Friday, 18 January 2013

Peta Lokasi Wisata Arung Jeram Sungai Pekalen Probolinggo

1 comments
Probolinggo - Wisata Arung Jeram atau juga bisa disebut rafting ini merupakan destinasi wisata yang baru dikembangkan di kabupaten Probolinggo. Sebelumnya para wisatawan ke Probolinggo biasanya hanya mengunjungi kawasan wisata gunung Bromo dan sekitarnya yang terletak di bagian barat kabupaten Probolinggo. Beberapa tahun terakhir muncul wisata arung jeram di sungai Pekalen yang terletak di bagian timur kabupaten Probolinggo. 
 
Sungai Pekalen yang merupakan salah satu sungai terpanjang di kabupaten Probolinggo ini dipilih karena arusnya yang cukup deras, banyaknya jeram di sepanjang sungai, dan juga kawasan sekitarnya yang masih alami, bahkan di beberapa titik arung jeram terdapat air terjun. Hal tersebut membuat wisata arung jeram di sungai ini semakin banyak diminati masyarakat. Namun, karena lokasi yang agak terpencil membuat wisatawan kesulitan menemukannya. Berikut ini peta lokasi wisata arung jeram yang disediakan 2 operator rafting yaitu Noars Rafting dan Songa Rafting.
 

Read more...
Friday, 28 December 2012

Jalur Kereta Api ke Pelabuhan Probolinggo Akan Dihidupkan

0 comments
Probolinggo - PT Kereta Api Daerah Operasi IX Jember akan hidupkan kembali jalur rel dari Pelabuhan Probolinggo menuju Stasiun Probolinggo.

Gatot Sutiyatmoko Manajer Humas PT KA Daop IX Jember, kepada reporter Radio Mutiara Jember, Senin (17/12/2012), mengatakan pengoperasian kembali jalur ini menyusul mulai beroperasinya pabrik kertas Leces yang ada di kawasan itu.

Dengan jalur baru ini, angkutan batu bara dari pelabuhan Probolinggo ke pabrik tersebut, diharapkan bisa dilakukan dengan menggunakan kereta api.

Sementara itu, untuk menghidupkan kembali jalur rel ini, PT KA secepatnya akan membebaskan kembali jalur rel yang dulunya sudah ada. Di jalur rel yang kini mati itu, kata Gatot, setidaknya telah berdiri lima bangunan semi permanen milik warga.

Selain pembebasan lahan, PT KA juga akan ganti seluruh besi rel, dan mengganti bantalan rel yang awalnya dari kayu diganti beton.

suarasurabaya.net
Read more...
Friday, 7 December 2012

Pembangunan Tol Jawa-Bali 250 Km, Terbanyak di Jatim

4 comments
Probolinggo - Pembangunan ruas jalan tol di Jawa dan Bali saat ini mencapai 9 ruas dengan panjang sekitar 250 kilometer. Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang paling banyak pembangunan jalan tolnya.

"Memang Jawa Timur salah satu daerah yang terbanyak pembangunan jalan tol," ujar Kepala Humas PT Jasa Marga Tbk Wasta Gunadi di sela acara acara Penandatanganan kontrak pembangunan jalan tol Gempol-Pasuruan antara PT Transmarga Jatim Pasuruan dengan PT Adhi Karya dan PT Waskita Karya, di kawasan wisata Gunung Bromo, Probolinggo, Jumat (7/12/2012).

Pembangunan jalan tol di Jatim yang dilakukan Jasa Marga sebanyak 3 ruas yakni Surabaya-Mojokerto, Gempol-Pandaan, dan Gempol-Pasuruan. "Kenapa banyak di Jawa Timur, karena Jatim sebagai salah satu pusat perekonomian nasional," terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman menerangkan, Jatim memerlukan penambahan ruas jalan tol, karena pertumbuhan lalu lintasnya pesat. "Selain itu juga pertumbuhan industri, perdagangan, maupun pendidikan juga pesat," katanya.

Adityawarman mengatakan, investasi pembangunan 9 ruas jalan tol termasuk di Jatim nilainya mencapai Rp 25 triliun.

"Insya Allah 2 tahun lagi selesai," jelasnya.
 
Read more...
Tuesday, 4 December 2012

Dahlan Pilih Temui 2.000 Karyawan Kertas Leces yang Tak Gajian Ketimbang ke DPR

0 comments
Kemarin, Menteri BUMN Dahlan Iskan absen dalam rapat dengan Komisi VII DPR soal inefisiensi PLN Rp 37 triliun di 2009/2010. Besok Rabu rencananya Dahlan akan dipanggil lagi, tapi Dahlan bakal absen lagi, kenapa?

Dahlan mejelaskan, dirinya lebih memilih menghadiri pertemuan dengan salah satu BUMN Dhuafa yakni PT Kertas Leces (Persero) di Probolinggo Jawa Timur. Rencananya Komisi VII DPR akan memanggil kembali Dahlan besok pukul 14.00 WIB.

Dikatakan mantan Dirut PLN ini, dirinya sudah berjanji untuk menemui karyawan Kertas Leces yang telah lama tidak pernah diperhatikan.

"Saya pilih Leces, karena dia ada 2.000 karyawan yang sudah nggak gajian yang menderita luar biasa. Itu luar biasa, janji saya ke karyawan (Kertas Leces)," tutur Dahlan di Kantor Pusat Waskita, Jakarta, Selasa (4/12/2012).

Seperti diketahui, kemarin Dahlan juga dipanggil oleh Komisi VII DPR untuk menjelaskan inefisiensi di PLN sebesar Rp 37 triliun saat menjabat Dirut.

Namun, 10 menit sebelum rapat dengan Komisi VII dimulai, Dahlan meninggalkan DPR untuk menghadiri rapat terbatas dengan Presiden SBY yang diselenggarakan mendadak.

Hal tersebut sempat membuat pimpinan rapat Komisi VII Effendy Simbolon marah.

Salam pesan singkatnya kepada detikFinance, Ketua Komisi VII DPR Sutan Bhatoegana membenarkan kalau Dahlan besok akan dipanggil kembali pukul 14.00. "Ya sekitar jam 2," tutur Sutan.
Read more...
Sunday, 25 November 2012

Jejak Prajurit Islam Majapahit dari Bali hingga Australia

0 comments
Oleh: SUFYAN AL  JAWI
Arkeolog di Numismatik Indonesia

Mengagumkan, ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit  di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton-pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.

Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.

Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria: Mada; Gondang (Tenggulun-Lamongan) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman-teman lama beliau. Dari desa-desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya. Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang-Malaya, Bugis-Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut Luar Jawa.

Hal ini adalah wajar, karena di Jawa, Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada-Lamongan, politikus abad ke 14.

Pembentukan Satuan Elite, Pabrik Senjata dan Dinar EmasSatuan tentara elite Majapahit sudah dibangun sejak masa Jayanegara (1319), yaitu pasukan kawal raja – Bhayangkara, yang dipimpin oleh bekel Gajah Mada. Pada masa selanjutnya satuan elite terus berkembang, terutama pada masa Gajah Mada menjabat sebagai  mahapatih amangkubhumi dari tahun 1334 sampai 1359, sejak masa Tribhuwana Tunggadewi hingga masa Hayam Wuruk.

Menurut “Hikayat Raja-raja Pasai”, ketika Majapahit menyerang Pasai, dan dipukul mundur (1345), lalu menyerang kembali dan meluluh lantakan istana Sultan Ahmad Malik Az Zahir (1350), Gajah Mada yang juga seorang muslim, membawa tawanan orang Pasai yang terdiri dari para ahli, insinyur lulusan Baghdad, Damaskus dan Andalusia. Sedangkan Sultan Pasai melarikan diri dari istana. Setibanya di Majapahit, Gajah Mada membebaskan tawanan tersebut setelah bernegosiasi dengan Prabu Hayam Wuruk. Kemudian orang Pasai ini bekerjasama dengan Gajah Mada untuk membangun kejayaan Majapahit. Sebagai balas jasa, Majapahit memberi otonomi kepada Kerajaan Pasai Darussalam, dan menempatkan orang Pasai di komplek elite di ibukota Majapahit – Trowulan. Hal ini dibuktikan, pada 1377 Majapahit menghancurkan Kerajaan Budha Sriwijaya dan menguasai seluruh Pulau Sumatera, kecuali Pasai.

“Maka titah Sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya maka banyak keramat di tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu” (Kutipan dari “Hikayat Raja-raja Pasai”).

Dengan adanya orang Pasai yang ahli dalam bidang tempa logam, baik itu baja maupun emas, maka didirikanlah bengkel senjata dan alat pertanian yang sempurna (standar baja Damaskus) , saluran irigasi model Andalusia di Trowulan dan pabrik koin dinar emas Majapahit. Seiring dengan perluasan wilayah Majapahit untuk mewujudkan “Sumpah Palapa”, Gajah Mada membentuk pleton-pleton khusus yang didominasi oleh prajurit Islam.

Prajurit Islam Majapahit di BaliPenempatan 40 orang prajurit Islam Majapahit di Kerajaan Gelgel – Klungkung, Bali dimulai ketika Raja Gelgel I, Dalem Ketut Ngulesir (1320 – 1400) berkunjung sowan abdi ke Trowulan, tak lama setelah deklarasi pendirian Kerajaan Gelgel tahun 1383. Beliau didampingi oleh Patih Agung, Arya Patandakan dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh) yang menghadap Prabu Hayam Wuruk saat upacara Cradha dan rapat tahunan negeri-negeri vasal imperium Majapahit. Ketut Ngulesir memohon dukungan dari Maharaja Majapahit, yang dikabulkan dengan pemberian 1 (satu) unit pleton khusus binaan Almarhum Gajah Mada. (“Kitab Babad Dalem”, manuskrip tentang Raja-raja Bali).

Prajurit Islam ini menikah dengan wanita Bali, dan beranak-pinak disana. Mereka sangat setia membentengi Puri Gelgel – Klungkung. Bahkan meskipun pada akhirnya imperium Majapahit runtuh (1527), tapi Prajurit Islam tetap menjadi tentara elite Kerajaan Gelgel, dari generasi ke generasi. Begitu pula di Kerajaan Buleleng, prajurit Islam membentengi Puri Buleleng dari serangan Raja Mengwi dan Raja Badung dari Kerajaan di Bali Selatan.

Faktanya, saat ini kita masih dapat saksikan di Bali, keturunan prajurit Islam Majapahit yang telah mencapai ribuan orang Islam asli Bali (mereka menggunakan nama Bali, untuk membedakan dengan muslim pendatang) tepatnya di desa Gelgel, Klungkung dan di desa Pegayaman, Buleleng – 70 km arah utara Denpasar. Mereka adalah penduduk mayoritas di desa-desa kuno tersebut.

Pertanyaannya : Kenapa Hayam Wuruk mengirimkan pleton prajurit Islam untuk mengawal negeri bawahan Majapahit ?

Jawabannya: Pertama, almarhum Gajah Mada (wafat 1364) telah membangun sistem perekrutan satuan tentara elite yang beranggotakan prajurit Islam, dibekali dengan senjata pamungkas, dan berperang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Kedua, Prabu Hayam Wuruk diduga telah mengetahui bahwa Gajah Mada bukan Sudra, melainkan seorang Muslim. Kemungkinan info yang rahasia ini diperoleh dari Ibunda Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Untuk menghormati almarhum Gajah Mada, beliau tidak mencerai-beraikan pleton-pleton Muslim yang berjumlah 40 orang, karena dalam Madzhab Imam Syafi’i, syarat minimal untuk mendirikan sholat Jumat adalah 40 orang. Ketiga, kemampuan tempur 40 orang prajurit Islam dapat menghancurkan 200-400 orang tentara reguler musuh. Karena mereka dibekali kemampuan militer  yang menguasai berbagai jenis senjata. Hal ini dibuktikan dalam perang mempertahankan Puri Buleleng dari serbuan pasukan gabungan dua Kerajaan Mengwi dan Badung, yang terletak di Bali Selatan. Keempat, Hayam Wuruk kagum atas kesetiaan dan ketetapan janji orang Islam. Mereka tidak terpengaruh  godaan harta, wanita dan tahta yang bukan haknya. Mereka tidak pernah mabuk, berjudi, maling dan berzina ( kebiasaan buruk di Majapahit adalah mabuk dan berjudi, dan agak permisif dalam hal seks ). Panutan mereka adalah Gajah Mada, yang diklaim oleh orang-orang Majapahit sebagai orang Hindu berkasta Sudra?

Ketika pleton prajurit Islam Majapahit ini mengawal pulang rombongan Raja Gelgel, Ketut Ngulesir, mereka dibekali oleh Hayam Wuruk berupa puluhan ribu koin cash Cina dan koin Gobog Wayang (koin kepeng tembaga) serta ratusan koin dinar emas Majapahit. Ini sebagai balasan atas penyerahan upeti dari Kerajaan Gelgel Klungkung berupa hasil bumi, hewan ternak dan tangkapan, perhiasan dan kerajinan tangan rakyat Gelgel. Hayam Wuruk berharap, stok koin-koin tersebut mampu merangsang tumbuhnya ekonomi di Gelgel. Sejak saat itu Pura Klungkung dan Pura Buleleng telah akrab dengan koin dinar emas dalam ritual ibadah mereka.

Prajurit Islam Majapahit di Wanin – Papua

Saat Prof. JH Kern dan NJ Krom meneliti kitab Nagarakertagama yang ditemukan (dijarah) oleh JLA Brandes dari istana Cakranagara, Lombok (1894). Prof. Kern dan Krom, 1920, mendapati fakta bahwa kekuasaan Majapahit di Papua Barat dibuktikan dengan adanya penempatan prajurit Islam di Wanin – Papua. Berdirinya Kerajaan Wanin di Fak-fak hingga Biak merupakan vasal Majapahit. Sampai sekarang, Raja-raja dan rakyat di Wanin dan Fakfak sangat kental nuansa Islamnya dan sangat fasih menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Tak seperti di Bali, prajurit Islam Majapahit ini membawa istri mereka yang dinikahi di Jawa, Bugis, Seram dan pulau Maluku, sebelum akhirnya menetap di Wanin. Saat Majapahit runtuh, pada abad ke 16, Kerajaan Wanin bergabung dengan Kerajaan Ternate Darussalam di Maluku Utara, yang dulunya juga merupakan bawahan Majapahit. Diperkirakan situs Majapahit di Papua tersebar luas di Fak-fak, Biak dan Raja Ampat. Keturunan mereka berbeda dengan ras Papua.

Prajurit Islam Majapahit di Marege – Australia

Sejarah resmi negeri kangguru, sepertinya harus segera direvisi. Sebab Prof. Regina Ganter, sejarawan dari University of Griffith, Brisbane, Australia – belum lama ini meriset suku Aborigin Marege yang berbahasa Melayu Makasar. Marege adalah desa kuno di tanah Arnhem, di daerah Darwin, Australia Utara. Regina mendapat fakta yang menakjubkan , bahwa komunitas Muslim kuno Aborigin berasal dari Kerajaan Gowa Tallo, Makasar, sudah ada sejak abad ke 17 (1650 an), dan menyebarkan Islam di Australia Utara hingga ke desa Kayu Jawa di Australia Barat.

Orang Marege hingga hari ini menyebut rupiah untuk kata ganti uang, padahal mata uangnya adalah dollar. Juga menyebut dinar untuk koin emas Australia. Dahulu sempat ditemukan koin Gobog Wayang di desa Marege Darwin. Padahal koin Gobog merupakan koin resmi Majapahit. Dan ini menunjukkan adanya jejak prajurit Majapahit abad ke 14 yang dikirim ke Marege, namun hal itu masih perlu pembuktian lebih lanjut.

Dalam risetnya, Prof. Regina menuturkan bahwa sejak masa Sultan Hasanuddin (1653-1669) kapal-kapal Pinisi dari Makasar menguasai perairan teluk Carpentaria – Darwin, mereka mencari tripang. Di tanah Arnhem, Marege, orang Makassar berhubungan dengan suku Aborigin, menikah dan beranak pinak membentuk komunitas Aborigin Muslim. Dalam kebudayaan Marege, nampak jelas mereka menggambar kapal Pinisi Makasar dalam karya seni kuno mereka. Uniknya, kapal bercadik Majapahit pun terpahat dalam seni ukir dan lukis mereka yang berusia ratusan tahun.

Ketika orang Inggris menjajah rayah desa Marege dan desa Kayu Jawa, mereka nyaris menghancurkan budaya Islam suku Aborigin Marege pada abad ke 20 seiring arus Westernisasi di negeri Kanguru. Karya seni Marage banyak yang diboyong ke Eropa. Orang Marege menyebut orang Inggris sebagai ‘Balanda’, sedangkan orang Kayu Jawa menyebutnya ‘Walanda’, dan perang melawan orang Inggris disebut ‘Jihad Kaphe’.

Semoga riset yang akan dilakukan oleh Tim Riset Yamasta ( beranggotakan Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi, Drs. Mat Rais dan Farhaz Daud ) untuk program yang akan datang, dapat mengungkap keberadaan situs Majapahit di Marege, Kayu Jawa dan tempat lainnya di Australia. Sesungguhnya kita adalah Bangsa yang besar dan jaya, pernah membangun perdaban Superpower – Nusantara. Mari bersatu, hilangkan egoisme SARA dan sinisme, marilah kita bangkit dan membangun kembali Nusantara.
Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil