Friday, 14 October 2011

Jawa Pos Raih Gelar Koran Terbaik Dunia

0 comments
PARIS,Timex – Harian Jawa Pos, induk Harian Pagi Timor Express, berhasil meraih gelar tertinggi World Young Reader Prize 2011, menjadi koran terbaik dunia dalam inovasi untuk meraih dan mengembangkan pembaca muda.

Penghargaan itu dipastikan oleh asosiasi penerbit sedunia, WAN-IFRA, Jumat akhir pekan lalu (29/7). Dalam ajang tahunan yang diikuti koran dari seluruh dunia tersebut, Jawa Pos meraih kemenangan pada kategori Enduring Excellence. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang ditunjuk WAN-IFRA, berdasar komitmen dan konsistensi untuk meraih dan mempertahankan pembaca muda.

Tidak cukup sampai di situ. Dewan juri kemudian menyatakan Jawa Pos layak meraih gelar tertinggi: World Young Reader Newspaper of the Year 2011.
Lewat surat resmi yang disampaikan WAN-IFRA, tim juri menyatakan Jawa Pos unggul mutlak. Bahkan, departemen dan halaman anak muda DetEksi yang terbit setiap hari di Jawa Pos dianggap tak punya tandingan.

”Terus terang, tim juri membuat keputusan dengan sangat mudah,” kata Dr Aralynn McMane, executive director, Young Readership Development, World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA), yang berpusat di Paris, Prancis, dan Darmstadt, Jerman.
Tim juri pun memberikan penjelasan detail mengapa Jawa Pos layak meraih penghargaan tertinggi ini, seputar sukses halaman DetEksi yang terbit sejak 2000.

”Jawa Pos telah menunjukkan kerja luar biasa. Memiliki program yang substansial, yang dijalani bertahun-tahun, dan punya komitmen sukses dalam menggandeng anak muda, baik lewat halaman koran maupun kegiatan off-print,” begitu tulis pesan dari tim juri.

Lebih lanjut, juri menilai lembaran DetEksi –yang terbit setiap hari di Jawa Pos– sebagai sesuatu yang ”lebih” dari sekadar halaman anak muda biasa. ”DetEksi merupakan sebuah strategi komplet untuk menemukan, menggandeng, dan mempertahankan pembaca muda. Dan, yang paling penting, DetEksi membuahkan hasil,” tegas tim juri.

Dr Aralynn McMane menyampaikan, pengumuman resmi penghargaan itu secara global baru disampaikan sekitar dua pekan lagi. Namun, Jawa Pos sudah mendapat hak untuk mengumumkannya sendiri.

Penyerahan penghargaan sendiri baru dilaksanakan pada 12 Oktober mendatang di Wina, Austria. Yaitu, saat dilangsungkannya 63rd World Newspaper Congress (kongres koran sedunia) dan 18th World Editors Forum (forum editor sedunia). Dalam ajang itu Jawa Pos diminta mempresentasikan perkembangan DetEksi dalam 11 tahun terakhir.

Menurut Azrul Ananda, direktur harian Jawa Pos, pihaknya diberi tahu layak masuk unggulan World Young Reader Prize 2011 setelah Konferensi WAN-IFRA Asia Pasifik di Bangkok, April lalu. Dalam beberapa pekan belakangan ini Jawa Pos telah diminta mengirimkan materi informasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan juri tentang program DetEksi.
Setiap tahun World Young Reader Prize diberikan kepada koran-koran yang dianggap inovatif dalam menggandeng dan mengembangkan pembaca muda.

”Kami sangat bangga dengan penghargaan tingkat dunia ini. Apalagi, ini atas sebuah pencapaian yang prosesnya harus dijalani dengan sangat panjang, dengan konsep yang harus disiapkan secara matang. Bukan pencapaian instan atau sebuah momen keberuntungan,” kata Azrul.

”Beberapa tahun lalu kami pernah disarankan ikut, namun waktu itu kami belum mau ikut. Sekarang kami sudah punya hasil konkret dari pentingnya konsistensi menggandeng pembaca muda. Kali pertama ikut langsung menang tingkat dunia,” tambah Azrul.
Berkat DetEksi, jelas Azrul, belakangan Jawa Pos memang meraih hasil-hasil yang dia anggap mengagumkan. Ketika koran-koran dianggap menghadapi masa sulit, Jawa Pos mampu menjaga konsistensi dan eksistensi.

”Survei Nielsen dalam beberapa tahun terakhir selalu menunjukkan bahwa Jawa Pos memiliki readership terbanyak di Indonesia, mengalahkan semua koran yang ada, termasuk yang terbit dari Jakarta. Bukan hanya itu. Survei juga menunjukkan bahwa 51 persen pembaca Jawa Pos berusia lebih muda dari 30 tahun. Kalau ditarik mundur, semua itu bisa dibilang adalah hasil ’pengaderan pembaca DetEksi’ yang dimulai sejak 2000,” tutur Azrul.
”Kami berhasil membuktikan bahwa koran tidak akan punya masalah di masa mendatang. Tinggal bagaimana koran itu beradaptasi dan terus menarik minat pembaca di era yang terus berubah,” tandasnya.

Memang hasil itulah yang disebut memukau tim juri. Jumlah pembaca muda Jawa Pos jauh lebih besar daripada koran-koran lain di Indonesia. Tim juri juga mengatakan, apa yang dilakukan Jawa Pos lewat DetEksi bisa dijadikan contoh bagi koran-koran lain di seluruh dunia. Baik itu cara mengelola halaman yang melibatkan personel muda, cara menyampaikan rubrik, maupun program-program off-print seperti kompetisi basket pelajar DBL (dulu DetEksi Basketball League, sekarang Development Basketball League).

Apa yang dilakukan Jawa Pos dengan DetEksi ini disebut bisa menjadi inspirasi bagi koran-koran lain di seluruh dunia. ”Content dan program-program DetEksi sangatlah mengagumkan dan dengan mudah bisa direplikasi oleh koran-koran lain,” tulis tim juri.

Dengan hasil ini, Azrul mengaku segenap personel Jawa Pos menjadi semakin terpacu untuk terus berinovasi di bidang jurnalistik agar menghasilkan produk yang lebih baik lagi. ”Saya yakin seluruh media di bawah bendera Jawa Pos Group, yang jumlahnya hampir 200 koran dan televisi-televisi lokal dari Aceh sampai Papua, juga termotivasi untuk terus berinovasi,” ujar Azrul.

timorexpress.com
Read more...

Asal Mula Stanford University

0 comments
Suatu hari, ada seorang nyonya berpakaian gingham (motif katun kotak-kotak) yang sudah pudar, bersama suaminya yang mengenakan jas rumahan, turun dari kereta di Boston, Massachusetts . Mereka berjalan dengan malu-malu. Lalu, tanpa membuat janji terlebih dahulu, mereka masuk ke ruang tunggu kantor Presiden Universitas Harvard. Sekretaris Presiden mengerutkan alis. Ia bisa tahu seketika bahwa pasangan dusun tertinggal seperti ini sama sekali tidak ada urusan di Universitas Harvard.

"Kami ingin menemui Presiden", kata pria tua itu dengan lembut.

"Beliau sibuk seharian", tukas sekretaris itu dengan cepat.
"Kami akan menunggu", jawab nyonya itu. Sekretaris itu tidak menggubris mereka selama berjam-jam, berharap pasangan itu akhirnya akan kecewa dan pergi, namun akhirnya tidak pergi juga. Sekretaris itu mulai frustasi dan akhirnya memutuskan untuk memberitahu sang presiden, meski hal ini adalah pekerjaan yang selalu tak disenanginya.

"Mungkin jika mereka melihat bapak selama beberapa menit, mereka akan pergi", ia memberitahu presiden Harvard. Presiden mendesah putus asa dan akhirnya mengangguk. Seorang dengan status setinggi ini jelas tidak punya waktu untuk berurusan dengan tamu semacam ini, namun ia sangat membenci baju katun kotak-kotak dan jas rajutan rumah memenuhi ruang tunggu kantornya. Jadi sang presiden, dengan wajah kaku penuh martabat, melangkah tegap dan penuh gengsi ke arah pasangan itu.

Nyonya itu berkata kepadanya,"Putra kami pernah bersekolah di Harvard selama setahun, Ia sangat mencintai Harvard dan bahagia di sini, namun setahun yang lalu, Ia meninggal dalam kecelakaan. Jadi saya dan suami saya hendak mendirikan monumen untuk mengenangnya di kampus ini."

Presiden itu tidak terkesan,"Nyonya", katanya ketus, "kami tidak bisa mendirikan patung untuk setiap orang yang pernah masuk ke Harvard dan meninggal. Jika seperti itu, tempat ini akan jadi seperti pekuburan!"

"Oh, tidak tidak," nyonya itu buru buru menjelaskan, "Kami tidak ingin mendirikan sebuah patung. Kami pikir kami hendak menyumbangkan sebuah gedung untuk Harvard."

Presiden itu memutar bola matanya. Ia melirik ke baju Gingham dan jas rumahan lalu berseru, "Gedung? Apakah anda tahu berapa biaya sebuah gedung? Kami sudah menginvestasikan lebih dari tujuh setengah juta dolar untuk mendirikan kampus ini!"

Untuk sesaat nyonya itu diam. Presiden itu merasa puas, Ia bisa mengusir mereka sekarang. Nyonya itu kemudian berpaling ke suaminya dan berkata pelan, "Jika cuma segitu biayanya, mengapa kita tidak bikin Universitas sendiri aja?" Suaminya mengganguk. Wajah Presiden Harvard mengerut bingung dan kecut.

Tuan dan Nyonya Leland Stanford melangkah keluar di sana, lalu pergi ke Palo Alto, California, tempat mereka mendirikan Universitas yang kemudian dikenal dengan nama Stanford University, sebagai institusi untuk mengenang putra mereka.

kaskus.us
Read more...
Sunday, 25 September 2011

Download Athan (Azan) Software 4.1 for over 6 Million cities Prayer Times

0 comments
You can download Athan Basic Free or buy Athan Pro 4.1 here.
Read more...

Download Mozilla Firefox 6.0.2

0 comments
Silahkan download browser Mozilla Firefox versi 6.0.2 disini.
Read more...
Thursday, 22 September 2011

50 Kota Jadi Proyek Pengembangan Kota Hijau

0 comments
Program Pengembangan Kota Hijau (PPKH) merupakan target penyusunan Rencana Aksi Kota Hijau. “Fokusnya green planning and design, green open space, dan green community,” ungkap Direktur Perkotaan Dirjen Penataan Ruang, Joessair Lubis, di Kantor Pusat Komunikasi Kementerian Pekerjaan Umum, Kamis (22/9).
Ada sekitar 50 kota di Indonesia yang menjadi target PPKH. Banda Aceh, Yogyakarta, Probolinggo, dan Makassar adalah contoh target proram. Makassar contohnya menjadi tuan rumah pelaksanaan Hari Tata Ruang Nasional dan Hari Habitat 2011 nantinya, dengan tema “Empowerment for Green Cities”. Puncaknya pada Oktober 2011.
Lubis menambahkan penyelenggaraan ini sekaligus mendorong pemangku kepentingan perkotaan untuk berkolaborasi dalam rangka mewujudkan kota hijau melalui penyusunan komitmen bersama.

Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya sekaligus Ketua Pelaksana Hari Habitat Nasional 2011, Suswono, menyampaikan sebanyak 240 negara di dunia juga memeringatinya. Ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi tata ruang di Indonesia yang semakin semrawut.

Berdasarkan data UN Habitat pada 2011, sumber emisi gas rumah kaca dunia 24 persennya berasal dari kegiatan elektrikal seperti bangunan komersial, dan perumahan. Sementara, sebanyak 18,2 persen dari perubahan tata guna lahan. Transportasi menyumbang emisi 13,5 persen dan agrikultur 13,5 persen.

Pembenahan tata ruang perkotaan wajib dilakukan. “50 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan,” kata Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat, Oswar Mingkasa. Pada 2050, jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan bisa mencapai 70 persen.

Ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Terutama desain rumah di perkotaan yang hijau dan ramah lingkungan tetapi harganya terjangkau. Dalam hal ini, Oswar mengatakan Kementerian Perumahan Rakyat sedang merancangnya.
Terakhir, perilaku masyarakat yang hemat energi. Selain itu, ada upaya mitigasi dan adaptasi melalui pendekatan kebijakan pemerintahan kota, perancangan dan pembangunan perkotaan dengan melibatkan masyarakat terkait.

Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil