Minoritas Muslim Rohingya
Meluruskan dan Merapatkan Shaf
Radio Streaming IslamiJeram Sungai Pekalen
Keadaan Minoritas Muslim Rohingya di Myanmar
Sampai bulan ini, reformasi Myanmar dari negara tertutup menjadi negara demokrasi awalnya tampak...More
Pentingnya Meluruskan dan Merapatkan Shaf
“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat (dengan rapih) di hadapan Rabb mereka?”...More
Link Radio Streaming Islami Indonesia
Bagi anda yang ada di perantauan seperti saya dan tidak ada radio islami di sana dan ingin mendengarkan nasyid,...More
Goyang Inul di Jeram Sungai Pekalen
Karakteristik sungai Pekalen berbelok dan bertebing, memiliki panorama alam yang indah,...More
Showing posts with label Ende. Show all posts
Showing posts with label Ende. Show all posts
Monday, 9 June 2014
Lirik Lagu Jamilah - Tiger
Vokal : Tiger
Tuesday, 12 November 2013
Garuda Indonesia Buka Jalur Penerbangan Ke Ende
Categories :
Ende . Transportasi . Wisata
Ende - Bertempat di Rumah Jabatan Bupati Ende, VP Garuda Indonesia Ary Suryanta menyampaikan kepastian ekspansi Garuda Indoesia dengan memilih tiga kota tujuan penerbangan di NTT, yakni Labuan Bajo, Tambolaka, dan Ende, selain Kupang, untuk melayani pengguna jasa penerbangan selain sejumlah armada yang selama ini telah beroperasi.Manajemen Garuda memilih Ende dengan berbagai pertimbangan. Selain pertimbangan bisnis penerbangan, Garuda juga ingin berperan lebih dalam pembangunan kawasan Indonesia Timur, termasuk memberikan pelayanan mudah, ramah dan menguntungkan bagi pengguna jasa penerbangan.
Sejalan dengan percepatan pembangunan kawasan tertinggal itulah, Garuda melirik sejumlah titik yang selama ini beroperasi City Link, akan diganti dengan penerbangan Garuda dengan pesawat jenis ATR 72600 yang lebih modern dan terbaru, 70 seet, full service dengan mengutamakan kenyamanan dan keselamatan Garuda akan mengoperasikan pesawat rata-rata di bawah enam tahun operasi.
Penumpang akan dilayani full service dari cek in sampai pindah pesawat tukar sechedulle tanpa tiket hangus, termasuk kemudahan airport tax.
Tanggal 3 Desember Garuda dengan pesawat ATR berkapasitas 70 seet itu akan melakukan penerbangan pertama dengan didahului Joy flght di atas Kota Ende.
Sementara itu, Bupati Ende Don Wangge, menyambut baik kehadiran armada penerbangan BUMN itu, dengan harapan akan lebih memudahkan masyarakat di daerah ini yang jika ingin bepergian ke arah Barat, tidak perlu lagi menyinggahi Kupang, cukup dari Ende, Labuan bajo dan seterusnya ke arah Barat.
Penerbangan Ende tanggal 3 Desember 2013, Garuda Indonesia tiba jam 14.35 berangkat 15.05 WITA.
Satu kali penerbangan yang diagendakan Garuda, tidak tertutup kemungkinan penambahan jadwal penerbangan dari dan ke Ende. (Geby/Rell/HF)
Desember, Garuda Buka Rute Baru ke Labuan Bajo, Ende dan Tambolaka Menggunakan ATR
Categories :
Ende . Transportasi . Wisata
Garuda Indonesia berencana membuka rute baru yang menghubungkan antara Bandara Ngurah Rai Denpasar dengan kota-kota di Nusa Tenggara Timur, seperti Labuan Bajo, Ende dan Tambolaka. Ini dilakukan Garuda untuk mendukung potensi wisata di kawasan tersebut, di antaranya Taman Nasional Komodo, objek wisata Batu Cermin dan lainnya.
“Pada awal Desember 2013 kami akan melakukan penerbangan perdana dari Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, ke Bandara Komodo, Labuan Bajo dan Ende pergi pulang setiap hari,” kata Vice Presiden Domestic Regional-3 Jawa, Bali & Nusa Tenggara PT Garuda Indonesia Ari Suryanta di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur yang dilansir Republika Online, Rabu (30/10/2013).
“Seiring potensi penerbangan yang semakin meningkat tersebut, maka kami akan memberikan pelayanan lebih berkualitas dibanding dengan maskapai lainnya yang selama ini sudah melayani rute tersebut,” kata Ari Suryanta yang didampingi General Manager PT Garuda Indonesia Cabang Bali Taufik Hidayat.
Menurut Surya, penerbangan perdana ke tiga destinasi itu rencananya akan dilakukan pada 3 Desember 2013 dengan menggunakan pesawat turboprop ATR 72-600 berkapasitas 70 kursi dan diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan lokal dan asing, khususnya ke Kabupaten Manggarai Barat. “Kami berkeyakinan dengan Garuda Indonesia terbang menjelajah ke wilayah Manggarai Barat, wisatawan nusantara dan asing akan semakin meningkat, sebab panorama yang eksotik sangat digemari wisatawan asing,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Manggarai Barat Maximus Gasa mengatakan, saat ini memang sudah ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan dari Bali ke Labuan Bajo. Namun menurutnya hal itu belum memberikan kepuasan yang maksimal kepada penumpang. “Kami yakin Garuda akan memberi pelayanan yang memuaskan, dan kami sangat mendukung langkah pihak perusahaan penerbangan ini untuk mengembangkan penerbangan ke daerah-daerah di wilayah Tanah Air yang selama ini belum terjangkau penerbangan Garuda,” kata Maximus.
Friday, 16 November 2012
Travel to Ende, Flores, Kelimutu, Village
Ende is the largest town
in Flores and is deemed to be the most important with its harbor
serving other destinations around the archipelago. For the tourist, travelling to Ende can be a necessary transit onto Kelimutu. The town of Ende isn’t too appealing as it is a very hot and dusty place with it being situated at sea level. That being said there are black sandy beaches that you can explore to the east and west of the town. If you find yourself here for a few days waiting on a ferry or an aeroplane, it can be accommodating.
Ende was also the victim of the devastating earthquake that hit just north of Maumere
in 1992 and the population is still somewhat shaken by the whole
experience. Life has resumed at the normal pace but you can still see
buildings that were damaged by the earthquake.
Ende’s real claim to fame is
that president Sukarno was exiled here in 1933 and his house has been
turned into a museum of sorts with original furniture and photos still
in place. There is no charge to gain access to the museum and it can be
an interesting visit to step back into the Indonesian 1930’s. The museum
can be found on Jalan Perwira, which is located around 250 meters from
the harbor.
If you find yourself staying overnight in Ende then it is highly recommended that you visit the bustling nightmarket that can be found just outside the centre on Jalan Kelimutu. The market really comes to life after sunset and you will find yourself walking around various stalls of exotic produce by candlelight. Apart from the daily food essentials, the market is supplemented with many food stalls where you can taste some local delights and chat with the locals sharing stories about food and history.
Due to Ende’s proximity to the sea and its sheltered bay, it can become very hot in this town. It is rare to have a sea breeze and the dust can be quite annoying at times. To escape this, the best options are to head inland or west along the coastal road and discover one of many weaving villages. Ngella is a village
around 30 km from Ende is very popular amongst locals and tourists
alike. The fabric that is weaved here is regarded as some of the best in
Flores and the prices can be a little expensive. The women of the village
are hard bargainers so be prepared to bow down and accept her best
price! The easiest way to get to Ngella is to take a Bemo from Wolowaru bus terminal in Ende. Another option is Wolotopo that is located just 7km from Ende. This village
is not as frequented as Ngella so you can expect the fabrics to be
cheaper. A very interesting option onwards from Wolotopo is the village of Ngalupolo where you can actually spend the night. It is a fantastic opportunity to gain an insight into the village life of Flores. If you have the time, it is well worth the trip.
You won’t find any high-end hotels in Ende however you will find numerous losman all offering a bed and basic amenities. Most of these Losmen can be found on the road to the airport.
Most people are here to move on to other places in Flores and the most popular destination is Kelimutu. It is easy to travel to Kelimutu from Ende. Make your way to the Wolowana bus terminal. There you will find buses departing to Moni from 6am through to 2pm. Be careful the bus conductor doesn’t charge you the full cost of a fare to Maumere. If you are heading to Labuan Bajo, buses are frequent and generally depart around 7am.
It is possible to travel to Kupang in West Timor from Ende by Ferry. The most regular ferry is Pelni and usually stops by Ende twice a week. If your timing is right then Roti and Savu are also on the timetable. The irregularities of the timings of ferries can be quite frustrating so it is best that you find an agent in town where this person will have updated schedules and can also sell you a ticket.
Tuesday, 18 September 2012
40 Komodo Dragons Living in Flores Island
East Nusa Tenggara (NTT) Natural Resource Conservation Center
(BBKSDA) estimates that more than 40 Komodo dragons are living outside
the province’s national park in West Manggarai regency.
The agency
found Komodo dragons in the sanctuaries of Wae Wuul, Wolo Tadho and
Riung in Ngada regency, and in the bays of Nangalili, Watu-Manuk, Ende
and Maumere.
“Local people have also reported seeing Komodo
dragons in Nampar Sempang village in East Manggarai,” the BBKSDA's head,
Wiratno, said on Saturday.
“The Komodo Survival Program has found 28 dragons so far,” he says.
In
August, operators from the Wolo Tadho Sanctuary caught a male dragon,
which has now been moved to Ontoloe Island. The dragon weighs 24.4
kilograms, is 136 centimeters long and has visible wounds on its back,
face and tail.
Medical teams from the conservation center and
national park are treating the animal with antibiotics, anti-stress
medication and vitamins.
Ontoloe Island is a Komodo dragon habitat
located far from civilians, to avoid conflicts with local people. It is
approximately twice the size of a soccer pitch, and is located near the
Wolo Tadho Sanctuary.
“There are lots of animals for the Komodo
to eat on the island, like wild boar, monkeys, deer and forest
chickens,” Wiratno said.
A team will also be dispatched next week
to search for several dragons that allegedly escaped from their natural
habitat in Sambi Rampas district, East Manggarai regency. Local people
say the Komodos might have escaped due to a road-building project, for
which explosives had been used.
The agency is planning to conserve
the rare dragons outside national parks, having surveyed some habitats
in the sanctuaries of Wolo Tadho, Riung and Ontoloe Island, using the
2012 regional budget. The study will continue until 2013.
“The
survey involves the Forest Protection and Natural Conservation
Directorate General, the regional administration and civil society
organizations,” he said.
Thursday, 29 December 2011
250 Sarjana UNP Mengabdi ke Daerah Terpencil
Categories :
Ende . Indonesia . Pendidikan
Padang - Sebanyak 250 sarjana dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi yang mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (SM3T) Universitas Negeri Padang (UNP) diberangkatkan ke lokasi sasaran. Mereka diberangkatkan sejak Sabtu (10/12) ke Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam.
Sementara 31 sarjana lainnya ditempatkan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, diberangkatkan Senin (12/12). “Selama satu tahun, mereka akan mengabdi di daerah tersebut, didanai oleh pemerintah,” kata Kabag Humas UNP, Amril Amir kepada Padang Ekspres (JPNN Grup).
Menurutnya, program tersebut adalah strategi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk memeratakan pendidikan di daerah tertinggal. Kemudian kembali ke kampus untuk mengikuti program profesi guru (PPG) sebelum diajukan menjadi CPNS.
“Semuanya dibiayai Dirjen Dikti Kemdikbud, universitas hanya sebagai pelaksana,” katanya. Dia menyebut antusiasme sarjana muda mengikuti program tersebut tergolong tinggi. Untuk program SM3T di UNP, peserta yang mendaftar lebih 500 orang, sementara kouta yang disediakan hanya 250 orang. “Ini menunjukkan minat sarjana untuk mengabdi sebagai guru sangat tinggi,” katanya.
Salah seorang peserta, Santi Syafiana yang mengikuti program SM3T untuk Kabupaten Aceh Selatan mengaku termotivasi menjadi guru di daerah terpencil. “Saya cita-citanya memang mau jadi guru. Saya pikir ini kesempatan saya untuk mengabdi,” kata alumni Pendidikan Kimia UNP itu. Dia menyebut menjadi PNS memang salah satu impiannya, tetapi pengalaman mengajar anak-anak di daerah terpencil adalah prioritas utama.
“Siapa yang tidak mau jadi PNS. Tapi itu sambil jalan saja, saya masih muda, saya ingin cari pengalaman dulu,” katanya.
Selama mengajar di daerah terpencil tersebut, masing-masing peserta mendapatkan insentif sebesar Rp2 juta perbulan. Setelah menyelesaikan program tersebut mereka diberi beasiswa untuk mengikuti program PPG sebelum kemudian diajukan menjadi PNS.
“Ke depan PNS untuk guru diutamakan yang PPG. Kami tidak jamin peserta yang ikut, jadi PNS semua. Ttapi yang jelas, peluang mereka tentu lebih besar,” kata Amril.
Dia mengatakan karena moratorium PNS masih diberlakukan, program tersebut hendaknya tidak sekali saja. Sebab, masih banyak daerah yang membutuhkan guru, sehingga pemerataan pendidikan bisa tercapai.
Untuk program SM3T di UNP, peserta yang dikirim ke Aceh Selatan sebanyak 209 orang, Ende 31 orang, dan Aceh Singkil 10 orang. Sarjana yang diterjunkan dari jurusan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Penjas, PGSD, kesenian, dan sarjana pendidikan lainnya. Mereka diproyeksikan untuk menutupi kekurangan guru tingkat SD, SMP, dan SMA di daerah tersebut.
Sementara 31 sarjana lainnya ditempatkan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, diberangkatkan Senin (12/12). “Selama satu tahun, mereka akan mengabdi di daerah tersebut, didanai oleh pemerintah,” kata Kabag Humas UNP, Amril Amir kepada Padang Ekspres (JPNN Grup).
Menurutnya, program tersebut adalah strategi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk memeratakan pendidikan di daerah tertinggal. Kemudian kembali ke kampus untuk mengikuti program profesi guru (PPG) sebelum diajukan menjadi CPNS.
“Semuanya dibiayai Dirjen Dikti Kemdikbud, universitas hanya sebagai pelaksana,” katanya. Dia menyebut antusiasme sarjana muda mengikuti program tersebut tergolong tinggi. Untuk program SM3T di UNP, peserta yang mendaftar lebih 500 orang, sementara kouta yang disediakan hanya 250 orang. “Ini menunjukkan minat sarjana untuk mengabdi sebagai guru sangat tinggi,” katanya.
Salah seorang peserta, Santi Syafiana yang mengikuti program SM3T untuk Kabupaten Aceh Selatan mengaku termotivasi menjadi guru di daerah terpencil. “Saya cita-citanya memang mau jadi guru. Saya pikir ini kesempatan saya untuk mengabdi,” kata alumni Pendidikan Kimia UNP itu. Dia menyebut menjadi PNS memang salah satu impiannya, tetapi pengalaman mengajar anak-anak di daerah terpencil adalah prioritas utama.
“Siapa yang tidak mau jadi PNS. Tapi itu sambil jalan saja, saya masih muda, saya ingin cari pengalaman dulu,” katanya.
Selama mengajar di daerah terpencil tersebut, masing-masing peserta mendapatkan insentif sebesar Rp2 juta perbulan. Setelah menyelesaikan program tersebut mereka diberi beasiswa untuk mengikuti program PPG sebelum kemudian diajukan menjadi PNS.
“Ke depan PNS untuk guru diutamakan yang PPG. Kami tidak jamin peserta yang ikut, jadi PNS semua. Ttapi yang jelas, peluang mereka tentu lebih besar,” kata Amril.
Dia mengatakan karena moratorium PNS masih diberlakukan, program tersebut hendaknya tidak sekali saja. Sebab, masih banyak daerah yang membutuhkan guru, sehingga pemerataan pendidikan bisa tercapai.
Untuk program SM3T di UNP, peserta yang dikirim ke Aceh Selatan sebanyak 209 orang, Ende 31 orang, dan Aceh Singkil 10 orang. Sarjana yang diterjunkan dari jurusan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Penjas, PGSD, kesenian, dan sarjana pendidikan lainnya. Mereka diproyeksikan untuk menutupi kekurangan guru tingkat SD, SMP, dan SMA di daerah tersebut.
Ikatan Seniman di Ende Dideklarasikan
Categories :
ENDE - Ikatan Seniman Ende Lio (ISEL) dideklarasikan, Sabtu (17/12/2011) di halaman depan Museum Tenun Ikat di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pukul 20.00 Wita.
Masyarakat menyambut hangat pendeklarasian lembaga itu dengan berbondong-bondong menyaksikan acara tersebut. Pendeklarasian juga diteguhkan oleh Wakil Bupati Ende Achmad Mochdar, yang sekaligus membuka acara pentas seni dan budaya yang mewarnai acara pendeklarasian Ikatan Seniman Ende Lio (ISEL). Ketua ISEL Hendrikus Cinde dalam sambutannya mengatakan, lembaga ini dibentuk berawal dari rasa keprihatinan terhadap penderitaan kehidupan seniman Ende Lio.
"Para seniman dalam berkarya telah mengeluarkan biaya besar, tapi lahan garapan mereka banyak yang dicuri pembajak yang kini marak. Pembajak telah menghancurkan kreativitas, bahkan membunuh kehidupan seniman, karena pembajak lebih mengutamakan perut mereka sendiri," kata Hendrikus.
Menurut Hendrikus, ISEL yang kini memiliki 50 anggota mempunyai status legalitas formal secara hukum dan diharapkan lembaga itu dapat memberikan perlindungan pada hak-hak anggota, juga membuka peluang bagi seniman untuk berekspresi seluas-luasnya guna turut membangun daerah ini lewat pengembangan seni dan budaya.
ISEL mencakup semua bidang seni dan merangkul semua seniman tanpa membedakan suku, agama, atau aspek apa pun. Acara pendeklarasian dimeriahkan dengan penampilan sejumlah musisi, penyanyi, dan pencipta lagu Ende Lio, serta pergelaran tarian adat, di antaranya zikir berpantun dalam bahasa etnik Ende yang dibawakan kelompok zikir Bulan Sabit.
Monday, 27 June 2011
LPSE Kabupaten Ende, Pertama di Nusa Tenggara Timur
Categories :
LPSE adalah unit kerja yang dibentuk di berbagai instansi dan pemerintah daerah untuk melayani Unit Layanan Pengadaan (ULP) atau Panitia/Pokja ULP Pengadaan yang akan melaksanakan pengadaan secara elektronik. Seluruh ULP dan Panitia/Pokja ULP Pengadaan dapat menggunakan fasilitas LPSE yang terdekat dengan tempat kedudukannya. LPSE melayani registrasi penyedia barang dan jasa yang berdomisili di wilayah kerja LPSE yang bersangkutan. LPSE berada di bawah pengawasan LKPP cq Deputi Bidang Monitoring, Evaluasi, dan Pengembangan Sistem Informasi.
Landasan hukum yang mendasari lahirnya layanan ini adalah:
Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah;
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2003 tentang Paket Kebijakan Ekonomi Menjelang dan Sesudah Berakhirnya Program Kerjasama dengan International Monetary Fund (IMF);
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi;
Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat atas Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2003 (tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jada Pemerintah).
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2003 tentang Paket Kebijakan Ekonomi Menjelang dan Sesudah Berakhirnya Program Kerjasama dengan International Monetary Fund (IMF);
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi;
Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat atas Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2003 (tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jada Pemerintah).
Berdasarkan pengalaman sejak tahun 2004 dalam hal pemberlakuan Keppres No. 80 Tahun 2003, efisiensi akan akan tercapai apabila proses pengadaan barang/jasa berlangsung secara transparan dan diikuti oleh sejumlah peserta pengadaan yang cukup banyak serta mengedepankan proses persaingan yang sehat.
Pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-pengadaan) akan meningkatkan transparansi, sehingga persaingan sehat antar pelaku usaha dapat lebih cepat terdorong. Dengan demikian optimalisasi dan efisiensi belanja negara segera dapat diwujudkan.
Pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-pengadaan) yang diterapkan merupakan sistem pengadaan barang/jasa yang proses pelaksanaannya dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi, dan sistem aplikasi serta layanan pengadaan elektronik yang disediakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Nasional dari LKPP. Metode pemilihan penyedia barang/jasa secara elektronik yang sudah digunakan saat ini adalah e-lelang umum (e-regular tendering). Metode pemilihan lainnya akan diterapkan secara bertahap sesuai dengan pengembangan sistem dan aplikasi pengadaan elektronik serta kerangka hukum yang menopangnya.
Untuk memperluas akses e-pengadaan ke seluruh instansi pemerintah, LKPP memberi kesempatan kepada departemen, kementerian, LPND (Lembaga Pemerintah Non Departemen) pemerintah provinsi, kabupaten, kota, dan instansi pemerintah lainnya untuk mendirikan LPSE di instansi masing-masing. LPSE menyelenggarakan layanan e-pengadaan menggunakan aplikasi SPSE.
Kabupaten Ende merupakan kabupaten pertama yang mempunyai LPSE di provinsi Nusa Tenggara Timur. Sementara untuk pemerintah kabupaten/kota lainnya saat ini masih bergabung dengan LPSE Provinsi. Dengan adanya LPSE, diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sehingga proses pengadaan akan menjadi lebih terbuka. Di samping itu, juga diperlukan integritas SDM yang kuat dalam mengelola LPSE ini. Sebaik apapun sistem kalau orang yang menjalankan tidak amanah maka sama saja. Dengan didirikannya LPSE di Kabupaten Ende menyiratkan secara jelas bahwa Pemerintah Kabupaten Ende memiliki kemauan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sehingga proses pengadaan akan menjadi lebih terbuka. Tentunya peran serta masyarakat juga diperlukan untuk kemajuan daerahnya.
SPSE merupakan aplikasi e-pengadaan yang dikembangkan oleh Direktorat E-Procurement - LKPP untuk digunakan oleh LPSE di instansi pemerintah seluruh Indonesia. Aplikasi ini dikembangkan dengan semangat efisiensi nasional sehingga tidak memerlukan biaya lisensi; baik lisensi SPSE itu sendiri maupun perangkat lunak pendukungnya.
SPSE dikembangkan oleh LKPP bekerja sama dengan:
1. Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) untuk fungsi enkripsi dokumen
2. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk sub sistem audit
LKPP
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ( LKPP ) merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan dibentuk berdasarkan Perpres No 106 tahun 2007.
LKPP merupakan lembaga pemerintah satu-satunya yang mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan perumusan kebijakan pengadaan barang/jasa Pemerintah, dan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya LKPP dikoordinasikan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.
Versi Aplikasi SPSE: 3.2.2 - Agregrasi Inaproc: Non Aktif
ID LPSE : 135
Thursday, 9 December 2010
Lota Ende Terasing di Negeri Sendiri
Tak banyak yang mengetahui bahwa di kawasan Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Ende, Pulau Flores, terdapat aksara asli yang disebut Lota. Aksara ini nyaris punah.
Tim Kompas bersama peneliti aksara Lota, Maria Matildis Banda, mengunjungi sejumlah tempat di Kecamatan Ende, Ende Selatan, Ende Utara, dan Nangapanda, yaitu permukiman etnik Ende yang beragama Islam, pengguna terbesar aksara Lota pada masa lalu.
Tima (84), warga Kampung Woloare, Kota Ende, menuturkan, ia mengenal aksara Lota sejak kelas I sekolah rakyat. Karena sudah lama tidak menggunakan, Tima mengerutkan kening dan berusaha mengingat ketika diminta membaca atau menulis aksara itu.
"Saya sudah banyak lupa," katanya setelah berhasil menulis beberapa kosakata huruf Lota.
Surat beraksara Lota dulu ditulis menggunakan ujung pisau pada wunu koli (daun lontar). Hal senada diutarakan Murukana (80), nelayan Ndao.
Aksara Lota mulai kehilangan penggunanya tahun 1990-an. Generasi muda lebih suka belajar huruf Arab untuk membaca Al Quran dan huruf Latin sebagai media komunikasi. Hal ini menyedihkan mengingat aksara Lota adalah aset budaya Ende yang turut menyumbang kebinekaan Indonesia.
Mungkin hanya Mustafa Saleh Nggae (52), warga Kampung Pu’u Mbara, Kecamatan Ende Utara, yang masih mahir membaca dan menulis aksara Lota. Ia langsung membaca dengan cara bersenandung (wo’i) ketika disodori naskah prosa berjudul Ratu Jie Ne’e Ratu Re’e, yang ditulis dengan bahasa Lio Ende.
Wo’i merupakan tradisi di etnik Ende, semacam syair dalam aksara Lota yang dibacakan pada acara sunatan, pesta pernikahan, dan pembangunan rumah. Wo’i berisi silsilah keluarga, sambutan bagi kedatangan kerabat, dan doa-doa agar hajatan berjalan baik.
"Tapi, dalam tiga tahun terakhir ini jarang orang meminta wo’i," kata Mustafa, yang belajar aksara Lota dari kakeknya, Abdul Fatah (almarhum).
Aksara Lota merupakan turunan langsung dari aksara Bugis. Sejarah mencatat, aksara Lota masuk Ende sekitar abad ke-16 semasa pemerintahan Raja Goa XIV I Mangngarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alaudin (1593-1639). Ia dibawa orang Bugis yang migrasi ke Ende. Aksara Bugis beradaptasi dan berkembang sesuai dengan sistem bahasa Ende menjadi aksara Lota.
Lota berasal dari kata lontar. Mulanya aksara Ende ditulis pada daun lontar. Dalam perkembangannya ditulis di kertas.
Ada delapan aksara Lota Ende yang tidak ada dalam aksara Bugis, yaitu bha, dha, fa, gha, mba, nda, ngga, dan rha. Sebaliknya ada enam aksara Bugis yang tidak ada dalam aksara Lota Ende, yaitu ca, ngka, mpa, nra, nyca, dan nya.
Aksara Lota Ende sudah diteliti sejumlah pakar linguistik dan filologi, antara lain S Ross yang hasilnya dibukukan oleh Suchtelen tahun 1921 dalam Encyclopaedisch Bureau Endeh Flores. Peneliti lain adalah Jan Djou Gadi Ga’a tahun 1959, 1978, 1984, serta Maria Matildis Banda meneliti tahun 1993 dengan dukungan dana dari Ford Foundation. Hasilnya dibukukan tahun 2005 dengan judul Deskripsi Naskah dan Sejarah Perkembangan Aksara Ende Flores Nusa Tenggara Timur.
Menurut Maria, aksara Lota sebenarnya gampang untuk dipelajari, tetapi seperti dibiarkan mati. Perhatian pemerintah daerah juga kurang. ”Padahal, salah satu tanda tingginya peninggalan budaya suatu bangsa adalah budaya tulisnya,” kata Maria, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali.
Prof Stephanus Djawanai, Guru Besar Bidang Linguistik dari Universitas Gadjah Mada, di Ende menyatakan, aksara Ende termasuk jenis silabik (syllabic writing, syllabibography, syllable writing), yang menggambarkan suku-suku kata, mirip dengan Hiragana Jepang. Jadi, bukan alfabet seperti huruf Latin.
”Tradisi penulisan aksara Lota bisa dikembangkan lewat jalur pendidikan. Strateginya, menjadikan aksara Lota sebagai salah satu pelajaran muatan lokal,” kata Stephanus.
Saran itu patut menjadi perhatian. Jika proses regenerasi terputus, bisa jadi generasi masa depan NTT tinggal mengenang aksara Lota sebagai sejarah.(SEM/RUL)
www.kompas.com
Aksara Kuno Lota Ende
![]() |
| Mustafa Saleh Nggae |
Suatu bangsa dikenal dari bahasa dan aksaranya. Salah satu kriteria tingginya budaya suatu bangsa dapat dilihat dari peninggalan budaya tulisnya. Masyarakat Ende, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memiliki aksara Lota. Sayangnya, kini, aksara Lota itu terkesan dibiarkan mati.
Aksara Lota merupakan turunan dari aksara Bugis yang masuk Ende sekitar awal abad ke-16. Aksara Bugis ini kemudian beradaptasi dengan sistem bahasa dan budaya lokal masyarakat Ende. Pada masa lampau, aksara Lota ini ditulis pada daun lontar.
Pada 1990-an, aksara Lota semakin kehilangan penggunanya. Saat itu hanya kalangan tua yang menguasai aksara ini. Salah satunya Rugeya (kini almarhumah), sosok yang fasih menulis-membaca Lota dan menjadi narasumber para peneliti yang pada 1993 sudah berusia 65 tahun.
Proses regenerasi amat lemah. Generasi muda kurang berminat mempelajari aksara Lota karena terbatas penggunaannya dibandingkan aksara Latin yang menjadi alat komunikasi ataupun huruf Arab yang dipelajari untuk mendalami agama Islam. Akibatnya, aksara Lota pun mati pelan-pelan. Bahkan, saat ini pun kalangan tua sudah banyak yang lupa membaca dan menulis aksara itu.
Saat bergerak ke selatan Ende, tepatnya di Kampung Puubara, Desa Borokanda, Ende, tim Ekspedisi NTT Kompas bertemu Mustafa Saleh Nggae (52), salah seorang warga Ende yang peduli dan mencoba menyelamatkan aksara Lota dari kepunahan. Mustafa juga termasuk segelintir orang yang masih lancar menulis dan membaca aksara Lota dari total penduduk Ende yang berjumlah sekitar 250.000 jiwa.
Tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa Mustafa untuk menekuni aksara Lota yang bentuknya mirip huruf Hiragana itu. ”Saya mulai belajar menulis dan membaca aksara Lota saat usia 30 tahun,” katanya.
Digunakan orang tua
Waktu itu, Mustafa tergerak mempelajari aksara Lota karena masyarakat yang bisa membaca dan menulis aksara Lota yang tersisa jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Kalaupun ada yang bisa, usianya sudah melewati 50 tahun. Padahal, aksara Lota selalu digunakan para orang tua yang mengkhitankan anak atau warga yang akan membangun rumah baru.
Si empunya hajat biasanya minta dibacakan riwayat hidup, asal-usul, dan keadaan keluarganya yang tertulis dalam aksara Lota dan disampaikan dalam bentuk wo’i (nyanyian ratapan, prosa naratif tentang kejadian alam, riwayat hidup seseorang, dan lainnya).
Wo’i biasanya disampaikan di hadapan undangan di acara hajatan. Karena pendendang membaca dalam irama sedih, tidak sedikit undangan meneteskan air mata karenanya. Realitas itu yang membuat Mustafa bertekad mempelajari Lota. Ia tidak ingin sepeninggal generasi tua itu, aksara Lota hilang ditelan zaman.
Mustafa tidak berhenti di cita-cita. Dia juga mempelajari huruf Lota kepada kakeknya, Abdul Fatah (almarhum), yang tinggal di Pulau Ende. Kakeknya itu memang menguasai aksara Lota dan sering diminta menjadi pendendang wo’i beraksara Lota.
Niatnya yang bulat menyebabkan Mustafa kemudian tinggal sementara di Pulau Ende yang kalau ditempuh dengan perahu motor dari Kota Ende perlu waktu sekitar 45 menit. Ia belajar Lota rata-rata dua kali sehari setelah makan siang dan seusai shalat magrib. Keseriusannya menampakkan hasil. Dalam waktu tiga bulan, Mustafa lancar membaca dan menulis aksara Lota serta menguasai cengkok wo’i dengan baik.
Saking melekatnya wo’i dalam benaknya, Mustafa selalu dipanggil untuk mengekspresikan perasaannya pada banyak acara adat. Saat ini Mustafa sering diundang untuk membaca wo’i dalam acara resmi yang digelar Pemerintah Kabupaten Ende.
Tak ada regenerasi
Cita-cita Mustafa untuk meneruskan warisan leluhurnya kini mulai tercapai. Warga yang mengadakan hajatan hampir pasti meminta jasa Mustafa membaca wo’i. ”Mau dibayar berapa, terserah keikhlasan pengundang saja,” ucapnya soal upah dari jasa yang diberikannya. Dia lebih peduli jika aksara Lota itu semakin dikenal dan tidak ditinggalkan oleh masyarakat ataupun generasi mendatang.
Meski demikian, ia tetap saja risau aksara Lota ini akan hilang. Gelagat itu terindikasi dalam tiga tahun terakhir. Hampir tidak pernah lagi ada hajatan pernikahan dan sunatan yang diramaikan acara wo’i.
Kerisauan Mustafa ini bukan karena pendapatannya atau mata pencariannya terancam ikut hilang. Selama ini, sumber penghasilan utama Mustafa adalah dari menenun sarung tradisional Ende. Benangnya menggunakan pewarna alami. Selembar kain tenun buatan Mustafa dihargai tak kurang dari Rp 1,5 juta.
Mustafa lebih mengkhawatirkan hilangnya generasi masa depan Ende yang mengenal aksara Lota. ”Sebenarnya tidak sulit belajar Lota. Asalkan serius, tiga bulan pasti bisa baca-tulis Lota. Tapi, anak-anak muda sekarang tampaknya tidak suka belajar tulisan ini. Padahal, saya bersedia mengajar anak-anak di kampung ini,” katanya.
Strategi belajar Lota dimulai dari menghafal bentuk huruf, suku kata, dan konsonannya. ”Untuk lancar membaca aksara itu diperlukan waktu paling lama seminggu,” kata anak sulung dari empat bersaudara pasangan Muhamad Saleh-Jaenab itu.
Ketiadaan regenerasi diperparah lagi dengan sangat sedikitnya naskah Lota. ”Saya menyesal karena beberapa tulisan aksara Lota tidak saya simpan,” katanya.
Aksara Lota yang dibaca dalam bentuk wo’i biasanya dipegang si empunya hajat, dijadikan ”pusaka” karena isinya menyangkut silsilah keluarga, sejarah pemilikan tanah, dan lainnya. Bahkan, ada naskah Lota yang disimpan warga yang untuk melihat dan membacanya saja harus didahului acara khusus.
Penelitian lapangan selama dua bulan yang dilakukan Maria Matildis Banda di Ende tahun 1993 menunjukkan, setidaknya ada 20 naskah Lota. Jumlah itu amat sedikit dibandingkan naskah Sunda (789 naskah) yang dikoleksi di perpustakaan dalam dan luar negeri serta 554 naskah Sunda yang disimpan masyarakat.
”Saya baru sadar kalau penting sekali mempunyai catatan Lota. Mulai sekarang, saya menyempatkan waktu luang membuat catatan harian khusus dengan tulisan Lota, sekaligus untuk selalu mengasah membaca dan menulis,” ungkap Mustafa yang dengan upayanya sendiri mengonservasi aksara Lota di ambang kepunahannya.(Samuel Oktora dan Khaerul Anwar)
www.kompas.com
Monday, 29 November 2010
Siswa SMA di Flores Hilang Terseret Ombak
Categories :
![]() |
| Muara Sungai Nangabaa |
"Saat kejadian, tiga orang temannya masih di darat. Sementara Yakobus begitu masuk ke laut, langsung diseret ombak ke tengah laut," tutur Husni melukiskan kejadian tersebut. Korban sempat berteriak minta tolong kepada teman-temannya, namun tidak bisa diselamatkan karena saat itu ombaknya sangat besar.
Hingga pukul 16.30 Wita korban belum ditemukan oleh tim SAR yang dibantu warga yang melakukan pencarian di sekitar perairan Nangabaa. "Sampai saat ini korban belum ditemukan juga, namun kami masih tetap melakukan pencarian," kata Kapolsek Ende AKP Yulius Ola yang memimpin langsung operasi pencarian.
Saat ini, wilayah Flores terus diguyur hujan sehingga memicu terjadinya banjir. Selain itu, keadaan gelombang laut juga dilaporkan kurang bersahabat akibat anomali cuaca yang semakin sulit ditebak.
www.liputan6.com
Friday, 23 October 2009
Pesawat Transnusa Selamat dari Celaka di Atas Laut Sawu
Ende - Pesawat Transnusa jenis Fokker 50 dengan nomor penerbangan RIU 364 yang baru lepas landas sekitar 5 menit dari Ende tujuan Kupang nyaris celaka di Laut Sawu, Kamis (22/10).
Pesawat yang mengangkut 48 penumpang itu tiba-tiba mengalami kerusakan mesin pada baling-baling sebelah kanan. Begitu lepas landas pukul 08.15, gangguan mesin terjadi di ketinggian 4.000 kaki atau sekitar 30 kilometer (km) dari Ende. Sementara saat itu pemandangan di bawah adalah gelombang laut yang menggelora.
Pilot Transnusa, Agus Maruf saat itu juga memutuskan pesawat mendarat kembali ke Bandar Udara H Hasan Aroeboesman, Ende. Seluruh penumpang pun turun dalam keadaan selamat.
"Saat lepas landas padahal cuaca bagus. Tapi begitu pesawat terbang sekitar 5 menit, terlihat dari kaca baling-baling di sebelah kanan berhenti, saya merasa ngeri sekali. Kemudian pramugari mengumumkan pesawat terpaksa kembali ke Ende karena ada gangguan teknis," kata Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Ende, Abdul Syukur.
Turut di dalam pesawat itu Bupati Nagekeo, Yohanes Samping Aoh, serta 12 anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur. Akibat kerusakan mesin itu, tiga penerbangan Ende-Kupang hari Kamis dibatalkan.
"Waktu kejadian saya merasakan pesawat tidak terus naik, tapi malah turun. Baling-baling sebelah kanan juga tidak berputar. Pesawat lalu berbelok ke kiri, dan mendarat lagi. Saat itu saya hanya pasrah berdoa pada Tuhan, dan akhirnya bersyukur, kami bisa turun dengan selamat," kata Wakil Ketua Sementara DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Willy Nurdin.
Menurut Agus Maruf , dia memang memutuskan pesawat kembali ke Ende demi keselamatan penumpang. "Pesawat mengalami gangguan teknis pada mesin sebelah kanan. Ada kebocoran oli. Sebagaimana mobil, jika oli bocor bisa mengakibatkan kebakaran mesin, maka saat itu saya memutuskan untuk mematikan baling-baling di sebelah kanan, dan mendarat di Ende. Ini demi keselamatan penumpang," katanya.
Namun di sisi lain, masalah baru muncul ketika nasib penumpang terlantar. Mereka yang memiliki urusan penting terpaksa menunda keberangkatan tanpa kejelasan. Padahal penumpang tidak hanya berasal dari Ende, melainkan juga dari luar kota, seperti Nagekeo, Ngada, Manggarai, dan Manggarai Timur.
Pihak manajemen Transnusa akan mengembalikan uang penumpang sesuai dengan harga tiket yang dibeli, jika penumpang meminta uang mereka kembali. Penumpang yang tetap berniat melanjutkan perjalanan ke Kupang, akan diberangkatkan jika pesawat sudah diperbaiki. Diperkirakan perbaikan mesin selesai hari Jumat (23/10), dan penerbangan normal kembali, Sabtu (24/10) mendatang.
"Ini penerbangan dari Ende, bukan dari Ruteng atau Labuan Bajo. Jadi bagi penumpang yang berangkat dari Ende, meski berasal dari luar kota, kami tidak mengganti akomodasi untuk penginapan, konsumsi, maupun transportasi. Sebab mereka berangkat dari daerah asal. Kecuali penumpang transit di Ende, misalkan penerbangan dari Ruteng ke Kupang lalu terpaksa transit (menginap) di Ende, maka akomodasi akan kami tanggung," ujar Manager General Sales Agent (GSA) Transnusa Ende, Heri Wongge.
Para penumpang banyak yang protes atas kebijakan tersebut, hingga akhirnya pihak GSA Transnusa Ende mau menyediakan kendaraan untuk mengangkut penumpang kembali ke daerah asalnya lewat jalur darat.
Dari kejadian ini menunjukkan nyawa manusia di NTT seolah begitu murah. Pihak pemodal juga menguasai pemerintah, maupun masyarakat, sehingga pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Ini juga akibat monopoli bisnis, pihak Pempov NTT harus tegas meng ambil sikap. Kalau perlu Pemprov membeli pesawat sendiri dengan dukungan dana seluruh kabupaten di NTT, kata Anggota DPRD NTT dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Vinsensius Bata.
Melanggar perjanjian
Pihak manajemen Transnusa yang memutuskan mengembalikan uang tiket kepada penumpang, maupun menunda keberangkatan penumpang yang akan ke Kupang itu melanggar perjanjian yang dibuat dengan Pemerintah Kabupaten Ende.
Pada tanggal 25 Juli 2008 telah dibuat perjanjian kerja sama penyertaan modal antara Pemkab Ende sebesar Rp 3 miliar dengan Transnusa.
Pada Pasal 11 dalam perjanjian itu disebutkan, apabila pihak Transnusa mengalami kerusakan armada pesawat, mereka bertanggung jawab memperbaiki atau mengganti dengan pesawat terbang lain yang dimiliki sehingga penumpang tetap terlayani.
"Perjanjiannya jelas, setiap hari Transnusa mesti menjamin penerbangan dari dan ke Ende," kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Kabupaten Ende, Bernadus Guru.
Sunday, 4 October 2009
Masyarakat Minang di Daratan Flores Galang Bantuan
Ende - Masyarakat Minang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Minang Sakato atau IKMS di daratan Flores, Nusa Tenggara Timur menggalang bantuan untuk keluarga korban gempa di Sumatera Barat mulai hari Jumat (2/10).
Mereka telah mendirikan posko untuk menggalang bantuan itu di Hotel H Mansyur, Kabupaten Ende, Flores. Pemerintah Kabupaten Ende pun kemarin (Jumat) menyalurkan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp 25 juta lewat IKMS Kabupaten Ende. Penyerahan bantuan diserahkan oleh Bupati Ende Don Bosco M Wangge yang didampingi Wakil Bupati Ende Achmad Mochdar.
Kami ingin meringankan beban mereka yang tertimpa musibah di Sumatera Barat, dan saya sudah kontak teman-teman lain dari Minang yang ada di Ruteng, Bajawa maupun Larantuka supaya sebaiknya bantuan disatukan di Ende. "Sehingga ketika bantuan itu dikumpulkan menjadi besar, dan cukup membantu mereka," kata Koordinator Penggalangan Bantuan untuk Keluarga Korban Gempa Sumatra Barat, Anas Chan, Jumat, di Ende.
Penggalangan bantuan itu diambil dari anggota IKMS di daratan Flores mulai dari Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Flores Timur.
Anas juga mengatakan, dirinya segera bertolak ke Padang untuk mendata kira-kira apa yang paling dibutuhkan masyarakat di lokasi kejadian .
"Bantuan yang disalurkan nanti paling tidak ada makanan dan obat-obatan, karena kedua jenis ini tentu amat dibut uhkan. Bantuan diperkirakan baru disalurkan ke sana dalam waktu dua minggu ke depan," kata Anas.
Ketua Ikatan Keluarga Minang Sakato Kabupaten Ende, A Djamal Humris mengatakan, bantuan ini akan difokuskan lebih ke Kota Pariaman.
Karena anggota IKMS seperti di Kabupaen Ende 90 persen ber asal dari Pariaman. Kami berharap untuk keluarga korban gempa di Kota Padang, maupun Provinsi Jambi ada bantuan dari pemerintah daerah setempat, kata Djamal.
Bupati Ende Don Bosco M Wangge seusai menyalurkan bantuan lewat IKMS menyatakan, semoga bantuan itu dapat turut meringankan beban keluarga korban gempa.
"Kami juga berdoa agar masyarakat di Sumatra Barat tabah menghadapi bencana ini, dan semoga cepat keluar dari kesulitan. Kami menyal urkan bantuan lewat IKMS Kabupaten Ende diharapkan akan tepat sasaran," kata Don.
Subscribe to:
Posts (Atom)













