Sunday, 30 June 2013

Ketika Ajal Tiba saat Dosa Menggunung

0 comments
Banyak orang yang ajalnya datang ketika maksiat mereka menggunung .. entah pembunuhan, zina, khamar, riba, nyanyian, tidak shalat lima waktu berjamaah, ataupun tidak peduli pada risalah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, dan menuntut ilmu.
Laa ilaaha illallah, betapa lalainya mereka!
Sehabis ditangkap, Sa’id bin Jubair dibawa menghadap al-Hajja bin Yusuf.
“Siapa namamu?”, tanya Hajjaj mencemooh.
“Sa’id bin Jubair”, ia menyahut.
“Bukan. Nama kamu adalah si Sial (Syaqi) bin Kusair”.
“Ibuku lebih tahu namaku daripda engkau”.
“Celaka kamu .. celaka pula ibumu,” balas Hajjaj, sambil melanjutkan, “Demi Allah, kamu akan saya masukkan ke dalam api yang menyala-nyala”. “Kalau aku tahu, kamu sanggup melakukannya, pasti engkau sudah kujadikan Tuhan!”
“Bawa sini harta kekayaan!” Didatangkanlah emas dan perak.
“Hajjaj,” kata Sa’id, “Sekiranya kekayaan ini engkau kumpulkan untuk menyelamatkan dirimu dari azab yang pedih, alangkah bagusnya.Tapi, bila engkau melakukannya itu untuk riya dan ingin disebut orang, demi Allah tidak akan ada gunanya di sisi Allah sedikitpun,” tukasnya.
“Bawa ke sini budak perempuan yang bisa bernyanyi,” titah Hajjaj lagi. Sa’id menangis. “Apakah lagunya enak?” Hajjaj bertanya.
“Demi Allah, bukan! Aku menangis lantaran ada budak yang diperkerjakan untuk sesuatu yang bukan untuk ia diciptakan, dan lantaran kayu yang dijadikan alat musik untuk digunakan bermaksiat kepada Allah!”
“Alihkan dia dari arah kiblat!” ujar Hajjaj.
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ
Sa’id menyahut dengan membacakan firman-Nya, “Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah.” (QS. al-Baqarah [2] : 115)
“Banting dia ke tanah,” perintah Hajjaj.
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
Tapi, Sa’id menjawab, “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (QS. Thaha [20] : 55)
“Demi Allah, saya akan membunuh kamu dengan cara yang tidak pernah digunakan orang,” ancam Hajjaj.
“Hajjaj, engkau boleh pilih cara sesukamu. Demi Allah, cara apapun yang engkau pilih membunuhku, niscaya Allah jua akan membunuhmu dengan seperti itu!” ujar Sa’id.
Sebelum dibunuh Sa’id berdo’a.
“Ya Allah, jangan biarkan dia menindas siapapun setelah aku mati!”
Kepala Sa’id pun dipenggal oleh Hajjaj. Hanya beberapa bulan kemudian, Hajjaj meronta-ronta, karena sakit sampai Allah membinasakannya.
Wahai kaum Muslimin, sebelum ajal datang, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:
Pertama, hendaknya kita senantiasa mengingat kematian setiap waktu. Kita melakukan kelalaian tatkala kita lupa akan kematian, lupa tentang peristiwa sesudah mati. Kita melalaikan semua itu dan terperosok ke dalam maksiat, nafsu syahwat, syubhat, dan membuat Allah SWT marah.
Sampai-sampai sebagian anak muda, bila diingatkan tentang kematian mereka menjawab, “Biarkan kami hidup, makan, minum. Jangan rusak kesenangan kami…” Kematian telah mengeruhkan dunia, sehingga tidak menyisakan secuil kegembiraan pun pada orang-orang yang berhati nurani.
Ibnu Umar menasihati, “Bila waktu pagi, jangan tunggu waktu sore. Bila sore, jangan tunggu pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk persiapan sewaktu kamu sakit. Pergunakan hidupmu untuk persiapan menghadapi kematian.”
Wahai kaum Muslimin, segeralah melakukan taubatannasuha kepada Allah Ta’ala.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53)
Al-A’masy, ahli hadist kawakan, ditangisi anak-anaknya ketika ajalnya hampir menjemput. Ia pun berkata, “Janganlah kalian menangisiku! Demi Allah, selama enam puluh tahun lamanya aku tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram bersama imam,” tukasnya.
Sa’id Ibnu Musayyib, ketika sekarat berujar, “Alhamudililah. Selama empat puluh tahun, saya selalu berada di masjid Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, ketika muazin mengumandangkan azan.”
Mereka mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan cara melakukan amal-amal shalih dan taubatannasuhaWallahu’alam.
Read more...
Friday, 31 May 2013

Kenekatan Para Intelektual Muda Mendirikan Kampus Teknologi di Pelosok Sumbawa

0 comments
Sejumlah ilmuwan muda yang sudah mapan di Jakarta turun gunung ke pelosok Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Mereka sedang merajut mimpi untuk mewujudkan sebuah kampus teknologi di Indonesia bagian timur yang berkualitas global. 


Laporan Taufik Lamade, SUMBAWA

Mereka bisa dibilang nekat. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang mereka dirikan itu berlokasi di kaki bukit Olat Maras, Desa Batualang, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Sumbawa Besar.

     Tidak semua aksesnya mulus. Tiga kilometer merupakan  ’’jalan setapak’’ untuk mobil. Itu pun hanya mampu dilintasi satu mobil. Hujan rintik bisa membuat mobil selip terjebak lumpur.

     Ketika pertama ke UTS, mobil yang ditumpangi Jawa Pos (grup Radar Lampung) sempat terhenti di tengah jalan. Gara-garanya, mobil di depan terperosok di jalan  ’’one way’’ itu. Mobil baru bergerak setelah didorong warga lokal.

      ’’Jalan setapak’’ itu bukan rintangan bagi Dr. Nurul Taufiqurochman (43). Doktor bidang metalurgi lulusan Kagoshima University, Jepang, itu justru melihat kampus di kaki bukit tersebut sebagai  ’’mainan’’ yang penuh pesona. Yang ada di kepalanya adalah bagaimana dalam waktu secepatnya kampus itu menjadi pusat riset aplikatif.

      ’’Kalau sekadar menjadi dosen, saya tak akan ke sini (Sumbawa). Tawaran yang meminta saya mengajar di Jakarta di mana-mana. Saya ke sini karena ingin mengajari mahasiswa menciptakan teknologi yang bermanfaat,’’ tegas pemegang 14 paten yang terdaftar di Jepang itu saat ditemui di kampus UTS, Sabtu (16/3).

     Konsekuensinya, ilmuwan asli Malang itu mau tidak mau harus bolak-balik Jakarta–Sumbawa. Sebab, tugasnya di Jakarta segudang. Di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), misalnya. Selain peneliti senior, Nurul menjadi kepala Sarana Penelitian Riset Metalurgi.

     Dia juga menjabat ketua Pembina Nano Center Indonesia yang bergerak di berbagai riset. Hebatnya, meski kesibukannya seperti itu, dia masih menyediakan sebagian waktu untuk membidani berdirinya UTS yang terletak ribuan kilometer dari Jakarta.

     Nurul menyebut UTS sebagai kampus di balik hutan. Maklum, lokasinya cukup jauh dari permukiman penduduk. Sepanjang mata memandang, hanya kehijauan bukit yang terlihat. Namun, dia senang berada jauh dari hingar-bingar keramaian karena kondisi itu sangat cocok bagi UTS sebagai pusat riset aplikasi.

     Di kampus baru itu, Nurul menjadi advisor rector. Peran dan sentuhan pemegang dua gelar doktor itu metalurgi dari Kagoshima University dan manajemen bisnis IPB sangat terasa.

      ’’Saya ingin mahasiswa di sini sekaligus memanfaatkan penelitian aplikatif. Bila perlu, mereka sekolah langsung mendapatkan uang,’’ ujarnya bersemangat.

     Radiyum Ikono juga sudah menyatu dengan  ’’jalan setapak’’ menuju kampus UTS itu. Ilmuwan belia berumur 25 tahun itu dipercaya menjabat dekan fakultas teknik. Usia boleh muda, tapi kapasitas keilmuannya jangan diragukan. Ikono yang meraih master ilmu bahan dari Tsukuba University, Jepang, itu sangat yakin UTS kelak menjadi pusat riset aplikasi.

      ’’Saya ingin mahasiswa di sini lebih banyak praktik di lapangan. Sumbawa ini kaya emas, mangan, dan tembaga. Saya kira mahasiswa langsung bisa mengelolanya,’’ ujar pria yang pernah kuliah di Nanyang Technological University, Singapura, itu.

     Karena itu, ketika datang tawaran bergabung dengan UTS, dia langsung menjawab: ya! Dia merasa tertantang, walaupun tantangan itu berada di kawasan terpencil.

     Ide pendirian UTS berasal dari Dr. Zulkiefliemansyah (41). Anggota DPR berdarah Sumbawa itu prihatin atas kondisi kampung halamannya. Dia risau melihat anomali masyarakat setempat.

      ’’Sumbawa kaya sumber daya alam, terutama emas. Bahkan, kandungan emas di Sumbawa terbesar di Indonesia. Tapi, ironisnya, untuk mencari 3 gram emas saja, orang Sumbawa harus menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di luar negeri,’’ ujar doktor ekonomi lulusan Inggris itu.

     Di sisi lain, di Serpong, Tangerang, tempat tinggal Zul –panggilan akrab Zulkiefliemansyah–, kini banyak orang pintar yang bergelar Ph.D. Kondisi itulah yang membuat dia berpikir keras agar para doktor yang melimpah di Serpong itu bisa dibawa ke Sumbawa. Nalurinya sebagai ilmuwan dan pendidik bagai tersulut api.

     Jalan keluarnya, harus ada sekolah sekaligus pusat riset berkualitas tinggi di Sumbawa. Dia tak ingin masyarakat lokal hanya menjadi penonton ketika emasnya ditambang.

     Pergaulan dan jaringan Zul yang luas membuat ajakannya mendapat support luar biasa dari berbagai pihak. Para koleganya pun menyambut gagasan itu.

     Salah satu program studi yang digadang-gadang adalah teknik metalurgi. Menurut Zul, Sumbawa yang kaya emas dan tembaga harus menjadi pusat riset terbaik untuk logam.

     ’’Selama ini, orang-orang pintar Sumbawa kuliah ke luar Sumbawa. Saya ingin orang dari luar (Sumbawa) kuliah di sini,’’ tegas Zul yang menjabat rektor UTS itu.  

’’Jangan sampai masyarakat Sumbawa hanya menjadi penonton ketika tambang emasnya diambil orang,’’ katanya.

     Menteri BUMN Dahlan Iskan yang juga hadir di UTS menyebut Dr. Zul dan kawan-kawan sebagai para ilmuwan supernekat. Sambil menatap puncak bukit Olat Maras yang berdiri tegak di depannya, Dahlan menyitir pepatah Tiongkok: Gunung tak perlu tinggi, yang penting ada dewanya. Dia pun berharap para ilmuwan muda itu menjadi dewa di bukit Olat Maras.

     Melihat kreativitas dan kapasitas para ilmuwan yang membidani kelahiran kampus itu, Dahlan yakin UTS akan menghasilkan riset-riset hebat. Karena itu, mantan Dirut PLN yang sebelumnya meresmikan pembangkit listrik tenaga angin di Sumbawa tersebut langsung menantang para ilmuwan UTS untuk menemukan bahan material pengembangan mobil listrik. Termasuk menciptakan baterai murah dan efisien.

     "Problem terbesar mobil listrik adalah baterainya yang masih mahal. Kita harus bisa memecahkan persoalan itu," ujarnya men-support para pengurus UTS. Kita tak boleh lagi tertinggal dari Jepang, Eropa, dan Amerika," tegas Dahlan.

     Kampus UTS didesain dengan menitikberatkan pada kualitas produk. Karena itulah, kata Zul, untuk satu program studi (prodi), UTS hanya akan menerima 10 mahasiswa setiap tahun. Pada 2013 ini, kampus yang dikelola Yayasan Dea Mas itu mulai menerima mahasiswa baru. Pembangunan empat gedung di dalamnya, termasuk gedung rektorat yang berkarakter rumah adat Sumbawa, dikebut siang-malam.

     Praktis, pembangunan fisik dan segala persiapan pembukaan kampus itu hanya membutuhkan waktu kurang dari setahun. Kampus itu berada di lahan 60 hektare.

     Dari mana dana pendirian UTS? "Kampus ini dibangun dengan dana CSR (corporate social responsibility) sejumlah BUMN. Juga CSR sejumlah perusahaan swasta," ujar Mujiburahman, ketua Yayasan Dea Mas.

     Menurut dia, UTS mengelola lima fakultas. Selain fakultas teknik, ada fakultas pertanian dan bioteknologi; fakultas ilmu komunikasi; fakultas ekonomi dan bisnis; serta fakultas psikologi.

     Kampus yang baru memasuki tahun pertama itu kini seperti bayi cantik. Bukan hanya Dahlan yang sudah mengunjungi. Sejumlah menteri juga pernah melewati "jalan setapak" untuk menengoknya. Termasuk Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Menristek Gusti Muhammad Hatta.

     Menurut Nurul, kelahiran UTS juga melibatkan para pakar dari LIPI, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Indonesia. Termasuk ahli metalurgi UI, Prof. Bambang Suharno.


     "Kini ada enam kandidat doktor muda yang masih kuliah di luar negeri. Salah satunya di Taiwan. Mereka disiapkan untuk menjadi dosen di sini," ujar Nurul.

     Sementara itu, Bupati Sumbawa Jamaluddin Malik menyatakan senang atas kehadiran kampus UTS. Dia berjanji memperjuangkan akses masuk ke UTS selebar 12 meter. "Ini agar mobil yang ingin mencapai kaki bukit Olat Maras tidak selip lagi," ungkapnya.


Read more...
Thursday, 18 April 2013

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

0 comments
“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kamu tangisi boleh berbicara, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kamu sekalian, nescaya kamu akan melupakan jenazah tersebut dan mulai menangisi dirimu sendiri.” -Imam Al-Ghazali

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .

Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.
Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.

Allahumma Aamiin..

Read more...
Wednesday, 3 April 2013

Syaikh Al Ghomidi: Dulu Pernah Ada Orang Indonesia Jadi Imam Masjidil Haram

0 comments
Imam Masjidil Haram, Syaikh Sa’ad Al-Ghomidi dalam kunjungannya ke Indonesia mengatakan, di Makkah pernah ada orang Indonesia yang menjadi imam di Masjidil Haram. Imam itu bernama Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
“Benar sekali. Dulu memang ada orang Indonesia yang menjadi ulama’ dan Imam di Masjidil Haram. Namun, sejak 50 tahun terakhir ini, pemerintah Arab Saudi menerapkan qoror (peraturan) yang mewajibkan seluruh imam dan muadzin haruslah orang Saudi sendiri,” kata Syaikh Al Ghomidi di Jakarta, Ahad (31/3).
Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi selain menjadi imam, juga pernah menjadi khatib, guru besar di Masjidil Haram, sekaligus sebagai mufti Mahzab Syafi’i. Kehadiran sosok Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi menjadi bukti kecemerlangan orang Indonesia di Makkah pada transisi abad 19 menuju abad 20. Beliau tidak pulang lagi ke Indonesia, dan memilih menetap di Arab Saudi hingga akhir hayatnya.
Hingga 10 tahun belakangan ini, kata Syaikh Al Ghomidi, masih ada beberapa orang Indonesia yang menjadi muadzin di Masjidil Haram. Sebelumnya mereka harus lulus beberapa tahapan seleksi, dan telah menjadi warga negara Arab Saudi.
“Mereka ini tinggal beberapa tahun lamanya di Saudi, akhirnya mengambil kewarga-negaraan Saudi. Mereka menjadi muadzin di Masjidil Haram, padahal sebenarnya mereka adalah keturunan orang Indonesia,” kisahnya.
Kini sesuai aturan pemerintah, semua Imam dan Muadzin di Masjidil Haram diharuskan dari orang Saudi asli. Hingga dosen-dosen di Universitas Islam Madinah dan Ummul Quro’ juga diterapkan hal yang sama, sehingga sudah tidak didapati lagi dosen di luar keturunan Saudi.

Read more...

Tips Menghafal Al Quran dari Syaikh Al Ghamidi

0 comments
Imam tamu Masjid Nabawi sekaligus qari’ internasional, Syaikh Sa’ad Al Ghamidi memberikan lima tips yang harus diperhatikan bagi penghafal Al Quran. Tips tersebut harus diperhatikan, khususnya bagi orang yang sama sekali tak bisa berbahasa Arab. Dikutip dari Republika, berikut kelima tips tersebut:
Pertama, harus mempunyai tujuan yang jelas. “Teman-teman Indonesia harus memiliki tujuan yang jelas, apa tujuan antum menghafal Al Quran,” kata beliau.
Kedua, ujar Sa’ad, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal Al Quran. Lembaga ini berfungsi untuk mengkoordinasi mereka yang ingin menghafal Al Quran agar nantinya tidak patah dan berhenti di tengah jalan.

Ketiga, harus ada metode yang digunakan dan tak asal begitu saja. Jika memang ingin sungguh-sungguh, maka mesti ada metode yang dipakai. “Metode yang digunakan harus efektif dan bisa digunakan bagi seluruh kalangan. Sebab, kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari,” jelasnya.
Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca Al Quran dengan baik dan benar. “Jadi mu’allim harus dilihat juga, apakah bacaannya fasih? Apakah hafalan Al Qurannya baik? Apakah dia bisa menjadi qudwah (tauladan) dari kepribadian dan akhlaknya? Jadi memang diperlukan seleksi yang ketat dalam menentukan mu’allim itu,” jelas Syaikh.
Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan Al Quran. Jadi, mereka yang telah merampungkan hafalan Al Quran mereka tidak dibiarkan begitu saja. “Bagi sebahagian madrasah Tahfidz Al Quran hanya menfokuskan santrinya bagaimana mencetak para hafiz Quran. Namun yang tak kalah pentingnya, apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjadi hafiz Quran?” jelas beliau lagi.
Mengulang dan Berkelanjutan
Lupa menjadi kendala terbesar bagi para penghafal Al Quran. Biasanya, para penghafal tidak sabar dan ingin segera mengkhatamkan bacaannya dan kadang terlalu terburu-buru. Sehingga ayat yang telah mereka hafal tidak sempurna dan menjadi cepat lupa.
Syaikh Sa’ad Al Ghamidi menjelaskan, kunci utama dalam menghafal Al Quran adalah terus mengulang hafalan. Ini yang terus dilakukannya walau pun telah selesai menamatkan Al Quran 30 juz.
“(Penghafal Al Quran) harus senantiasa dengan dua hal, tikrar (mengulang) dan istimrar (berkelanjutan). Ia harus terus mengulang hafalan yang telah dihafalnya dan melanjutkan hafalan barunya,” jelas Syaikh.
Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil