Saturday, 24 April 2010

Menghidupkan Pesona Benteng Mayangan

0 comments

OLEH: IKHSAN MAHMUDI

DI PANTAI  Mayangan, Kota Probolinggo tepat menghadap ke laut terdapat sebuah  benteng lama. Benteng yang letaknya segaris lurus, sekitar 1 km di sebelah selatan pelabuhan Tanjung Tembaga itu menyimpan sejarah. Tapi sayang kondisinya hancur.
Kesan horor langsung menyergap siapa pun yang mengunjungi benteng yang berbatasan dengan kantor Camat Mayangan itu. Fondasi benteng berupa batu kali sebagian sudah terburai. Demikian juga tembok batu bata tebal yang membentuk benteng segi empat itu, ambrol di sana-sini.
Benteng itu juga dilengkapi menara pengintai yang menghadap ke laut. Bangunan menara pengintai itu kini sudah difungsikan sebagai tempat tinggal warga.
Benteng yang bentuknya mirip gudang lapuk itu di dalamnya juga dilengkapi bunker. Namun lubang bunker yang kini sudah tertutup tanah itu diduga dulu tersambung hingga ke bibir pelabuhan Tanjung Tembaga di sisi barat.

Pada pintu gerbang benteng dari kayu tertera tulisan ”Selain Karyawan Dilarang Masuk”. Sejak beberapa tahun lalu, benteng itu memang ditempati warga untuk tempat pembuatan bubu (penangkap ikan) dari kawat. ”Sudah lama disewa pengusaha perikanan, malah sudah dilengkapi meteran listrik,” ujar Agus, warga Mayangan, Jumat (23/4).
Rencana Pemkot bakal memugar situs benteng pun belum diketahui sebagian warga Mayangan. Bahkan, Peltu (Purn) Maryono, yang rumahnya berhimpitan dengan tembok benteng mengaku, belum tahu rencana Pemkot.

”Oh, mau dipugar sama Pemkot, saya malah belum tahu,” ujarnya ketika diberi tahu rencana Pemkot. Dikatakan, sebanyak 75 kepala keluarga (KK) yang menempati situs benteng berharap tidak digusur terkait pemugaran dan penataan benteng.
Maryono, yang purna tugas dari Batalyon 527 Lumajang mengaku, menempati rumah di situs benteng sejak 1985 silam. Ditanya soal status tanah yang ditempati ia mengatakan, ”Kalau tidak salah ini tanah negara eigendom.”
Sepengetahuan Maryono, kawasan situs benteng dikuasai PT Kereta Api, Kodam V/Brawijaya, dan Pemkot Probolinggo. ”Kami pernah menerima surat ederan dari Aslog Kodam melalui Kodim 0820 Probolinggo terkait status tanah yang kami tempati,” ujarnya.

Dikepung Permukiman
Niat Pemkot Probolinggo ”menghidupkan” kembali benteng peninggalan Belanda itu bisa terganjal status tanah di kawasan tersebut. Juga kendala sosial karena situs benteng di utara Stasiun KA juga sudah dipenuhi sebanyak 75 rumah penduduk.
Setelah menggelindingkan Perda tentang cagar budaya, Pemkot Probolinggo mulai menginventarisasi bangunan bersejarah. Di antara kriteria bangunan cagar budaya, usianya minimal 50 tahun.
Kepala Bappeda Kota Probolinggo, Ir Budi Krisyanto MSi mengatakan, revitalisasi situs benteng mendesak dilakukan. ”Selain untuk menghidupkan bangunan cagar budaya, sekaligus penataan lingkungan,” ujarnya.
Budi Kris -panggilan akrab Budi Krisyanto menambahkan, selama ini Kota Probolinggo  mempunyai banyak bangunan cagar budaya. Di antaranya, Stasiun KA, Gereja Merah (Gereja Bethel Indonesia), Makodim 0821, dan sejumlah rumah peninggalan Belanda.
Sebagian bangunan cagar budaya itu tidak terurus termasuk situs benteng di Mayangan. ”Eman (disayangkan, Red.) kalau benteng itu sampai musnah padahal bernilai sejarah,” ujarnya.
Selain memugar bangunan benteng, kawasan sekitar benteng juga bakal ditata. ”Biar warga luar daerah yang kebetulan mampir di Probolinggo bisa menengok bangunan cagar budaya yang terletak di sebelah utara Stasiun KA itu,” ujar Budi Kris.
Disinggung soal status tanah, kata Budi Kris, Pemkot mengaku, akan berkoordinasi dengan Kodim 0821 dan PT Kereta Api. ”Kami hanya merevitalisasi benteng dan sekitarnya, soal status tanah nanti bisa dibicarakan,” ujarnya.
Sementara itu Dandim 0821, Letkol Arh. Budhi Rianto dihubungi terpisah mempersilakan kalau Pemkot hendak menata situs benteng. “Itu tanah negara, Kodim hanya diminta mengawasi karena dulu merupakan daerah okupansi,” ujarnya.

Read more...

Kertas Leces Lirik Jerami

0 comments
Probolinggo - Setelah masuk kategori salah satu dari delapan perusahaan BUMN yang tiga tahun berturut-turut merugi, PT Kertas Leces (PTKL), Kab. Probolinggo berbenah. Terganjal mahalnya serat kayu (wood pulp), pabrik yang didirikan pada 1939 itu melirik bahan baku jerami, ampas tebu, batang jagung, dan limbah kayu.

“Terus terang kami kelimpungan karena harga wood pulp sejak beberapa minggu lalu naik menjadi 830 dolar AS (sekitar Rp 7,47 juta)  padahal sebelumnya hanya 350 sampai 400 dolar (sekitar Rp 3,6 juta) per metrik ton,” ujar Sekretaris Perusahaan (Sekper) PTKL,  Prof. Dr Ir R Abdul Haris MM ditemui usai upacara Hari Kartini di Lapangan Leces, Rabu (21/4) siang.

Haris yang juga guru besar di Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo itu menambahkan, selain mahal, serat kayu juga mulai langka. Hal itu terkait eco-labelling yang digelindingkan negara-negara maju terkait gencarnya pembabatan hutan lestari untuk wood pulp.

Setelah serat kayu mahal, pabrik kertas tertua di Indonesia setelah PT Kertas Padalarang, Jabar itu melirik bahan non-wood pulp. “Sejak beberapa hari ini kami berhasil mengumpulkan sekitar 500 ton batang padi atau jerami dari petani di sekitar pabrik,” ujar Haris.


Selama ini, jerami juga batang jagung (tebon) biasa dibuang atau dibakar pasca panen. “Kami siap membeli jerami petani yang kadar airnya 50% dengan harga Rp 155 per kilogram. Semakin kering semakin mahal,” ujarnya.

Beberapa kelompok tani, kepala desa, hingga pesantren di Probolinggo pun mengaku siap memasok jerami dan batang jagung ke PTKL.  Selama ini PTKL lebih banyak ”memakan” ampas tebu (bagase). Setiap hari pabrik dengan 2.200 karyawan itu menyerap sekitar 1.000 ton bagase ditambah bahan baku kertas koran bekas. Sedangkan produksinya berupa 500 ton kertas per hari.

PTKL juga berburu sisa (limbah) kayu hingga Lumajang. “Di Senduro, Lumajang potensi sebetan (sisa) kayu di sejumlah penggergajian mencapai 400 ton per hari. Yang sudah dipasok ke PTKL 200 ton dari total kebutuhan 600 ton,” ujar Haris.

Soal bahan baku berupa jerami dan batang jagung, PTKL bisa mengandalkan areal padi (sawah) 47.000 hektare dan areal jagung 63.000 hektare di Probolinggo.

Batubara Kalimantan
Selain bahan baku, kata Haris, komponen terbesar biaya produksi digelayuti mahalnya gas alam sebagai bahan bakar. Dikatakan PTKL pun harus melakukan konversi (perubahan) gas alam ke batubara.

Sebagai perbandingan betapa mahalnya gas alam untuk proses produksi, diperlukan 160 dolar AS per ton kertas. Sementara dengan batubara perlu 80 dolar AS.

Akhirnya pada momen “keramat” pukul 10, tanggal 10, bulan 10 (Oktober), 2009 lalu proyek pembangunan boiler batubara dimulai. Dananya disokong pemerintah (pusat) senilai Rp 175 miliar melalui penyertaan modal negara pada 2007.

Boiler batubara ini diharapkan beroperasi mulai pukul 10, tanggal 10, bulan 10, tahun 2010. “Bukan perkara gila angka keramat 10, tetapi biar mudah diingat,” ujar Haris.

PTKL juga bakal mendatangkan batubara dari Kalimantan melalui pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. “Kebetulan dermaga Tanjung Tembaga yang baru dioperasikan awal April lalu kedalamnnya 6 meter sehingga bisa didarati kapal pengangkut batubara hingga 8.000 ton,” ujarnya.

Dikatakan, kelak boiler PTKL membutuhkan 600 ton batubara/hari. Pihak Administrator Pelabuhan (Adpel) Probolinggo, Wiliyanto juga mempersilakan PTKL menyewa lahan terbuka (open storage) untuk penumpukan batubara di kawasan pelabuhan. “Dari pelabuhan, batubara itu bakal kami angkut dengan dump truk menuju Leces yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer,” ujarnya. isa

surabayapost.co.id
Read more...

Program Siap Kerja Jadi Favorit

0 comments
Probolinggo - Ujian Nasional (UN) untuk siswa SMA telah usai. Meski pengumuman kelulusan belum keluar, sejumlah perguruan tinggi (PT) sudah berlomba-lomba menjaring siswa yang sudah melepas seragam abu-abunya itu.

Tak hanya perguruan tinggi negeri (PTN) yang berebut mahasiswa baru melalui berbagai jalur pendaftaran, mulai dari beragam program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) sampai SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri) hingga PMDK lagi pasca-SNMPTN. Perguruan tinggi swasta (PTS) pun bersaing menyedot pendaftar melalui beberapa gelombang, sebelum dan sesudah pelaksanaan SNMPTN.

Hingar-bingar pendaftaran mahasiswa baru tak hanya terjadi di PTN di Surabaya seperti Unair, ITS, dan Unesa yang sudah membuka pendaftaran melalui jalur PMDK, serta beberapa PTS di Surabaya yang sudah banjir pendaftar meski SNMPTN belum tergelar. Kesibukan dalam menerima pendaftaran mahasiswa baru juga terjadi di kota-kota kecil, bahkan kota-kota kecil yang tak punya PTN seperti Gresik, Madiun, dan Probolinggo.

Dampak dari ketidaklulusan ribuan siswa di SNMPTN memang berimbas pada ramainya pendaftaran di PTS pasca pengumuman hasil SNMPTN. Namun, PTS tak melulu menampung siswa yang tak lulus UNMPTN. Pasalnya, rata-rata PTS menawarkan program yang menjanjikan lulusannya bisa langsung mendapat pekerjaan. Inilah yang menjadi salah satu alasan bagi lulusan SMA untuk langsung mendaftar ke PTS di kotanya, selain ada yang karena tidak lulus SNMPTN.

Dua PTS yang terbilang terbesar di Gresik, Akademi Analisis Kesehatan (AAK) Ungres dan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), misalnya, memiliki cara agar lulusannya tidak lama-lama menjadi pengangguran. Mereka tak hanya mengandalkan kualitas dan fasilitas, tapi juga jaringan alumni. Dengan strategi inilah, sejumlah jurusan menjadi favorit para pendaftar.

“AAK diminati banyak lulusan SMA karena memiliki alat praktik dan laboratorium lengkap, yang juga dipakai tempat praktik oleh mahasiswa dari akademi lain,” kata Prof. Dr. Drs. H Sukiyat SH MSi, Rektor Ungres. "Kendati demikian, kami hanya menerima 50 mahasiswa saja. Ini dilakukan demi mencetak lulusan yang berkualitas, bukan pengangguran,” lanjutnya.

Sedangkan di UMG, yang menjadi favorit adalah Fakultas Teknik (FT). Di fakultas ini, UMG mengandalkan jaringan alumni yang telah bekerja pada level manajer di sejumlah industri di Gresik. “Jaringan inilah yang dimanfaatkan UMG untuk memperlebar kesempatan kerja bagi lulusan FT UMG,” kata Eko Budi Laksono, Pembantu Rektor I UMG.

Di Madiun, dari sekitar 12 PTS, yang terbilang paling favorit adalah IKIP PGRI. PTS lain di Kota Brem ini antara lain Universitas Merdeka, Universitas Katolik Widya Mandala, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Muhammadiyah, Universitas Islam Indonesia (UII) Madiun, Politeknik Madiun, Akademi Kebidanan STISIP Muhammadiyah, Akademi Bakti Husada Mulia, Akademi Keperawatan dr Soedono, Akademi Manajemen Koperasi Tantular, Akademi Sekretaris Widya Mandala, serta Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Widya Yuwana.

Tak bisa dipungkiri, kesejahteraan guru yang terus membaik selama beberapa tahun terakhir ini berdampak pada meningkatnya jumlah pendaftar di perguruan tinggi yang mencetak guru, baik SD, SMP maupun SMA/SMK. Dalam hal ini tentu saja adalah IKIP PGRI, yang terus kebanjiran calon mahasiswa dari dalam maupun luar Madiun, seperti dari Ponorogo, Magetan, Ngawi, Pacitan, bahkan ada beberapa mahasiswa asal Papua dan Kalimantan.

Di Probolinggo, keberadaan PT juga tersebar merata mulai di ujung timur Kab. Probolinggo ada Sekolah Tinggi Teknik (STT) Nurul Jadid dan Institut Agama Islam Nurul Jadid (IAINJ) Paiton. Sedikit ke barat di kawasan ibukota Kab. Probolinggo (Kraksaan) ada Universitas Zainul Hasan (Unzah) Genggong.

Di tapal batas kabupaten dan kota berdiri Universitas Panca Marga (UPM) tepatnya di Desa Pabean, Kec. Dringu, Kab. Probolinggo. Sementara itu di kawasan pabrik Kertas Leces, berdiri Akademi Managemen Ilmu Komputer (AMIK) Taruna Dra Zulaeha. Sedangkan di Kota Probolinggo ada Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bayuangga dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muhammadiyah.

Dari sekian PT, UPM termasuk yang terbesar dari segi jumlah mahasiswa. Kalau di PT lain jumlah mahasiswanya dalam kisaran ratusan, UPM menaungi sekitar 3.000 mahasiswa. Dari segi fakultas dan program pendidikan (prodi), UPM juga paling lengkap.  ”Kami punya 7 fakultas dan 10 prodi,” ujar Pembantu Rektor I UPM, Pudji Agustin.

www.surabayapost.co.id 
Read more...
Monday, 1 March 2010

Umar bin Abdul Aziz Menolak Kendaraan Khusus Kekhalifahan

0 comments
Umar bin Abdul Aziz bin Marwan lahir di Hulwan, sebuah desa di Mesir, tahun 61 H saat ayahnya menjadi gubernur di daerah itu. Ibunya, Ummu ‘Ashim, putri ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Jadi, Umar bin Abdul Aziz adalah cicit Umar bin Khaththab dari garis ibu.

Umar bin Abdul Aziz dibesarkan di lingkungan istana. Keluarganya, seperti keluarga raja-raja Dinasti Umayyah lainnya, memiliki kekayaan berimpah yang berasal dari tunjangan yang diberikan raja kepada keluarga dekatnya. Perkebunan miliknya menghasilkan 50.000 dinar per tahun.

Meski demikian, orangtuanya tak tidak lupa memberi pendidikan agama. Sejak kecil Umar sudah hafal Al-Qur’an. Ayahandanya mengirim Umar ke Madinah untuk berguru kepada Ubaidillah bin Abdullah. Inilah salah satu titik balik dalam hidup Umar bin Abdul Aziz. Ia kini dikenal sebagai orang saleh dan meninggalkan gaya hidup suka berfoya-foya. Bahkan, Zaid bin Aslam berkata, “Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang seorang imam pun yang hampir sama shalatnya dengan shalat Rasulullah saw. daripada anak muda ini, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Dia sempurna dalam melakukan ruku’ dan sujud, serta meringankan saat berdiri dan duduk.” (Zaid bin Aslam dari Anas).


Madinah bukan hanya membuat Umar bin Abdul Aziz saleh, tapi juga memberi perspektif tentang prinsip-prinsip dasar peradaban Islam di masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Umar memiliki pandangan yang berbeda dengan Bani Umayyah tentang sistem kekhalifahan yang diwariskan secara turun temurun.

Ketika ayahandanya meninggal, Khalifah Abdul Malik bin Marwan meminta Umar bin Abdul Aziz datang ke Damaskus untuk dinikahkan dengan anaknya, Fathimah.

Abdul Malik wafat dan kekhalifahan diwariskan kepada Al-Walid bin Abdul Malik. Di tahun 86 H, Khalifah baru mengangkat Umar bin Abdul Aziz menjadi Gubernur Madinah. Namun, pada tahun 93 H Khalifah Al-Walid memberhentikannya karena kebijakan Umar tidak sejalan dengan kebijakannya.

Al-Walid juga berusaha mencopot kedudukan saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, dari posisi Putra Mahkota. Ia ingin anaknya yang menjadi Putra Mahkota. Para pembesar dan pejabat negara menyetujui langkah Al-Walid. Tapi, Umar bin Abdul Aziz menolak.”Di leher kami ada bai’at,” kata Umar diulang-ulang di berbagai forum dan kesempatan. Akhirnya, Al-Walid memenjarakannya di ruang sempit dengan jendela tertutup.

Setelah dikurung tiga hari, ia dibebaskan dalam kondisi memprihatikan. Mengetahui kondisi itu, Sulaiman bin Abdul Malik berkata, ”Dia adalah pengganti setelah saya.”

Di tahun 99 H, ketika berusia 37 tahun, Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah berdasarkan surat wasiat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat diumumkan sebagai pengganti Sulaiman bin Abdul Malik, Umar berkata, ”Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.”

Karena itu, di hadapan rakyat sesaat setelah dibaiat ia berkata, ”Saudara-saudara sekalian, saat ini saya batalkan pembaiatan yang saudara-saudara berikan kepada saya, dan pilihlah sendiri Khalifah yang kalian inginkan selain saya.” Umar ingin mengembalikan cara pemilihan kekhilafahan seperti yang diajarkan Nabi, bukan diwariskan secara turun-temurun. Tapi, rakyat tetap pada keputusannya: membaiat Umar bin Abdul Aziz.

Setelah menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz melakukan gebrakan yang tidak biasa dilakukan arja-raja Dinasti Umayyah sebelumnya.

Para petugas protokoler kekhalifahan terkejut luar biasa. Umar menolak kendaraan dinas. Ia memilih menggunakan binatang tunggangan miliknya sendiri. Al-Hakam bin Umar mengisahkan, ”Saya menyaksikan para pengawal datang dengan kendaraan khusus kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz sesaat dia diangkat menjadi Khalifah. Waktu itu Umar berkata, ’Bawa kendaraan itu ke pasar dan juallah, lalu hasil penjualan itu simpan di Baitul Maal. Saya cukup naik kendaran ini saja (hewan tunggangan).’”

’Atha al-Khurasani berkata, ”Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pelayannya untuk memanaskan air untuknya. Lalu pelayannya memanaskan air di dapur umum. Kemudian Umar bin Abdul Aziz menyuruh pelayannya untuk membayar setiap satu batang kayu bakar dengan satu dirham.”

’Amir bin Muhajir menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz akan menyalakan lampu milik umum jika pekerjaannya berhubungan dengan kepentingan kaum Muslimin. Ketika urusan kaum Muslimin selesai, maka dia akan memadamkannya dan segera menyalakan lampu miliknya sendiri.

Yunus bin Abi Syaib berkata, ”Sebelum menjadi Khalifah tali celananya masuk ke dalam perutnya yang besar. Namun, ketika dia menjadi Khalifah, dia sangat kurus. Bahkan jika saya menghitung jumlah tulang rusuknya tanpa menyentuhnya, pasti saya bisa menghitungnya.”

Abu Ja’far al-Manshur pernah bertanya kepada Abdul Aziz tentang kekayaan Umar bin Abdul Aziz, ”Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Khalifah?” Abdul Aziz menjawab, ”Empat puluh ribu dinar.” Ja’far bertanya lagi, ”Lalu berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?” Jawab Abdul Aziz, ”Empat ratus dinar. Itu pun kalau belum berkurang.”

Bahkan suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik menjenguk Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit. Maslamah melihat pakaian Umar sangat kotor. Ia berkata kepada istri Umar, ”Tidakkah engkau cuci bajunya?” Fathimah menjawab, ”Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain selain yang ia pakai.”

Ketika shalat Jum’at di masjid salah seorang jamaah bertanya, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa tak mau kau pergunakan walau sekedar berpakaian bagus?” Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah pada saat kita kaya dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada pada posisi kuat.”

Seorang pelayan Umar, Abu Umayyah al-Khashy berkata, ”Saya datang menemui istri Umar dan dia memberiku makan siang dengan kacang adas. Saya katakan kepadanya, ’Apakah setiap hari tuan makan dengan kacang adas?’” Fathimah menjawab, ”Wahai anakku, inilah makanan tuanmu, Amirul Mukminin.” ’Amr bin Muhajir berkata, ”Uang belanja Umar bin Abdul Aziz setiap harinya hanya dua dirham.”

Suatu saat Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan Bani Marwan. Ia berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah saw. memiliki tanah fadak, dan dari tanah itu dia memberikan nafkah kepada keluarga Bani Hasyim. Dan dari tanah itu pula Rasulullah saw. mengawinkan gadis-gadis di kalangan mereka. Suatu saat Fathimah memintanya untuk mengambil sebagian dari hasil tanah itu, tapi Rasulullah saw. menolaknya. Demikian pula yang dilakukan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. Kemudian harta itu diambil oleh Marwan dan kini menjadi milik Umar bin Abdul Aziz. Maka, saya memandang bahwa suatu perkara yang dilarang Rasulullah saw. melarangnya untuk Fathimah adalah bukan menjadi hakku. Saya menyatakan kesaksian di hadapan kalian semua, bahwa saya telah mengembalikan tanah tersebut sebagaimana pada zaman Rasulullah saw.” (riwayat Mughirah).

Wahib al-Wadud mengisahkan, suatu hari beberapa kerabat Umar bin Abdul Aziz dari Bani Marwan datang, tapi Umar tak bisa menemui mereka. Lalu mereka menampaikan pesan lewat Abdul Malik, ”Tolong katakan kepada ayahmu bahwa para Khalifah terdahulu selalu memberikan keistimewaan dan uang kepada kami, karena mereka tahu kedudukan kami. Sementara ayahmu kini telah menghapuskannya.”

Abdul Malik menemui ayahnya. Setelah kembali, Abdul Malik menyampaikan jawaban Umar bin Abdul Aziz kepada mereka, ”Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar, jika aku mendurhakai Tuhanku.” Umar mengutip ayat 15 surat Al-An’am.

Umar bin Abdul Aziz pun pernah memanggil istrinya, Fathimah binti Abdul Malik, yang memiliki banyak perhiasan pemberian ayahnya, Khalifah Abdul Malik. ”Wahai istriku, pilihlah olehmu, kamu kembalikan perhiasan-perhiasan ini ke Baitul Maal atau kamu izinkan saya meninggalkan kamu untuk selamanya. Aku tidak suka bila aku, kamu, dan perhiasan ini berada dalam satu rumah.” Fathimah menjawab, ”Saya memilih kamu daripada perhiasan-perhiasan ini.”

’Amr bin Muhajir meriwayatkan, suatu hari Umar bin Abdul Aziz ingin makan apel, kemudian salah seorang anggota keluarganya memberi apel yang diinginkan. Lalu Umar berkata, ”Alangkah harum aromanya. Wahai pelayan, kembalikan apel ini kepada si pemberi dan sampaikan salam saya kepadanya bahwa hadiah yang dikirim telah sampai.”

’Amr bin Muhajir mempertanyakan sikap Umar itu, ”Wahai Amirul Mukminin, orang yang memberi hadiah apel itu tak lain adalah sepupumu sendiri dan salah seorang yang masih memiliki hubungan kerabat yang sangat dekat denganmu. Bukankah Rasulullah saw. juga menerima hadiah yang diberikan orang lain kepadanya?”

Umar bin Abdul Aziz menjawab, ”Celaka kamu, sesungguhnya hadiah yang diberikan kepada Rasulullah saw. adalah benar-benar hadiah, sedangkan yang diberikan kepadaku ini adalah suap.”

Suatu ketika Abdul Malik, putra Umar, menemui ayahnya, dan berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, jawaban apa yang engkau persiapkan di hadapan Allah swt. di hari Kiamat nanti, seandainya Allah menanyakan kepadamu, ’Mengapa engkau melihat bid’ah, tapi engkau tidak membasminya, dan engkau melihat Sunnah, tapi engkau tidak menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat?’”

Umar menjawab, ”Semoga Allah swt. mencurahkan rahmat-Nya kepadamu dan semoga Allah memberimu ganjaran atas kebaikanmu. Wahai anakku, sesungguhnya kaummu melakukan perbuatan dalam agama ini sedikit demi sedikit. Jika aku melakukan pembasmian terhadap apa yang mereka lakukan, maka aku tidak merasa aman bahwa tindakanku itu akan menimbulkan bencana dan pertumpahan darah, serta mereka akan menghujatku. Demi Allah, hilangnya dunia bagiku jauh lebih ringan daripada munculnya pertumpahan darah yang disebabkan oleh tindakanku. Ataukah kamu tidak rela jika datang suatu masa, dimana ayahmu mampu membasmi bid’ah dan menghidupkan Sunnah?”

Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sangat memprioitaskan kesejahtera rakyat dan tegaknya keadilan. Fathimah binti Abdul Malik pernah menemukan suaminya sedang menangis di tempat biaya Umar melaksanakan shalat sunnah. Fathimah berusaha membesarkan hatinya. Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang-orang sakit dan tersia-siakan, orang-orang yang tak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan tertawan dalam perbudakan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, tapi hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya tahu dan sadar bahwa Tuhanku kelak akan menanyakan hal ini di hari Kiamat. Saya khawatir saat itu saya tidak memiliki alasan yang kuat di hadapan Tuhanku. Itulah yang membuatku menangis.”

Malik bin Dinar berkata, ”Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah, para penggembala domba dan kambing berkata, ”Siapa orang saleh yang kini menjadi Khalifah umat ini? Keadilannya telah mencegah serigala memakan domba-domba kami.”

Begitulah Umar bin Abdul Aziz, meski memerintah tidak sampai dua tahun, rakyatnya hidup sejahtera. Umar bin Usaid berkata, ”Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak meninggal dunia hingga seorang laki-laki datang kepada kami dengan sejumlah harta dalam jumlah besar dan berkata, ’Salurkan harta ini sesuai kehendakmu.’ Ternyata tak ada seorang pun yang berhak menerimanya. Sungguh Umar bin Abdul Aziz telah membuat manusia hidup berkecukupan.”

Read more...
Wednesday, 24 February 2010

Sulitnya Merapikan Lembaran Lusuh

0 comments
Probolinggo - Pabrik kertas yang terletak di Desa Leces, Kecamatan Leces, Kab. Probolinggo berdiri sejak republik ini belum merdeka. Didirikan pada 1939 dan beroperasi setahun kemudian,  PTKL menjadi pabrik kertas tertua kedua setelah PT Kertas Padalarang, Jabar. Tetapi usia tua bukan jaminan perusahaan itu semakin sehat kinerjanya. Kini, PTKL justru mirip lansia yang sakit-sakitan.

Menneg BUMN, Mustafa Abubakar di hadapan Komisi VI DPR RI, Senin (15/2) berterus terang, ada 8 BUMN yang merugi 3 tahun berturut-turut. PTKL bertengger di urutan pertama sebagai perusahaan yang merugi pada 2006, 2007, dan 2008.

”Benar yang dikatakan Menneg BUMN, kami memang merugi selama 3 tahun. Pada 2009 belum diketahui rugi atau untung karena masih menunggu audit dari kantor akuntan publik,” ujar Sekretaris Perusahaan (Sekper) PTKL, Prof Dr Ir R Abdul Haris MM, Senin (15/2) malam.

Menurut keterangan Mustafa, PTKL merugi akibat hanya beroperasi 30% dari total kapasitasnya. BUMN berlogo burung hantu itu terus dihantui kesulitan likuiditas, kekurangan bahan baku, dan beban karyawan yang tidak sebanding dengan produksi. Kesulitan pasokan gas alam sebagai bahan bakarnya dianggap pemicu awal beragam kesulitan itu.

Belum lagi masih adanya beban utang. Langkah penyelesaiannya adalah menambah penyertaan modal negara Rp 100 miliar menjadi Rp 175 miliar pada 2007, serta melakukan konversi bahan bakar dari gas alam ke batubara.

Untuk memotret kinerja PTKL yang jeblok pada 2006-2008 paling tidak bisa dibingkai pada periode lima tahunan, semasa Pemilu 2004 hingga Pemilu 2009. Dalam Pemilu 2004, dilanjutkan dengan Pemilihan Presiden di tahun yang sama, PTKL sebenarnya sempat menikmati lezatnya buah pesta demokrasi.

Seorang aktivis buruh SPKL, M. Arham bahkan menyebut saat Pemilu 2004 PTKL meraup keuntungan sekitar Rp 100 miliar. Bisa dikatakan, PTKL yang sebelumnya selama tiga tahun berturut-turut (2001-2003) merugi, baru meraup untung pada 2004.

Di tahun 2005, PTKL menunjukkan kedigdayaannya dengan membagi bonus sebesar Rp 1,4 miliar kepada 3.017 karyawan.

Tetapi saat Pemilu 2009 lalu, PTKL terpaksa gigit jari. Suyono, aktivis buruh lain SPKL menyebutkan, pada Pemilu 2009 dari total kebutuhan 30.000 ton kertas suara dan 10.000 ton kertas pemilih, PTKL hanya mendapatkan jatah 300 ton kertas. Pada 2009 lalu pabrik yang memproduksi beragam jenis kertas seperti kertas cetak dan tulis, kertas koran, hingga kertas tisu itu produksinya terjun bebas. Bahkan sempat selama 6 bulan PTKL berhenti berproduksi. Baru pertengahan Februari 2009, PTKL mulai berproduksi kembali. Sayang, baru sekitar sebulan berproduksi, PTKL dihempas unjuk rasa besar-besaran.

Sekitar 2.300 karyawan dari total 2.600 karyawan PTKL berdemonstrasi di halaman kantor Direksi PTKL. Mereka mendesak pergantian jajaran direksi yang dinilai tidak lagi mampu mengendalikan ”kapal raksasa” (PTKL) yang sebagian buritannya mulai karam.
           
Boiler Batubara
Di antara penyebab meruginya PTKL adalah mahalnya gas alam sebagai bahan bakar. Tentu saja PTKL tak ingin terus menerus bercokol dalam daftar BUMN yang bertahun-tahun merugi. PTKL pun kemudian membangun boiler batubara sebagai pengganti gas alam. Dan momen jam 10, tanggal 10, bulan 10, tahun 2009 seolah demikian sakral bagi PTKL. Soalnya pada momen tersebut dilakukan pemancangan tiang pertama (ground breaking ceremony) pembangunan boiler batubara. Biaya pembangunannya disokong pemerintah pusat senilai Rp 175 miliar melalui penyertaan modal negara pada 2007.

“Diharapkan pada jam 10, tanggal 10, bulan 10, tahun 2010, boiler batubara itu bisa diresmikan dan dioperasikan,” ujar Prof Haris.

Acara pemancangan tiang pertama penuh simbol “keramat” bilangan 10 itu dihadiri Deputi Agroindustri Kementerian BUMN, Ir Agus Pakpahan dan Komisaris Utama PT Kertas Leces, Singgih Riphat. Tampak pula Dirut PT Kertas Leces, Ir Martoyo Sugandi dan Dirut PT Waskita Karya (Persero) Ir M. Kholid MM.
Pejabat Pembuat Komitmen PTKL, Syarif Hidayat melaporkan, konversi gas alam ke batubara menjadi pilihan bijak. “Harga gas alam terus naik sehingga mempengaruhi biaya produksi yang membuat PT Kertas Leces tidak akan bisa bersaing terhadap perusahaan sejenis,” ujarnya.

Dengan menggunakan boiler batubara, kata Syarif, PTKL bisa lebih hemat. “Sebagai perbandingan, pakai gas alam butuh 160 dollar AS per ton kertas, sementara dengan batubara perlu 80 dollar AS,” ujar Syarif.

Ide pembangunan boiler batubara sendiri sudah muncul sejak 2005 silam dan langsung disosialisasikan di tahun yang sama. Tender pertama digelar akhir 2006, namun kontrak kemudian dibatalkan. Tender kedua digelar akhir 2008-awal 2009 yang berakhir tanpa pemenang. Barulah pada tender ketiga, Direksi PTKL berhasil memilih PT Waskita Karya sebagai rekanan proyek boiler batubara.

Soal tender boiler batubara yang bertele-tele itu, Komisaris Utama PTKL, Ir Singgih Riphat mengakuinya. “Mungkin ini proyek BUMN terpanjang, rumit, dan berbelit-belit. Pada tender pertama kontraktor mundur, selanjutnya tidak ada pemenang tender,” ujar Singgih.

Akhirnya pada tender ketiga, Kementerian BUMN menyetujui PT Waskita Karya sebagai rekanan proyek. “Dengan begitu ada sinergi sesama BUMN,” ujar Dirut PT Waskita Karya, Ir M. Khalid MM.

Konversi gas alam ke batubara memang langkah strategis. Boiler batubara bisa menghemat biaya energi hingga 50 persen. “Padahal, energi menyumbang 20 persen komponen biaya produksi,” ujar Dirut PTKL, Ir Martoyo Sugandi.

“Diet” Karyawan
Langkah lain PTKL adalah penyusutan jumlah karyawan. Prof Haris menyebut pabrik kertas modern idealnya mempunyai 1.600-1.700 karyawan, sementara PTKL memiliki lebih dari 2.000 karyawan. Ini pun sudah hasil “diet”. Pada tahun 2007 karyawan PTKL mencapai sekitar 2.500 orang.

“Pengurangan karyawan saat itu bukan APP (atas permintaan perusahaan), tetapi melalui APS (atas permintaan sendiri) sekitar 500 karyawan,” ujar Ketua Serikat Pekerja Sejahtara Kertas Leces (SPSKL), Imam Suliono.

Sebenarnya perusahaan menargetkan 1.000 karyawan, tetapi sekitar 500 saja yang bersedia lengser melalui APS. Mereka ini mendapat pesangon 100% plus 80%. Karyawan yang pesangonnya sesuai UU Menakertrans Rp 100 juta, misalnya, mendapatkan pesangon Rp 180 juta.

Selain pengurangan karyawan, para buruh sebelumnya sudah lebih dulu berkorban. Sejumlah tunjangan seperti tunjangan tetap, tunjangan jabatan, tunjangan shift, hingga tunjangan kesejahteraan dikepras. Contoh kecil, seragam yang dulu berganti tiap tahun, kini berganti 2 tahun sekali. Tunjangan sepatu yang dulu diberikan tiap 2 tahun, kini sudah 4 tahun belum dijatah lagi. Tak hanya itu, jatah gula dan susu bagi karyawan pun dikurangi. Khusus jatah susu diberikan kepada karyawan yang bekerja di lingkungan berbahan kimia. ”Biar badan tetap fit diberi minum susu, tetapi jatah susunya kemudian berkurang,” ujar Ketua SPSKL, Imam Suliono.

Jatah buku tulis yang diterima karyawan pun juga dikepras. Sebelumnya, dalam satu tahun karyawan menerima 12 kali paket buku tulis atau sebulan sekali berisi 30 eksemplar buku tulis. Kini, jatah mereka tinggal 9 kali paket.

Dengan kondisi yang terseok-seok, mengapa PTKL masih dipertahankan?
Deputi Agro Industri Kementrian BUMN, Ir Agus Pakpahan punya jawabannya. Menurut dia, pangsa pasar kertas BUMN yang tinggal 2 persen perlu dipertahankan karena dua faktor. Pertama, sejarah. PTKL adalah salah satu dari 2 perintis industri kertas di Indonesia yang masih bertahan. Kedua, PTKL ramah lingkungan karena PTKL bisa “memakan” (bahan baku) ampas tebu (bagase), jerami, hingga batang jagung. “Bayangkan, 30 ribu hektare areal tebu ekuivalen dengan 500 ribu hektare kayu,” ujar Agus.

Ini juga sesuai dengan tren kertas di dunia yang mengarah ke kertas kuning (brown paper). ”Brown paper atau kertas kuning termasuk non-wood pulp (serat non-kayu), sehat untuk mata, dan prospek pasarnya bagus,” ujar Agus.

Selama ini PTKL”memakan” 1.000 ton bagase ditambah bahan baku kertas koran bekas. Hasilnya, 500 ton kertas baru per hari.

Sayangnya, predikat ramah lingkungan ini terancam oleh menipisnya bahan baku. ”Bagase terus berkurang. Banyak pabrik gula memanfaatkan bagase untuk bahan bakar tambahan mereka sendiri,” ujar Prof Haris. Jadi?

www.surabayapost.co.id
Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil