digunakan sebagai workshop. Soalnya, paket ini menawarkan empat macam perawatan mobil, seperti cuci mobil, salon mobil, auto detailing dan paint protection. Pelanggan usaha ini biasanya para anggota komunitas pecinta mobil dan korporasi.

Tarif jasa cuci mobil di tepat ini dibanderol mulai Rp 90.000 sampai Rp 145.000, tergantung jenis mobilnya. Sementara tarif lain, seperti paint protection seharga Rp 6 juta per mobil. Ia menargetkan, mitra paket Nowet Express bisa mengantongi omzet sebesar Rp 22,5 juta dengan margin sekitar 30%. Sementara mitra paket Nowet Car Care bisa meraup omzet sekitar Rp 38 juta per bulan dengan margin sama. "Rata-rata balik modal tiap-tiap paket diperkirakan 18 bulan," kata Harijanto.

Sementara itu, di bawah bendera PT Valo Indonesia Prima, Elihu menawarkan tiga paket kemitraan. Masing-masing mensyaratkan investasi senilai
Rp 30 juta, Rp 50 juta, dan
Rp 100 juta. Pembelian bahan baku rata-rata memakan biaya 30% dari total omzet. Di antaranya membeli produk kimia, semir ban, pembersih jamur, body waterless, dan engine cleaner.

Elihu menargetkan tiap outlet bisa mencuci minimal 110 mobil-300 mobil dalam satu bulan. Setelah dikurangi dengan biaya operasional, mitra diprediksi akan balik modal sekitar satu hingga dua tahun.

Elihu menambahkan, saat ini produk cairan untuk pembersih tanpa air bisa dihitung dengan jari. Untuk memudahkan, pemain baru bisa mengambil paket kemitraan yang ada. Akan tetapi, jika memang tak puas, Anda bisa coba membuat produk sendiri. "Kalau ada produk sendiri, potensi usahanya tentu lebih besar karena akan dicari-cari," katanya.

Persaingan pada jenis usaha ini memang belum terlihat. Dus, Elihu bilang, peluang usahanya masih sangat menggiurkan. Sebagai salah satu pelopor usaha mencuci mobil tanpa air, Elihu bilang kesulitan yang ditemui adalah meyakinkan pengguna jasa yang dibidik.

Menurut pengamatan Elihu, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ketersediaan air bersih masih sangat kurang. Di mata masyarakat, produk ini belum dianggap sebagai solusi. Masyarakat juga masih curiga produk ini bisa menimbulkan baret pada permukaan kendaraan karena hanya disemprot lalu dilap.

Sebagai bentuk edukasi, Elihu sering mengadakan demo cuci mobil tanpa air. Dengan demikian, masyarakat bisa melihat langsung kelebihan produk ini dibandingkan pembersih yang biasa digunakan pada jasa cuci mobil konvensional.

Rahasia dapur tidak dijual bebas

Jasa cuci mobil tanpa air menjadi solusi ketika kendaraan harus tampil mengkilap, namun air sulit diperoleh. Sayangnya, cairan pengganti air ini tidak dijual secara ritel di pasar bebas. Untuk bisa mengaplikasikan cairan pembersih ini pada mobil, Anda harus memanggil jasa cuci mobil tanpa air ini.

Elihu Nugraha, pendiri Valo Car Care, mengatakan produk ini memang sengaja tidak dijual secara umum. Sejak awal, ia mengembangkan usahanya dengan cara menjalin kemitraan. Total gerai milik mitra ada 14. Lokasinya di Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Palembang, Lampung, Manado, dan Palu.

Ada beberapa pertimbangan Elihu. Pertama, penggunaan produknya tidak semudah yang dibayangkan. Cairan pembersih tak bisa sembarang diaplikasikan. “Untuk membersihkannya harus menggunakan kain microfiber dan ada teknik tertentu agar tidak merusak lapisan cat mobil,” ujar dia.

Walau jika diperhatikan, proses mencuci tanpa air ini tak terlalu sulit. Tahap pertama ialah menyemprotkan cairan pembersih pada permukaan mobil yang kotor. Setelah disemprot, jangan terlalu tergesa-gesa untuk menyekanya dengan lap. Tunggu beberapa detik agar cairan benar-benar menempel pada bodi mobil. Bila sudah tampak bersih, gosoklah permukaan mobil dengan menggunakan kain microfiber. Hindari kain lap biasa karena akan merusak permukaan mobil. Membersihkan bodi mobil mungkin tampak mudah, tapi untuk membersihkan bagian lain terutama mesin cukup sulit sehingga sebaiknya diserahkan pada karyawan yang ahli.

Formula pada cairan pembersih bisa mengikat debu kotoran dan mengangkatnya dari permukaan mobil. Adapun kandungan carbona wax bisa melapisi permukaan mobil. "Kalaupun hujan, mobil bisa tetap mengkilap," kata Elihu. Selain itu, dengan membuka outlet, ia bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Karyawan Valo Car Care harus mengikuti pelatihan selama dua hari untuk bisa mengaplikasikan cairan pembersih.

Pertimbangan lain ialah, saat ini jarang sekali orang yang punya waktu untuk mencuci mobilnya sendiri. Waktu untuk mencuci mobil kerap digunakan untuk aktivitas lain. “Kalau dijual di toko, mungkin banyak yang beli, tapi belum tentu mereka mengaplikasikannya dengan benar. Lebih parah lagi, belum tentu produk saya ini benar-benar digunakan,” ucap dia.

Read more...

Zulqarnain Mencetak Untung dari Pengalaman

0 comments
Pengalaman sehari-hari sering mendatangkan inspirasi untuk berbisnis. Seperti Mukhammad Zulqarnain Agus Rosano yang memperoleh ide untuk merintis clothing custom dari kesulitannya mencari celana yang sesuai dengan ukuran tubuhnya yang di atas rata-rata.

Berkaca dari pengalamannya, Zul, panggilan akrabnya, yakin banyak orang yang mengalami masalah serupa. Lantas, dia memberanikan diri terjun ke bisnis ini, setelah mengalami kegagalan berbisnis camilan.

Sejak kuliah, Zul memang telah menetapkan diri menjadi pengusaha.Pertama, dia beralasan ingin punya banyak waktu untuk keluarganya kelak. “Tidak seperti saya yang kurang kasih sayang karena selalu ditinggal orangtua bekerja,” kenang dia. Kedua, dia ingin menikmati masa pensiun di usia 30 tahun. Tak heran, ketika menjejakkan kakinya di Kota Kembang, Zul langsung mengendus peluang bisnis yang ada.

Saat itu, sekitar tahun 2010, camilan seperti Ma Icih tengah jadi tren. Zul pun ikut mencicipi gurih bisnis camilan dengan menjual stik keju. Sayang, meski mampu menorehkan omzet hingga Rp 60 juta per bulan, pria yang masih kuliah di Universitas Padjadjaran Bandung ini terpaksa mengakhiri bisnis camilannya setelah berjalan setahun. “Saya bangkrut dan merugi, karena ada kesalahan pengelolaan,” ujar Zul. Dia salah memberikan kepercayaan ke orang yang belum kompeten.

Dia ingat, saat itu, uangnya benar-benar habis, hingga terusir dari kamar kos karena tak sanggup membayar. Zul pun akhirnya menyerah dan kembali ke kampungnya di Banyuwangi, Jawa Timur.

Tak butuh waktu lama, semangatnya berbisnis tersulut lagi setelah mendengar nasihat dari orangtuanya. Pertengahan 2012, ide berbisnis clothing custom segera muncul, karena menurut dia, usaha ini tidak butuh modal samasekali. Pria 24 tahun ini menawarkan pembuatan celana sesuai dengan pesanan kepada teman-temannya. “Saya mengumpulkan foto-foto dari Google dan menawarkan celana secara door to door saat itu,” kenang Zul. Kemudian, ia menjahitkan pesanan celana custom ini kepada penjahit di kawasan Pasar Baru, Bandung.

Berbagai lini bisnis

Kegagalan di bisnis camilan menjadi pelajaran berharga bagi Zul. Salah satu pelajaran adalah dia tidak menggunakan keuntungan dari berbisnis untuk kepentingan pribadi. Uang itu ia alokasikan untuk memperbesar bisnisnya. “Uang itu juga saya pakai untuk berpromosi,” kata Zul.

Lantaran fokus membangun usaha, bisnis clothing custom milik Zul kian berkembang. Apalagi, saat itu, belum ada kompetitor. “Ini sesuatu yang baru, orang bisa memilih apa yang menjadi keinginannya, baru diproduksi,” terang Zul. Produk Iwearzul mengincar pasar pada rentang usia 21 tahun hingga 27 tahun.

Permasalahan mulai muncul pada 2014, karena manajemen produksi yang belum rapi. Zul pun sempat berpikir untuk menyerah. Pasalnya, tidak seperti perusahaan garmen yang bisa sekali produksi lalu dijual, produksi clothing custom ini terus berjalan seiring dengan datangnya pesanan. “Ibarat dapur, kita harus ngebul terus,” tegas Zul. Alhasil, dia harus berhitung produksi dengan tepat, baik soal pasokan kain hingga tenaga kerja, supaya tak merugi.

Dari situlah, Zul lantas mencoba berbagai sistem produksi dan mengujinya satu per satu. “Memang ada perusahaan yang menawarkan standar dan prosedur, tapi kami perlu menciptakan sistem sendiri, karena kami yang menjalani bisnis ini,” ungkap Zul.

Butuh waktu delapan bulan, hingga akhirnya Iwearzul menemukan sistem monitoring secara menyeluruh pada produksi. “Dengan sistem ini, kami bisa memantau semua yang terjadi, karena di setiap bagian terhubung jaringan komputer,” kata Zul.

Sistem baru ini pula yang membuat bisnis Zul dapat berputar kencang. “Produksi sudah aman, giliran fokus ke marketing. Kami terima order berapa pun,” cetus Zul. Dua bulan terakhir tahun 2014, omzet Iwearzul berlipat hingga ratusan juta rupiah. Bahkan, selama tiga bulan pertama 2015, Zul mencetak omzet berkisar
Rp 400 juta saban bulan.

Iwearzul melayani pesanan celana, jaket, dan kemeja. Meski custom, konsumen tak bisa memesan model seperti keinginannya, karena Zul sudah menyiapkan sejumlah desain untuk ketiga produk itu. “Desain ini menjadi guideline bagi kami, karena kami juga harus berpikir soal imaji brand Iwearzul,” jelas Zul. Tiap tiga bulan, Iwearzul meluncurkan desain baru untuk setiap produk.

Kecepatan proses produksi menjadi salah satu kelebihan Iwearzul. Zul bilang, pembuatan celana dan lainnya bisa diselesaikan dalam tiga hari hingga enam hari. Selain itu, dia juga memberi garansi uang kembali jika produk mengecewakan. Layanan Iwearzul lewat website pun diberikan selama 24 jam.

Dalam berbisnis, Zul selalu membuat rencana yang matang dan eksekusi sebaik mungkin. Oleh karena itu, dia tak berhenti pada bisnis clothing custom ini. Dia mendirikan Zul Group yang akan menjadi holding dari sejumlah usahanya kelak.

Berbeda dengan pengusaha lainnya yang mungkin hanya fokus pada satu bidang, Zul justru menjalankan berbagai lini bisnis. Dua bulan ini, dia menggeluti bisnis parfum, Zule Parfum. “Bisnis itu tidak ada yang gampang, semua harus dipelajari,” kata Zul. Di bisnis parfum ini dia juga belajar dari awal, mulai dari mengenal berbagai bahan kimia hingga menciptakan aroma wewangian yang sesuai selera pasar.

Selanjutnya, Zul juga terjun di bisnis jasa logistik dengan meluncurkan ZHDS alias Zul Home Delivery Servis. ZHDS merupakan layanan antar untuk berbagai kuliner di Bandung. Zul juga mendirikan usaha garmen yang melayani pesanan korporasi. Ke depan, Zul berencana untuk membuat restoran, hotel dan bisnis tour and travel di Bandung. 

Belajar dari pemilik Virgin

Menjadi pengusaha sebenarnya bukan mimpi Mukhammad Zulqarnain Agus Rosano saat belia. Cita-citanya dulu adalah menjadi arsitek atau insinyur teknik lain.

Namun, haluan hidupnya berubah ketika dia merasa kesibukan bekerja menghalangi orangtuanya memberikan perhatian. “Saya merasa kurang kasih sayang karena jarang bertemu,” kenang suami dari Inna Susanti.

Selanjutnya, dalam perjalanan bisnis, Zul banyak mendapat inspirasi dari pebisnis dunia, Richard Branson, pengusaha asal Inggris yang mendirikan Virgin Group. Belajar dari pebisnis yang memiliki lebih dari 400 usaha ini, Zul mengembangkan berbagai lini bisnis dalam Zul Group. “Saya belajar seperti Branson yang tak fokus hanya ke satu bidang bisnis saja,” cetus Zul.

Setiap mengembangkan bisnis baru, Zul terlebih dahulu melihat kemantapan bisnis lamanya. Karena, dia akan menyerahkan bisnis tersebut pada orang kepercayaannya. Seperti Iwearzul, yang sudah ia serahkan ke salah seorang direkturnya. “Nah, untuk terjun di usaha baru, saya harus fokus di sana selama enam bulan untuk memastikan bisnis berjalan lancar,” ungkap dia.

Demikian juga untuk menciptakan suasana yang nyaman di kantornya. Zul juga mengadopsi suasana kantor Google. “Saya ingin semua karyawan betah bekerja di kantor. Jadi saya membuat kantor ini senyaman mungkin,” ujar pria kelahiran 7 Agustus 1991 ini.

Di kantornya, Zul menyediakan ruang-ruang untuk hiburan dan relaksasi yang bisa dinikmati 40 karyawannya. Dia juga membangun meja bar, taman, dan ruang hiburan karena sebagian besar karyawannya adalah anak-anak muda. “Mereka biasa bekerja hingga malam di sini,” ujar Zul yang berencana membangun kantor Zul Group pada 2016 nanti.

Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil