Wednesday, 24 February 2010

Sulitnya Merapikan Lembaran Lusuh

0 comments
Probolinggo - Pabrik kertas yang terletak di Desa Leces, Kecamatan Leces, Kab. Probolinggo berdiri sejak republik ini belum merdeka. Didirikan pada 1939 dan beroperasi setahun kemudian,  PTKL menjadi pabrik kertas tertua kedua setelah PT Kertas Padalarang, Jabar. Tetapi usia tua bukan jaminan perusahaan itu semakin sehat kinerjanya. Kini, PTKL justru mirip lansia yang sakit-sakitan.

Menneg BUMN, Mustafa Abubakar di hadapan Komisi VI DPR RI, Senin (15/2) berterus terang, ada 8 BUMN yang merugi 3 tahun berturut-turut. PTKL bertengger di urutan pertama sebagai perusahaan yang merugi pada 2006, 2007, dan 2008.

”Benar yang dikatakan Menneg BUMN, kami memang merugi selama 3 tahun. Pada 2009 belum diketahui rugi atau untung karena masih menunggu audit dari kantor akuntan publik,” ujar Sekretaris Perusahaan (Sekper) PTKL, Prof Dr Ir R Abdul Haris MM, Senin (15/2) malam.

Menurut keterangan Mustafa, PTKL merugi akibat hanya beroperasi 30% dari total kapasitasnya. BUMN berlogo burung hantu itu terus dihantui kesulitan likuiditas, kekurangan bahan baku, dan beban karyawan yang tidak sebanding dengan produksi. Kesulitan pasokan gas alam sebagai bahan bakarnya dianggap pemicu awal beragam kesulitan itu.

Belum lagi masih adanya beban utang. Langkah penyelesaiannya adalah menambah penyertaan modal negara Rp 100 miliar menjadi Rp 175 miliar pada 2007, serta melakukan konversi bahan bakar dari gas alam ke batubara.

Untuk memotret kinerja PTKL yang jeblok pada 2006-2008 paling tidak bisa dibingkai pada periode lima tahunan, semasa Pemilu 2004 hingga Pemilu 2009. Dalam Pemilu 2004, dilanjutkan dengan Pemilihan Presiden di tahun yang sama, PTKL sebenarnya sempat menikmati lezatnya buah pesta demokrasi.

Seorang aktivis buruh SPKL, M. Arham bahkan menyebut saat Pemilu 2004 PTKL meraup keuntungan sekitar Rp 100 miliar. Bisa dikatakan, PTKL yang sebelumnya selama tiga tahun berturut-turut (2001-2003) merugi, baru meraup untung pada 2004.

Di tahun 2005, PTKL menunjukkan kedigdayaannya dengan membagi bonus sebesar Rp 1,4 miliar kepada 3.017 karyawan.

Tetapi saat Pemilu 2009 lalu, PTKL terpaksa gigit jari. Suyono, aktivis buruh lain SPKL menyebutkan, pada Pemilu 2009 dari total kebutuhan 30.000 ton kertas suara dan 10.000 ton kertas pemilih, PTKL hanya mendapatkan jatah 300 ton kertas. Pada 2009 lalu pabrik yang memproduksi beragam jenis kertas seperti kertas cetak dan tulis, kertas koran, hingga kertas tisu itu produksinya terjun bebas. Bahkan sempat selama 6 bulan PTKL berhenti berproduksi. Baru pertengahan Februari 2009, PTKL mulai berproduksi kembali. Sayang, baru sekitar sebulan berproduksi, PTKL dihempas unjuk rasa besar-besaran.

Sekitar 2.300 karyawan dari total 2.600 karyawan PTKL berdemonstrasi di halaman kantor Direksi PTKL. Mereka mendesak pergantian jajaran direksi yang dinilai tidak lagi mampu mengendalikan ”kapal raksasa” (PTKL) yang sebagian buritannya mulai karam.
           
Boiler Batubara
Di antara penyebab meruginya PTKL adalah mahalnya gas alam sebagai bahan bakar. Tentu saja PTKL tak ingin terus menerus bercokol dalam daftar BUMN yang bertahun-tahun merugi. PTKL pun kemudian membangun boiler batubara sebagai pengganti gas alam. Dan momen jam 10, tanggal 10, bulan 10, tahun 2009 seolah demikian sakral bagi PTKL. Soalnya pada momen tersebut dilakukan pemancangan tiang pertama (ground breaking ceremony) pembangunan boiler batubara. Biaya pembangunannya disokong pemerintah pusat senilai Rp 175 miliar melalui penyertaan modal negara pada 2007.

“Diharapkan pada jam 10, tanggal 10, bulan 10, tahun 2010, boiler batubara itu bisa diresmikan dan dioperasikan,” ujar Prof Haris.

Acara pemancangan tiang pertama penuh simbol “keramat” bilangan 10 itu dihadiri Deputi Agroindustri Kementerian BUMN, Ir Agus Pakpahan dan Komisaris Utama PT Kertas Leces, Singgih Riphat. Tampak pula Dirut PT Kertas Leces, Ir Martoyo Sugandi dan Dirut PT Waskita Karya (Persero) Ir M. Kholid MM.
Pejabat Pembuat Komitmen PTKL, Syarif Hidayat melaporkan, konversi gas alam ke batubara menjadi pilihan bijak. “Harga gas alam terus naik sehingga mempengaruhi biaya produksi yang membuat PT Kertas Leces tidak akan bisa bersaing terhadap perusahaan sejenis,” ujarnya.

Dengan menggunakan boiler batubara, kata Syarif, PTKL bisa lebih hemat. “Sebagai perbandingan, pakai gas alam butuh 160 dollar AS per ton kertas, sementara dengan batubara perlu 80 dollar AS,” ujar Syarif.

Ide pembangunan boiler batubara sendiri sudah muncul sejak 2005 silam dan langsung disosialisasikan di tahun yang sama. Tender pertama digelar akhir 2006, namun kontrak kemudian dibatalkan. Tender kedua digelar akhir 2008-awal 2009 yang berakhir tanpa pemenang. Barulah pada tender ketiga, Direksi PTKL berhasil memilih PT Waskita Karya sebagai rekanan proyek boiler batubara.

Soal tender boiler batubara yang bertele-tele itu, Komisaris Utama PTKL, Ir Singgih Riphat mengakuinya. “Mungkin ini proyek BUMN terpanjang, rumit, dan berbelit-belit. Pada tender pertama kontraktor mundur, selanjutnya tidak ada pemenang tender,” ujar Singgih.

Akhirnya pada tender ketiga, Kementerian BUMN menyetujui PT Waskita Karya sebagai rekanan proyek. “Dengan begitu ada sinergi sesama BUMN,” ujar Dirut PT Waskita Karya, Ir M. Khalid MM.

Konversi gas alam ke batubara memang langkah strategis. Boiler batubara bisa menghemat biaya energi hingga 50 persen. “Padahal, energi menyumbang 20 persen komponen biaya produksi,” ujar Dirut PTKL, Ir Martoyo Sugandi.

“Diet” Karyawan
Langkah lain PTKL adalah penyusutan jumlah karyawan. Prof Haris menyebut pabrik kertas modern idealnya mempunyai 1.600-1.700 karyawan, sementara PTKL memiliki lebih dari 2.000 karyawan. Ini pun sudah hasil “diet”. Pada tahun 2007 karyawan PTKL mencapai sekitar 2.500 orang.

“Pengurangan karyawan saat itu bukan APP (atas permintaan perusahaan), tetapi melalui APS (atas permintaan sendiri) sekitar 500 karyawan,” ujar Ketua Serikat Pekerja Sejahtara Kertas Leces (SPSKL), Imam Suliono.

Sebenarnya perusahaan menargetkan 1.000 karyawan, tetapi sekitar 500 saja yang bersedia lengser melalui APS. Mereka ini mendapat pesangon 100% plus 80%. Karyawan yang pesangonnya sesuai UU Menakertrans Rp 100 juta, misalnya, mendapatkan pesangon Rp 180 juta.

Selain pengurangan karyawan, para buruh sebelumnya sudah lebih dulu berkorban. Sejumlah tunjangan seperti tunjangan tetap, tunjangan jabatan, tunjangan shift, hingga tunjangan kesejahteraan dikepras. Contoh kecil, seragam yang dulu berganti tiap tahun, kini berganti 2 tahun sekali. Tunjangan sepatu yang dulu diberikan tiap 2 tahun, kini sudah 4 tahun belum dijatah lagi. Tak hanya itu, jatah gula dan susu bagi karyawan pun dikurangi. Khusus jatah susu diberikan kepada karyawan yang bekerja di lingkungan berbahan kimia. ”Biar badan tetap fit diberi minum susu, tetapi jatah susunya kemudian berkurang,” ujar Ketua SPSKL, Imam Suliono.

Jatah buku tulis yang diterima karyawan pun juga dikepras. Sebelumnya, dalam satu tahun karyawan menerima 12 kali paket buku tulis atau sebulan sekali berisi 30 eksemplar buku tulis. Kini, jatah mereka tinggal 9 kali paket.

Dengan kondisi yang terseok-seok, mengapa PTKL masih dipertahankan?
Deputi Agro Industri Kementrian BUMN, Ir Agus Pakpahan punya jawabannya. Menurut dia, pangsa pasar kertas BUMN yang tinggal 2 persen perlu dipertahankan karena dua faktor. Pertama, sejarah. PTKL adalah salah satu dari 2 perintis industri kertas di Indonesia yang masih bertahan. Kedua, PTKL ramah lingkungan karena PTKL bisa “memakan” (bahan baku) ampas tebu (bagase), jerami, hingga batang jagung. “Bayangkan, 30 ribu hektare areal tebu ekuivalen dengan 500 ribu hektare kayu,” ujar Agus.

Ini juga sesuai dengan tren kertas di dunia yang mengarah ke kertas kuning (brown paper). ”Brown paper atau kertas kuning termasuk non-wood pulp (serat non-kayu), sehat untuk mata, dan prospek pasarnya bagus,” ujar Agus.

Selama ini PTKL”memakan” 1.000 ton bagase ditambah bahan baku kertas koran bekas. Hasilnya, 500 ton kertas baru per hari.

Sayangnya, predikat ramah lingkungan ini terancam oleh menipisnya bahan baku. ”Bagase terus berkurang. Banyak pabrik gula memanfaatkan bagase untuk bahan bakar tambahan mereka sendiri,” ujar Prof Haris. Jadi?

www.surabayapost.co.id
Read more...
Thursday, 28 January 2010

Berapa Gaji Khalifah Islam?

0 comments
Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat sehari sesudahnya Abu Bakar r.a. terlihat berangkat ke pasar dengan barang dagangannya. Umar kebetulan bertemu dengannya di jalan dan mengingatkan bahwa di tangan Abu Bakar sekarang terpikul beban kenegaraan yang berat. “Mengapa kau masih saja pergi ke pasar untuk mengelola bisnis? Sedangkan negara mempunyai begitu banyak permasalahan yang harus dipecahkan…” sentil Umar.

Mendengar itu, Abu Bakar tersenyum. “Untuk mempertahankan hidup keluarga,” ujarnya singkat. “maka aku harus bekerja.”

Kejadian itu membuat Umar berpikir keras. Maka ia pun, bersama sahabat yang lain berkonsultasi dan menghitung pengeluaran rumah tangga khalifah sehari-hari. Tak lama, mereka menetapkan gaji tahunan 2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan kemudian secara bertahap, belakangan ditingkatkan menjadi 500 dirham sebulan. Jika dikonversikan pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta dalam sebulan. Sekadar informasi, nilai dirham tidak pernah berubah.


Meskipun gaji khalifah sebesar itu, Abu Bakar tidak pernah mengambil seluruhnya gajinya. Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu bakar, “Aku ingin membeli sedikit manisan.”

Abu Bakar menyahut, “Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya.”

Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan, aku akan mencoba untuk menghemat uang belanja kita sehari-hari, sehingga aku dapat membeli manisan itu.”

Abu Bakar menyetujuinya.

Maka mulai saat itu istri Abu Bakar menabung sedikit demi sedikit, menyisihkan uang belanja mereka setiap hari. Beberapa hari kemudian uang itu pun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut.

Namun Abu Bakar berkata, “Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata uang tunjangan yang kita peroleh dari Baitul Mal itu melebihi keperluan kita.” Lalu Abu bakar mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan beliau telah dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.

Pada saat wafatnya, Abu Bakar hanya mempunyai sebuah sprei tua dan seekor unta, yang merupakan harta negara. Ini pun dikembalikannya kepada penggantinya, Umar bin Khattab. Umar pernah mengatakan, “Aku selalu saja tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam beramal shaleh.”(sa/berbagaisumber)

Read more...
Tuesday, 26 January 2010

Basuki, Koran, dan Pendidikan

0 comments

"Untuk mewujudkan mimpinya meraih jenjang pendidikan tertinggi, Basuki, anak kedelapan dari sembilan bersaudara keluarga buruh ini, pernah menjadi pengasong di gerbong kereta api dan distributor gula pasir dari rumah ke rumah," kata Alwi Dahlan bangga, saat membacakan catatannya tentang Basuki.
Kebanggaan lain juga dikemukakan kopromotor Prof Sasa Djuarsa Sendjaja, PhD. Seusai Sidang Terbuka Senat Akademik UI, katanya, "Kajian disertasi Basuki itu menarik dalam studi komunikasi politik karena memfokuskan pada bahasa politik terkait dengan berbagai pemaknaan dan clash of argument tentang reformasi di Indonesia".

Basuki, lanjut Sasa, meneliti bagaimana kontestasi makna reformasi dalam drama politik pada 1997-1998 di Indonesia dan bagaimana para aktor politik berkomunikasi (political talks) tentang reformasi dalam drama politik itu. Hasil penelitian Basuki menunjukkan, selama 1997-1998 terdapat lima keadaan obyektif yang memperlihatkan panggung drama (scene) di mana reformasi dipikirkan dan saling bersaing. Alwi Dahlan menyarankan agar disertasi Basuki diolah menjadi buku.
Basuki melakukan penelitian dengan memanfaatkan surat kabar Kompas selama tahun 1997-1998. Ia mencermati pernyataan-pernyataan para aktor politik yang didukung data dari wawancara menjadi sesuatu yang menarik.
Menurut dia, ada lima keadaan obyektif yang memperlihatkan panggung drama, di mana reformasi dipikirkan dan saling bersaing. Pertama, situasi pencalonan presiden masa bakti 1998-2003 yang memperlihatkan kompetisi, saling bersaing antara mereka yang menginginkan Presiden Soeharto tak dicalonkan dan yang tetap menginginkannya.
Kedua, aksi dan demonstrasi mahasiswa. Di sini ada persaingan antara mereka yang menghentikan gerakan serta yang berkeinginan memperluas gerakan dan tingkat partisipasi guna menjatuhkan Soeharto.
Ketiga, kerusuhan massa yang memperlihatkan persaingan pemikiran antara yang melihat itu sebagai akibat kesenjangan sosial dan pembangkangan sipil. Keempat, krisis ekonomi, persaingan antara prinsip-prinsip ekonomi bebas dan ekonomi yang proteksionisme dan monopoli. Kelima, posisi ABRI dilematis, memberikan ruang kepada tuntutan reformasi atau mempertahankan kekuasaan dan pemerintahan.
"Hasilnya, Soeharto menyatakan berhenti, rezim Orde Baru diganti, dwifungsi ABRI dicabut, amandemen UUD 1945, berbagai kebijakan ekonomi dicabut, keterbukaan dan kebebasan pers, serta kekuasaan dikompetisikan secara terbuka," ujarnya.
Penelitian Basuki berimplikasi teoretis dalam kajian komunikasi, juga berimplikasi terhadap kajian politik dan sejarah. Kata dia, telaah yang perlu dikembangkan lebih jauh sebagai implikasi teoretis bagi kajian sejarah adalah menguji otentisitas pernyataan-pernyataan yang terekam di Kompas hingga segi-segi ini dapat mencerminkan sejarah perubahan kekuasaan yang sebenarnya penuh ironi.
"Jejak komunikasi itu dapat dikembangkan lebih jauh untuk menguji presentasi sosial para aktor politik, nilai-nilai yang diperjuangkan, segi perubahan itu sendiri, dan konstelasi kekuatan dan kekuasaan yang terbentuk dan berguna bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya.
Semangat loper
Basuki menyadari, ia bisa meraih gelar doktor dengan kelulusan cum laude karena tempaan kehidupan yang penuh liku-liku. Ketika ayahnya, Suwoyo Wirusumitro, diberhentikan jadi buruh pabrik gula di Sragen, ayahnya mengadu nasib ke Jakarta menjadi tukang batu.
Beban hidup dan pekerjaan yang berat membuat sang ayah meninggal pada 1983. Maka ibundanya, Sugiyanti, dan adiknya pulang ke Sragen. Basuki, yang saat itu kelas II SMP 50 Jakarta, juga pulang kampung.
"Di kampung ada modal hidup berupa 20 batang pohon kelapa. Untuk makan sehari-hari, saya mengupas kelapa, Ibu yang menjual. Hasil belajar saya jelek dan menjadi bahan tertawaan. Anak pindahan dari Jakarta hanya dapat nilai 3 untuk ulangan Fisika. Tertawaan teman membuat saya termotivasi belajar otodidak. Saya berhasil lulus dan diterima di SMA Negeri I Sragen," katanya.
Basuki ingin masuk fakultas kedokteran atau jurusan kimia, tetapi ia tak lulus tes. Menyadari sang ibu tak mampu, ia memilih berjualan koran untuk hidup dan kuliah.
"Hari pertama saya jual koran, hanya laku tiga eksemplar dan dapat uang Rp 300. Esoknya saya beranikan diri masuk-keluar kantor dan dapat Rp 1.000. Hari-hari berikutnya saya bisa menabung Rp 6.000 dan dalam setahun tabungan saya jadi Rp 300.000," ujarnya.
Seusai berjualan koran sekitar pukul 14.00, Basuki mengasong di gerbong kereta api jurusan Klaten-Bandung dan Klaten-Surabaya. Semua hasil jualan itu dia simpan. Basuki lalu memilih kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS).
Ia tak lagi menjadi pengecer koran, tetapi loper koran. Kesibukan itu membuat dia sering terlambat kuliah. Sekitar enam tahun menjadi loper koran, ia mengantongi penghasilan sekitar Rp 60.000 per bulan.
Lulus S-1 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,2, selain berjualan koran ia juga berjualan gula pasir dari rumah ke rumah. Modal awalnya satu karung gula pasir seharga Rp 100.000.
Dari hari ke hari pelanggan Basuki bertambah, ia memerlukan 3 ton gula pasir per bulan untuk melayani sekitar 300 pelanggan. Ketika ada peluang menjadi dosen pada 1997, temannya, Sigit Tripambudi, memotivasi, bahkan membuatkan lamaran untuk Basuki.
Ketika dinyatakan lulus, ia berhenti menjadi loper koran dan distributor gula. Ia menjadi dosen tetap UPN Veteran Yogyakarta. Studi S-2 di UNS dia selesaikan dengan IPK 3,8 dan predikat cum laude.
Ia juga mendapat beasiswa S-3 di Universitas Indonesia, yang diselesaikannya selama 4,5 tahun. "Kalau ada kemauan, Tuhan memberikan jalan. Sesuatu yang tak mungkin, bisa mungkin asal ada cita-cita dan keberanian untuk mewujudkannya. Suka-duka hidup itu menjadi energi positif mencapai keberhasilan," katanya.

www.kompas.com
Read more...
Tuesday, 1 December 2009

Kampanye Anti Merokok yang Kreatif

2 comments


Kotornya asap knalpot, sama dengan karsinogen yang terdapat dalam asap yang keluar dari mulut perokok. Sebuah grup anti merokok menggabungkan keduanya dengan menempatkan poster wajah orang dengan mulutnya yang digantikan dengan lubang knalpot.


Tempat sampah di jalan ini memperingatkan perokok bahayanya rokok bagi mata mereka. Sangat kreatif bukan?


Ini adalah himbauan anti merokok yang sangat kreatif dan inventif untuk membuat orang membenci merokok. Di tempatkan di gym.


Tanda berhenti di Brazil dalam bentuk rokok.


Himbauan anti merokok ini dibuat dalam rangka hari tanpa tembakau (31 Mei), dan ini bisa ditemukan di toko kopi Dubai, dimana orang-orang berdatangan untuk merokok.

Kelompok Peruvian League Against Cancer ingin perokok tahu kalau merokok rokok bekas sama saja dengan melepaskan sekawanan lebah pembunuh ke seorang gadis kecil. Untuk kampanye anti merokok mereka, mereka melem 15.000 putung rokok satu per satu. Sukarelawan yang menyumbang putungnya.


"Smoke kills" mengatakan peti mati ini dibuat berdasarkan kenyataan. Kita tidak bisa menyalahkan mereka karena cara mereka yang sangat mistis untuk mengkampanyekan gerakan anti merokok mereka. Sangat menarik melihat cara mereka melibatkan target mereka dengan sentuhan humor tentang ini.


Dalam iklan ini terdapat gambar sinar-X transparan yang digambungkan dengan kumpulan putung rokok agar terlihat lebih visual. Di buat oleh Agen Saatchi & Saatchi di London.


Truk tangki bahan kimia sepanjang 12 meter yang dibuat seperti sebuah rokok raksasa ini digunakan oleh peneliti kanker di Inggris untuk menonjolkan banyaknya racun dalam rokok.




Ini adalah iklan kampanye anti merokok yang dipublikasikan di Riyadh untuk menghimbau orang berhenti merokok. Kampanye ini telah menggunakan pendekatan yang sangat inovatif yang menunjukkan berbagai dampak negatif akibat rokok. Iklan ini menunjukkan rokok yang terbakar yang dalam debunya juga terdapat orang lain. Iklan yang kedua menunjukkan bangunan dan gedung yang ikut terbakar akibat rokok. Iklan ini sebenarnya menunjukkan dampak luas yang diakibatkan rokok, yang bukan hanya berpengaruh pada si perokok tapi juga sekitarnya. (dari berbagai sumber)

Read more...
Wednesday, 18 November 2009

Cara Biar Rajin Nulis

0 comments
Sudah lama banget aku nggak nulis, terakhir pas kuliah. Itupun disuruh (hehehe..), kayak buat makalah yang paling banyak kemarin pas buat laporan pkl semester terakhir (nggak nyontek lho, mungkin mirip2 dikit dengan kakak tingkat).

Waktu di SMA, guru bahasa Indonesiaku bilang kalo aku tuh bakatnya lebih condong lewat tulisan daripada lewat lisan. Ya iyalah, lha wong pas disuruh main drama aja kacau hapalanku dan nggak bisa improvisasi langsung. Untungnya pas itu ada temenku yang bisa mencairkan suasana (red. ngelawak, mbanyol atu apalah) jadi nggak sampe ancur banget drama itu.


Back to judul. Disini nggak membahas caranya biar rajin nulis atau tips2 biar rajin nulis. Sama sekali salah banget. Kata orang judul harus sesuai sama isinya tapi kata temennya orang tadi don't judge the book from its cover (apa hubungannya??). Disini aku mau saran dan pendapat temen2 semua, gimana caranya biar rajin nulis atau ngisi di blog secara kontinyu tapi berbobot. Secara, aku kan cuma punya sedikit waktu luang. Sebagian besar waktunya dihabisin di atas meja kerja, dari jam 7 pagi sampe 5 sore (seringnya pulang jam 8-10 malem). Sampe kosan capek terus tidur. Kayak sekarang ini, mata dah 5 watt pengen tidur. Jadi nulisnya biasanya kalo lagi pengen dan sempet. Ternyata nggak sempet2 :-) jadinya nggak pernah nulis.

Ayoo dong gimana solusinya??
Masa cuman dibaca doang, habis gitu di close lagi.
Sekali2 komen dong, kalo bisa di bookmark....hehehe....
Read more...

Label

 
Wong Leces © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Man Jadda Wajada. Siapa yang Bersungguh-sungguh Akan Berhasil