Thursday, 22 November 2012

Belajar dari Kejatuhan Vietnam

0 comments
REPUTASI suatu negara tidak akan abadi. Anda bisa saja dipuja-puja untuk hari ini, namun bisa berakhir menjadi orang buangan di hari berikutnya.

Tidak ada contoh yang lebih baik untuk menggambarkan hal ini selain Vietnam. Sempat menjadi bintang bersinar di kawasan Asia, Vietnam menjadi idola untuk investor di negara berkembang.

Setelah bangkit dari jurang kehancuran akibat Perang Vietnam, Partai Komunis (CPV) yang menjadi penguasa memulai proses reformasi ekonomi, disebut dengan istilah Doi Moi. Vietnam melakukan seperti yang ada di China, memperbolehkan pasar bebas tetapi dengan kontrol dari negara.

Doi Moi memang sempat berjalan dengan baik: sampai 2010, perekonomian Vietnam tumbuh rata-rata 7% per tahun dan tampaknya sudah siap lepas landas untuk menjadi Singapura atau Korea Selatan berikutnya.

Namun, kebangkitan Vietnam yang sempat meroket akhirnya berhenti di tengah jalan. Pertumbuhan PDB Vietnam melambat menjadi 4,38% pada semester pertama 2012. Ini pelambatan terbesar sepanjang tiga tahun terakhir, dan diperkirakan akan tertekan menjadi 5% untuk 2 tahun ke depan.

Inflasi September naik menjadi 6, 48% dibanding tahun sebelumnya. Ini mencatatkan kenaikan harga konsumen tercepat dalam 16 bulan terakhir, termasuk di sektor kesehatan, pendidikan dan transportasi.

Sektor perbankan Vietnam juga memiliki angka kredit macet tertinggi di negara-negara ASEAN, meningkatkan kekhawatiran akan kebutuhan dana talangan untuk sektor ini.
Penangkapan taipan berpengaruh Nguyen Duc Kien, pendiri Asia Commercial Bank (ACB) telah memicu ketakutan dari kalangan usaha. Seorang mantan eksekutif ACB, yang juga mantan Menteri Perencanaan dan Investasi, Tran Xuan Gia, juga sedang menghadapi tuduhan  telah melakukan kejahatan ekonomi.

Memang, ada tanda-tanda bahwa perebutan kekuasaan sedang berlangsung antara Perdana Menteri Nguyen Tan Dung dan Presiden Troung Tan Sang. Akibat dari itu semua, tanggal 28 September, lembaga pemeringkat Moody `s menurunkan peringkat kredit Vietnam menjadi "B2"  dengan outlook stabil karena kelemahan dalam sistem perbankan. Apa yang salah dengan hal ini? Di satu sisi, dapat dikatakan bahwa ini adalah satu contoh kasus dimana kejatuhan suatu bangsa dikorbankan kepada faktor eksternal.

Seperti artikel yang ditulis Rob Cox pada 1 Oktober 2012 di majalah Newsweek, arus modal ke Vietnam setelah tergabung dalam WTO pada tahun 2007 menyebabkan negara itu kelebihan investasi.Sebagian besar aliran dana itu mengalir ke hunian kalangan atas atau properti industri, yang pada akhirnya hanya masuk tong sampah setelah krisis keuangan global pada tahun 2008.

Selain itu, hubungan yang terus memburuk dengan China akibat sengketa Laut Cina Selatan juga dapat membahayakan pertumbuhan di masa depan. Sebab China merupakan mitra terbesar untuk Vietnam dengan angka perdagangan dua arah pada tahun 2011 sebesar USD36 miliar menurut The Economist.

Pada saat yang sama, tidak dapat dipungkiri bahwa mendung yang dialami Vietnam sangat kental berbau politik dan administratif. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Vietnam terkenal tidak efisien. Reuters mencatat bahwa 100 BUMN terbesar memiliki US$ 50 miliar total utang, termasuk perusahaan galangan kapal bermasalah Vinashin yang memiliki utang US$ 4,5 miliar.

Tampaknya hanya ada sedikit kemauan politik untuk mereformasi BUMN boros ini, terutama dengan perpecahan yang jelas terjadi dalam Partai CPV. Partai telah menunjukkan bahwa segala kritik terhadap mereka tidak akan diterima dengan baik. Penangkapan tiga orang blogger yang mencoba membongkar kasus korupsi dan ketimpangan sosial yang terjadi, menunjukkan bahwa kekuasaan otoriter masih hidup dan berkembang di Vietnam.

Intoleransi terhadap kebebasan berpendapat telah membuat Partai CPV sebagai organisasi yang kaku dan tidak mampu beradaptasi dengan dunia yang selalu mengalami perubahan cepat. Doi Moi telah muncul dengan banyak celah, dan permainan Vietnam dengan kapitalisme tampaknya tidak dibarengi dengan kompetensi, akuntabilitas serta transparansi.

Vietnam merupakan kisah peringatan bagi Indonesia. Seperti yang pernah dialami Vietnam dalam waktu yang belum terlalu lama, Indonesia kini adalah anak emas untuk investor.

Dalam tujuh tahun terakhir, pertumbuhan PDB Indonesia telah melonjak 200%, saham-saham blue-chip telah meroket diatas 200%, dan pasar saham secara keseluruhan telah mencatatkan imbal hasil hingga 300%.

Mungkinkah Indonesia mengalami kecelakaan seperti yang dialami oleh Vietnam, dengan didukung oleh asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi dijalankan autopilot dengan tidak peduli siapapun yang memimpin?

Mari pikirkan lagi. Politik memang penting. Liberalisasi perekonomian tanpa reformasi politik dan kepemimpinan yang baik hanya akan berakhir dengan bencana.

Read more...

Dicabut, Larangan Angkutan Batubara

3 comments
Pemkot Probolinggo desak Pemprov Jatim dan Pusat membangun akses jalan memadai ke pelabuhan

PROBOLINGGO - Dengan alasan truk-truk pengangkut batubara merusak jalan di Kota Probolinggo, sekitar sebulan terakhir angkutan batubara dari Tanjung Tembaga dihentikan Walikota HM. Buchori. Namun atas desakan sejumlah pabrikan di Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang larangan itu dicabut kembali.

“Sejumlah industri mengaku kelimpungan dan meminta agar batubara bisa dibongkar kembali melalui Tanjung Tembaga. Ya saya kasihan juga mendengar keluhan kalangan pabrikan,” ujar walikota, Senin (5/11) pagi tadi. Keluhan kalangan pabrikan itu disampaikan melalui Kepala Dinas Perhubungan (Dishub), Sunardi dan Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Kepelabuhanan, Wiliyanto.

HM. Buchori menambahkan, sekitar sebulan terakhir, kalangan pabrikan mendatangkan batubara dari Kalimantan melalui Pelabuhan Gresik. Ternyata biayanya lebih besar dibandingkan melalui Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo. “Pak Nardi (Sunardi) dan Pak Wily (Wiliyanto) sudah menemui saya, menyampaikan keluhan kalangan pabrikan itu,” ujar walikota.

Seperti diketahui dengan alasan muatan melebihi tonase dan merusak badan jalan, truk-truk pengangkut batubara dari Tanjung Tembaga dilarang melintasi jalan di Kota Probolinggo. Pemkot Probolinggo pun mendesak Pemprov Jatim dan pemerintah pusat membangun jalan akses pelabuhan yang memadai.
Selama ini truk-truk bermuatan batubara dari pelabuhan melintasi Jalan Lingkar Utara (JLU) yakni, Jl. Anggrek, Jl. Ikan Tongkol, dan Jl. Raden Wijaya. Padahal jalan arteri kelas III itu hanya layak dilewati kendaraan dengan tonase 11-13 ton. ”Kalau dipaksakan dilewati truk batubara dengan tonase 20-28 ton, ya jalan cepat ambrol,” ujar walikota.

Berdasarkan catatan Kesyahbandaran dan Otorita Kepelabuhanan Probolinggo, selama kurun waktu sekitar setahun yakni, Agustus 2011-September 2012, sekitar 95.000 ton batubara telah dibongkar di Pelabuhan Tanjung Tembaga.

Batubara asal Kalimantan itu dipesan sejumlah industri di antaranya, PT Kertas Leces (Kabupaten Probolinggo, PT Cheil Jedang Indonesia (Kabupatan Pasuruan), Pabrik Gula Jatiroto (Lumajang), dan Pabrik Gula Semboro (Jember).

Walikota mengakui, pemkot memang menerima kompensasi (retribusi) atas kelebihan muatan batubara itu. ”Kalau kalau dihitung-hitung nilai retribusi itu tidak sepadan dengan tingkat kerusakan jalan,” ujarnya.
Data di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKA) menunjukkan, sumbangan dari pihak ketiga (SP III) itu selama Juni-September 2012 hanya Rp 34 juta. “Pada bulan Juli, tidak ada setoran,” ujar Kasi Evaluasi pada DPPKA, Imroatun.

Dibatasi 8 Ton
Meski akhirnya mencabut larangan truk-truk pengangkut batubara melintasi jalan Kota Probolinggo, walikota membatasi tonase batubara. “Truk-truk hanya boleh maksimal mengangkut 8 ton batubara. Lebih dari 8 ton tetap kami larang,” ujar politisi PDIP itu.

Disinggung soal besarnya retribusi bongkar-muat, walikota menyerahkan sepenuhnya kepada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Kepelabuhanan. Soalnya, lembaga yang dulu bernama Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) itu yang punya wewenang memungut retribusi jasa kepelabuhanan.

Soal usulan agar Pemkot Probolinggo mengirimkan proposal ke Pemprop Jatim terkait kerusakan jalan akibat truk-truk pengangkut batubara, walikota mengaku sudah melakukannya. “Kami sudah mengirimkan prosal ke Pemprop Jatim, soalnya untuk perbaikan jalan saja pemkot menghabiskan Rp 4-5 miliar,” ujar walikota.

Sebelumnya Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Jatim, Dahlan Karim menyarankan agar Pemkot Probolinggo mengirimkan proposal untuk perbaikan jalan. “Kalau memang Kota Probolinggo butuh dana, ya ajukan proposal. Nanti kami kaji,” ujarnya.

Yang jelas nanti (jika dana cair), pekerjaan perbaikan jalan itu bisa ditangani Pemkot Probolinggo sendiri. Soalnya, jalan yang dikeluhkan walikota adalah jalan kota, bukan jalan propinsi atau jalan nasional.

Dahlan menambahkan, sebenarnya tahun ini (2012) ini, Kota Probolinggo sudah disuntik dana Rp 5 miliar. ”Ya dana itu bisa dipakai dulu, kalau masih kurang ajukan proposal,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim, Mahdi. ”Sebaiknya walikota mengajukan proposal ke propinsi untuk perbaikan jalan yang dilalui truk pengangkut batubara,” ujarnya.
Politisi PPP itu menambahkan, Pemprop Jatim masih bisa menyisihkan anggaran dari plafon dana bantuan keuangan (BK). ”Ada dana BK, tetapi proposal akan dikaji kelayakannya lebih dulu,” ujarnya.

Read more...
Friday, 16 November 2012

Travel to Ende, Flores, Kelimutu, Village

0 comments
Ende is the largest town in Flores and is deemed to be the most important with its harbor serving other destinations around the archipelago. For the tourist, travelling to Ende can be a necessary transit onto Kelimutu. The town of Ende isn’t too appealing as it is a very hot and dusty place with it being situated at sea level. That being said there are black sandy beaches that you can explore to the east and west of the town. If you find yourself here for a few days waiting on a ferry or an aeroplane, it can be accommodating.

5_w2_w
1_w

Ende was also the victim of the devastating earthquake that hit just north of Maumere in 1992 and the population is still somewhat shaken by the whole experience. Life has resumed at the normal pace but you can still see buildings that were damaged by the earthquake.

Ende’s real claim to fame is that president Sukarno was exiled here in 1933 and his house has been turned into a museum of sorts with original furniture and photos still in place. There is no charge to gain access to the museum and it can be an interesting visit to step back into the Indonesian 1930’s. The museum can be found on Jalan Perwira, which is located around 250 meters from the harbor.

If you find yourself staying overnight in Ende then it is highly recommended that you visit the bustling nightmarket that can be found just outside the centre on Jalan Kelimutu. The market really comes to life after sunset and you will find yourself walking around various stalls of exotic produce by candlelight. Apart from the daily food essentials, the market is supplemented with many food stalls where you can taste some local delights and chat with the locals sharing stories about food and history.

8_l3l_ 7_l

Due to Ende’s proximity to the sea and its sheltered bay, it can become very hot in this town. It is rare to have a sea breeze and the dust can be quite annoying at times. To escape this, the best options are to head inland or west along the coastal road and discover one of many weaving villages. Ngella is a village around 30 km from Ende is very popular amongst locals and tourists alike. The fabric that is weaved here is regarded as some of the best in Flores and the prices can be a little expensive. The women of the village are hard bargainers so be prepared to bow down and accept her best price! The easiest way to get to Ngella is to take a Bemo from Wolowaru bus terminal in Ende. Another option is Wolotopo that is located just 7km from Ende. This village is not as frequented as Ngella so you can expect the fabrics to be cheaper. A very interesting option onwards from Wolotopo is the village of Ngalupolo where you can actually spend the night. It is a fantastic opportunity to gain an insight into the village life of Flores. If you have the time, it is well worth the trip.

You won’t find any high-end hotels in Ende however you will find numerous losman all offering a bed and basic amenities. Most of these Losmen can be found on the road to the airport.

4_w 6_w

Most people are here to move on to other places in Flores and the most popular destination is Kelimutu. It is easy to travel to Kelimutu from Ende. Make your way to the Wolowana bus terminal. There you will find buses departing to Moni from 6am through to 2pm. Be careful the bus conductor doesn’t charge you the full cost of a fare to Maumere. If you are heading to Labuan Bajo, buses are frequent and generally depart around 7am.

It is possible to travel to Kupang in West Timor from Ende by Ferry. The most regular ferry is Pelni and usually stops by Ende twice a week. If your timing is right then Roti and Savu are also on the timetable. The irregularities of the timings of ferries can be quite frustrating so it is best that you find an agent in town where this person will have updated schedules and can also sell you a ticket.

Read more...
Thursday, 4 October 2012

Daftar Sekolah Kedinasan di Indonesia

0 comments

1. STIS – di bawah Badan Pusat Statistik (dapat uang saku per bulannya Rp. 850.000), pendaftaran online (4 april s.d. 20 Mei 2011 di www.stis.ac.id ). Lokasi kuliah Jakarta

2. AKAMIGAS-STEM – Akademi Minyak dan Gas Bumi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Lokasi kuliah Cepu, Jawa Tengah (Kawasan R
ig dan pengeboran minyak) – Info bisa dilihat di www.akamigas-stem.esdm.go.id

3. MMTC – Sekolah Tinggi Multi Media Training Center di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo), pendaftaran online (21 Februari s.d. 11 Agustus 2011 di www.mmtc.ac.id). Lokasi kuliah di Yogyakarta

4. STSN – Sekolah Tinggi Sandi Negara – di bawah Lembaga sandi Negara, pendaftaran online di www.stsn-nci.ac.id Lokasi kuliah di Bogor

5. STKS – Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial di bawah Kementerian Sosial RI. Pendaftaran offline di Kemenkes RI, Bandung, Yogyakarta, Padang, Banjarmasin, Makassar, Jayapura, Palu. Info di www.stks.ac.id

6. STPN – Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional di bawah Badan Pertanahan Nasional RI. Pendaftaran online di www.stpn.ac.id Lokasi kuliah Yogyakarta

7. IPDN – Institut Pemerintahan Dalam Negeri di bawah Kementerian Dalam Negeri RI. Pendaftaran offline di Bagian Kepegawaian Daerah Kabupaten/ Kota seluruh Indonesia. Lokasi kuliah Jakarta, Pekanbaru, Manado, Bukittinggi, Makassar.

8. AKIP – Akademi Ilmu Permasyarakatan di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Pendaftaran online di www.depkumham.go.id atau www.ecpns-kemenkumham.go.id Lokasi kuliah di Depok.

9. STTT – Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil di bawah Kementerian Perindustrian RI bekerja sama dengan Pemerintah Jerman. Pendaftaran offline langsung ke kampus STTT. Info di www.stttekstil.ac.id Lokasi kuliah di Bandung.

10. AMG – Akademi Meteorologi dan Geofisika di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), info di amg.ac.id/ Lokasi kuliah di Bintaro, Tangerang.

11. ATK – Akademi Teknologi Kulit di bawah Departemen Perindustrian RI. Pendaftaran online di http://www.atk.ac.id/ lokasi kuliah di Yogyakarta.

12. STTD – Sekolah Tinggi Transportasi Darat di bawah Kementerian Perhubungan RI. Pendaftaran offline di ATKP Medan Jl. Penerbangan no. 85 Padang Bulan, dan berbagai lokasi lain di Indonesia. Info di www.sttdbekasi.ac.id Lokasi kuliah di Bekasi, Jawa Barat.

13. PTKI Medan- Pendidikan Teknologi Kimia Industri Medan. Nah, yang satu ini juga ikatan dinas, tapi hanya ada di Medan.

14. STAN – Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (Rekor MURI) di bawah Kementerian Keuangan RI. Spesialisasi Akuntansi, Pajak, Bea Cukai, PPLN, PBB, dan Kebendaharaan Negara.

15. STT-PLN Program D3-nonreguler - Bekerja sama dengan PLN untuk mencari calon pegawai PLN,Setelah lulus D3 langsung di rekrut oleh PLN,kekuranganya biaya kuliah ditanggung sendiri Info lebih lanjut silahkan klik www.sttpln.ac.id
Read more...

Kisah Kakek Penjual Amplop

0 comments
Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.


Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil