Tuesday, 1 November 2011

Kisah Nyata Choirun Si Haji Nunut

0 comments
Namanya Choirun Nasichien, seorang lelaki paruh baya sederhana dari Jombang. Bicaranya sangat lugu dan sikapnya teramat polos. Choirun dilahirkan dari keluarga miskin.

Sehari-hari ia memang orang yang dikenal religius di kampungnya. Eloknya, saking seringnya memakai topi haji putih, sehari-hari Choirun sudah sering dipanggil dengan sebutan ‘Haji’ oleh warga kampungnya, meski dia belum pernah ke Tanah Suci.

Ongkos naik haji saat itu sekitar Rp 6 juta tak terjangkau koceknya. Padahal, keinginan warga asli Sumobito, Jombang, Jawa Timur, untuk berhaji sudah mengganggu benaknya sejak tahun 1990. Tak hanya berdoa, Choirun juga rajin mengikuti undian berhadiah sebagai modal untuk membayar ONH. Pernah ia mengirim 900 lembar kupon sebuah undian!

Niatnya berhaji tak terbendung lagi ketika dia memenangi sebuah undian sampo pada 1992. Choirun menerima hadiah berupa emas seberat lima gram. Setelah diuangkan menjadi Rp 70 ribu, Choirun memakainya sebagai persiapan mengikut haji tahun itu juga. “Uangnya saya belikan sandal, pakaian ihram, dan perlengkapan haji yang lain,” kata pria yang bekerja sebagai petani dan pedagang ini.

Merasa tak cukup bekal, pria 45 tahun ini mencari kiat jitu. Sederhana saja. Dia ingin menerapkan kebisaannya nunut kendaraan bermotor, utamanya truk, jika ingin pergi ke mana-mana tanpa ongkos. “Seperti naik truk, kalau nanti saya disuruh turun, ya, turun. Wong namanya nunut,” kata pria yang betah melajang ini.

Entah karena kepolosannya itu, niat Choirun terbukti mulus-mulus saja. Berbekal uang Rp 49.950, sisa penjualan emas hadiah, ditambah Rp 5 ribu dari ibunya, Siti Khoniah, Choirun mantap pergi haji. “Pada ibu, saya bilang jika dalam satu dua hari itu saya nggak kembali, berarti saya bisa naik haji. Benar juga kan? Senin berangkat, Selasa pulang, Rabu sampai Jombang,” katanya.

Dari Jombang ia naik bis ke Surabaya dan diteruskan dengan bemo ke bandara. Choirun sempat kecewa karena tak tampak jamaah haji akan berangkat. Namun, oleh seseorang ia diberitahu bahwa sore hari ada satu rombongan haji akan berangkat. Benar saja, pukul 19.00 WIB Kloter IX telihat turun dari bis siap berangkat.

Ketika melompat pagar masuk ke pesawat yang parkir di Bandara Juanda, dia masuk lewat pagar di ujung timur ruang kedatangan internasional. ”Sambil wirid, saya jalan biasa saja. Tidak ada yang menegur sampai saya berada di atas pesawat.”

Tanpa ragu, Choirun bergabung dengan rombongan tanpa satu pun Jamaah Calon Haji (JCH) merasa janggal, apalagi petugas bandara. Malah tanpa kecurigaan, ia sempat berfoto-foto sebagai kenangan. Sadar jika ia nunut, di dalam pesawat Chorun tak memilih kursi bernomor. Ada empat kursi pramugari di bagian lambung yang kosong. Di situlah ia duduk hingga seorang pramugari menegurnya saat pesawat sudah terbang menuju Jeddah.

“Saya jawab nggak apa-apa karena saya nunut,” katanya. Si pramugari tersenyum saja karena disangka bercanda. Hingga para jamaah memperolah jatah makan dan minum, posisi Choirun masih aman.

Entah kenapa, di tengah penerbangan, seorang pramugari meminta dokumen perjalanan Choirun. Pria desa yang tak paham apa itu paspor dan dokumen JCH akhirnya membuat geger seisi pesawat. Sadarlah JCH Kloter IX bahwa ada seorang penumpang gelap yang nunut di pesawat Garuda tersebut. Untung ada JCH yang satu desa dengan Choirun di Ngrumek, Sumobito, Jombang, mengenal Choirun. Namanya Pak Harto, juragan ikan, dan Pak Yazid.

“Pak Yazid Abdullah itu guru madrasah saya. Beliau meyakinkan kalau saya bukan orang gila. Dia juga bilang, saya warga satu desa dengannya. Saya miskin, tapi berniat betul menjadi haji karena sudah lama dipanggil Pak Haji,” jlentrehnya.

Meski sempat bikin heboh, di sepanjang perjalanan ke Jeddah, Choirun justru beroleh simpati seisi pesawat. Bahkan, dari rapat kru pesawat dan ketua rombongan, mulanya Choirun akan diupayakan memperoleh paspor. Sementara biaya akan ditanggung bersama oleh semua jamaah Kloter IX. Tapi, akhirnya, Choirun diputuskan harus kembali ke tanah air.

Sempat disembunyikan kru pesawat dalam toilet pesawat selama satu jam untuk menghindari pemeriksaan Imigrasi Kerajaan Arab Saudi di Bandara King Abdul Aziz. Bahkan, agar petugas imigrasi tidak curiga, toilet pesawat ditulisi ‘rusak’. Trik jitu ini membuat Choirun tak sampai berurusan dengan aparat keamanan Arab Saudi.  Selama menunggu pesawat kembali ke Indonesia, Choirun hanya bisa menangis dalam toilet.

Singkatnya, Choirun dipulangkan langsung hari itu juga. Dalam perjalanan, dia malah merasa dimanjakan. Dia menjadi satu-satunya penumpang di pesawat berkapasitas 500-an kursi itu. Dia bisa menyaksikan film serta menikmati makanan kesukaannya. “Kayak wong sugih, aku iso carter pesawat. Opo ora hebat? Hehehe…,” ungkapnya.

Kasus Choirun ini mendapat liputan luas dari media massa saat itu. Maka, dia pun dijuluki “Haji Nunut.” Choirun kemudian mendapat simpati dari berbagai pihak, termasuk sebuah media harian di Jawa Timur yang menulis kisahnya secara berseri.

Ada pengalaman menarik lainnya yang dialami Choirun . Meski ia tidak berurusan dengan pihak imigrasi, kepolisian, dan bandara, karena ia nyelonong masuk ke pesawat tanpa izin petugas , dia harus berurusan dengan Detasmen Intelijen (Denintel) Kodam V/Brawijaya di Wonocolo. Berhari-hari dia menginap di sana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Maklumlah, pada zaman Orde Baru, Den Intel cukup besar pengaruhnya dalam berbagai persoalan. Wartawan yang salah nulis pun harus ‘disekolahkan’ di Wonocolo. Nah, ketika pulang dari Wonocolo, di bawah mata Choirun terlihat seperti bekas benda tumpul. Bekas itu masih ada hingga sekarang. Namun, ketika ditanya ia mengaku jatuh terpeleset di kamar mandi ketika dimintai keterangan di Wonocolo.

“Saya tidak diapa-apakan kok,” katanya.

Kisahnya nunut pesawat mengetuk hati beberapa dermawan, ada lebih dari empat pihak  yang menawarkan ONH gratis untuk Choirun. Salah satunya Haji Tosim yang akhirnya memberangkatkan haji si Choirun pada 1994.

Menariknya, saat ia benar-benar berhaji tahun itu, Choirun sempat memasuki kawasan Istana Raja Fadh, yang merupakan kawasan tertutup bagi orang biasa. Dalam komplek istana itu pula ia sempat bertemu dengan rombongan pejabat dari Indonesia, antara lain Pangab Jenderal Faisal Tanjung dan Mendikbud Wardiman Djojonegoro.

Pada tahun 2005, seorang pengusaha yang juga menaruh simpati padanya juga memberikan fasilitas Choirun naik haji gratis.

Kini, Choirun sering diminta berbagai kalangan untuk membacakan doa dalam hajatan atau memberikan tausiyah di majelis taklim. Meski sudah dua kali naik haji (beneran), Choirun Nasichien masih tetap dijuluki ‘Haji Nunut’.

Read more...
Sunday, 30 October 2011

Pabrik Kertas Leces Dapat PMN Rp200 Miliar

0 comments
Jakarta - Pabrik kertas Leces akhirnya mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp200 miliar dari total keseluruhan alokasi anggaran PMN tahun 2012 sebesar Rp3  triliun. Namun anggaran baru akan dicairkan dengan syarat, Leces harus melaporkan perkembangan manajemennya.

Dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI yang juga dihadiri Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan ini, seluruh fraksi partai yang hadir menginginkan Leces masuk komite dan mendapat alokasi dana. "Leces harus masuk komite karena selama ini sudah melewati proses yang panjang untuk mendapatkan alokasi anggaran," kata Ferari Roemawi dari fraksi Partai Demokrat dalam rapat kerja Komisi VI, di DPR, Rabu 27 Oktober 2011 malam.

Namun demikian, Dahlan Iskan mengaku dirinya tak yakin semua masalah yang dihadapi pabrik kertas tersebut akan selesai dengan adanya anggaran. Menurutnya, Leces memiliki banyak kebutuhan yang belum tentu bisa terpenuhi dengan anggaran PMN.

"Saya sering berkunjung ke Leces, jadi tahu persis bagaimana keadaan di sana. Sebenarnya saya juga sempat bertanya-tanya, bagaimana bisa Leces sebelumnya tidak diberi alokasi anggaran," tutur Dahlan yang disambut tawa para peserta rapat.

Anggaran PMN tahun 2012 dialokasikan sebesar Rp3 triliun yaitu PT Dirgantara Indonesia sebesar Rp1 triliun. Sementara untuk untuk industri strategis sebesar Rp2 triliun yaitu PT PAL Rp600 miliar, Merpati Rp200 miliar, PT Pindad Rp300 miliar, Industri Kapal Indonesia Rp200 miliar, Pabrik Kertas Leces Rp200 miliar, PT Garam Rp100 miliar dan tambahan PT DI Rp400 miliar.

vivanews.com
Read more...
Saturday, 15 October 2011

IIF Siap Danai Proyek Tol Mangkrak

0 comments
Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (PT IIF) siap mendanai pembangunan proyek-proyek tol mangkrak di Tanah Air. Saat ini, terdapat tiga proyek jalan tol yang masih terkendala pendanaan dari total 24 proyek tol mangkrak, yakni Cikampek-Palimanan, Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, dan Pasuruan-Probolinggo. 

“Setidaknya ada satu yang sudah siap PT IIF danai. Kami belum bisa sebut ruas mana. Sedangkan yang lain akan dilihat kelayakannya,” kata Presiden Direktur PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) Emma Sri Martini, usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR Jakarta, Rabu (28/9). 

Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) mengatakan, dari 24 proyek tol mangkrak yang terkendala pendanaan ada tiga proyek tol dengan total nilai investasi Rp 21,8 triliun. Rinciannya, Cikampek-Palimanan panjang 116 kilometer (km) dan investasi Rp 11,3 triliun, Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) panjang 21,04 km dengan investasi Rp 7,2 triliun, dan Pasuruan-Probolinggo panjang 45,32 km dengan total investasi Rp 3,3 triliun. 

Emma mengatakan, saat ini PT IIF memiliki dana hampir Rp 3,5 triliun yang siap dikucurkan untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur di Tanah Air, termasuk proyek jalan tol. PT IIF hingga kini memang sama sekali belum melakukan pembiayaan proyek infrastruktur. PT IIF baru dalam tahap melakukan identifikasi proyek. 

“PT IIF masih terus identifikasi proyek, termasuk 24 proyek tol mangkrak. Meski PT IIF siap masuk di salah satu tol yang terkendala dana, belum bisa disebutkan nama ruas tolnya, karena ini sangat tergantung kesiapan proyek tol itu sendiri,” kata dia. PT IIF didirikan pada 15 Januari 2010 dengan ditandatanganinya akta pendirian dan shareholders agreement antara PT SMI, Asia Development Bank (ADB), Wolr Bank, dan International Finance Corporation (IFC). 

PT IIF didirikan karena saat ini lembaga pembiayaan yang ada, termasuk perbankan, tidak sepenuhnya dapat memberikan pendanaan untuk proyek infrastruktur yang memiliki karakteristik pembiayaan dengan tenor jangka panjang dan memiliki risiko tinggi. 

Emma mengatakan, keterlibatan PT IIF untuk membiayai 24 tol mangkrak sangat memungkinkan. Karena dalam analisis PT IIF, kesenjangan (gap) atau kekurangan pembiayaan oleh badan usaha jalan tol (BUJT) maupun lembaga keuangan atau perbankan masih cukup tinggi. PT IIF mungkin akan masuk dengan berkolaborasi dengan para lender financial atau pemberi pinjaman yang sebelumnya sudah digandeng oleh BUJT bersangkutan. 

“Kalau soal modal PT IIF tak masalah, sebab kini PT IIF sudah memiliki modal dari ekuitas sebesar Rp 1,6 triliun dan dari pinjaman (loan) US$ 200 juta. Jika modal ini sudah terserap untuk pembiayaan, pemegang saham PT IIF, baik PT SMI, ADB, World Bank, maupun IFC siap menambah modal lagi,” ungkap dia. 

Menurut Emma, selain membiayai proyek tol, PT IIF juga membiayai proyek infrastruktur lain, seperti rel kereta api (KA), pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, hingga proyek perpipaan. PT IIF tak hanya fokus pada pembiayaan proyek-proyek swasta, namun juga proyek-proyek lain yang juga dikerjakan oleh badan usaha milik negara (BUMN). 

Terganjal Pendanaan 
Kepala BPJT Ahmad Ghani Gazali mengatakan, saat ini sedikitnya terdapat tujuh proyek tol mangkrak yang belum mengamendemen perjanjianpengusahaan jalan tol (PPJT) sebagai bukti awal tol mangkrak siap dilanjutkan. BPJT telah mengevaluasi 24 proyek tol mangkrak, dan 17 di antaranya siap dilanjutkan dengan ditandatanganinya amendemen PPJT antara BUJT dan pemerintah melalui BUJT. 

Tujuh tol mangkrak yang hingga kini belum memasuki proses amendemen PPJT adalah Cikampek-Palimanan (PT Lintas Marga Sedaya), Batang-Semarang (PT Marga Setiapuritama), Semarang-Solo (PT Trans Marga Jateng), Bekasi-Cawang- Kampung Melayu (PT Kresna Kusuma Dyandra Marga), Waru Wonokromo-Tanjung Perak (PT Margaraya Jawa Tol), Pasuruan-Probolinggo (PT Trans Jawa Pas Pro), dan Ciawi-Sukabumi (PT Trans Jabar Tol). 

Ghani menuturkan, dari tujuh ruas tol tersebut tiga di antaranya memang terkendala pendanaan, yakni tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu, Cikampek-Palimanan, dan Pasuruan-Probolinggo. Sedangkan tol Batang-Semarang karena persoalan kepemilikan saham, tol Semarang- Solo karena proses dukungan pemerintah Rp 1,9 triliun yang belum disetujui Kementerian Keuangan, dan tol Waru Wonokromo- Tanjung Perak yang masih bermasalah dengan persoalan tata ruang setempat. Sedangkan tol Ciawi- Sukabumi terkendala dengan persoalan internal dengan salah satu pemegang saham. 

“Beberapa di antaranya memang ada persoalan pendanaan, misalnya tol Cikampek-Palimanan belum ada kesepakatan antara pemerintah, BUJT, dan perbankan. Kami berharap semuanya segera diamendemen,” ungkap dia.

bataviase.co.id
Read more...

Alhamdulillah Sudah Ada Bus Sekolah

0 comments
Probolinggo - Sekolah Taruna Dra. Zulaeha terletak di kota Leces sekitar 15 km arah selatan dari kota Probolinggo. Sekolah ini memiliki semua jenjang pendidikan dari TK sampai SMA bahkan perguruan tinggi. Maka tak heran jika sekolah ini memiliki banyak sekali siswa tidak hanya di kecamatan Leces saja tetapi juga dari daerah sekitarnya seperti kecamatan Tegalsiwalan, Bantaran, Maron, Sukapura, Tongas, Kraksaan, Paiton juga Kota Probolinggo bahkan dari kabupaten Lumajang seperti kecamatan Ranuyoso, Klakah, Kota Lumajang ada juga dari kecamatan Tempeh. 

Bagi yang rumahnya jauh, mereka naik bus umum tiap hari pulang pergi, ada juga sebagian yang indekos. Nah, tahun 2010 kemarin ternyata sekolah ini sudah memiliki bus sendiri yang berasal dari sumbangan alumninya. Bus ini bukan bus baru melainkan eks. bus Akas yang menempuh trayek Banyuwangi - Kalianget, Madura PP. Walaupun begitu mesin bus ini masih cukup handal ketika beroperasi.

Setelah resmi menjadi milik sekolah Taruna Dra. Zulaeha bus ini dicat hijau yang sebelumnya berwarna putih khas bus Akas. Trayeknya hanya melayani untuk Kota Probolinggo dan sekitarnya. Pagi berangkat dari Leces sekitar pukul 05.15 untuk menjemput para siswa dan sorenya mengantar para siswa pulang sekitar pukul 14.30 dari sekolah. Tarif yang dikenakan kepada para siswa awalnya gratis selama 1 minggu pertama kemudian setelahnya dikenakan Rp. 3.000,- sekali naik.

Walaupun dikenakan tarif, para siswa yang berada di kota Probolinggo setidaknya tidak perlu lagi susah gonta-ganti angkutan umum lagi dan tidak lagi bablas kalau ketiduran di bus. Diharapkan dengan dikenakannya tarif bisa menutup biaya operasional sehari-hari bus ini dan tetap terus melayani para siswa. Syukur kalau bisa ditambah lagi jumlah dan trayek busnya. Oya, setelah googling di sana-sini sepertinya ini bus sekolah pertama di Jawa Timur atau bahkan di Indonesia. Semoga bisa ditiru oleh sekolah-sekolah lainnya.

expertofsomething.multiply.com
Read more...

Peresmian dan Pelatihan Warintek Berbasis OSS

0 comments
LECES - Saat ini AMIK Taruna Probolinggo telah memiliki fasilitas informasi yang modern dan lengkap. Sebab belum lama ini Kementrian Negara Riset dan Teknologi memberikan bantuan 3 (tiga) buah fasilitas informasi berupa Warung Informasi Teknologi (Warintek) berbasis Open Source Software (OSS). Warintek AMIK Taruna Probolinggo ini dirancang sebagai suatu sistem basis data iptek terpadu guna mendorong program pemberdayaan dan pengembangan masyarakat berwawasan informasi dengan memberikan kemudahan, layanan dan pendidikan pada masyarakat dalam mengakses informasi. 

Program Warintek adalah upaya pemberdayaan unit-unit dokumentasi, informasi, perpustakaan yang dikemas dalam suatu 'paket lengkap' berupa peningkatan teknologi informasi, kemudahan akses informasi IPTEK, peningkatan sumberdaya manusia dan membina sumberdaya informasi lokal termasuk akses terhadap modal pembiayaan. Pemberdayaan ini dimaksudkan dapat berdampak pada pengembangan ekonomi daerah melalui IKM dan UKM.

Sebagai tanda dimulainya pemanfaatan Warintek berbasis OSS ini, Rabu (17/12) lalu dilaksanakan peresmian dan pelatihan di AMIK Taruna Probolinggo. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama dengan Kementrian Negara Riset dan Teknologi.

Prasetyo Sunaryo selaku Dewan Riset Nasional mengatakan saat ini seharusnya anak usia 8-25 tahun 90% masuk perguruan tinggi dan mendapatkannya informasi yang cukup. Faktanya, di Indonesia baru 17% saja anak yang masuk perguruan tinggi. Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Kamboja yang sudah mencapai 20% atau Malaysia 35%.

"Dalam kurun waktu 15 tahun mendatang, permasalahan ini harus mendapatkan penanganan secara serius. Sebab apabila tidak, kita akan sulit untuk menaikkan daya saing di bidang informasi," ujar Prasetyo yang juga menjabat Asdep Urusan Perlindungan Hayati dari Kementrian Riset dan Teknologi.

Menurut Prasetyo, salah satu upaya yang dapat kita lakukan untuk menyebarkan informasi adalah melalui internet dengan perangkat yang berbasis OSS. Langkah tersebut kita lakukan supaya kita tidak ketinggalan informasi. "Informasi itu bisa kita dapatkan dimana saja dan kapan saja. Tidak hanya melalui internet saja," jelasnya singkat.

Peresmian Warintek berbasis OSS di AMIK Taruna Probolinggo ini ditandai dengan penandatangan surat peresmian antara Agus Sediadi selaku Kepala Bidang IT pada Riset dan Teknologi dengan Sisbiyanto selaku Direktur AMIK Taruna Probolinggo.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan sosialisasi program Indonesia Go Open Source (IGOS) oleh Agus Sediadi dan dilanjutkan dengan pelatihan oleh Wahyu selaku Pemberdaya OSS Universitas Brawijaya Malang.

Wahyu saat memberikan pelatihan mengatakan program Warintek adalah program yang bersifat nasional yang ditangani Kementrian Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Warintek sebagai suatu lembaga pendidikan alternatif melalui metode pembelajaran jarak jauh (distance learning) dapat dilakukan dengan dukungan kegiatan jasa yang sasarannya berupa layanan informasi Iptek terpadu dengan menghubungkan ke beberapa sumber informasi, pendidikan dan pelatihan, termasuk peningkatan Sumber Daya Manusia di bidang dokumentasi, informasi dan perpustakaan.

"Sebagai lembaga pendidikan alternatif, Warintek tentu saja lebih diarahkan pada lembaga pendidikan non formal. Karena pada intinya pembelajaran yang akan diperoleh dari pengembangan Warintek ini lebih pada peningkatan kemampuan SDM dalam upaya menambah pengetahuan dan wawasan yang kemudian akan dapat dipergunakan sebagai modal dalam meningkatkan inovasi dan kreativitasnya," jelas Wahyu.

Para peserta juga diberi kesempatan untuk bertanya seputar Warintek berbasis OSS tersebut. Usai tanya jawab, rombongan dari Kementrian Riset dan Teknologi ditemani Sisbiyanto melakukan pemantauan ke lokasi Warintek AMIK Taruna Probolinggo.

"Warintek berbasis OSS ini merupakan salah satu fasilitas dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Saya senang sekali dengan adanya bantuan ini. Semoga informasi yang ada bisa diserap dengan baik oleh masyarakat. Sebab Warintek ini memang diperuntukan kepada masyarakat," jelas Sisbiyanto.

Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil