Minoritas Muslim Rohingya
Meluruskan dan Merapatkan Shaf
Radio Streaming IslamiJeram Sungai Pekalen
Keadaan Minoritas Muslim Rohingya di Myanmar
Sampai bulan ini, reformasi Myanmar dari negara tertutup menjadi negara demokrasi awalnya tampak...More
Pentingnya Meluruskan dan Merapatkan Shaf
“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat (dengan rapih) di hadapan Rabb mereka?”...More
Link Radio Streaming Islami Indonesia
Bagi anda yang ada di perantauan seperti saya dan tidak ada radio islami di sana dan ingin mendengarkan nasyid,...More
Goyang Inul di Jeram Sungai Pekalen
Karakteristik sungai Pekalen berbelok dan bertebing, memiliki panorama alam yang indah,...More
Tuesday, 6 May 2014
Asah Ilmu Kambing, Andi Nata jadi Raja Akikah
Buah yang manis memang bisa dihasilkan dari kerja keras. Andi Nata telah membuktikannya. Kebiasaannya giat belajar dan bekerja sedari masa sekolah mengantarkan dia menjadi salah seorang pengusaha sukses.
Andi yang mulai merintis bisnisnya sebagai peternak kambing, kini menjadi salah satu pengusaha katering khusus akikah besar di Jakarta. Saban bulan, pria asal Plered, Cirebon, ini bisa mendulang omzet Rp 300 juta. Berbagai penghargaan sebagai wirausaha muda, baik tingkat nasional maupun internasional, berhasil ia sabet.
Padahal, Andi tak pernah membayangkan dunia usaha bakal mengharumkan namanya. Dia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya, Sumari, adalah seorang karyawan bengkel furnitur. Adapun sang ibu, Roaenah, adalah ibu rumahtangga. “Mayoritas keluarga saya bertani di Plered,” kata pria berusia 25 tahun.
Beruntung, dia memiliki otak yang encer. Kemampuan akademis pria, yang saban hari ia mengayuh sepeda dari rumahnya ini, selalu unggul. Tak heran, beasiswa kerap menghampirinya semasa sekolah.
Bahkan, sejak SMA, Andi selalu mendapatkan beasiswa. Kondisi ini pun terus berlanjut hingga dia kuliah di Universitas Indonesia. “Yang saya ingat, pesan nenek, enggak boleh takut dengan keadaan, karena kami tak punya apa-apa, saya incar beasiswa,” tutur anak ketiga dari enam bersaudara ini.
Duduk di bangku kuliah membuat Andi punya banyak waktu luang. Tidak seperti saat SMA, dia menyadari, banyak waktu-waktu kosong di sela-sela kuliahnya. Andi pun berpikir untuk memanfaatkan waktu kosong ini untuk menambah koceknya. Berbekal ilmunya saat SMA, dia memberi kursus di sejumlah lembaga bimbingan belajar di Depok.
Hingga suatu ketika, kabar buruk ia terima pada medio 2007. Sang ayah tertimpa kecelakaan kerja dan harus dioperasi dengan biaya Rp 35 juta. Andi pun terketuk hatinya melihat adik-adiknya yang masih kecil dan butuh biaya.
Sayang, duit dari hasil les tidak mencukupi. Sekuat tenaga, Andi mengumpulkan dana untuk keperluan operasi. “Saya meminjam ke orang tua murid dan teman-teman,” kenangnya. Bahkan, untuk membayar pinjaman itu, dia rela tak digaji sebagai guru les privat selama beberapa tahun.
Andi pun rajin mengikuti ajang karya ilmiah di kampus. “Pokoknya, semua yang menghasilkan uang, saya ikuti,” kata dia. Akhirnya, dia berhasil membiayai operasi ayahnya.
Setelah ayahnya benar-benar sembuh, Andi mulai berpikir untuk memberi kesibukan dan penghasilan bagi orang tuanya. Dari situ, kemudian, terlintas ide di benak Andi untuk beternak kambing. Mulailah dia berburu pengetahuan tentang beternak kambing.
Dengan modal Rp 8 juta, hasil tabungannya, Andi mulai merintis peternakan kambing di Plered. Dia membeli empat kambing betina dan satu kambing jantan. Perawatan kambing-kambing ini ia serahkan ke orangtua dan sejumlah saudaranya di kampung.
Tak lupa, Andi terus mengasah ilmunya soal kambing. Dari seorang teman, dia mendapat info adanya peternak besar di Jakarta Utara. Andi pun segera mendatanginya dan mengungkapkan niatnya untuk mempelajari seluk-beluk soal beternak kambing. Berbulan-bulan, Andi tinggal di sana. “Dari sana, saya sadar, dalam bisnis, kuncinya tekun dan tahu diri. Selama di sana, saya bantu dengan bersih-bersih juga,” kata dia.
Andi selalu bercerita tentang peternakan kambing itu kepada teman-teman yang ditemuinya dalam berbagai komunitas. Lantaran benar-benar ingin terjun ke dunia bisnis, dia lantas bergabung dalam berbagai komunitas. Melihat hasil peternakannya, sejumlah teman pun tertarik bergabung. Hingga pada akhir 2009, peternakan Andi telah memiliki 258 ekor kambing, dengan suntikan modal 20 investor.
Sayang, penjualan kambing terbesar hanya bisa dilakukan saat Idul Adha. Andi pun kembali harus memutar otak. Ketika berkunjung ke peternakan tempatnya berguru, Andi mendapat masukan untuk berbisnis katering. Mulailah Andi dengan usaha katering akikah dengan nama Raja Aqiqah. “Tapi saya tak memasak sendiri, masakan dikirim oleh Pak Haji, pemilik peternakan itu,” cetus dia.
Bisnis katering ini cepat dikenal. Maklum, Andi rajin keluar masuk gang di Depok untuk menempel brosur setiap malam. Ia juga masuk ke komunitas yang tepat. “Biar enggak malu, kalau memasang brosur pakai helm,” kelakarnya.
Bisnis ini lebih menggiurkan daripada peternakan kambing. “Untungnya lebih besar, bisa sampai Rp 250.000 per ekor kambing,” ujar pria kelahiran 7 Januari 1989.
Kebetulan, di saat yang sama, tepatnya 2010 akhir, ada investor yang tertarik membeli kambing di peternakan Andi. Investor itu ingin memulai usaha penggemukan kambing. Tak berpikir lama, Andi menerima tawaran itu karena ingin fokus membesarkan bisnis katering dan mengubah peternakannya menjadi pembiakan kambing.
Pada 2011, Andi mulai membesarkan usaha katering dengan membenamkan investasi hingga Rp 150 juta. Dia pun mencari jurumasak sendiri untuk kateringnya. “Kebetulan, ada orang yang pintar masak, tapi lagi nganggur,” jelasnya.
Didukung oleh masakan yang lezat, bisnis kateringnya pun melesat. Pesanan selalu datang setiap hari, bahkan jangkauannya juga lebih luas, bukan cuma di Depok.
Tak berhenti di bisnis katering akikah, Andi pun menjajal bisnis properti pada 2012. Dia membeli rumah-rumah seken, dan merenovasinya untuk dijual kembali. Belum cukup, dia melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka usaha traveling. Sejak tahun lalu, melalui bendera PT Andinata Sumari,
Andi menawarkan perjalanan umrah dan haji plus.
Kejar S-3 untuk Perluas Jaringan
Lantaran sibuk mencari uang di masa-masa awal menjadi mahasiswa, kuliah Andi Nata sempat terbengkalai. Maklum, saat itu, dia sudah merasakan nikmatnya bekerja dan punya penghasilan sendiri. Andi bercerita, uang dari hasil memberi bimbingan belajar bisa mencapai Rp 4 juta per bulan. “Ini hasil yang cukup besar bagi saya waktu itu,” kata Andi yang mengambil jurusan teknik mesin untuk jenjang S-1.
Setelah mendapat pencerahan dari salah satu orang tua murid, yang meneruskan sekolah meski sudah menjadi pengusaha sukses, barulah Andi kembali serius menekuni kuliahnya. “Dulu, saya suka datang, lalu pulang duluan, karena mengejar waktu untuk memberi les,” ucapnya.
Pasalnya, bukan hanya di kawasan Depok, saat itu jangkauan Andi bisa mencapai kawasan Jakarta dan Bekasi. Tak heran, saat kembali duduk ke bangku kuliah, Andi harus mengulang hingga 10 mata kuliah lagi.
Andi merasa perlu untuk terus membekali diri dengan pendidikan. Dan, ia pun makin yakin bahwa dari pendidikan itu ia bukan cuma memperoleh ilmu baru. “Dengan kuliah lagi, saya bisa memperluas jaringan untuk mendukung bisnis,” jelasnya. Dia pun mengakui, pesanan banyak datang dengan promosi dari mulut ke mulut, yang juga dilakukan oleh sesama rekannya di kampus.
Selain itu, dia bisa mengaplikasikan berbagai teori yang diperolehnya dengan praktik di lapangan. Untuk menggugah semangatnya terus menyala, tak lupa, Andi pun melahap berbagai buku motivator.
Setelah menyelesaikan jenjang S-1, Andi pun melanjutkan pendidikannya menempuh jenjang S-2 di Teknik Industri, Universitas Indonesia. Kini, dia sedang mempersiapkan jenjang lebih tinggi lagi, yakni S-3 dengan mengambil konsentrasi ilmu manajemen, masih di universitas yang sama.
Tentu saja, Andi tak ingin menyimpan semua ilmunya sendiri. Kini, selain menjalani peran sebagai mahasiswa, dia juga sering menjadi dosen tamu di beberapa universitas.
Penasaran Hartati, Buka Jalan jadi Juragan
Terjun ke dunia bisnis, bagi Hartati Hartono, merupakan suatu ketidaksengajaan. Dia terpaksa menjalankan usaha boneka, yang awalnya dirintis oleh sang ayah. Namun, perempuan 47 tahun ini berhasil membuktikan kepiawaian dan keuletannya berbisnis. Menggeluti bisnis boneka selama 21 tahun, kini dia memproduksi 900.000 boneka per tahun di bawah kibaran bendera PT Royal Puspita.
Perempuan kelahiran Semarang, 16 Juli 1967, ini tak pernah bercita-cita menjadi pengusaha. Tak heran, ketika lulus SMA, alih-alih mengambil jurusan ekonomi atau bisnis, Hartati memilih studi Sastra Asia Timur di Toronto, Kanada, karena ingin mendalami sejarah dan budaya di kawasan Asia Timur.
Bersamaan ketika ia lulus kuliah, pada 1991, sang ayah diajak teman lamanya, merintis bisnis boneka. Diiming-imingi kebutuhan modal yang tak besar, ayah Hartati pun menerima tawaran bisnis tersebut. Apalagi, bisnis boneka sedang booming kala itu.
Ketika ayahnya mengadakan pelatihan untuk karyawannya, Hartati ikut serta. “Bukan karena niat bekerja dengan ayah, saya ikut pelatihan selama empat bulan, melainkan karena penasaran dengan cara memproduksi boneka,” jelas dia.
Namun, ketika usaha boneka baru mau berjalan, orang-orang yang direkrut sang ayah malah hengkang. Termasuk, orang yang menjadi kandidat pemimpin perusahaan. Di sini terbuka pikiran Hartati untuk membantu sang ayah. Maklum, perusahaan masih benar-benar baru, sementara pabrik sudah siap. “Saat itu, niat saya hanya membalas budi ke ayah yang sudah menyekolahkan saya jauh-jauh,” ujar Hartati yang saat itu baru berumur 24 tahun.
Hartati pun duduk menjadi pengendali perusahaan, menggantikan ayahnya, yang melanjutkan bisnis lamanya. Meski pabriknya sudah terbangun sejak 1991, PT Royal Puspita baru memproduksi boneka pada 1993. Dengan 50 mesin jahit, Hartati mempekerjakan sekitar 150 karyawan.
Harus Pegang Lisensi
Untuk memasarkan bonekanya, Hartati menjalin kerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan yang bertindak sebagai agen penjual. “Buyer mengorder boneka ke agen di Korea Selatan, tapi kami yang memproduksi di Indonesia dan mengirimkannya ke luar negeri,” kata dia. Berbagai produk boneka Royal Puspita pun diekspor ke berbagai negara, terutama Amerika Serikat (AS).
Sayang, ketika roda bisnis berjalan dengan baik selama lima tahun, krisis moneter yang mendera Indonesia ikut berimbas pada Royal Puspita. Pasalnya, Indonesia dimasukkan dalam kategori war zone. Karena dianggap tidak aman, kargo dari sini ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa dikenakan biaya tambahan US$ 1.000. Bagi Royal Puspita, surcharge itu berarti kenaikan biaya pengiriman hingga 25%.
Banyak klien dari AS dan Eropa pun mengurungkan niat mengorder boneka dari Indonesia. Hartati harus rela mengurangi karyawan hingga 50%. “Tidak ada yang dikerjakan,” ujar dia.
Hartati pun segera memutar otak supaya roda perusahaan terus berjalan. Dia melirik bisnis lisensi dari perusahaan besar di AS, yakni Disney. “Supaya gampang dalam pemasaran, produsen harus pegang lisensi merek internasional,” tutur dia.
Tak hanya lisensi, Hartati juga mengembangkan produk. Pabriknya tidak lagi membatasi diri sebagai pembuat boneka karena pesanan boneka sudah sangat sedikit. Hartati menjatuhkan pilihan pada produk tas boneka yang kebetulan sedang tren di AS pada waktu itu. Produk ini memang jarang dikerjakan oleh produsen boneka. Di lain pihak, produsen tas tidak mau menerima orderan tas boneka, karena kesulitan untuk membikin modelnya.
Peluang ini tidak disia-siakan Hartati. Apalagi, saat itu, China terkena pembatasan pengiriman tas boneka ke AS dan Eropa. Alhasil, “Dari tas boneka, Royal Puspita survive di saat sekarat,” tutur ibu tiga anak ini.
Namun, diakui Hartati, perjuangan mendapatkan lisensi tidak mudah. Sebagai produsen boneka, Royal Puspita harus bersedia diaudit habis-habisan. Dia juga harus melakukan berbagai perbaikan agar pabriknya memiliki standar mutu yang diinginkan pemilik lisensi.
Dari bahan, tenaga kerja, operasional pabrik dan hal-hal kecil lain, harus sesuai dengan standar dan aturan. Ambil contoh, toilet. Satu toilet hanya boleh digunakan untuk 16 orang.
Untuk memenuhi standar itu, dia harus menambah toilet di pabriknya. “Hal-hal kecil juga harus diperhatikan, makanya tidak banyak pabrik boneka yang sanggup,” kisah dia.
Kelihaian berbisnis Hartati kembali diuji ketika pembatasan kuota tas boneka China dicabut pada 2001. Dia harus menggali peluang yang ada, setelah tas boneka China kembali merajai pasar. Dia pun beralih ke kostum tokoh kartun. Supaya dapat lisensi, Royal Puspita lagi-lagi harus lulus audit. Meski berat, toh, perjuangan Hartati berbuah manis. Produk kostum ini mencatatkan pendapatan US$ 2 juta selama setahun.
Setelah melewati berbagai rintangan, Hartati menyadari untuk bertahan di bisnis boneka, ia harus bersaing di level atas dengan memegang lisensi. Apalagi, Di China, tidak banyak perusahaan punya standar klasifikasi seperti perusahaan berlisensi. “Itu juga mempersempit persaingan,” kata dia.
Kini, produk Royal Puspita kini laris manis di pasar mancanegara. Selain AS dan beberapa negara di Eropa, ia juga mengekspor produknya ke Jepang. Hartati bilang, 50% di antaranya merupakan produk lisensi, seperti Disney, Spongebob, San Rio, Sesame Street, Nickelodeon, Cartoon Network, dan Shaun the Sheep.
Berbagai boneka yang dijual Royal Puspita dibanderol dengan kisaran harga US$ 1–US$ 30 per item. Dari bisnis ini, perusahaannya mengantongi omzet berkisar US$ 6 juta–US$ 7 juta per tahun.
Merangsek Pasar Lokal
Belasan tahun memasok boneka ke mancanegara, ternyata, tidak membuat Hartati Hartono puas. Bersama sang suami, Sudarman Widjaja, Hartati berharap bisa membesarkan perusahaannya dan tetap bergelut di bisnis boneka.
Di masa mendatang, dia berharap PT Royal Puspita bakal memproduksi boneka untuk kebutuhan pasar lokal. Hartati mengidamkan orang Indonesia bisa bermain boneka berkualitas yang bagus dan aman.
Selama dua tahun ini, Royal Puspita mulai menjajaki pasar lokal. Lewat pemasaran mulut- ke mulut, ia kerap mendapat order dari sejumlah bank untuk menyediakan boneka sebagaipromotion gift. Pesanan dari bank itu mencapai 15% produksi Royal Puspita.
Namun, setahun belakangan tidak banyak lagi bank mengadakan program hadiah boneka. Alhasil, produksi boneka untuk pasar lokal turun menjadi hanya 10%.
Ini jadi tantangan tersendiri bagi Hartati. Menurut dia, masyarakat Indonesia masih memandang sebelah mata produk buatan lokal. Apalagi jika banderol harganya mahal. “Mungkin dipikir, buat apa bayar mahal-mahal hanya untuk beli boneka,” kata dia.
Hartati menjelaskan, produknya memang tergolong mahal karena sudah berkali-kali dites dan mendapat sertifikat internasional. Sementara itu, untuk melewati satu tes saja, ia harus membayar sekitar US$ 2.000. Namun, tes itu harus dilalui supaya produknya terbukti aman bagi anak-anak.
Pasalnya, sekarang ini banyak sekali mainan boneka yang tidak memenuhi standar. “Boneka saya kalau dicuci tidak gampang luntur, bahkan kalau mau diemut sama bayi pun tetap aman, tidak mengakibatkan kanker,” ucap dia berpromosi.
Hartati menambahkan, kebanyakan produsen menurunkan standar ketika menjual produknya untuk pasar lokal. Namun ia tidak mau begitu. “Kami bekerja dari hati, jadi rasanya tidak tega menjual barang dengan kualitas jelek sementara kami sudah tahu standarnya seperti apa,” ungkap dia.
Investasi Syariah Lebih Aman dan Untung di Sukuk Ritel SR-006
Pemerintah menawarkan seri obligasi halal terbaru kepada publik mulai tanggal 14 Februari 2014 sampai tanggal 28 Februari 2014. Selain menawarkan imbal hasil lumayan tinggi, surat utang eceran ini juga bisa dibeli dengan dana tak terlalu besar. Berminat? Segera siapkan kocek Anda.
Namun sebelum itu, mari berkenalan terlebih dahulu dengan instrumen yang bernama Sukuk Ritel (Sukri) seri SR-006 ini. Sukri SR-006 diluncurkan pemerintah dengan aset dasar atau underlying asset proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (2014). Catatan saja, selama ini, obligasi negara, baik syariah maupun konvensional menjadi salah satu sumber dana negara.
Pemerintah menawarkan imbal hasil setara 8,75% per tahun untuk para pembeli SR-006. Setelah masa penawaran berakhir, pemerintah akan mencatatkan Sukri di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Maret 2014. Adapun periode jatuh tempo adalah tiga tahun. Artinya, pemerintah akan membayar lunas surat utang ini pada 5 Maret 2017. Selama periode itu, investor akan menerima imbalan tiap bulan mulai 5 April 2014.
Pemerintah membidik investor warga negara Indonesia untuk berinvestasi. Calon investor dapat memesan dengan nilai minimal pembelian Rp 5 juta, berlaku kelipatan, dengan batas maksimal pembelian Rp 5 miliar. Harga per unitnya sebesar Rp 1 juta.
Dari hasil penawaran selama dua pekan mendatang, pemerintah lewat Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan menargetkan bisa menjaring dana Rp 15 triliun - Rp 20 triliun.
Para analis menghitung, nilai penerbitan SR-006 tak jauh berbeda dengan tahun lalu yang sebesar Rp 14,97 triliun. Sebagian dari mereka memperkirakan, nilai penerbitkan sukuk kali ini akan mentok di kisaran Rp 17 triliun.
Apa untung berinvestasi di Sukri SR-006?
Imbal hasil 8,75% per tahun dari pemerintah menjadi daya tarik SR-006. Yudistira Slamet, Assistant Vice President Head of Debt Research Danareksa Sekuritas menilai, kupon tersebut sesuai dengan kondisi pasar saat ini. "Instrumen ini cukup menarik bagi investor sehingga permintaan juga cukup tinggi," ujar Yudistira.
Melihat ke belakang, pemerintah hanya menawarkan imbal hasil 6% pada penerbitan sukuk tahun lalu, yaitu sukuk seri SR-005 yang bernilai Rp 14,9 triliun. Imbal hasil sukuk itu di pasar sekunder, seperti dikutip Bloomberg, saat ini berada di kisaran 8,39%. Imbal hasil SR-006 ini juga bersaing dengan tawaran kupon obligasi ritel non-syariah pemerintah yang diterbitkan Oktober tahun lalu, ORI-10, yang berada di angka 8,5%.
Apabila melihat keluhan pasar mengenai BI rate yang sudah terlalu tinggi, ada potensi BI menurunkan lagi bunganya di semester II nanti. Global Markets-Financial Analyst Manager PT Bank Internasional Indonesia Tbk, Anup Kumar meramal, ini akan menyebabkan obligasi ritel ORI-11 yang diterbitkan pemerintah nanti di tahun ini, tak menawarkan bunga lebih tinggi dari SR-006.
Karena itu, imbal hasil SR-006 terbilang menarik. Dibandingkan deposito pun masih lebih memikat. Kumar juga menilai, SR-006 masih lebih menarik dibandingkan deposito. Rata-rata bunga deposito 10 bank besar saat ini sekitar 6,475% per tahun. Selain itu, pajak penghasilan (PPh) imbal hasil SR-006 yang hanya 15%, lebih kecil dari pajak bunga deposito yang mencapai 20%. Imbal hasil SR-006 setelah pajak PPh adalah 7,44% per tahun.
Langkah Bank Indonesia (BI) yang kemarin mempertahankan bunga acuan di angka 7,5% membuat SR-006 kian menarik. "Ada spread 125 basis poin untuk kupon SR-006,” ujar Kumar.
Kumar memberi simulasi. Jika investor menaruh dana pada SR-006 sebesar Rp 100 juta, ia akan mendapat imbal hasil bersih setelah pajak sekitar Rp 619.791,16 per bulan. Sedangkan, total imbal hasil yang didapat hingga jatuh tempo menjadi Rp 22,31 juta.
Hantu inflasi?
Namun, laiknya, invstrumen investasi lain, imbal hasil sukuk SR-006 juga terpapar inflasi. Pertanyaannya, apakah sukuk SR-006 mampu meredam dampak inflasi. Ketika harga barang-barang naik, nilai uang menjadi lebih rendah. Duit yang disimpan untuk membiayai masa depan juga terancam tak mampu menutupi kebutuhan saat itu.
Keberhasilan SR-006 menyelamatkan nilai uang, tergantung dengan pergerakan inflasi. Sekadar gambaran, Januari lalu inflasi tahunan mencapai 8,22%. Jika inflasi tak bergerak dari angka 8% di masa mendatang, tentu, menyimpan duit di sukuk ritel yang memberikan imbal hasil bersih 7,44% belum mampu mengalahkan inflasi.
Mari berharap, semoga tahun ini pemerintah bisa menjinakkan inflasi. Pemerintah telah berjanji akan mengawasi hal-hal yang bisa membuat inflasi melejit, seperti kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) mulai Mei nanti, harga elpiji, dan bahan pangan yang harganya berisiko naik karena cuaca tak menentu.
Di tahun politik ini, BI sendiri menargetkan, inflasi berada di level 4,5% plus minus 1%. Sedangkan tahun depan, target BI lebih rendah lagi, inflasi hanya 4% plus minus 1%.
Beli SR-006 di mana?
Jika tertarik, calon investor bisa mendatangi agen-agen penjual Sukri. Pemerintah telah menunjuk 28 agen penjual yang terdiri dari bank dan sekuritas. Pemesanan bisa dilakukan pada 14 Februari - 28 Februari 2014. Untuk memesan, Anda harus membawa foto kopi KTP yang masih berlaku.
Beberapa agen penjual menyiapkan cabangnya agar penjualan Sukri mudah dijangkau investor. Misalnya, untuk pembelian di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, investor bisa membeli sukuk ritel seri SR 006 di sentra layanan prioritas (SLP), kantor cabang, serta kantor cabang pembantu BRI di seluruh Indonesia. Tapi, ada ketentuan khusus, investor harus memiliki rekening BRI.
Calon investor wajib mengisi formulis pembelian sukuk ritel ini. Dalam formulir, investor harus mencantumkan jumlah pemesanan yang diinginkan. Nanti, setelah masa penawaran, agen penjual menyerahkan total permintaan yang masuk ke DJPU Kementrian Keuangan. Kemudian, DJPU akan menetapkan penjatahan pada setiap agen penjual.
Jadi, bisa saja, ada investor yang tidak memperoleh jatah sesuai pemesanan karena permintaan yang masuk membeludak (oversubscribed). Tapi, jatah agen penjual yang tidak mencapai target dapat dialihkan ke agen lain yang kelebihan permintaan.
Nah, jika investor sudah mendapat kepastian jumlah dana yang diinvestasikan di SR-006, penyetoran dana bisa dilakukan melalui rekening investor. Jadwal penyetoran akan diumumkan DJPU.
Sebagai gambaran, BTN yang memulai debut sebagai agen penjual Sukri tahun ini menargetkan bisa menyerap permintaan Rp 350 miliar. Tahun lalu, BRI menyerap penawaran Rp 800 miliar. Bank Mandiri menargetkan penjualan Rp 1 triliun. Sedangkan Bank Central Asia (BCA) optimistis bisa menjual sukuk hingga Rp 1,4 triliun.
Bisa dijual kembali?
Investor tak harus menyimpan sukuk ini hingga jatuh tempo. Anda juga bisa melakukan jual-beli di pasar sekunder sebulan setelah penerbitan sukuk SR-006. Mekanisme jual-beli ini bisa dilakukan di bursa, dengan menyampaikan minat beli atau jual ke Bursa Efek Indonesia (BEI).
Apabila terjadi kesesuaian harga antara investor penjual dan investor pembeli, transaksi bisa diselesaikan melalui mekanisme bursa. Selanjutnya, perusahaan efek yang ditunjuk akan menyelesaikan transaksi jual beli sukuk ritel tersebut.
Transaksi di luar bursa atau over the counter (OTC) juga bisa dilakukan. Caranya pembeli dan penjual melakukan negosiasi harga. Selanjutnya perusahaan efek yang ditunjuk akan menyelesaikan transaksi jual beli sukuk ritel tersebut.
Analis obligasi MNC Asset Management, Akbar Syarief menilai, SR-006 diminati investor kemungkinan karena tawaran kupon yang menarik. Ada faktor likuiditas jarang menjadi pertimbangan. "Sukuk tidak lebih likuid di pasar sekunder jika dibandingkan obligasi konvensional," kata dia, akhir bulan lalu.
Namun, Nicky Hogan, Presiden Direktur PT Reliance Securities Tbk pernah bilang, ia lebih menyukai berinvestasi di obligasi sukuk dan ORI karena lebih likuid dibanding investasi lainnya, misalnya properti. Selain itu, karena dijamin pemerintah, risikonya lebih mini.
Menurut Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), seri sukuk ritel merupakan seri sukuk paling likuid. SR-005 merupakan seri sukuk teraktif obligasi pemerintah dengan volume transaksi mencapai Rp 524 miliar dalam periode 3 Februari-7 Februari lalu, dengan frekuensi transaksi 56 kali.
Penerbitan Sukuk Negara Ritel
| SR-005 | SR-006 | |
| Rp 14,97 triliun | Nominal penerbitan | *Rp 17 triliun |
| 6% per tahun | Tingkat imbalan | 8,75% per tahun |
| 27 Februari 2013 | Penerbitan | 5 Maret 2014 |
| 27 Februari 2016 | Jatuh tempo | 5 Maret 2017 |
| Tanggal 27 setiap bulan | Pembayaran imbalan | Tanggal 5 setiap bulan |
| Rp 20,87 triliun | Total pemesanan | *Rp 20 triliun |
Sumber: DJPU dan wawancara
* prediksi analis
* prediksi analis
28 Agen Penjual Sukri
PT Bank ANZ Indonesia
PT Bank BRI Syariah
PT Bank Central Asia Tbk
PT Bank CIMB Niaga Tbk
PT Bank Danamon Indonesia Tbk
PT Bank DBS Indonesia
PT Bank Internasional Indonesia Tbk
PT Bank Mandiri Tbk
PT Bank Muamalat Indonesia
PT Bank Negara Indonesia Tbk
PT Bank OCBC NISP Tbk
PT Bank Panin Tbk
PT Bank Permata Tbk
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
Bank Syariah Mandiri
PT Bank Tabungan Negara Tbk
Standard Chartered Bank
The Hongkong and Shanghai Banking Corp (HSBC)
PT Bahana Securities
PT Danareksa Sekuritas
PT Mandiri Sekuritas
PT Maybank Kim Eng Securities
PT Mega Capital Indonesia
PT Reliance Securities
PT Sucorinvest Central Gani
PT Trimegah Securities
PT Valbury Asia Securities
Sumber: Ditjen Pengelolaan Utang
Friday, 2 May 2014
Simak Apa Kata Jokowi Soal Buruh Outsourcing
Jakarta - Bakal calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo angkat bicara terkait penerapan sistem alih daya (outsourcing). Pada aksi untuk rasa Hari Buruh, Kamis (1/5/2014), banyak yang menyerukan untuk tidak memilih Jokowi di Pilpres 2014.
Sebab, sistem outsourcing merupakan kebijakan Megawati Soekarnoputri, saat menjabat sebagai Presiden RI. Megawati adalah ketua umum PDI-P, partai yang mencalonkan Jokowi sebagai presiden Indonesia mendatang.
"Kembali lagi ke undang-undangnya. Kalau di dalam undang-undangnya tidak boleh menerapkan outsourcing dan di lapangan ada yang menerapkan, ya tidak benar," kata Jokowi, di Taman Suropati 7, Jakarta, Kamis (1/5/2014).
Jika kelak menjadi presiden, lanjut Jokowi, dia akan tetap memimpin berlandaskan undang-undang dan konstitusi yang berlaku. Sistem outsourcing itu berlaku sesuai dengan Undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.
Adapun lima jenis pekerjaan yang diperbolehkan menggunakan tenaga outsourcing adalah cleaning service, keamanan, transportasi, katering, dan pemborongan pertambangan.
Sebagian buruh dari Gabungan Solidaritas Perjuangan Buruh (GSPB) Bekasi mengimbau Jokowi untuk menjadi capres yang berani menghapus sistem outsourcing. Menurut mereka, penghapusan sistem ini merupakan bagian dari komitmen seorang capres dalam memperjuangkan nasib buruh.
Menanggapi hal tersebut, Jokowi menegaskan dirinya tetap akan mengikuti peraturan yang berlaku. "Sekali lagi, pertumbuhan ekonomi penting. Tapi, yang lebih penting lagi adalah pemerataan. Kembali lagi, kita harus berdasar undang-undang dan konstitusi," kata Jokowi. (Kurnia Sari Aziza)
Belajar dari Bencana Investasi
Categories :
Oleh Lukas Setia Atmaja
Lagi-lagi investasi bodong. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kasus investasi pada agrobisnis, CV Panen Mas. Modus operandinya tidak istimewa. Pemilik CV Panen Mas menjual paket investasi yang menjanjikan keuntungan yang teramat menggoda. Padahal, investasinya cuma kebun singkong, ternak ayam dan puyuh. Ujungnya, pemilik CV Panen Mas kabur membawa pergi uang investor.
Yang membuat kasus ini berbeda adalah keterlibatan independent financial planner sebagai pemberi rekomendasi. Salah seorang investor Panen Mas yang berinvestasi atas dasar rekomendasi tersebut kemudian menulis di surat pembaca Harian KOMPAS. Kasus ini kemudian menjadi pembicaraan hangat di media sosial, meramaikan bantah membantah antara sang investor dan financial planner-nya (Kontan.co.id, 17-19 Februari 2014).
Sang investor maupun financial planner-nya senasib. Sama-sama jadi korban dari pemilik CV Panen Mas yang diduga menjalankan skema ponzi alias investasi bodong. Si investor terancam kehilangan duit, sang financial planner bisa kehilangan muka. Kasus ini sejatinya bisa dihindari jika keduanya lebih teliti sebelum berinvestasi dan memberikan rekomendasi.
Independent financial planner bisa dianalogikan seperti seorang dokter. Sang dokter, setelah mendiagnosis kondisi pasien, membuat program bagi sang pasien. Pasien yang putuskan apakah akan menjalankannya. Jika sakit pasien tidak sembuh atau makin parah akibat salah diagnose dan program, sang dokter bisa kehilangan kredibilitas. Hasil buruk muncul dari rekomendasi buruk. Namun bisa juga diagnose dan program dokter sudah benar, namun penyakitnya masih bandel. Ini di luar kemampuan manusia. Hasil buruk dari rekomendasi yang sudah sesuai prosedur.
Investasi bisa disamakan dengan mengobati penyakit, memiliki peluang untuk berhasil dan gagal. Adalah tugas seorang dokter atau financial planner untuk mengurangi peluang kegagalan melalui analisis yang solid. Selain harus memiliki kompetensi dan sikap prudent, dokter atau financial planner harus mengutamakan kepentingan pasien atau kliennya. Tidak boleh ada benturan kepentingan yang membuat keputusannya tidak objektif. Misalnya, dokter atau financial planner tidak boleh merekomendasikan obat atau produk keuangan tertentu karena mengharapkan imbalan dari produsen.
Tips bagi investor untuk menghindari investasi bodong? Pertama, telitilah siapa manajemen atau pemilik perusahaan tersebut (WHO). Apakah dia memiliki reputasi yang baik? Apakah dia memiliki kompetensi menjalankan bisnis tersebut? Menyerahkan uang kita memiliki risiko tidak kembali, karena bisnis bangkrut akibat salah urus, atau lenyap karena dibawa kabur.
Pada kasus investasi CV Panen Mas, diberitakan bahwa sang financial planner yakin perusahaan itu tidak bodong karena pernah melihat kebun dan kandangnya. Dia menjelaskan bahwa perusahaan tersebut salah urus, dan pemiliknya lalu kabur membawa uang. Namun seharusnya, sejak awal diperiksa apakah nilai aset perusahaan setara dengan dana yang disetor investor? Apakah kalau investor setor uang lantas uang tersebut diinvestasikan ke bisnis seperti dijanjikan? Apa pun alasannya, kelakuan pemilik membawa kabur uang investor bukanlah perbuatan yang bertanggung jawab.
Kedua, telitilah model bisnis yang ditawarkan (WHAT). Jika ada paket atau program investasi yang menawarkan kepastian dalam imbal hasil tinggi, sebaiknya kita hati-hati. Pelajari bagaimana bisnis ini menghasilkan keuntungan. Apakah keuntungan bisnis ini cukup realistis? Jika tidak, ini pasti sebuah skema piramida alias ponzi scheme, di mana investor baru mendanai imbal hasil yang dinikmati investor lama.
Ketiga, selalu bersikap kritis (BE CRITICAL). Jangan mudah percaya dengan rekomendasi orang lain, meskipun ia seorang yang dianggap ahli. Apalagi menyangkut urusan duit. Biasakan mencarisecond, third bahkan fourth opinion sebelum memutuskan menerima tawaran investasi. Sebaiknya kita sadari bahwa financial planner dan orang yang dianggap mumpuni investasi adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan, disengaja maupun tidak.
Keempat, utamakan pertimbangan risiko, baru imbal hasilnya (RISK FIRST). Kebanyakan korban investasi bodong silau matanya oleh tawaran imbal hasilnya. Jangan jadi investor bajak laut yang hanya punya satu mata, yakni hanya bisa lihat imbal hasil. Pikirkan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Apakah kita bersedia menghadapinya?
Akhirnya, sisi positif dari kasus CV Panen Mas adalah munculnya kesadaran akan perlunya regulasi bagi penyedia jasa perencanaan keuangan di Indonesia. Selain itu, kita diingatkan bahwa financial planner memiliki peran dan tanggung jawab yang besar.
Seperti dokter, mereka tidak hanya harus kompeten tetapi juga menjunjung tinggi etika serta menjalankan tugasnya secara profesional dan prudent. Bila tidak, financial planner justru menjadi katalisator bencana investasi bagi masyarakat.
Subscribe to:
Posts (Atom)









