Tuesday, 18 September 2012

40 Komodo Dragons Living in Flores Island

0 comments
East Nusa Tenggara (NTT) Natural Resource Conservation Center (BBKSDA) estimates that more than 40 Komodo dragons are living outside the province’s national park in West Manggarai regency.

The agency found Komodo dragons in the sanctuaries of Wae Wuul, Wolo Tadho and Riung in Ngada regency, and in the bays of Nangalili, Watu-Manuk, Ende and Maumere.

“Local people have also reported seeing Komodo dragons in Nampar Sempang village in East Manggarai,” the BBKSDA's head, Wiratno, said on Saturday.

“The Komodo Survival Program has found 28 dragons so far,” he says.

In August, operators from the Wolo Tadho Sanctuary caught a male dragon, which has now been moved to Ontoloe Island. The dragon weighs 24.4 kilograms, is 136 centimeters long and has visible wounds on its back, face and tail.

Medical teams from the conservation center and national park are treating the animal with antibiotics, anti-stress medication and vitamins.

Ontoloe Island is a Komodo dragon habitat located far from civilians, to avoid conflicts with local people. It is approximately twice the size of a soccer pitch, and is located near the Wolo Tadho Sanctuary.
“There are lots of animals for the Komodo to eat on the island, like wild boar, monkeys, deer and forest chickens,” Wiratno said.

A team will also be dispatched next week to search for several dragons that allegedly escaped from their natural habitat in Sambi Rampas district, East Manggarai regency. Local people say the Komodos might have escaped due to a road-building project, for which explosives had been used.

The agency is planning to conserve the rare dragons outside national parks, having surveyed some habitats in the sanctuaries of Wolo Tadho, Riung and Ontoloe Island, using the 2012 regional budget. The study will continue until 2013.
 
“The survey involves the Forest Protection and Natural Conservation Directorate General, the regional administration and civil society organizations,” he said.
 
Read more...
Wednesday, 5 September 2012

Yogi Ahmad Erlangga, Pemecah Persamaan Helmholtz

0 comments
Dosen muda Jurusan Teknik Penerbangan ITB, Yogi Ahmad Erlangga, tak menyangka, desertasi doktoralnya di Delft University of Technology Belanda bakal mendapat sambutan meriah. Dalam desertasinya, dia membahas masalah getaran struktur pesawat yang ditimbulkan oleh kerja mesin maupun faktor lain. Getaran ini perlu diukur untuk mendapatkan informasi soal kekuatan badan pesawat.

Dalam penelitiannya itu, Yogi berhasil memecahkan persamaan matematika yang selama ini sulit dipecahkan. Persamaan itu bernama Persamaan Helmholtz. Penyelia dan pembimbing program doktoral Yogi yang bernama Dr Ir Kees Vuik pun memberi sanjungan atas keberhasilan itu. Dia menyebut Yogi telah berhasil menyelesaikan problem yang telah coba dipecahkan selama 30 tahun.

Berkat temuan Yogi, metode perhitungan komputer yang mempergunakan persamaan tersebut menjadi lebih mudah dilakukan. Temuan ini pun menjadikan reputasi Yogi di kalangan saintis dan matematikawan dunia menanjak.

Institusi riset dunia banyak memintanya datang sebagai peneliti tamu. Saat ini Yogi masih berada di Kanada dan mondar-mandir ke sejumlah kota di Amerika Serikat untuk mempresentasikan temuannya itu dengan disponsori Society Exploration of Geophysics (SEG).

Yang membuat Yogi heran, temuannya itu justru mendapat sambutan lebih antusias dari dunia perminyakan. Padahal, objek yang ditelitinya sama sekali tidak terkait dengan dunia tersebut. Usut punya usut, ternyata temuan Yogi itu bisa mempermudah proses pengukuran dalam pencarian sumber-sumber minyak, atau juga dikenal sebagai proses seismik.  ”Saya hanya diberi tahu bahwa berdasarkan pemecahan itu, satu proses komputasi seismik bisa menjadi 100 kali lebih cepat,” ungkap dia. Saat berkesempatan pulang ke Tanah Air, keheranan itu kemudian diceritakan Yogi kepada rekannya sesama dosen muda di Teknik Penerbangan ITB, Khairul Ummah. Selain sebagai dosen manajemen transportasi udara, pria yang biasa disapa Khoirul ini juga banyak menggeluti dunia teknologi komunikasi dan informasi.

Khairul bersama beberapa koleganya dari kalangan matematikawan serta ahli geofisika dan teknik informatika kemudian mencoba mencari tahu hubungan temuan Yogi dengan proses seismik yang selama ini berjalan. Mereka kemudian menemukan jawaban bahwa sebenarnya, selama ini proses seismik di dunia perminyakan masih terkendala sulitnya proses pemecahan Persamaan Helmholtz.

Selanjutnya Khairul mengungkapkan bahwa proses seismik saat ini sedang mengubah proses penghitungan data berbasis waktu menjadi proses yang berbasis frekuensi gelombang. Biasanya, pencarian sumber-sumber minyak dilakukan dengan cara ‘mengukur’ perut bumi. Pengukuran dilakukan dengan mengirimkan sinyal berupa getaran. Saat ini, kebanyakan survei seismik dilakukan secara dua dimensi (2D). Gelombang yang dikirim ke perut bumi, pantulannya diterima kembali di permukaan.

Kalangan industri minyak sebenarnya bermimpi untuk bisa menemukan metode yang lebih baik, yakni agar bumi dapat di-scan lebih cepat dalam blok-blok tiga dimensi (3D). Sayangnya, kemampuan komputer canggih kini tersedia belum bisa mendukung perhitungan matematisnya yang rumit.

Mulanya, perhitungan dalam survei seismik dilakukan berbasiskan waktu rambatan dan pantulan gelombang. Cuma, proses penghitungan berdasarkan waktu, sekarang dirasakan oleh dunia perminyakan masih memiliki beberapa kelemahan. Mereka menganggap informasi yang diperoleh dari proses ini belum maksimal. Para ahli seismik pun kemudian mencoba mengembangkan metode baru berbasis waktu ini dengan basis frekuensi gelombang. Cara ini dianggap bisa memberikan informasi yang lebih lengkap dan lebih maksimal.

”Proses seismik berbasis frekuensi ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia perminyakan,” tutur Khairul. Cuma, kata dia, proses seismik berbasis frekuensi ini selalu terkendala oleh rumitnya proses penghitungan data di komputer. Menurut dia, penghitungan data proses seismik berbasis frekuensi tetap saja sulit dilakukan meski mengandalkan komputer berkemampuan sangat tinggi atau sering disebut super komputer.

Temuan putera pasangan Mohamad Isis dan Euis Aryati ini, menurut Khairul, bisa membuat perhitungan yang tak terpecahkan super komputer menjadi bisa terselesaikan hanya dengan komputer biasa. ”Tapi harus diakui, tidak mudah untuk langsung bisa memahami dan mengaplikasikan temuan Yogi ini,” tutur dia.

Berdasar temuan dan dengan arahan Yogi, Khairul bersama tim kecilnya sekarang terus berimprovisasi untuk mengembangkan pengukuran yang lebih andal dalam proses eksplorasi sumber-sumber minyak di perut bumi. Tim kecil bernama Waveform Inversion (Waviv) ini rencananya akan terus mengembangkan temuan berdasar temuan Yogi. Keuntungan hasil pemikiran Yogi, menurut dia, adalah penghematan memori komputasi dalam penghitungan data-data seismik. Khairul meyakini, metode yang dikembangkannya kini bisa mengambarkan isi perut bumi secara lebih mudah, murah, cepat dan akurat. Tak hanya itu, menurut dia, metodenya juga tetap andal meski perut bumi yang diukurnya memiliki struktur yang kompleks.

Dia pun mengungkapkan bahwa hasil penelitian Yogi ini tak hanya bisa digunakan di dunia perminyakan tapi juga bisa dikembangkan untuk dunia kedokteran. Proses CT scan maupun USG dalam dunia medis bisa sangat terbantu oleh penelitian tersebut. ”Insya Allah ke depan, kami pun akan riset ke arah itu,” ungkap Khairul.

Read more...
Friday, 31 August 2012

Gara-Gara Iddah, Pemimpin Yahudi Masuk Islam

0 comments
Amerika - Robert Guilhem, pakar genetika dan pemimpin yahudi di Albert Einstein College menyatakan dengan tegas soal keislamannya. Dia masuk Islam setelah kagum dengan ayat-ayat Al-Quran tentang masa iddah wanita muslimah selama tiga bulan. Massa iddah merupakan massa tunggu perempuan selama tiga bulan, selama proses dicerai suaminya.

Seperti dikutip dari societyberty.com, hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan, massa iddah wanita sesuai dengan ayat-ayat yang tercantum di Alquran. Hasil studi itu menyimpulkan hubungan intim suami istri menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik khususnya pada perempuan.

Dia mengatakan jika pasangan suami istri (pasutri) tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Gelhem menambahkan, tanda tersebut akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Karena itu, perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik khusus laki-laki lainnya setelah tiga bulan.

Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Muslim Afrika di Amerika. Dalam studinya, ia menemukan setiap wanita di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka saja.

Penelitian serupa dilakukannya di perkampungan nonmuslim Amerika. Hasil penelitian membuktikan wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. Ini berarti, wanita-wanita non-muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahannya yang sah.

Sang pakar juga melakukan penelitian kepada istrinya sendiri. Hasilnya menunjukkan istrinya ternyata memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya.

Setelah penelitian-penelitian tersebut, dia akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia meyakini hanya Islam lah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin bahwa perempuan muslimah adalah yang paling bersih di muka bumi ini.

Read more...
Tuesday, 17 July 2012

Kerugian Pasar Leces Ditaksir Rp 6,5 Miliar

0 comments
Probolinggo - Pasca-kebakaran Pasar Leces yang meludeskan 400 dari 700 kios (bedak), Pemkab Probolinggo mulai menghitung kerugian material. Rusaknya bangunan fisik akibat kebakaran, Sabtu (14/7) lalu, diperkirakan sekitar Rp 6,5 miliar. “Itu nilai kerugian  bangunan fisik saja, belum termasuk barang dagangan,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya (DPUCK) Kabupaten Probolinggo, Prijono, Senin (16/7) pagi tadi.

Hingga kini belum diketahui berapa kerugian pedagang yang menempati 400 kios yang ludes terbakar. Dinas Pendapatan yang mengelola pasar di Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces itu hingga kini belum mendapatkan laporan lengkap menyangkut kerugian pedagang.

Berdasarkan pengamatan, kerusakan paling parah terlihat di bagian tengah pasar. Konstruksi baja yang menyangga bangunan pasar ambruk. “Kerugian fisik di bagian tengah pasar memang paling besar, sekitar Rp 5,1 miliar,” ujar Prijono.

Sementara itu kios-kios di bagian depan pasar (sisi utara) berupa bangunan bertembok kerusakannya lebih ringan. Prijono menaksir kerugian fisik bangunan di sisi utara itu sekitar Rp 1,2 miliar. “Kerugian fisik paling kecil di bagian belakang pasar, sekirtar Rp 67 juta,” ujarnya.

Agar aktivitas pedagang kembali normal, Pemkab Probolinggo segera membangun 400 bedak sementara. Biaya pembangunan 400 bedak dengan ukuran masing-masing 3 x 2,5 meter itu, kata Prijono, diperkirakan menelan biaya Rp 4,4 miliar.

Bedak permanen itu berupa sekat (dinding) dari kayu lapis (triplek), rangka bangunan dari kayu, berlantai semen, serta beratap asbes. “Pedagang gratis menempati bedak-bedak sementara itu sampai Pasar Leces dibangun kembali,” ujar Sekdakab, Nawi.

Sementara itu Bupati Hasan Aminuddin mengatakan, bedak sementara segera dibangun begitu polisi menuntaskan olah tempat kejadian perkara (TKP). Soalnya, Polres Probolinggo dibantu tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Surabaya bakal turun ke lokasi pasar, Senin (16/7) hari ini.

“Begitu polisi menyelesaikan identifikasi, lokasi pasar dibersihkan. Barulah bedak-bedak sementara dibangun,” ujar bupati. Kerangka besi di reruntuhan pasar juga bakal dihibahkan kepada Paguyuban Pedagang Pasar Leces. ”Kami juga bakal memfasilitasi pinjaman modal Rp 10 juta tanpa agunan dari bank kepada pedagang yang kiosnya terbakar,” ujar bupati.

Didesak Mundur
Tidak berfungsinya hidran di Pasar Leces diduga kuat menjadi faktor yang memperparah kebakaran. Karena itu saat pertemuan dengan para pedagang Pasar Leces di kantor Camat Leces, Minggu (15/7) siang, Kepala Pasar Leces, Tulup, ’diadili’ para pedagang. Disayangkan Tulup tidak hadir dalam pertemuan itu.

”Saya sudah lama mengingatkan Kepala Pasar Leces agar hidran diujicoba dan disosialisasikan kepada pedagang. Kenyataannya tidak dilakukan, dan hidran tidak berfungsi saat terjadi kebakaran,” ujar Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Leces, Kusyono.

Kusyono mendesak Pemkab Probolinggo harus mengganti Kepala Pasar Leces. ”Tolong kepala pasar diganti dengan orang yang lebih baik,” ujarnya. Desakan serupa diungkapkan pedagang lain, Nurul Hadi. ”Sudah terjadi penyalahgunaan fungsi dan jabatan (kepala pasar, Red.). Buktinya hidran tidak berfungsi dibiarkan saja. Itu sebuah kezaliman,” ujarnya.

surabayapost.co.id
Read more...

Tim Forensik Diminta Meneliti Kebakaran di Pasar Leces

0 comments
Probolinggo - Kepolisian Resor Probolinggo, Jawa Timur, akan mengundang Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri wilayah Surabaya untuk mengungkap kebakaran di Pasar Baru Leces, Kecamatan Leces, yang terjadi Sabtu (14/7/2012) lalu.

"Kami juga sudah memeriksa sejumlah saksi untuk dimintai keterangan," kata Kapolres AKBP Gatot Soegeng Soesanto, Minggu (15/7/2012).

Pada hari yang sama, Pemerintah Kabupaten Probolinggo mengumpulkan para pedagang yang kiosnya terbakar di Kantor Kecamatan Leces, guna mencari solusi untuk tempat berjualan pasca-kebakaran. Data terbaru di lapangan menyebutkan, sedikitnya 400 kios terbakar dari 700 kios yang ada.

Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin meminta kasus kebakaran Pasar Leces tidak dikaitkan dengan isu pemindahan pasar. Sebab, menurutnya, kebakaran tersebut adalah musibah yang tidak diharapkan siapapun. "Isu bahwa kebakaran berkait dengan pemindahan pasar adalah isu murahan yang tak jelas sumbernya," katanya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Leces, Kusyono, mengaku telah mendengar isu pemindahan Pasar Leces di Desa Kedawung ke Desa Jorongan pada beberapa bulan lalu. Alasannya, jika musim hujan, Pasar Baru Leces becek dan tak enak dilewati. Namun, Kusyono mengaku tidak tahu darimana isu tersebut datang.

Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil